B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138
Pendahuluan
Panduan ini merupakan turunan operasional dari bab Penyakit Trofoblas Gestasional pada Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal, disusun berdasarkan entri diagnosis No. 4 pada Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026.
Dasar Regulasi
Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Lampiran Bab I.2.a Tabel 7 (Spektrum Penyakit dan Kondisi Klinis yang Ditangani Spesialis Obstetri dan Ginekologi), No. urut 4: "Mola hidatidosa tanpa penyulit / Hydatidiform mole without complication" — ICD-10: O01.9; ICD-11: JA02; Keterangan/Populasi Prioritas: penyakit trofoblas gestasional.
Divisi Fetomaternal turut menyumbang perspektif tambahan pada panduan ini, terutama pada kriteria rujukan subspesialistik (bagian 7.4) untuk kasus dengan risiko komplikasi tinggi atau kecurigaan progresi ke neoplasia trofoblas gestasional (Gestational Trophoblastic Neoplasia/GTN).
1. Pengertian/Definisi
Mola hidatidosa (hydatidiform mole) — ICD-10 O01.9; ICD-11 JA02 — adalah bentuk jinak (premalignant) penyakit trofoblas gestasional (gestational trophoblastic disease/GTD), sekelompok kelainan yang timbul dari proliferasi abnormal jaringan trofoblas plasenta. Mola hidatidosa terjadi akibat kelainan genetik pada saat fertilisasi, menyebabkan proliferasi trofoblas berlebihan disertai degenerasi hidropik vili korionik sehingga membentuk gambaran vesikular menyerupai gerombolan buah anggur (grape-like vesicles).
Penyakit trofoblas gestasional secara keseluruhan mencakup spektrum dari kondisi jinak (mola hidatidosa) hingga kondisi ganas yang secara kolektif disebut neoplasia trofoblas gestasional (GTN) — meliputi mola invasif, koriokarsinoma, placental site trophoblastic tumor (PSTT), dan epithelioid trophoblastic tumor (ETT). Mola hidatidosa yang tidak mengalami regresi kadar β-hCG secara adekuat pascaevakuasi dikategorikan sebagai GTN dan ditata laksana melalui alur PPK tersendiri.
Secara genetik dan histopatologis, mola hidatidosa dibedakan menjadi dua subtipe, dengan padanan kode ICD-11 yang lebih spesifik pada tingkat subkategori:
Mola hidatidosa komplit (complete hydatidiform mole/CHM; ICD-11 JA02.0): bersifat diploid dan diandrogenetik — pada sekitar 75–80% kasus terjadi akibat duplikasi genom satu spermatozoa yang membuahi ovum tanpa inti (anukleat), menghasilkan kariotipe 46,XX; sisanya berasal dari fertilisasi dispermik. Tidak dijumpai jaringan janin/embrional. Risiko progresi ke GTN pascaevakuasi lebih tinggi dibanding mola parsial.
Mola hidatidosa parsial (partial hydatidiform mole/PHM; ICD-11 JA02.1): pada hampir seluruh kasus (sekitar 99%) bersifat triploid, paling sering berkariotipe 69,XXY, akibat fertilisasi satu ovum normal oleh dua spermatozoa. Disertai jaringan janin/embrional yang abnormal. Risiko progresi ke GTN lebih rendah namun tetap memerlukan pemantauan.
Bila subtipe belum dapat dipastikan pada tahap awal, digunakan kode umum molar pregnancy/mola hidatidosa tidak spesifik (ICD-11 JA02.Z), sebagaimana tercantum pada Tabel 7 Kepkonsil sebagai kode payung JA02.
Istilah "tanpa penyulit" pada panduan ini merujuk pada kondisi mola hidatidosa yang, pada saat diagnosis dan tata laksana awal, tidak disertai komplikasi medis akut (preeklampsia awitan dini, hipertiroidisme klinis bergejala, distres pernapasan akibat emboli trofoblas, kista teka lutein besar simtomatik, atau perdarahan masif mengancam nyawa) dan tidak menunjukkan tanda progresi ke GTN. Kasus dengan penyulit atau kecurigaan GTN ditata laksana melalui alur PPK penyakit trofoblas gestasional dengan penyulit dan kriteria rujukan subspesialistik.
