Ectopic Pregnancy
Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 (Spektrum Penyakit dan Kondisi Klinis) baris No. 5.
Panduan ini merupakan turunan operasional dari bab Kegawatdaruratan Obstetri Trimester Awal, Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal, disusun sebagai pedoman tata laksana kehamilan ektopik (ectopic pregnancy) pada tingkat pelayanan spesialistik Obstetri dan Ginekologi, dengan pendalaman perspektif divisi Fetomaternal untuk kasus ektopik non-tuba dan kasus dengan komplikasi berat.
Kehamilan ektopik (ectopic pregnancy) adalah implantasi hasil konsepsi di luar kavum uteri. Kondisi ini bersifat time-sensitive dan berpotensi mengancam nyawa ibu apabila tidak dikenali dan ditangani secara tepat waktu, karena risiko utamanya adalah ruptur organ tempat implantasi disertai perdarahan intraabdomen masif.
Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 No. 5: “Kehamilan ektopik / Ectopic pregnancy” — ICD-10 O00.9; ICD-11 JA01; Keterangan/Populasi: kehamilan abnormal, risiko perdarahan. Kompetensi tindakan salpingektomi/salpingostomi tercantum pada Tabel 13 (Intervensi Klinis dan Prosedur Klinis) butir 9 dan pada daftar kompetensi prosedural butir 40 (target minimal ≥3 kasus: 2 laparotomi, 1 laparoskopi).
Kode diagnosis yang berlaku pada seluruh bagian PPK ini adalah ICD-10 O00.9 dan ICD-11 JA01, sesuai hasil verifikasi terhadap Tabel 7 Kepkonsil di atas.
Berdasarkan lokasi implantasi, kehamilan ektopik dibedakan menjadi kehamilan ektopik tuba — lokasi tersering, meliputi ampula, ismus, fimbria, dan interstisial/kornu — serta kehamilan ektopik non-tuba, yaitu serviks, ovarium, abdominal, dan kehamilan pada sikatriks bekas seksio sesarea (cesarean scar ectopic pregnancy/CSEP). Kehamilan heterotopik — kombinasi kehamilan intrauterin dan ektopik yang terjadi bersamaan — juga termasuk dalam kelompok ini dan menjadi salah satu kriteria rujukan ke subspesialis Fetomaternal.
Kehamilan pada sikatriks bekas seksio sesarea memerlukan kewaspadaan khusus karena berisiko tinggi mengalami ruptur uterus, perdarahan masif, dan berkembang menjadi spektrum plasenta akreta apabila kehamilan dilanjutkan; tata laksana ekspektatif tidak direkomendasikan pada kondisi ini.
Implantasi ektopik terjadi ketika transportasi embrio menuju kavum uteri terganggu, paling sering akibat kerusakan struktural atau fungsional epitel tuba falopi (misalnya pascainfeksi, pascabedah, atau akibat gangguan motilitas siliaris). Trofoblas yang berimplantasi di jaringan tanpa desidua yang memadai — seperti dinding tuba yang tipis — dapat menginvasi pembuluh darah di sekitarnya, sehingga meningkatkan risiko ruptur dan perdarahan pada usia kehamilan dini, sebelum diagnosis biasanya dapat ditegakkan pada kehamilan intrauterin.
Trias klasik kehamilan ektopik terdiri atas amenore/terlambat haid, nyeri perut bawah (umumnya unilateral), dan perdarahan pervaginam bercak (spotting). Ketiga gejala ini tidak selalu muncul bersamaan — sebagian pasien datang tanpa nyeri, dan sebagian lain tanpa riwayat terlambat haid yang jelas — sehingga kecurigaan klinis harus tetap tinggi pada setiap perempuan usia reproduksi dengan tes kehamilan positif disertai nyeri perut bawah dan/atau perdarahan abnormal.
Perlu ditekankan bahwa sebagian besar perempuan dengan kehamilan ektopik tidak memiliki faktor risiko yang dapat diidentifikasi, sehingga ketiadaan faktor risiko tidak boleh menurunkan kewaspadaan klinis.
