PPK No. 6/73 · Divisi Fetomaternal Hiperemesis Gravidarum
Panduan Praktik Klinis

Hiperemesis Gravidarum

Hyperemesis Gravidarum

ICD-10
O21.0; O21.1
ICD-11
JA60.0; JA60.1
Keterangan / Populasi
Mual muntah berat; awal kehamilan
Buku Tematik Induk
B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal
Dasar RegulasiKeputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Lampiran, Tabel 7 (Spektrum Penyakit dan Kondisi Klinis yang Ditangani Spesialis Obstetri dan Ginekologi), No. Urut 6

Pengertian/Definisi

Dasar RegulasiTabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, No. Urut 6 dan Glosarium Lampiran (hal. 512)

Hiperemesis gravidarum (hyperemesis gravidarum, HG) adalah mual dan muntah berlebihan pada kehamilan yang menyebabkan gangguan cairan, elektrolit, dan/atau status nutrisi ibu, serta tidak dapat dijelaskan oleh penyebab lain — sesuai definisi resmi pada Glosarium Lampiran Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026. Kondisi ini merupakan bentuk paling berat dari spektrum mual muntah pada kehamilan (nausea and vomiting of pregnancy, NVP) yang secara klinis ditandai oleh muntah persisten, penurunan berat badan bermakna (umumnya ≥5% dari berat badan sebelum hamil), dehidrasi, dan gangguan elektrolit.

PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal, pada sub-bab yang membahas gangguan metabolik dan nutrisi pada awal kehamilan; penomoran bab akan disinkronkan pada saat Buku Tematik B3 diterbitkan. Perspektif tambahan pada tata laksana kasus berat dan kriteria rujukan subspesialistik pada PPK ini disumbangkan oleh Divisi Fetomaternal.

Nausea and vomiting of pregnancy secara keseluruhan dilaporkan memengaruhi sekitar 50–85% kehamilan, sedangkan bentuk paling berat, HG, dilaporkan pada sekitar 0,3–3% kehamilan pada studi berbasis diagnosis klinis, dengan rentang yang lebih luas (hingga sekitar 10%) bila digunakan kriteria diagnostik yang lebih longgar antarpopulasi. Gejala umumnya timbul pada usia kehamilan 4–10 minggu, mencapai puncak sekitar minggu ke-9, dan pada mayoritas kasus mereda sebelum usia kehamilan 20 minggu, meskipun sebagian kecil kasus dapat menetap hingga persalinan.

Patofisiologi HG belum sepenuhnya dipahami dan bersifat multifaktorial. Peningkatan tajam kadar human chorionic gonadotropin (hCG) dan estrogen pada trimester pertama lama diduga berperan, namun tidak sepenuhnya menjelaskan variasi keparahan antarindividu. Bukti terkini menunjukkan bahwa hormon Growth Differentiation Factor 15 (GDF15) yang diproduksi unit fetoplasenta merupakan mediator utama: kadar GDF15 prakehamilan yang rendah meningkatkan sensitivitas terhadap lonjakan kadar hormon ini pada awal kehamilan sehingga risiko HG meningkat, sedangkan kondisi dengan kadar GDF15 kronis tinggi (misalnya talasemia beta) berkaitan dengan gejala NVP yang jauh lebih ringan. Faktor genetik lain, infeksi Helicobacter pylori, serta disfungsi motilitas gastrointestinal turut disebutkan sebagai kontributor pada sebagian kasus.

Anamnesis

Anamnesis diarahkan untuk menegakkan pola mual-muntah yang khas HG sekaligus menyingkirkan penyebab lain muntah pada kehamilan muda, serta menggali faktor risiko yang meningkatkan kecurigaan klinis.