2. Anamnesis
Temuan anamnesis yang mengarahkan kecurigaan mola hidatidosa meliputi:
Perdarahan pervaginam abnormal pada trimester I, dari bercak hingga masif; sebagian kecil pasien melaporkan keluarnya jaringan menyerupai gelembung anggur. Gambaran klasik ini kini semakin jarang dijumpai karena diagnosis banyak ditegakkan lebih dini melalui pemeriksaan USG rutin trimester I, sebelum gejala klasik sempat berkembang.
Amenore dengan uji kehamilan (β-hCG urin/serum) positif.
Mual-muntah berlebihan (hiperemesis gravidarum) yang tidak proporsional terhadap usia kehamilan, akibat kadar β-hCG yang sangat tinggi.
Keluhan perut terasa lebih besar dari usia kehamilan yang seharusnya.
Tidak dirasakan gerakan janin pada usia kehamilan yang seharusnya sudah dapat dirasakan (relevan terutama pada mola komplit, karena tidak terdapat jaringan janin).
Riwayat mola hidatidosa pada kehamilan sebelumnya — faktor risiko rekurensi terpenting; risiko mola berulang pada kehamilan berikutnya dilaporkan sekitar 1,2–1,4%.
Faktor risiko lain: usia ekstrem (<20 tahun atau >40 tahun), riwayat keguguran berulang, riwayat infertilitas.
Anamnesis juga wajib menelusuri gejala yang mengarah ke penyulit (nyeri kepala hebat, pandangan kabur, nyeri epigastrium, sesak napas, palpitasi, tremor) — bila dijumpai, kasus dialihkan ke jalur PPK penyakit trofoblas gestasional dengan penyulit.
3. Pemeriksaan Fisik
Tinggi fundus uteri (TFU) sering lebih besar dari yang diharapkan sesuai usia kehamilan (terutama mola komplit dengan kadar β-hCG sangat tinggi), meskipun sebagian kasus yang terdiagnosis dini memiliki TFU yang masih sesuai atau bahkan lebih kecil.
Denyut jantung janin (DJJ) tidak terdengar pada mola komplit karena tidak ada jaringan janin; pada mola parsial dapat dijumpai jaringan embrional abnormal yang umumnya tidak viable.
Tanda vital: waspadai takikardia dan tremor halus sebagai petanda hipertiroidisme akibat efek tirotropik silang (cross-reactivity) subunit alfa β-hCG terhadap reseptor TSH pada kadar β-hCG yang sangat tinggi; manifestasi ini bersifat jarang namun berpotensi mengancam nyawa apabila tidak dikenali.
Tekanan darah wajib diukur cermat — peningkatan tekanan darah pada usia kehamilan <20 minggu merupakan tanda khas yang mengarah ke preeklampsia dini terkait mola dan dikategorikan sebagai penyulit.
Palpasi abdomen/pemeriksaan bimanual dapat menemukan pembesaran ovarium bilateral (kista teka lutein) akibat stimulasi berlebihan oleh β-hCG.
Inspeksi vulvovaginal untuk menilai jumlah dan karakter perdarahan, serta ada/tidaknya jaringan vesikular yang keluar.
Pada kasus "tanpa penyulit", tidak dijumpai tanda distres pernapasan akut, perdarahan aktif masif dengan instabilitas hemodinamik, atau kejang.
4. Kriteria Diagnosis
Dasar Regulasi
Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Lampiran Bab I.2.a Tabel 7 (Spektrum Penyakit dan Kondisi Klinis yang Ditangani Spesialis Obstetri dan Ginekologi), No. urut 4: "Mola hidatidosa tanpa penyulit / Hydatidiform mole without complication" — ICD-10: O01.9; ICD-11: JA02; Keterangan/Populasi Prioritas: penyakit trofoblas gestasional.