Nyeri bahu (akibat iritasi diafragma oleh darah bebas intraperitoneal), pusing, rasa hampir pingsan atau sinkop, serta dorongan buang air besar (tenesmus) akibat darah di kavum Douglas merupakan tanda kecurigaan ke arah ruptur dengan hemoperitoneum. Gejala-gejala ini menandakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan evaluasi dan stabilisasi segera, tanpa menunggu hasil pemeriksaan penunjang lengkap.
Penilaian awal difokuskan pada deteksi tanda syok hipovolemik, karena kehamilan ektopik yang ruptur adalah kegawatdaruratan obstetri dengan risiko kematian ibu. Takikardia dan hipotensi dapat muncul lebih lambat daripada perdarahan intraabdomen yang sesungguhnya sedang berlangsung, terutama pada pasien muda dengan cadangan kardiovaskular baik, sehingga penilaian klinis tidak boleh hanya bersandar pada tanda vital semata.
Nyeri tekan perut bawah, umumnya lebih dominan pada satu sisi sesuai lokasi implantasi. Pada kasus ruptur dapat ditemukan defans muskular, nyeri lepas (rebound tenderness), distensi abdomen, dan tanda-tanda peritonitis akibat hemoperitoneum yang meluas.
Pemeriksaan bimanual dilakukan dengan hati-hati apabila kecurigaan ruptur tinggi, karena manipulasi berlebihan berisiko memperberat perdarahan. Pada pasien dengan tanda syok, prioritas tetap pada stabilisasi hemodinamik sebelum pemeriksaan ginekologi yang tidak mengubah tata laksana segera.
ICD-10: O00.9 — Kehamilan ektopik, tidak spesifik | ICD-11: JA01 — Ectopic pregnancy
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi: (1) tes kehamilan (β-hCG) positif; (2) tidak ditemukannya kantong gestasi intrauterin pada ultrasonografi transvaginal pada kadar β-hCG di atas nilai ambang diskriminatif laboratorium/institusi setempat [DATA: rujuk protokol laboratorium dan USG institusi terkini]; dan (3) temuan USG yang mengarah pada implantasi ekstrauterin, seperti massa adneksa kompleks, cincin tuba (tubal ring), atau cairan bebas di kavum Douglas.
Pada kasus dengan lokasi kehamilan belum jelas pada USG awal (pregnancy of unknown location/PUL), pemantauan kadar β-hCG serial berjarak 48 jam membantu diagnosis. Kenaikan kadar β-hCG yang lebih rendah dari kisaran normal kehamilan intrauterin viabel meningkatkan kecurigaan ke arah kehamilan ektopik atau kehamilan intrauterin non-viabel, dan memerlukan evaluasi USG ulang serta pemantauan lanjutan hingga lokasi kehamilan dapat dipastikan.
Ultrasonografi transvaginal merupakan modalitas diagnostik lini pertama pada kecurigaan kehamilan ektopik dan pada sebagian besar kasus mampu memvisualisasikan langsung kehamilan ektopik tuba, sehingga meminimalkan ketergantungan pada nilai ambang β-hCG tunggal untuk pengambilan keputusan klinis.
Diagnosis kerja: Kehamilan ektopik (O00.9 / JA01), dengan lokasi implantasi ditentukan berdasarkan temuan ultrasonografi transvaginal.
| Diagnosis Banding | Kode (Tabel 7 Kepkonsil, bila relevan) | Pembeda Kunci |
|---|---|---|
| Abortus (ancaman/inkomplit) | O20.0; O03.4; O03.9 — JA00; JA40.0; JA03/JA04 | USG menunjukkan kehamilan intrauterin; perdarahan umumnya lebih banyak, nyeri bersifat kolik sentral |
| Mola hidatidosa | O01.9 — JA02 | Kadar β-hCG sangat tinggi; gambaran USG khas vesikular tanpa struktur janin |
| Kista korpus luteum terpuntir (torsio adneksa) | — | Nyeri onset mendadak dan hebat; USG menunjukkan kista ovarium dengan/tanpa penurunan aliran Doppler; β-hCG dapat positif bila kehamilan intrauterin bersamaan |
| Apendisitis akut | — | Nyeri berpindah ke titik McBurney, demam, leukositosis bermakna; tes kehamilan negatif |
| Penyakit radang panggul (PID) | — | Nyeri bilateral, demam, keputihan purulen; tes kehamilan umumnya negatif |
| Kehamilan intrauterin dengan perdarahan implantasi | Z34 — QA42 | USG menunjukkan kantong gestasi intrauterin sesuai usia kehamilan |
| Kehamilan heterotopik | — (kombinasi kode intrauterin dan O00.9/JA01) | Ditemukan kehamilan intrauterin bersamaan dengan massa ektopik ekstrauterin — kriteria rujuk Fetomaternal |
Pada fasilitas dengan akses fertilisasi in vitro atau teknik reproduksi berbantu lainnya, indeks kecurigaan terhadap kehamilan heterotopik harus dinaikkan meskipun kehamilan intrauterin telah terkonfirmasi, karena kejadian ini jauh lebih tinggi pada populasi tersebut dibandingkan populasi umum.