  • Onset, frekuensi, dan durasi muntah; hubungan dengan usia kehamilan (khas: awitan sebelum usia kehamilan 16 minggu).
  • Kemampuan mempertahankan asupan cairan dan makanan per oral; riwayat penurunan berat badan dan estimasi persentase penurunan dari berat badan sebelum hamil.
  • Dampak gejala terhadap aktivitas harian dan kualitas hidup (bekerja, mengurus rumah tangga, interaksi sosial) — merupakan salah satu unsur penting penentu keparahan menurut definisi konsensus internasional (lihat bagian Kriteria Diagnosis).
  • Gejala penyerta yang mengarah ke etiologi lain: nyeri perut hebat, demam, disuria, sakit kepala hebat, kaku kuduk, atau perdarahan pervaginam — kehadiran gejala ini menurunkan kemungkinan diagnosis HG murni dan mengarahkan pencarian diagnosis banding.
  • Faktor risiko: riwayat HG pada kehamilan sebelumnya (risiko kekambuhan dilaporkan tinggi pada kehamilan berikutnya), riwayat keluarga (ibu/saudara perempuan) dengan HG, usia ibu lebih muda, kehamilan dengan janin perempuan, riwayat mabuk perjalanan (motion sickness) atau migrain, serta kehamilan mola atau kehamilan multipel (kadar hCG lebih tinggi).
  • Riwayat komorbiditas (diabetes, penyakit tiroid, gangguan gastrointestinal kronis) dan riwayat penggunaan obat/suplemen yang telah dicoba.
  • Dampak psikososial: gejala ansietas atau depresi terkait beban gejala, serta dukungan psikososial yang tersedia dari pasangan/keluarga.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik berfokus pada penilaian derajat dehidrasi, status volume, dan tanda yang mengarah ke diagnosis banding.

  • Tanda vital: tekanan darah (termasuk pengukuran ortostatik bila memungkinkan), frekuensi nadi, suhu tubuh; takikardia dan hipotensi ortostatik menunjukkan dehidrasi bermakna.
  • Berat badan aktual dibandingkan berat badan sebelum hamil atau kunjungan sebelumnya, dan dihitung persentase penurunannya.
  • Tanda dehidrasi klinis: mukosa mulut kering, turgor kulit menurun, mata cekung, produksi urin menurun.
  • Pemeriksaan abdomen untuk menyingkirkan nyeri tekan fokal, tanda peritoneal, atau pembesaran uterus yang tidak sesuai usia kehamilan (curiga mola hidatidosa atau kehamilan multipel).
  • Pemeriksaan neurologis terarah pada kasus muntah berkepanjangan (nistagmus, ataksia, gangguan kesadaran — trias klasik ensefalopati Wernicke), meskipun trias lengkap sering tidak ditemukan sehingga kewaspadaan klinis tetap diperlukan pada setiap tanda neurologis baru.
  • Konfirmasi usia kehamilan dan viabilitas melalui pemeriksaan penunjang sesuai indikasi (lihat bagian Pemeriksaan Penunjang).

Kriteria Diagnosis

Dasar RegulasiTabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, No. Urut 6

Kode diagnosis Hiperemesis gravidarum (Hyperemesis gravidarum) menurut Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026: ICD-10 O21.0 (mual muntah ringan-sedang) dan O21.1 (hiperemesis gravidarum dengan gangguan metabolik); ICD-11 JA60.0 dan JA60.1. Diagnosis ditegakkan secara klinis dan merupakan diagnosis eksklusi.

Definisi konsensus internasional multipemangku kepentingan (Windsor definition) merumuskan kriteria diagnosis HG sebagai kombinasi: (1) awitan gejala pada kehamilan dini (sebelum usia kehamilan 16 minggu); (2) mual dan muntah, dengan sekurang-kurangnya salah satu bergejala berat; (3) ketidakmampuan makan dan/atau minum secara normal; dan (4) gejala yang secara bermakna membatasi aktivitas hidup sehari-hari. Tanda dehidrasi bersifat kontributif terhadap diagnosis namun tidak mutlak diperlukan.

Perlu ditekankan bahwa pemeriksaan keton urin (ketonuria) tidak lagi direkomendasikan sebagai penanda keparahan atau dasar penentuan kelayakan terapi HG, karena tidak terbukti berkorelasi baik dengan derajat dehidrasi maupun status nutrisi. Derajat keparahan sebaiknya dinilai secara klinis dan dikuantifikasi menggunakan instrumen tervalidasi seperti skor PUQE (Pregnancy-Unique Quantification of Emesis and Nausea) dan/atau skor HELP (HyperEmesis Level Prediction), yang dapat memandu keputusan rawat jalan versus rawat inap dan evaluasi respons terapi dari waktu ke waktu.

Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Hiperemesis gravidarum (ICD-10 O21.0/O21.1; ICD-11 JA60.0/JA60.1), ditegakkan setelah penyingkiran diagnosis banding berikut secara berjenjang sesuai temuan klinis.