Kode diagnosis (diverifikasi ulang terhadap Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026): ICD-10 O01.9 (Hydatidiform mole, unspecified/Mola hidatidosa tidak spesifik); ICD-11 JA02 (Molar pregnancy/Mola hidatidosa), dengan subkategori JA02.0 untuk mola komplit dan JA02.1 untuk mola parsial apabila subtipe telah dapat dipastikan.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi klinis, pemeriksaan penunjang, dan konfirmasi histopatologis:
Ultrasonografi (USG) transvaginal/transabdominal sebagai modalitas skrining dan diagnosis awal — pada mola komplit tampak gambaran vesikular difus tanpa struktur janin ("snowstorm pattern"/"bunch of grapes"), meskipun gambaran klasik ini kini lebih jarang tampak khas pada mola yang terdeteksi sangat dini di trimester I; pada mola parsial tampak plasenta membesar dengan perubahan kistik fokal disertai jaringan janin/kantong gestasi abnormal.
Kadar β-hCG serum kuantitatif yang secara khas sangat tinggi, tidak jarang >100.000 mIU/mL pada mola komplit, meskipun kadar bervariasi dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai kriteria diagnostik pasti.
Konfirmasi histopatologis jaringan hasil evakuasi merupakan baku emas (gold standard) diagnosis definitif — dijumpai degenerasi hidropik vili korionik dengan hiperplasia trofoblas sirkumferensial (mola komplit) atau fokal disertai vili berkontur ireguler (mola parsial).
Pada kasus meragukan secara histopatologis, pemeriksaan imunohistokimia p57KIP2 (negatif pada mola komplit; positif pada mola parsial maupun abortus hidropik non-mola) dan/atau genotyping molekuler digunakan untuk klarifikasi subtipe — pendekatan ini merupakan kriteria diagnostik esensial menurut klasifikasi WHO 2020 untuk tumor traktus genitalia perempuan.
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja: Mola hidatidosa tanpa penyulit (Hydatidiform mole without complication) — ICD-10 O01.9; ICD-11 JA02.
Diagnosis banding yang wajib disingkirkan:
Abortus inkomplet dengan degenerasi hidropik plasenta (hydropic degeneration) — secara USG dan histopatologi dapat menyerupai mola namun tanpa hiperplasia trofoblas signifikan; pemeriksaan p57KIP2 membantu membedakan (positif pada abortus hidropik non-mola dan mola parsial, negatif pada mola komplit).
Kehamilan ganda (gemelli) normal — TFU lebih besar dari usia kehamilan, namun DJJ dan struktur janin tampak normal pada USG.
Kehamilan ektopik — amenore disertai perdarahan abnormal, namun tanpa gambaran vesikular intrauterin; memerlukan penyingkiran segera karena berpotensi mengancam nyawa.
Mioma uteri yang menyertai kehamilan — pembesaran uterus tidak sesuai dengan kadar β-hCG maupun gambaran USG khas mola.
Mola invasif/koriokarsinoma (neoplasia trofoblas gestasional) — dicurigai bila kadar β-hCG tidak turun sesuai kurva regresi atau meningkat pascaevakuasi; kondisi ini berada di luar cakupan panduan "tanpa penyulit" ini dan dialihkan ke PPK penyakit trofoblas gestasional dengan penyulit.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
Tujuan/Keterangan
USG transvaginal/transabdominal
Modalitas utama diagnosis awal; menilai subtipe mola, ukuran uterus, dan kista teka lutein adneksa.
β-hCG serum kuantitatif
Konfirmasi kadar awal sebagai baseline pemantauan regresi pascaevakuasi; kadar normal pascakehamilan umumnya <5 mIU/mL.
Darah perifer lengkap (Hb, hematokrit)
Deteksi anemia akibat perdarahan; dasar pertimbangan transfusi.
Golongan darah dan rhesus
Persiapan transfusi bila diperlukan; identifikasi kebutuhan profilaksis anti-D pada ibu rhesus negatif.
Fungsi tiroid (TSH, fT4) bila ada tanda klinis
Konfirmasi hipertiroidisme akibat efek tirotropik β-hCG bila dijumpai tanda klinis pada pemeriksaan fisik.
Fungsi hati dan ginjal
Baseline pra-tindakan evakuasi dan anestesi.
Foto toraks
Skrining awal metastasis paru bila terdapat kecurigaan klinis; tidak diperlukan rutin pada kasus tanpa penyulit yang terdiagnosis dini.
Histopatologi jaringan evakuasi
Wajib pada seluruh kasus pascaevakuasi — baku emas konfirmasi diagnosis dan subtipe.
Klarifikasi mola komplit vs parsial vs abortus hidropik non-mola pada kasus histopatologi meragukan.
