Solusio Plasenta
1. Pengertian/Definisi
PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Perdarahan Antepartum dan Kegawatdaruratan Plasenta, Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal.
Solusio plasenta (Placental abruption) adalah pelepasan plasenta yang sebelumnya berimplantasi normal dari desidua basalis, sebagian atau seluruhnya, sebelum janin lahir — definisi ini merujuk langsung pada rumusan resmi Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Bab III.A.2.a.1. Pelepasan plasenta menimbulkan perdarahan pada bidang antara desidua dan plasenta yang dapat tampak keluar melalui vagina (revealed hemorrhage) atau tertahan di belakang plasenta tanpa perdarahan pervaginam yang tampak (concealed hemorrhage), sehingga derajat keparahan klinis sering tidak sebanding dengan jumlah darah yang terlihat.
Patofisiologi singkat
Proses ini umumnya diawali oleh perdarahan pada arteri spiralis desidua yang membentuk hematoma retroplasenta, memisahkan plasenta dari dinding uterus. Darah yang berkumpul memicu pelepasan tromboplastin desidua dan faktor pertumbuhan endotel vaskular sehingga trombin terbentuk dalam jumlah besar; trombin inilah yang memicu hipertonus/hiperaktivitas uterus sekaligus menjadi pemicu koagulasi intravaskular diseminata (KID/DIC) pada kasus berat. Dua pola klinis dikenal: solusio akut, yang timbul mendadak dengan gejala nyeri dan perdarahan jelas, serta solusio kronik, yang dapat asimtomatik atau bermanifestasi sebagai perdarahan bercak berulang, oligohidramnion, dan hambatan pertumbuhan janin akibat insufisiensi uteroplasenta yang berlangsung lama.
Besaran masalah
Kejadian solusio plasenta dilaporkan pada sekitar 0,4–1% kehamilan di berbagai registri internasional, dengan angka kematian janin meningkat dari sekitar 0,6% pada kehamilan tanpa solusio menjadi berkisar 3–12% pada kehamilan dengan solusio, bergantung derajat keparahan dan luas pelepasan plasenta. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap 1–5% kematian ibu di berbagai laporan berbasis rumah sakit. Data insidensi, angka kematian ibu, dan angka kematian perinatal yang spesifik untuk populasi Indonesia [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, POGI, WHO] belum tercantum eksplisit dalam Kepkonsil sehingga tidak dikutip sebagai angka pasti dalam PPK ini.
2. Anamnesis
Keluhan utama yang paling sering dilaporkan adalah perdarahan pervaginam berwarna merah kehitaman (dark red), disertai nyeri perut atau pinggang yang timbul mendadak dan bersifat menetap (unremitting), berbeda dari nyeri his intermiten pada persalinan biasa. Perlu ditelusuri secara eksplisit apakah jumlah darah yang tampak sesuai dengan derajat nyeri dan tanda vital, mengingat kemungkinan perdarahan tersembunyi (concealed hemorrhage) yang dapat menutupi beratnya kondisi sesungguhnya.
Keluhan penyerta yang harus digali meliputi rahim yang terasa tegang atau keras terus-menerus, kontraksi yang sangat sering dengan tonus dasar tinggi, serta perubahan gerakan janin (berkurang atau menghilang). Pada solusio kronik, keluhan dapat lebih samar berupa bercak darah berulang tanpa nyeri hebat, sehingga anamnesis riwayat perdarahan pada kunjungan antenatal sebelumnya menjadi penting.
Faktor risiko yang wajib ditanyakan secara terarah
- Riwayat solusio plasenta pada kehamilan sebelumnya — faktor risiko individual terkuat, dengan risiko rekurensi yang meningkat bermakna dibandingkan populasi umum
- Hipertensi kronik atau preeklampsia/hipertensi gestasional pada kehamilan berjalan
- Trauma abdomen langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh, kekerasan dalam rumah tangga)
- Merokok aktif serta penggunaan zat psikoaktif, terutama kokain dan metamfetamin
- Ketuban pecah dini, khususnya pada kehamilan preterm
- Polihidramnion dengan dekompresi uterus mendadak (misalnya pascaamnioreduksi atau pecah ketuban spontan mendadak)
- Korioamnionitis
- Usia ibu lanjut, paritas tinggi, kehamilan multipel, dan riwayat trombofilia
3. Pemeriksaan Fisik
Penilaian tanda vital harus dilakukan cermat karena takikardia dan hipotensi dapat muncul terlambat pada perdarahan tersembunyi, dan sebaliknya dapat tersamar oleh vasokonstriksi kompensasi pada ibu dengan preeklampsia berat. Tanda syok yang tidak sebanding dengan volume perdarahan tampak (revealed) merupakan sinyal kuat adanya komponen concealed hemorrhage yang signifikan.