  • Penyakit trofoblastik gestasional (mola hidatidosa) — kadar hCG sangat tinggi, uterus besar dari usia kehamilan, gambaran khas pada ultrasonografi (rujuk PPK Mola Hidatidosa).
  • Kehamilan multipel — kadar hCG tinggi merupakan faktor risiko HG yang lebih berat.
  • Gastroenteritis, kolesistitis, pankreatitis, apendisitis, dan penyebab bedah abdomen akut lain.
  • Infeksi saluran kemih dan pielonefritis.
  • Penyakit tiroid (hipertiroidisme gestasional transien akibat stimulasi hCG pada reseptor TSH, maupun tirotoksikosis primer).
  • Penyakit hati dalam kehamilan lain — hepatitis, kolestasis intrahepatik kehamilan (intrahepatic cholestasis of pregnancy, ICP), acute fatty liver of pregnancy (AFLP) pada usia kehamilan lanjut.
  • Penyebab non-obstetri: migrain, gastroparesis, ulkus peptikum, dan pada kasus atipikal (awitan setelah usia kehamilan 16 minggu, nyeri kepala hebat, atau defisit neurologis fokal) pertimbangkan penyebab intrakranial.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang bertujuan mengonfirmasi derajat gangguan metabolik, menyingkirkan diagnosis banding, dan memandu tata laksana; bukan untuk menetapkan derajat keparahan HG itu sendiri, yang lebih tepat dinilai secara klinis (lihat bagian Kriteria Diagnosis).

  • Darah rutin lengkap dan elektrolit serum (natrium, kalium, klorida) untuk menilai hemokonsentrasi dan gangguan elektrolit.
  • Ureum dan kreatinin untuk menilai fungsi ginjal dan derajat dehidrasi.
  • Fungsi hati (SGOT/SGPT, bilirubin) — dapat meningkat ringan-sedang pada HG berat dan membantu menyingkirkan penyakit hati lain dalam kehamilan.
  • Fungsi tiroid (TSH, FT4) bila dicurigai hipertiroidisme gestasional transien — umumnya tidak memerlukan terapi antitiroid bila tidak disertai gejala tirotoksikosis klinis yang jelas.
  • Ultrasonografi obstetrik untuk konfirmasi usia kehamilan, viabilitas, jumlah janin, dan menyingkirkan mola hidatidosa.
  • Urinalisis dan kultur urin bila dicurigai infeksi saluran kemih; pemeriksaan keton urin dapat dilakukan sebagai bagian penapisan umum namun tidak digunakan untuk menentukan keparahan HG atau kelayakan terapi.
  • Pada kasus berkepanjangan atau berat, pertimbangkan pemeriksaan kadar tiamin bila fasilitas tersedia, terutama sebelum pemberian dekstrosa intravena dosis tinggi atau nutrisi enteral/parenteral.

Tata Laksana

Tata Laksana Non-Farmakologis

Tata laksana lini pertama pada HG derajat ringan-sedang bersifat suportif dan dietetik, dapat dilakukan rawat jalan bila status volume dan kemampuan asupan oral masih dapat dipertahankan.

  • Modifikasi pola makan: porsi kecil dan sering, makanan rendah lemak dan tinggi karbohidrat/protein, hindari makanan/aroma pencetus, konsumsi makanan dingin/tawar lebih dapat ditoleransi.
  • Hidrasi oral bertahap dengan cairan elektrolit bila memungkinkan; hindari asupan cairan dan padat bersamaan.
  • Suplementasi jahe (ginger) dosis rendah dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada NVP ringan-sedang berdasarkan bukti yang masih terbatas dan tidak konsisten antarpenelitian.
  • Dukungan psikososial dan penilaian dampak fungsional; pertimbangkan rujukan ke layanan kesehatan jiwa bila ditemukan gejala ansietas/depresi bermakna akibat beban penyakit.
  • Istirahat cukup dan penghindaran pencetus lingkungan (bau menyengat, kelelahan).

Tata Laksana Farmakologis

Terapi farmakologis diberikan bertahap (stepwise) sesuai keparahan gejala dan respons terhadap lini sebelumnya, mengikuti prinsip keamanan pada kehamilan.