7. Tata Laksana
Tata laksana mola hidatidosa tanpa penyulit berfokus pada evakuasi definitif jaringan mola, pencegahan komplikasi perioperatif, dan inisiasi protokol pemantauan pascaevakuasi untuk deteksi dini progresi ke GTN.
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
Konseling pratindakan mengenai sifat kehamilan abnormal, rencana evakuasi, dan rencana pemantauan jangka panjang; informed consent tertulis.
Stabilisasi hemodinamik dan tirah baring pada pasien dengan perdarahan aktif sebelum tindakan.
Pemantauan tanda vital dan tanda perdarahan secara berkala selama periode pratindakan.
Dukungan psikologis terkait kehilangan kehamilan, mengingat sifat mola sebagai kehamilan yang tidak dapat berkembang menjadi kehamilan viable.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
Uterotonika (oksitosin) diberikan pada saat/setelah proses evakuasi berlangsung untuk membantu kontraksi uterus dan mengurangi perdarahan; pemberian sebelum evakuasi selesai sebaiknya dihindari untuk meminimalkan risiko emboli trofoblas melalui pembuluh darah uterus yang terbuka.
Profilaksis imunoglobulin anti-D pada ibu dengan golongan darah rhesus negatif, sesuai prinsip umum pencegahan aloimunisasi pada kehamilan.
Inisiasi kontrasepsi hormonal efektif (pil kombinasi atau metode hormonal lain) segera pascaevakuasi untuk mencegah kehamilan baru selama masa pemantauan β-hCG serial; metode kontrasepsi hormonal tidak terbukti meningkatkan risiko progresi ke GTN. Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) sebaiknya ditunda hingga uterus involusi penuh dan kadar β-hCG telah normal, untuk menghindari risiko perforasi dan perdarahan.
Tata laksana simtomatik hipertiroidisme (misalnya beta-blocker) bila dijumpai tanda klinis, terutama untuk mengurangi risiko krisis tiroid perioperatif saat induksi anestesi.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural
Aspirasi vakum (suction curettage) dengan panduan USG merupakan metode evakuasi pilihan utama, terutama pada pasien yang ingin mempertahankan fertilitas; dilakukan di kamar tindakan/operasi dengan kesiapan resusitasi mengingat risiko perdarahan dan emboli trofoblas selama tindakan.
Histerektomi total dapat menjadi alternatif pada pasien berusia ≥40 tahun atau yang telah menyelesaikan fungsi reproduksinya; tindakan ini menurunkan namun tidak menghilangkan sepenuhnya risiko GTN, sehingga pemantauan β-hCG pascatindakan tetap wajib dilakukan.
Evakuasi medikamentosa (induksi menggunakan agen uterotonik/prostaglandin sebagai metode utama) tidak dianjurkan pada kehamilan mola karena berpotensi meningkatkan risiko diseminasi jaringan trofoblas dan emboli.
Jaringan hasil evakuasi wajib dikirim seluruhnya untuk pemeriksaan histopatologi.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal
Rujukan ke subspesialis Fetomaternal dipertimbangkan pada kondisi berikut (di luar kewenangan spesialis umum atau memerlukan fasilitas lanjutan):
Ukuran uterus jauh lebih besar dari usia kehamilan (ekuivalen >20 minggu) yang meningkatkan risiko komplikasi evakuasi.
Kista teka lutein besar atau simtomatik (nyeri, torsi, ruptur).
Kadar β-hCG serum ekstrem tinggi yang meningkatkan risiko komplikasi perioperatif.
Timbulnya tanda klinis penyulit (preeklampsia dini, hipertiroidisme bergejala, distres pernapasan) sebelum atau selama evakuasi, sehingga kasus beralih ke jalur penatalaksanaan penyulit yang memerlukan fasilitas dan kompetensi lanjutan.
Kecurigaan progresi ke GTN berdasarkan kurva regresi β-hCG pascaevakuasi yang tidak sesuai (plateau atau meningkat, mengacu pada kriteria FIGO/WHO).
Riwayat mola hidatidosa berulang pada kehamilan sebelumnya.
Fasilitas pelayanan tidak memiliki kapasitas pemantauan β-hCG serial terstruktur jangka panjang.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
Penjelasan bahwa mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal yang tidak dapat berkembang menjadi kehamilan normal, sehingga evakuasi merupakan tata laksana definitif yang diperlukan.