Temuan pada palpasi dan auskultasi abdomen
- Uterus tegang, nyeri tekan difus, dengan konsistensi keras seperti papan (woody/board-like uterus) pada kasus berat
- Tinggi fundus uteri dapat bertambah secara cepat akibat akumulasi darah retroplasenta
- Kontraksi hipertonik dengan frekuensi tinggi dan tonus dasar yang meningkat
- Denyut jantung janin (DJJ) dapat menunjukkan bradikardia, deselerasi lambat/variabel berulang, penurunan variabilitas, atau tidak terdengar sama sekali pada kematian janin intrauterin
Inspeksi genitalia eksterna dan pemeriksaan inspekulo dilakukan untuk menilai warna serta jumlah darah dan menyingkirkan penyebab perdarahan lokal pada serviks/vagina. Pemeriksaan colok vagina (digital) DITUNDA sampai plasenta previa disingkirkan melalui pencitraan ultrasonografi, karena manipulasi digital pada plasenta previa dapat memicu perdarahan masif.
4. Kriteria Diagnosis
Diagnosis solusio plasenta pada dasarnya bersifat klinis, ditegakkan berdasarkan trias perdarahan pervaginam berwarna gelap, nyeri/ketegangan uterus yang menetap, dan kelainan pola denyut jantung janin, dengan konfirmasi pencitraan ultrasonografi bila memungkinkan. Perlu ditegaskan bahwa sensitivitas USG untuk mendeteksi hematoma retroplasenta terbatas — sekitar 20–50% kasus dapat luput terdeteksi — sehingga USG negatif TIDAK menyingkirkan diagnosis pada kasus dengan gambaran klinis yang kuat; keputusan tata laksana tetap mengutamakan kecurigaan klinis.
Klasifikasi keparahan (klasifikasi Sher, dipakai sebagai acuan operasional)
| Derajat | Gambaran Klinis |
|---|---|
| Stadium I (ringan) | Perdarahan pervaginam ringan atau tidak ada; diagnosis kerap baru diketahui secara retrospektif pascapersalinan melalui bekuan retroplasenta kecil pada plasenta yang lahir; tanpa tanda gawat janin maupun koagulopati ibu |
| Stadium II (sedang) | Perdarahan pervaginam nyata, uterus hipertonik dan nyeri tekan, terdapat tanda gawat janin pada pemantauan DJJ, ibu belum mengalami syok |
| Stadium IIIa (berat, tanpa koagulopati) | Perdarahan berat dan/atau tersembunyi masif, uterus tegang berat, kematian janin intrauterin, syok ibu, tanpa gangguan koagulasi yang bermakna |
| Stadium IIIb (berat, dengan koagulopati) | Sama seperti stadium IIIa disertai koagulopati bermakna (penurunan fibrinogen, pemanjangan PT/aPTT, atau gambaran KID/DIC) |
Kadar fibrinogen plasma merupakan salah satu penanda laboratorium terpenting untuk memprediksi keparahan solusio plasenta, khususnya pada kasus dengan kematian janin: kadar fibrinogen di bawah 2 g/L (200 mg/dL) berkaitan dengan risiko komplikasi maternal berat yang meningkat dan menjadi ambang kewaspadaan untuk aktivasi protokol transfusi masif.
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja ditulis sebagai "Solusio plasenta stadium [sesuai temuan klinis], usia kehamilan [...] minggu", dengan pencantuman kode O45.9 (ICD-10) dan JA8C.Z (ICD-11).