  • Lini pertama: kombinasi piridoksin (vitamin B6) dengan atau tanpa doksilamin — kombinasi ini memiliki profil keamanan kehamilan yang paling banyak didukung data dan direkomendasikan sebagai terapi awal NVP/HG.
  • Lini kedua (bila lini pertama tidak adekuat): antihistamin (mis. dimenhidrinat) atau antagonis dopamin (mis. metoklopramid) sesuai ketersediaan dan profil efek samping; pemantauan gejala ekstrapiramidal pada penggunaan metoklopramid.
  • Lini ketiga: antagonis reseptor serotonin 5-HT3 (mis. ondansetron) pada kasus refrakter; data keamanan trimester pertama terus berkembang, sehingga keputusan penggunaannya sebaiknya didasarkan pada diskusi risiko-manfaat bersama pasien (informed decision), dengan pemantauan interval QT pada penggunaan dosis tinggi atau faktor risiko aritmia.
  • Kortikosteroid (mis. metilprednisolon) dapat dipertimbangkan sebagai lini lanjut pada kasus HG berat dan refrakter terhadap terapi lain, dengan mempertimbangkan potensi risiko celah orofasial bila digunakan pada trimester pertama — keputusan bersifat individual dan sebaiknya melibatkan subspesialis Fetomaternal.
  • Koreksi cairan dan elektrolit intravena pada pasien dengan dehidrasi bermakna atau ketidakmampuan mempertahankan asupan oral: cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau Ringer laktat), koreksi kalium sesuai kadar serum.
  • WAJIB: berikan tiamin (vitamin B1) sebelum atau bersamaan dengan pemberian cairan mengandung dekstrosa, nutrisi enteral, atau nutrisi parenteral pada pasien dengan muntah berkepanjangan atau asupan nutrisi yang sangat berkurang, untuk mencegah presipitasi ensefalopati Wernicke.
  • Hindari pemberian glukosa/dekstrosa sebagai cairan resusitasi awal tanpa suplementasi tiamin pada kasus muntah berkepanjangan.
  • Pertimbangkan tromboprofilaksis farmakologis (mis. heparin berat molekul rendah) pada pasien yang dirawat inap dengan HG berat, terutama bila disertai faktor risiko tromboemboli vena tambahan, mengingat imobilisasi dan dehidrasi meningkatkan risiko trombosis; keputusan disesuaikan dengan penilaian risiko individual.

Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)

Tata laksana bedah bukan modalitas primer pada HG. Prosedur invasif dipertimbangkan hanya pada kondisi berikut, dan sebaiknya melibatkan subspesialis Fetomaternal serta tim gizi klinik.

  • Pemasangan jalur nutrisi enteral (nasogastrik/nasojejunal) pada HG berat dengan kegagalan terapi farmakologis dan risiko malnutrisi bermakna, sebagai alternatif yang lebih disukai dibanding nutrisi parenteral bila saluran cerna masih dapat digunakan.
  • Nutrisi parenteral (termasuk melalui jalur vena sentral bila diperlukan jangka panjang) dipertimbangkan hanya pada kegagalan nutrisi enteral, mengingat risiko komplikasi terkait kateter dan infeksi yang lebih tinggi.
  • Evakuasi kehamilan mola bila diagnosis banding mola hidatidosa terkonfirmasi (rujuk PPK Mola Hidatidosa).

Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal

Rujukan ke subspesialis Fetomaternal atau fasilitas dengan kapasitas perawatan lebih tinggi dipertimbangkan pada kondisi di luar kewenangan spesialis umum berikut.

  • HG berat yang refrakter terhadap terapi farmakologis lini pertama dan kedua, atau memerlukan rawat inap berulang.
  • Kecurigaan atau tanda klinis ensefalopati Wernicke (nistagmus, ataksia, gangguan kesadaran).
  • Kebutuhan dukungan nutrisi enteral/parenteral jangka panjang.
  • Gangguan elektrolit berat atau komplikasi metabolik yang tidak terkoreksi dengan tata laksana standar.
  • Komorbiditas signifikan (penyakit tiroid berat, penyakit hati, gangguan psikiatri berat) yang memerlukan tata laksana multidisiplin.