Kepatuhan terhadap pemantauan β-hCG serial pascaevakuasi merupakan kunci deteksi dini progresi ke GTN dan bersifat wajib: pemeriksaan dilakukan mingguan hingga tercapai kadar normal pada tiga kali pemeriksaan berturut-turut, dilanjutkan pemantauan bulanan dengan durasi total yang disesuaikan menurut subtipe mola (lebih singkat pada mola parsial, lebih panjang pada mola komplit).
Penggunaan kontrasepsi efektif selama seluruh masa pemantauan β-hCG untuk menghindari kerancuan interpretasi kadar hCG akibat kehamilan baru.
Tanda bahaya yang harus segera dilaporkan ke fasilitas kesehatan: perdarahan pervaginam berulang, gejala hipertiroidisme (jantung berdebar, tremor, penurunan berat badan), atau batuk berdarah (kecurigaan metastasis paru pada GTN).
Prognosis kesuburan pada kehamilan berikutnya secara umum baik setelah masa pemantauan selesai, namun risiko mola berulang pada kehamilan berikutnya (sekitar 1,2–1,4%) sedikit lebih tinggi dibanding populasi umum, sehingga USG dini pada kehamilan berikutnya dianjurkan.
Dukungan psikologis terkait kehilangan kehamilan dan kekhawatiran terhadap fertilitas serta risiko keganasan trofoblas di masa depan.
9. Prognosis
Prognosis mola hidatidosa tanpa penyulit umumnya sangat baik; mayoritas pasien sembuh sempurna pascaevakuasi dengan fungsi reproduksi yang dapat dipertahankan. Risiko progresi menjadi GTN pascamola komplit dilaporkan literatur internasional berkisar 15–20%, sedangkan pascamola parsial jauh lebih rendah, berkisar 1–5%. Setelah kadar β-hCG mencapai normal, risiko timbulnya GTN selanjutnya menjadi sangat kecil.
Data insidens dan angka progresi mola hidatidosa pada tingkat populasi Indonesia belum terangkum secara eksplisit pada Kepkonsil; angka epidemiologi nasional terkini sebaiknya dikonfirmasi melalui registri resmi Kementerian Kesehatan RI atau Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI).
Apabila GTN terdeteksi dini melalui pemantauan β-hCG terstruktur, angka kesembuhan mendekati sempurna dengan kemoterapi sesuai stratifikasi risiko FIGO/WHO, menegaskan pentingnya kepatuhan protokol pemantauan pascaevakuasi.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
Tingkat evidens berikut mengikuti sistem gradasi yang digunakan oleh masing-masing sumber acuan; rekomendasi FIGO dan RCOG bersifat konsensus pakar berbasis registri internasional dan tidak menggunakan sistem gradasi berjenjang formal, sementara rekomendasi SGO/ACOG menggunakan sistem gradasi bertingkat (Level I–III).
Rekomendasi
Tingkat Evidens/Gradasi
Sumber
Aspirasi vakum dengan panduan USG sebagai metode evakuasi pilihan utama
Level II-2 (Rekomendasi B)
SGO/ACOG 2021
Pemantauan β-hCG serial mingguan pascaevakuasi hingga normal, dilanjutkan pemantauan berkala
Level I
SGO/ACOG 2021; FIGO 2025
Kontrasepsi hormonal efektif selama masa pemantauan β-hCG
Level I
SGO/ACOG 2021
Menghindari evakuasi medikamentosa (induksi) pada kehamilan mola
Konsensus pakar
RCOG GTG No. 38 (2021)
Histerektomi sebagai alternatif pada usia ≥40 tahun atau fertilitas telah lengkap
Level II-2 (Rekomendasi B)
SGO/ACOG 2021
Durasi pemantauan β-hCG pascaevakuasi disesuaikan menurut subtipe mola (lebih singkat pada mola parsial)
Konsensus pakar berbasis registri
FIGO 2025 update
11. Indikator Medis
100% kasus mola hidatidosa yang dievakuasi menjalani pemeriksaan histopatologi konfirmatif.
100% pasien menjalani inisiasi protokol pemantauan β-hCG serial pascaevakuasi sesuai jadwal.