Metotreksat (MTX) dosis tunggal atau multidosis intramuskular merupakan pilihan tata laksana medikamentosa pada kandidat yang memenuhi kriteria: hemodinamik stabil, tanpa tanda ruptur, diameter massa ektopik umumnya <3,5 cm, tanpa aktivitas jantung janin pada USG, dan kadar β-hCG di bawah ambang batas protokol institusi [DATA: rujuk protokol dosis dan ambang β-hCG terkini dari fasilitas pelayanan/POGI]. Pemantauan kadar β-hCG dilakukan pada hari ke-4 dan ke-7 pascapemberian, dengan target penurunan minimal ≥15% antara kedua nilai tersebut; kegagalan penurunan yang adekuat merupakan indikasi pemberian dosis tambahan atau beralih ke tata laksana bedah.
Pasien yang menjalani tata laksana metotreksat perlu dikonseling untuk menghindari asupan asam folat dan obat antiinflamasi nonsteroid selama masa terapi, karena keduanya dapat memengaruhi efektivitas dan toksisitas obat.
Pemberian imunoglobulin anti-D diberikan pada ibu dengan golongan darah Rhesus negatif sesuai indikasi profilaksis isoimunisasi, baik pada tata laksana medikamentosa, ekspektatif, maupun bedah.
Salpingektomi (pengangkatan tuba) atau salpingostomi (insisi dan evakuasi konseptus dengan mempertahankan tuba) dilakukan melalui pendekatan laparoskopi pada pasien stabil, atau laparotomi emergensi pada pasien tidak stabil/syok hemoragik akibat ruptur. Pendekatan laparoskopi lebih dipilih dibandingkan laparotomi pada pasien stabil karena pemulihan lebih cepat dan kehilangan darah lebih sedikit, kecuali bila kondisi hemodinamik pasien atau keterbatasan fasilitas/keahlian bedah tidak memungkinkan.
Pemilihan salpingektomi versus salpingostomi mempertimbangkan kondisi tuba kontralateral, riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, dan keinginan fertilitas pasien di masa depan; salpingektomi umumnya dipilih bila tuba kontralateral sehat, sedangkan salpingostomi dipertimbangkan bila tuba kontralateral rusak atau tidak ada, dengan konsekuensi risiko trofoblas persisten yang memerlukan pemantauan β-hCG pascaoperasi. Tindakan ini termasuk dalam kompetensi inti spesialis Obstetri dan Ginekologi dengan target capaian minimal ≥3 kasus selama pendidikan (2 kasus laparotomi, 1 kasus laparoskopi) sesuai Tabel 13 dan tabel capaian kompetensi prosedural Kepkonsil.
Prognosis kehamilan ektopik pada umumnya baik apabila diagnosis ditegakkan secara dini dan tata laksana diberikan sebelum terjadi ruptur. Fertilitas pascasalpingektomi umumnya masih memungkinkan melalui tuba kontralateral yang sehat, meskipun terdapat peningkatan risiko kehamilan ektopik berulang pada kehamilan berikutnya [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. POGI/Kemenkes]. Perbandingan luaran fertilitas antara tata laksana medikamentosa dan bedah konservatif (salpingostomi) telah dikaji dalam tinjauan sistematis internasional dan menunjukkan hasil yang secara umum sebanding pada kandidat yang memenuhi kriteria seleksi.