Edukasi Pasien dan Keluarga

  • Jelaskan bahwa HG merupakan kondisi medis nyata dengan dasar biologis (termasuk peran hormon plasenta seperti GDF15), bukan semata respons psikologis terhadap kehamilan, untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kepatuhan terapi.
  • Informasikan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi segera: ketidakmampuan mempertahankan cairan >24 jam, tanda dehidrasi berat, penurunan berat badan progresif, nyeri perut hebat, atau gangguan kesadaran/gangguan penglihatan/gangguan keseimbangan.
  • Edukasi mengenai pola makan dan modifikasi gaya hidup yang dapat membantu mengurangi gejala ringan-sedang.
  • Diskusikan pilihan terapi farmakologis bertahap beserta profil keamanan pada kehamilan agar keputusan bersama (shared decision making) dapat diambil.
  • Libatkan keluarga/pasangan dalam dukungan praktis (persiapan makanan, pemantauan asupan) dan dukungan emosional, mengingat dampak fungsional HG terhadap aktivitas sehari-hari dan kesehatan mental ibu.
  • Informasikan bahwa mayoritas kasus membaik sebelum usia kehamilan 20 minggu, namun tetap perlu kontrol berkala untuk memantau status janin dan ibu, serta bahwa risiko kekambuhan pada kehamilan berikutnya cukup tinggi sehingga konseling prakonsepsi dianjurkan.

Prognosis

Prognosis maternal pada umumnya baik dengan tata laksana adekuat; sebagian besar gejala mereda seiring bertambahnya usia kehamilan dan menghilang sebelum trimester kedua.

Tanpa tata laksana yang memadai, HG berat dapat menyebabkan komplikasi serius pada ibu, antara lain gangguan elektrolit berat, ensefalopati Wernicke (yang dapat timbul dalam waktu sesingkat dua minggu muntah persisten tanpa suplementasi tiamin), robekan Mallory-Weiss akibat muntah berulang, cedera ginjal akut, gangguan psikologis akibat beban penyakit berkepanjangan, serta peningkatan risiko tromboemboli vena terkait imobilisasi dan dehidrasi.

Pada janin, HG berat yang tidak tertangani dan disertai malnutrisi maternal bermakna telah dikaitkan dengan sedikit peningkatan risiko berat lahir rendah/kecil untuk usia kehamilan dan kelahiran prematur pada beberapa tinjauan sistematik, meskipun pada mayoritas kasus dengan tata laksana adekuat luaran janin tidak berbeda bermakna dari populasi umum. Tinjauan sistematik jangka panjang pada anak yang lahir dari ibu dengan HG menemukan peningkatan risiko gangguan ansietas dan gangguan tidur, tanpa peningkatan risiko gangguan spektrum autisme; interpretasinya perlu tetap berhati-hati mengingat keterbatasan metodologis studi asal (variasi definisi HG dan potensi bias residual). [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, POGI, atau registri fetomaternal nasional untuk angka luaran spesifik populasi Indonesia].

Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Tingkat evidens dinyatakan menggunakan skala evidens standar (Oxford Centre for Evidence-Based Medicine/skema evidens grade I–IV yang lazim digunakan pada Panduan Praktik Klinis), sesuai sumber yang dikutip pada bagian Kepustakaan.

RekomendasiTingkat EvidensSumber
Kombinasi piridoksin–doksilamin sebagai terapi lini pertama NVP/HGI (meta-analisis RCT)ACOG PB 189 (2018); Cochrane CD007575.pub4 (Matthews dkk., 2015)
Ketonuria tidak digunakan sebagai penanda keparahan atau dasar kelayakan terapi HGA (rekomendasi berbasis konsensus ahli dan tinjauan bukti)RCOG Green-top Guideline No. 69 (2024)
Skor PUQE dan/atau skor HELP untuk stratifikasi keparahan dan pemantauan respons terapiC (RCOG) / IIaACOG PB 189 (2018); RCOG Green-top Guideline No. 69 (2024); MacGibbon dkk. (2021)
Tiamin wajib diberikan sebelum/bersama dekstrosa atau nutrisi enteral/parenteral pada muntah berkepanjangan untuk mencegah ensefalopati WernickeGood Practice Point (konsensus ahli)RCOG Green-top Guideline No. 69 (2024); Jansen dkk., CMAJ (2024)
Ondansetron sebagai terapi lini lanjut pada HG refrakter, dengan diskusi risiko-manfaat individualA (RCOG, efikasi) dengan kehati-hatian keamanan trimester pertamaACOG PB 189 (2018); RCOG Green-top Guideline No. 69 (2024)
Cakupan intervensi farmakologis dan non-farmakologis untuk HG spesifikI (tinjauan sistematik Cochrane)Cochrane CD010607.pub2 (Boelig dkk., 2016)

Indikator Medis

  • Persentase pasien HG dengan skor PUQE dan/atau skor HELP yang terdokumentasi pada kunjungan awal dan kunjungan kontrol.
  • Proporsi pasien yang mencapai perbaikan asupan oral dan penghentian terapi intravena dalam 48–72 jam sejak inisiasi tata laksana rawat inap.
  • Angka kejadian ensefalopati Wernicke pada pasien HG yang dirawat (target: nol kejadian, sebagai indikator kepatuhan protokol suplementasi tiamin).
  • Proporsi pasien HG berat yang dirujuk tepat waktu ke subspesialis Fetomaternal sesuai kriteria pada bagian 7.4.
  • Angka readmisi terkait HG dalam 7 hari pascarawat.

Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 No. 6) menetapkan cakupan kompetensi spesialis Obstetri dan Ginekologi Indonesia atas diagnosis dan tata laksana Hiperemesis gravidarum (ICD-10 O21.0/O21.1; ICD-11 JA60.0/JA60.1) tanpa merinci algoritme farmakoterapi bertingkat; PPK ini mengisi kerangka operasional tersebut merujuk pada standar internasional berikut, bersifat memperkaya dan tidak menggantikan ketentuan nasional.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), Practice Bulletin No. 189 — Nausea and Vomiting of Pregnancy (2018): merekomendasikan pendekatan bertahap dimulai dari piridoksin/doksilamin, dengan skor PUQE sebagai instrumen stratifikasi keparahan yang tervalidasi.

Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), Green-top Guideline No. 69 — The Management of Nausea and Vomiting of Pregnancy and Hyperemesis Gravidarum (2024, pembaruan terkini): merekomendasikan penilaian klinis serta skor PUQE dan/atau HELP untuk menilai keparahan [Grade C], secara eksplisit menyatakan ketonuria bukan indikator dehidrasi dan tidak boleh digunakan untuk menilai keparahan [Grade A], serta menekankan pemberian tiamin sebelum dekstrosa pada muntah berkepanjangan.

Perbandingan dengan standar nasional: standar nasional (Kepkonsil) belum secara eksplisit mengatur larangan penggunaan ketonuria sebagai penanda keparahan; PPK ini mengikuti rekomendasi RCOG (2024) yang lebih mutakhir dan berbasis bukti terkini, sehingga pemeriksaan keton urin pada PPK ini diposisikan sebagai bagian penapisan umum, bukan penanda keparahan HG.

Cochrane Database of Systematic Reviews menyumbang dua tinjauan relevan: Matthews dkk. (CD007575.pub4, 2015) untuk intervensi NVP secara umum, dan Boelig dkk. (CD010607.pub2, 2016) yang secara spesifik meninjau intervensi untuk HG; keduanya menjadi dasar evidens tingkat I pada tabel Tingkat Evidens di atas.

Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara standar nasional dan standar internasional pada prinsip dasar tata laksana bertahap HG; perbedaan utama terletak pada tingkat kerincian algoritme farmakoterapi dan penilaian keparahan, yang pada standar nasional didelegasikan ke tingkat PPK institusional seperti dokumen ini. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional (Kepkonsil) sebagai kerangka kompetensi, dengan algoritme klinis operasional mengikuti kombinasi bukti ACOG/RCOG/Cochrane di atas.

Kepustakaan

  1. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Lampiran Tabel 7 No. Urut 6 dan Glosarium.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists. ACOG Practice Bulletin No. 189: Nausea and Vomiting of Pregnancy. Obstet Gynecol. 2018;131(1):e15–e30. doi:10.1097/AOG.0000000000002456
  3. Nelson-Piercy C, Dean C, Shehmar M, Gadsby R, O'Hara M, Hodson K, Nana M; Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. The Management of Nausea and Vomiting in Pregnancy and Hyperemesis Gravidarum (Green-top Guideline No. 69). BJOG. 2024;131(7):e1–e30. doi:10.1111/1471-0528.17739
  4. Matthews A, Haas DM, O'Mathúna DP, Dowswell T. Interventions for nausea and vomiting in early pregnancy. Cochrane Database Syst Rev. 2015;(9):CD007575. doi:10.1002/14651858.CD007575.pub4
  5. Boelig RC, Barton SJ, Saccone G, Kelly AJ, Edwards SJ, Berghella V. Interventions for treating hyperemesis gravidarum. Cochrane Database Syst Rev. 2016;(5):CD010607. doi:10.1002/14651858.CD010607.pub2
  6. MacGibbon KW, Kim S, Mullin PM, Fejzo MS. HyperEmesis Level Prediction (HELP Score) Identifies Patients with Indicators of Severe Disease: a Validation Study. Geburtshilfe Frauenheilkd. 2021;81(1):90–98. doi:10.1055/a-1309-1997
  7. Jansen LAW, Koot MH, van't Hooft J, et al. The Windsor definition for hyperemesis gravidarum: a multistakeholder international consensus definition. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2021;266:15–22. doi:10.1016/j.ejogrb.2021.09.004
  8. Jansen LAW, Shaw V, Grooten IJ, Koot MH, Dean CR, Painter RC. Diagnosis and treatment of hyperemesis gravidarum. CMAJ. 2024;196(14):E477–E485. doi:10.1503/cmaj.221502
  9. Fejzo MS, Rocha N, Cimino I, et al. GDF15 linked to maternal risk of nausea and vomiting during pregnancy. Nature. 2024;625:760–767. doi:10.1038/s41586-023-06921-9
  10. Nijsten K, Jansen LAW, Limpens J, Finken MJJ, Koot MH, Grooten IJ, Roseboom TJ, Painter RC. Long-term health outcomes of children born to mothers with hyperemesis gravidarum: a systematic review and meta-analysis. Am J Obstet Gynecol. 2022;227(3):414–429.e17. doi:10.1016/j.ajog.2022.03.052