Diagnosis banding yang wajib disingkirkan
- Plasenta previa — umumnya perdarahan merah segar, berulang, tanpa nyeri, tanpa ketegangan uterus
- Vasa previa — perdarahan timbul setelah ketuban pecah, sering disertai perburukan DJJ akut
- Ruptur uteri — terutama pada riwayat seksio sesarea, ditandai nyeri hebat mendadak, bagian janin teraba lebih mudah, presentasi naik, dan hilangnya DJJ secara tiba-tiba
- Persalinan preterm dengan bloody show — perdarahan minimal bercampur lendir, tanpa ketegangan uterus persisten
- Ruptur sinus marginalis plasenta — klinis lebih ringan, umumnya self-limited
- Penyebab lokal serviks/vagina (polip, erosi serviks, keganasan serviks) — tersingkir melalui inspekulo
- Koagulopati non-obstetri yang mendasari perdarahan
6. Pemeriksaan Penunjang
- Ultrasonografi obstetri: konfirmasi lokasi plasenta (menyingkirkan previa), identifikasi hematoma retroplasenta bila tervisualisasi, penilaian profil biofisik janin
- Kardiotokografi (CTG) kontinu untuk memantau pola denyut jantung janin dan aktivitas uterus
- Darah perifer lengkap (hemoglobin, hematokrit, trombosit)
- Golongan darah dan crossmatch, dipersiapkan sejak awal mengingat risiko perdarahan masif mendadak
- Profil koagulasi: PT, aPTT, fibrinogen, D-dimer — fibrinogen di bawah 2 g/L merupakan penanda risiko komplikasi berat dan indikasi kewaspadaan transfusi
- Fungsi ginjal dan hati, terutama bila dicurigai preeklampsia yang menyertai
- Kleihauer-Betke test pada ibu Rh-negatif untuk memperkirakan volume perdarahan fetomaternal dan menentukan dosis imunoglobulin anti-D
- Pencitraan tambahan (mis. FAST abdomen ibu) bila etiologi terkait trauma
7. Tata Laksana
Tata laksana bersifat individual berdasarkan derajat keparahan, usia kehamilan, status janin (hidup/viable atau meninggal), dan stabilitas hemodinamik ibu. Prinsip umum adalah stabilisasi ibu, pemantauan janin ketat, dan pengambilan keputusan persalinan tepat waktu.
A. Deskripsi — perspektif fetomaternal relevan pada solusio plasenta karena tata laksana kasus preterm dengan janin masih viable memerlukan keseimbangan cermat antara risiko pemburukan mendadak pada ibu dan potensi manfaat penundaan persalinan untuk pematangan paru janin — keputusan yang idealnya dibuat bersama subspesialis fetomaternal pada kasus borderline.
B. Prinsip tata laksana ekspektatif terbatas — pada solusio plasenta stadium I–II dengan usia kehamilan jauh dari aterm, ibu stabil, dan tidak ada tanda gawat janin, tata laksana ekspektatif di fasilitas dengan kemampuan pemantauan ketat dan unit neonatal dapat dipertimbangkan untuk memperpanjang usia kehamilan, dengan syarat pemantauan harian meliputi CTG, evaluasi pertumbuhan janin berkala, dan kesiapan tim untuk tindakan segera bila terjadi perburukan sewaktu-waktu. Ambang untuk menghentikan pendekatan ekspektatif adalah munculnya tanda gawat janin, perdarahan aktif memberat, atau instabilitas hemodinamik ibu.
C. Ilustrasi kasus lapangan — seorang perempuan G2P1 usia kehamilan 29 minggu datang dengan perdarahan bercak dan nyeri perut ringan; USG tidak menunjukkan hematoma jelas namun gambaran klinis mengarah pada solusio stadium I. Setelah observasi 48 jam dengan CTG harian dan kortikosteroid antenatal, kondisi tetap stabil sehingga kehamilan dilanjutkan dengan pemantauan ketat rawat jalan terjadwal; persalinan akhirnya dilakukan pada usia kehamilan 34 minggu setelah muncul tanda perburukan ringan, dengan luaran neonatal baik. Kasus ini menggambarkan pentingnya reevaluasi berkelanjutan, bukan keputusan tunggal di awal, dalam tata laksana ekspektatif.