≥90% pasien patuh menggunakan kontrasepsi efektif selama masa pemantauan β-hCG.
Tidak ada keterlambatan rujukan pada kasus dengan kecurigaan progresi ke GTN berdasarkan kurva regresi β-hCG.
Capaian indikator pada tingkat unit pelayanan dipantau berkala dan dibandingkan terhadap data registri nasional terkini apabila tersedia.
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil Tabel 7 No. 4) menetapkan diagnosis dan kode klasifikasi mola hidatidosa tanpa penyulit, namun tidak merinci durasi baku pemantauan β-hCG pascaevakuasi. Panduan ini mengadopsi rekomendasi standar internasional berikut sebagai acuan operasional pelengkap, bersifat non-superior terhadap Kepkonsil:
FIGO (Ngan HYS, Seckl MJ, Berkowitz RS, et al., "Diagnosis and management of gestational trophoblastic disease: 2025 update", International Journal of Gynecology & Obstetrics 2025;171(Suppl 1):78–86): merekomendasikan pemantauan β-hCG mingguan pascaevakuasi hingga tercapai kadar normal, dengan durasi total pemantauan lanjutan yang dibedakan menurut subtipe mola — secara umum lebih singkat pada mola parsial dan lebih panjang pada mola komplit, mengingat perbedaan risiko progresi ke GTN antarsubtipe. Pembaruan staging GTN FIGO 2026 (Ngan et al., Int J Gynecol Obstet 2026) turut menegaskan pentingnya pemantauan β-hCG pascamola yang cermat sebagai dasar deteksi dini GTN.
RCOG (Tidy J, Seckl M, Hancock BW, "Management of Gestational Trophoblastic Disease", Green-top Guideline No. 38, BJOG 2021;128(3):e1–e27): menganut model sentralisasi — seluruh kasus mola hidatidosa didaftarkan ke pusat rujukan trofoblastik nasional (skrining terpusat di Inggris Raya), dengan aturan durasi pemantauan yang seragam terlepas dari subtipe mola: enam bulan sejak evakuasi apabila kadar β-hCG normal dalam 56 hari, atau enam bulan sejak kadar β-hCG pertama kali normal apabila normalisasi memerlukan waktu lebih dari 56 hari.
SGO, dengan pernyataan yang telah diadopsi (endorsed) oleh American College of Obstetricians and Gynecologists/ACOG (Horowitz NS, Eskander RN, Adelman MR, Burke W., Gynecologic Oncology 2021;163(3):605–613): merekomendasikan pemantauan β-hCG mingguan hingga normal dilanjutkan hingga tiga bulan pascanormalisasi untuk mola komplit dan satu bulan untuk mola parsial (Level I); evakuasi dengan aspirasi vakum berpandu USG (Level II-2); serta histerektomi sebagai opsi pada usia ≥40 tahun atau fertilitas telah lengkap (Level II-2).
Pernyataan eksplisit perbedaan: standar nasional (Kepkonsil) menetapkan klasifikasi dan kode diagnosis tanpa merinci protokol durasi pemantauan. Di tingkat internasional pun terdapat variasi pendekatan — RCOG menerapkan durasi pemantauan seragam melalui sistem registrasi terpusat, sedangkan FIGO dan SGO/ACOG membedakan durasi pemantauan menurut subtipe mola. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional untuk klasifikasi diagnosis, sembari mengadopsi kerangka pemantauan berbasis subtipe dari FIGO/SGO sebagai acuan operasional pelengkap yang non-superior, mengingat Kepkonsil belum merinci protokol durasi baku setingkat nasional dan Indonesia belum memiliki sistem registrasi terpusat setara model RCOG.
13. Kepustakaan
Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Lampiran Tabel 7 No. 4. Jakarta, 2026.