Glosarium

Hiperemesis Gravidarum (HG)
Mual dan muntah berlebihan pada kehamilan yang menyebabkan gangguan cairan, elektrolit, dan/atau status nutrisi ibu, tidak dapat dijelaskan oleh penyebab lain; bentuk paling berat dari NVP.
Nausea and Vomiting of Pregnancy (NVP)
Spektrum mual dan/atau muntah pada kehamilan muda, mulai dari derajat ringan ('morning sickness') hingga hiperemesis gravidarum sebagai bentuk paling berat.
Skor PUQE (Pregnancy-Unique Quantification of Emesis and Nausea)
Instrumen tervalidasi berbasis tiga pertanyaan (durasi mual, frekuensi muntah, frekuensi retching) untuk menilai keparahan NVP/HG secara terstruktur.
Skor HELP (HyperEmesis Level Prediction)
Instrumen penilaian keparahan HG yang mencakup gejala, asupan, fungsi psikososial, status hidrasi, efektivitas terapi, dan perkembangan klinis; dilaporkan lebih sensitif dibanding skor PUQE dalam mengidentifikasi kasus berat.
Windsor Definition
Definisi konsensus internasional multipemangku kepentingan untuk HG, mencakup awitan gejala sebelum usia kehamilan 16 minggu, mual-muntah dengan minimal satu gejala berat, ketidakmampuan makan/minum normal, dan keterbatasan aktivitas harian yang bermakna.
Ketonuria
Adanya keton dalam urin, dahulu sering dipakai sebagai penanda keparahan HG; bukti terkini menunjukkan ketonuria tidak berkorelasi baik dengan derajat dehidrasi/nutrisi sehingga tidak lagi direkomendasikan sebagai dasar penilaian keparahan.
Ensefalopati Wernicke
Kegawatdaruratan neurologis akibat defisiensi tiamin (vitamin B1) yang ditandai trias nistagmus/gangguan gerak mata, ataksia, dan gangguan kesadaran; dapat timbul dalam waktu singkat pada muntah persisten tanpa suplementasi tiamin.
GDF15 (Growth Differentiation Factor 15)
Hormon yang diproduksi unit fetoplasenta dan diyakini menjadi mediator utama mual-muntah kehamilan; sensitivitas ibu terhadap lonjakan kadar GDF15 pada awal kehamilan berkaitan dengan risiko HG.
Refeeding Syndrome
Kumpulan gangguan metabolik (terutama hipofosfatemia, hipokalemia, hipomagnesemia) yang dapat terjadi saat pemberian nutrisi terlalu cepat pada pasien dengan status starvasi berkepanjangan.
Robekan Mallory-Weiss
Robekan mukosa pada persambungan esofagus-lambung akibat muntah berulang dan hebat, dapat menyebabkan perdarahan saluran cerna atas.
Tromboprofilaksis
Tindakan pencegahan tromboemboli vena, misalnya dengan heparin berat molekul rendah, yang dipertimbangkan pada pasien rawat inap dengan risiko trombosis meningkat, termasuk pada HG berat dengan imobilisasi dan dehidrasi.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138 · Edisi 1, Agustus 2026