7.1. Tata Laksana Non-Farmakologis
- Stabilisasi jalan napas, pernapasan, sirkulasi (ABC); pemberian oksigen sesuai indikasi
- Posisi ibu miring kiri untuk menghindari kompresi aortokaval
- Pemasangan dua jalur intravena berdiameter besar untuk resusitasi cairan cepat
- Pemantauan tanda vital ibu dan balans cairan secara ketat
- Pemantauan DJJ kontinu (CTG) sejak awal evaluasi
- Aktivasi protokol persiapan produk darah (PRC, FFP, kriopresipitat, trombosit) sesuai fasilitas
- Penetapan rencana persalinan (waktu dan cara) berdasarkan derajat keparahan dan usia kehamilan
7.2. Tata Laksana Farmakologis
- Resusitasi cairan kristaloid sebagai lini pertama sambil menunggu produk darah
- Transfusi komponen darah (PRC, FFP, kriopresipitat, trombosit) sesuai hasil pemeriksaan koagulasi dan derajat perdarahan; pertahankan kadar fibrinogen di atas 2 g/L selama perdarahan aktif berlangsung
- Kortikosteroid antenatal pada usia kehamilan 24 hingga kurang dari 34 minggu bila persalinan preterm mengancam dan kondisi ibu-janin memungkinkan penundaan singkat — betametason 12 mg intramuskular, dua dosis berjarak 24 jam, atau deksametason 6 mg intramuskular tiap 12 jam sebanyak empat dosis
- Magnesium sulfat untuk neuroproteksi janin pada usia kehamilan di bawah 32 minggu bila persalinan preterm tidak dapat dihindari, mengikuti protokol dosis loading-maintenance yang berlaku di fasilitas rujukan
- Profilaksis imunoglobulin anti-D pada ibu Rh-negatif, dosis disesuaikan hasil Kleihauer-Betke test
- Tokolisis TIDAK direkomendasikan pada solusio plasenta yang bermakna secara klinis, karena berisiko menutupi perburukan dan memperberat perdarahan tersembunyi; hanya dipertimbangkan sangat selektif pada kasus ringan dengan janin sangat prematur di bawah pengawasan ketat di fasilitas rujukan
7.3. Tata Laksana Bedah/Prosedural
- Seksio sesarea segera diindikasikan pada gawat janin dengan janin viable, perdarahan berat, atau instabilitas hemodinamik ibu yang tidak segera teratasi
- Persalinan pervaginam dapat dipertimbangkan bila janin telah meninggal atau tidak viable serta kondisi ibu stabil, dilakukan amniotomi untuk mempercepat persalinan dan mengurangi tekanan intrauterin
- Histerektomi menjadi tata laksana definitif pada atonia uteri refrakter atau uterus couvelaire dengan perdarahan yang tidak terkendali setelah upaya konservatif gagal
7.4. Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal
- Solusio plasenta pada kehamilan preterm ekstrem yang memerlukan tata laksana ekspektatif kompleks
- Kasus dengan komplikasi koagulopati berat/KID (DIC)
- Kecurigaan disertai restriksi pertumbuhan janin (FGR) berat
- Kebutuhan konseling dan tata laksana lanjutan pada janin sangat prematur yang berpotensi bertahan
- Fasilitas pelayanan tanpa unit perawatan intensif neonatal dan/atau maternal yang memadai
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
- Penjelasan bahwa kondisi ini merupakan kegawatdaruratan obstetri yang memerlukan pemantauan dan tindakan cepat
- Pentingnya melaporkan segera setiap perdarahan berulang, nyeri perut, atau perubahan gerakan janin
- Penjelasan rencana persalinan yang diambil beserta alasan klinisnya
- Informasi risiko rekurensi pada kehamilan berikutnya yang meningkat dibandingkan populasi umum, sehingga pemantauan antenatal lebih ketat direkomendasikan pada kehamilan berikutnya
- Anjuran kontrol tekanan darah optimal serta penghentian merokok dan penggunaan zat psikoaktif
- Konseling kontrasepsi dan interval kehamilan berikutnya
- Dukungan psikologis, khususnya pada kasus dengan luaran kematian janin/neonatal
9. Prognosis
Prognosis maternal dan perinatal sangat bergantung pada derajat keparahan solusio, usia kehamilan saat kejadian, serta kecepatan dan ketepatan tata laksana. Stadium III (berat) membawa risiko kematian perinatal tertinggi serta risiko komplikasi maternal berat seperti koagulopati konsumtif, gagal ginjal akut, kebutuhan histerektomi emergensi, hingga kematian ibu. Morbiditas neonatal pada kasus yang memerlukan persalinan preterm terutama berkaitan dengan derajat prematuritas itu sendiri.
Risiko rekurensi pada kehamilan berikutnya meningkat bermakna dibandingkan populasi umum, dengan rentang yang dilaporkan berbagai studi kohort berkisar 3–12%, dan meningkat lebih tinggi lagi pada mereka dengan riwayat solusio pada usia kehamilan aterm. Informasi ini menjadi dasar konseling risiko pada kehamilan selanjutnya sebagaimana diuraikan pada bagian Edukasi.