Ngan HYS, Seckl MJ, Berkowitz RS, Xiang Y, Golfier F, Sekharan PK, et al. Diagnosis and management of gestational trophoblastic disease: 2025 update. Int J Gynaecol Obstet. 2025;171(Suppl 1):78–86. https://doi.org/10.1002/ijgo.70275
Ngan HYS, Seckl MJ, Horowitz N, Cheung ANY, Braga A, Sekharan PK, et al. FIGO staging for gestational trophoblastic neoplasia: 2026. Int J Gynecol Obstet. 2026. https://doi.org/10.1002/ijgo.71229
Tidy J, Seckl M, Hancock BW, on behalf of the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Management of Gestational Trophoblastic Disease (Green-top Guideline No. 38). BJOG. 2021;128(3):e1–e27. https://doi.org/10.1111/1471-0528.16266
Horowitz NS, Eskander RN, Adelman MR, Burke W. Epidemiology, diagnosis, and treatment of gestational trophoblastic disease: A Society of Gynecologic Oncology evidence-based review and recommendation (endorsed by the American College of Obstetricians and Gynecologists). Gynecol Oncol. 2021;163(3):605–613. https://doi.org/10.1016/j.ygyno.2021.10.003
Pereira JVB, Lim T. Hyperthyroidism in gestational trophoblastic disease — a literature review. Thyroid Res. 2021;14:1. https://doi.org/10.1186/s13044-021-00092-3
World Health Organization. International Classification of Diseases 11th Revision (ICD-11). Tersedia pada: https://icd.who.int/en
Glossarium
Daftar istilah berikut disusun untuk membantu pembaca memahami istilah teknis yang digunakan pada panduan ini.
Istilah
Penjelasan
Mola hidatidosa (hydatidiform mole)
Bentuk jinak penyakit trofoblas gestasional akibat kelainan fertilisasi, ditandai proliferasi trofoblas dan degenerasi hidropik vili korionik.
Mola komplit (complete hydatidiform mole)
Subtipe mola hidatidosa yang bersifat diploid diandrogenetik, tanpa jaringan janin; risiko progresi ke GTN lebih tinggi.
Mola parsial (partial hydatidiform mole)
Subtipe mola hidatidosa yang umumnya bersifat triploid, disertai jaringan janin/embrional abnormal; risiko progresi ke GTN lebih rendah.
Penyakit trofoblas gestasional (gestational trophoblastic disease/GTD)
Kelompok kelainan yang timbul dari proliferasi abnormal jaringan trofoblas plasenta, mencakup spektrum dari mola hidatidosa hingga keganasan trofoblastik.
Kondisi keganasan trofoblastik yang mencakup mola invasif, koriokarsinoma, placental site trophoblastic tumor, dan epithelioid trophoblastic tumor.
Koriokarsinoma
Bentuk paling ganas dari neoplasia trofoblas gestasional, dapat timbul pascamola, pascakeguguran, maupun pascakehamilan aterm.
Human chorionic gonadotropin (hCG/β-hCG)
Hormon glikoprotein yang disekresi jaringan trofoblas; digunakan sebagai penanda diagnosis dan pemantauan regresi pascaevakuasi mola.
Evakuasi mola/aspirasi vakum (suction curettage)
Prosedur pengeluaran jaringan mola dari kavum uteri menggunakan alat isap berpandu USG; metode evakuasi pilihan utama.
Kista teka lutein
Pembesaran ovarium bilateral akibat stimulasi berlebihan oleh kadar β-hCG yang tinggi pada kehamilan mola.
Degenerasi hidropik
Perubahan patologis pada vili korionik berupa penumpukan cairan yang menyebabkan pembengkakan menyerupai gelembung.
Hiperplasia trofoblas
Pertumbuhan berlebihan sel trofoblas yang melapisi vili korionik; derajatnya membedakan mola komplit dan parsial.
Diandrogenetik
Kondisi genetik ketika seluruh materi genetik pada jaringan konsepsi berasal dari pihak ayah (paternal), tanpa kontribusi genetik ibu yang fungsional.
Triploid
Kondisi genetik dengan tiga set kromosom (69 kromosom), khas pada mola parsial.
p57KIP2
Penanda imunohistokimia yang diekspresikan dari gen maternal; negatif pada mola komplit, membantu membedakannya dari mola parsial dan abortus hidropik non-mola.
Kurva regresi β-hCG
Pola penurunan kadar β-hCG pascaevakuasi yang dipantau secara serial untuk mendeteksi dini progresi ke GTN.
FIGO (International Federation of Gynecology and Obstetrics)
Organisasi federasi internasional bidang obstetri dan ginekologi yang menerbitkan pedoman staging dan tata laksana penyakit trofoblas gestasional.