Keterlambatan diagnosis pada kasus ruptur dengan syok hemoragik tetap menjadi kontributor kematian ibu yang dapat dicegah, sehingga kewaspadaan klinis dini menjadi penentu utama luaran. Edukasi tenaga kesehatan primer mengenai tanda dan gejala awal kehamilan ektopik berperan penting dalam mempercepat rujukan ke fasilitas dengan kemampuan bedah emergensi.
| Rekomendasi | Tingkat Evidens | Kelas Rekomendasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| USG transvaginal sebagai modalitas lini pertama untuk lokalisasi kehamilan | II | A | Kepkonsil Tabel 7 & 13; RCOG Green-top Guideline No. 21 (2016) |
| Metotreksat dosis tunggal pada kandidat memenuhi kriteria klinis dan laboratorium | I | A | ACOG Practice Bulletin No. 193 (2018, ditegaskan ulang 2025); Cochrane CD000324 |
| Laparoskopi sebagai pendekatan bedah pilihan pada pasien stabil | I | A | RCOG Green-top Guideline No. 21; Cochrane CD000324 |
| Laparotomi emergensi pada pasien tidak stabil/ruptur dengan syok | III | B | Konsensus klinis; Kepkonsil Tabel 7; WHO MCPC 2nd ed. (2017) |
| Tata laksana ekspektatif pada kasus terpilih dengan β-hCG rendah dan menurun spontan | II | B | ACOG Practice Bulletin No. 193; RCOG Green-top Guideline No. 21 |
| Penanganan bedah aktif (bukan ekspektatif) pada kehamilan sikatriks bekas seksio sesarea | II | B | SMFM Consult Series #63 (2022, ditegaskan ulang 2025) |
Skala tingkat evidens (I–III) dan kelas rekomendasi (A–C) mengikuti kaidah umum pengembangan pedoman praktik klinis berbasis bukti sebagaimana diadopsi pada penyusunan PNPK.
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan kehamilan ektopik sebagai salah satu dari 73 entri kompetensi inti Tabel 7 yang wajib dikuasai spesialis Obstetri dan Ginekologi, dengan tata laksana bedah (salpingektomi/salpingostomi laparoskopi maupun laparotomi) sebagai kompetensi prosedural bertarget kasus minimal. Standar internasional berikut memperkaya aspek teknis dan ambang klinis tata laksana medikamentosa maupun bedah; seluruh rujukan pada bagian ini telah diverifikasi terhadap sumber penerbit aslinya.
Royal College of Obstetricians and Gynaecologists menetapkan ultrasonografi transvaginal sebagai modalitas diagnostik lini pertama dan laparoskopi sebagai pendekatan bedah pilihan pada pasien hemodinamik stabil, sejalan dengan standar nasional. Pedoman ini juga menekankan penilaian sistematis pregnancy of unknown location melalui protokol β-hCG serial terstruktur. Edisi kedua pedoman ini tercatat sedang dalam proses pengembangan oleh RCOG; hingga saat penyusunan PPK ini, edisi pertama (2016) tetap menjadi rujukan resmi yang berlaku.
American College of Obstetricians and Gynecologists menetapkan kriteria kandidat metotreksat secara rinci (ukuran massa, kadar β-hCG, tanpa aktivitas jantung janin) serta protokol pemantauan hari ke-4 dan ke-7 pascapemberian, yang menjadi acuan ambang klinis pada PPK ini. Dokumen ini dinyatakan tetap berlaku (reaffirmed) pada tahun 2025. Praktik di Indonesia mengikuti kerangka umum yang sama, dengan ambang β-hCG dan dosis spesifik mengikuti protokol institusi/POGI [DATA: rujuk protokol nasional terbaru].
Tinjauan sistematis Cochrane mengenai intervensi pada kehamilan ektopik tuba mendukung laparoskopi sebagai pendekatan bedah yang layak dan lebih hemat biaya dibandingkan bedah terbuka, serta menempatkan metotreksat sistemik sebagai pilihan pada kandidat dengan kadar β-hCG relatif rendah dan tanpa tanda perdarahan aktif. Tinjauan sistematis Cochrane terpisah mengenai intervensi pada kehamilan ektopik non-tuba melengkapi pertimbangan tata laksana untuk lokasi implantasi selain tuba. Tidak terdapat perbedaan signifikan dari standar nasional pada aspek ini; PPK mengikuti prinsip seleksi kandidat yang sama.