Angka kejadian, case fatality rate, dan luaran maternal-perinatal spesifik nasional [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, POGI, WHO] belum tercantum eksplisit dalam Kepkonsil sehingga tidak dikutip sebagai angka pasti dalam PPK ini.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
| Aspek Tata Laksana | Tingkat Evidens | Kekuatan Rekomendasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| Diagnosis klinis (trias perdarahan-nyeri-kelainan DJJ) sebagai dasar utama, USG sebagai pelengkap | II-2/II-3 | Kuat | RCOG Green-top Guideline No. 63; Brandt & Ananth, AJOG 2023; Smith & Lee, BJA Education 2024 |
| Tokolisis tidak dianjurkan pada solusio plasenta bermakna | I/II (bukti terbatas, konsisten arah rekomendasi) | Kuat (terhadap penggunaan rutin) | Cochrane Systematic Review (Neilson, 2003), dikutip dalam RCOG Green-top Guideline No. 63 |
| Kortikosteroid antenatal pada ancaman persalinan preterm 24–<34 minggu | I | Kuat | WHO Recommendations on Antenatal Care, 2016 |
| Magnesium sulfat untuk neuroproteksi janin <32 minggu | I | Kuat | WHO Recommendations on Antenatal Care, 2016 |
| Seksio sesarea segera pada gawat janin/instabilitas maternal | II-3 | Kuat | RCOG Green-top Guideline No. 63 |
| Fibrinogen sebagai penanda risiko komplikasi berat, ambang koreksi >2 g/L | II-2 | Sedang–Kuat | Smith & Lee, BJA Education 2024 |
Skala tingkat evidens mengikuti sistem yang lazim dipakai pada pedoman PNPK (I–III dengan sub-kategori a/b/c), disesuaikan dengan penandaan pada masing-masing sumber primer yang dikutip.
11. Indikator Medis
- Decision-to-delivery interval pada solusio plasenta stadium II–III dengan gawat janin: target di bawah 30 menit, sejalan dengan standar respons kegawatdaruratan obstetri kategori 1
- Persentase kasus dengan pemantauan DJJ kontinu yang terdokumentasi lengkap sejak kecurigaan diagnosis
- Ketersediaan produk darah crossmatch sebelum tindakan operatif dilaksanakan
- Kepatuhan pemeriksaan fibrinogen pada setiap kasus solusio stadium II ke atas
- Insidensi histerektomi emergensi akibat solusio plasenta pada populasi pasien fasilitas
- Case fatality rate maternal dan perinatal akibat solusio plasenta [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru]
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan solusio plasenta sebagai kompetensi inti spesialis Obstetri dan Ginekologi dengan penekanan pada risiko fetal-maternal sebagaimana tercantum pada kolom Keterangan/Populasi Tabel 7 ("Perdarahan antepartum; risiko fetal-maternal"). Pengayaan berikut memperkaya, bukan menggantikan, standar tersebut.
- RCOG Green-top Guideline No. 63 (Antepartum Haemorrhage) menegaskan bahwa plasenta previa dan solusio plasenta merupakan penyebab APH terpenting, serta mengutip tinjauan Cochrane yang menyoroti keterbatasan bukti uji klinis acak pada berbagai intervensi tata laksana solusio plasenta — mendukung pendekatan tata laksana klinis individual berbasis penilaian ahli, bukan protokol farmakologis tunggal yang kaku.
- Tinjauan sistematis Cochrane (Neilson, 2003, CD003247) — hingga pembaruan terakhirnya — tidak menemukan uji klinis acak yang memenuhi kriteria inklusi terkait intervensi tata laksana solusio plasenta, sehingga menegaskan bahwa praktik klinis pada kondisi ini masih bertumpu pada penilaian ahli dan data observasional, bukan bukti kelas tertinggi.
- WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience (2016) mendukung penggunaan kortikosteroid antenatal dan magnesium sulfat pada ancaman persalinan preterm terkait solusio plasenta, konsisten dengan tata laksana farmakologis PPK ini.
- Tinjauan klinis komprehensif Brandt & Ananth (American Journal of Obstetrics & Gynecology, 2023) mengenai solusio plasenta pada usia kehamilan mendekati aterm menegaskan keterbatasan sensitivitas USG (sekitar 20–50%) dan pentingnya kecurigaan klinis sebagai dasar utama diagnosis serta pengambilan keputusan tata laksana — sejalan dengan penekanan PPK ini pada trias klinis.
- Tinjauan Smith & Lee (BJA Education, 2024) memperkuat penggunaan klasifikasi Sher tiga stadium serta menegaskan peran fibrinogen plasma sebagai penanda prediktif keparahan komplikasi maternal, khususnya pada solusio dengan kematian janin.
Tidak terdapat perbedaan signifikan antara standar nasional dan sumber internasional di atas terkait prinsip dasar diagnosis dan larangan tokolisis rutin pada solusio plasenta bermakna; standar internasional memberi pengayaan terutama pada algoritme klasifikasi keparahan berbasis tanda vital dan laboratorium, serta pada strategi tata laksana ekspektatif untuk kasus derajat ringan pada usia kehamilan jauh dari aterm. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional (Kepkonsil) sebagai acuan utama.
13. Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Konsil Kesehatan Indonesia; 2026.
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Antepartum Haemorrhage. Green-top Guideline No. 63. London: RCOG; 2011. https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/antepartum-haemorrhage-green-top-guideline-no-63/
- World Health Organization. WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience. Geneva: WHO; 2016. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549912
- Brandt JS, Ananth CV. Placental abruption at near-term and term gestations: pathophysiology, epidemiology, diagnosis, and management. American Journal of Obstetrics & Gynecology. 2023;228(5S):S1313–S1329. https://www.ajog.org/article/S0002-9378(22)00535-X/fulltext
- Neilson JP. Interventions for treating placental abruption. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2003, Issue 1. Art. No.: CD003247. https://www.cochrane.org/evidence/CD003247_interventions-treating-placental-abruption
- Smith CD, Lee A. Placental abruption. BJA Education. 2024;24(9):305–308. PMID: 39234154. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39234154/
Glosarium
| Istilah | Penjelasan |
|---|---|
| Solusio plasenta | Pelepasan plasenta yang sebelumnya berimplantasi normal dari dinding uterus sebelum janin lahir; padanan Inggris: placental abruption, abruptio placentae. |
| Perdarahan antepartum (APH) | Perdarahan dari atau ke dalam saluran genital yang terjadi sejak usia kehamilan 24 minggu hingga sebelum kelahiran bayi. |
| Revealed hemorrhage | Perdarahan akibat solusio plasenta yang tampak keluar melalui vagina. |
| Concealed hemorrhage | Perdarahan akibat solusio plasenta yang tertahan di antara plasenta dan dinding uterus tanpa tampak keluar melalui vagina, sehingga beratnya kondisi dapat tersamar. |
| Uterus couvelaire | Infiltrasi darah ke dalam lapisan miometrium akibat solusio plasenta berat, menyebabkan uterus tampak kebiruan/keunguan dan berisiko atonia. |
| Koagulasi intravaskular diseminata (KID/DIC) | Aktivasi sistem koagulasi yang meluas secara sistemik, menyebabkan konsumsi faktor pembekuan dan trombosit sehingga berisiko perdarahan tak terkendali. |
| Kardiotokografi (CTG) | Pemeriksaan pemantauan denyut jantung janin dan aktivitas kontraksi uterus secara kontinu. |
| Kleihauer-Betke test | Pemeriksaan laboratorium untuk mengukur volume sel darah merah janin yang bercampur ke dalam sirkulasi darah ibu, digunakan untuk memperkirakan volume perdarahan fetomaternal dan menentukan dosis imunoglobulin anti-D. |
| Tokolisis | Pemberian obat untuk menghambat kontraksi uterus dengan tujuan menunda persalinan preterm; tidak dianjurkan secara rutin pada solusio plasenta bermakna. |
| Klasifikasi Sher | Sistem klasifikasi keparahan klinis solusio plasenta menjadi stadium I (ringan), II (sedang), dan III (berat, dengan subklasifikasi a/b berdasarkan ada-tidaknya koagulopati). |
| Fetomaternal | Subspesialisasi Obstetri dan Ginekologi yang berfokus pada tata laksana kehamilan berisiko tinggi, baik dari sisi ibu maupun janin. |
| Decision-to-delivery interval | Rentang waktu sejak keputusan untuk melakukan persalinan operatif diambil hingga bayi dilahirkan; digunakan sebagai indikator kecepatan respons kegawatdaruratan obstetri. |