World Health Organization, bersama UNFPA dan UNICEF, menempatkan tata laksana kehamilan ektopik terganggu dalam kerangka pelayanan kegawatdaruratan obstetri komprehensif yang mensyaratkan ketersediaan bedah emergensi dan transfusi darah di fasilitas rujukan — sejalan dengan kriteria rujukan Fetomaternal pada bagian 7.4 PPK ini. Panduan ini secara khusus mencakup diagnosis banding dan tata laksana perdarahan trimester awal, termasuk kehamilan ektopik, abortus, dan mola hidatidosa.
Tinjauan klinis terbaru mengenai kehamilan ektopik tuba menegaskan bahwa kondisi ini tetap bersifat time-sensitive dan berpotensi mengancam nyawa, dengan tiga pilar tata laksana yang konsisten dengan PPK ini: bedah (salpingektomi/salpingostomi), medikamentosa (metotreksat), dan ekspektatif pada kasus terpilih, disertai penekanan pada aspek perencanaan keluarga dan kesehatan mental pascatata laksana.
Society for Maternal-Fetal Medicine merekomendasikan penanganan aktif (bukan ekspektatif) pada kehamilan sikatriks bekas seksio sesarea, dengan pilihan reseksi operatif atau aspirasi uterus berpemandu USG, serta metotreksat intragestasional sebagai terapi tambahan pada kasus terpilih; metotreksat sistemik tunggal tidak direkomendasikan sebagai terapi utama pada kondisi ini. Rekomendasi ini memperkuat kriteria rujukan Fetomaternal pada kasus kehamilan sikatriks bekas seksio sesarea sebagaimana tercantum pada bagian 7.4.
| Istilah | Definisi |
|---|---|
| Kehamilan ektopik | Implantasi hasil konsepsi di luar kavum uteri. |
| Kehamilan ektopik tuba | Kehamilan ektopik yang berimplantasi di tuba falopi; lokasi tersering kehamilan ektopik. |
| Kehamilan heterotopik | Kombinasi kehamilan intrauterin dan kehamilan ektopik yang terjadi secara bersamaan. |
| Kehamilan sikatriks bekas seksio sesarea (cesarean scar ectopic pregnancy) | Implantasi kehamilan pada jaringan parut bekas insisi seksio sesarea sebelumnya di segmen bawah rahim. |
| β-hCG (beta human chorionic gonadotropin) | Hormon glikoprotein yang diproduksi trofoblas; digunakan sebagai penanda kehamilan dan pemantauan viabilitas. |
| USG transvaginal | Pemeriksaan ultrasonografi menggunakan probe transvaginal untuk visualisasi organ pelvis dan lokasi kehamilan dengan resolusi lebih tinggi dibandingkan USG transabdominal. |
| Salpingektomi | Tindakan bedah pengangkatan sebagian atau seluruh tuba falopi. |
| Salpingostomi | Tindakan bedah berupa insisi pada tuba falopi untuk mengevakuasi hasil konsepsi ektopik dengan mempertahankan tuba. |
| Laparoskopi | Prosedur bedah minimal invasif menggunakan kamera dan instrumen yang dimasukkan melalui sayatan kecil di dinding abdomen. |
| Laparotomi | Prosedur bedah terbuka melalui sayatan pada dinding abdomen. |
| Metotreksat (MTX) | Obat antagonis asam folat yang menghambat sintesis DNA sel yang membelah cepat; digunakan sebagai tata laksana medikamentosa kehamilan ektopik. |
| Kuldosentesis | Prosedur aspirasi cairan dari kavum Douglas melalui forniks posterior vagina untuk mendeteksi hemoperitoneum. |
| Pregnancy of unknown location (PUL) | Kondisi tes kehamilan positif tanpa temuan lokasi kehamilan yang jelas pada USG awal, memerlukan pemantauan lanjutan. |
| Imunoglobulin anti-D | Preparat imunoglobulin yang diberikan pada ibu Rhesus negatif untuk mencegah isoimunisasi Rhesus. |
| Hemoperitoneum | Adanya darah bebas di rongga peritoneum, umumnya akibat perdarahan intraabdomen. |
| Syok hipovolemik | Kondisi kegagalan sirkulasi akibat penurunan volume darah bersirkulasi secara bermakna, dapat terjadi pada kehamilan ektopik yang ruptur. |