PPK-020 · Fetomaternal
Panduan Praktik Klinis
PANDUAN PRAKTIK KLINIS · PPK-020

Persalinan Macet

Dystocia

ICD-10O66.9 ICD-11JB06.0
Populasi Prioritas
Hambatan kemajuan persalinan; risiko intervensi
Divisi Pengampu
Fetomaternal
Buku Tematik Induk
Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal
Dokumen
20 dari 73 — Kategori PPK
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138 · Agustus 2026
Dasar Regulasi

Diagnosis "Persalinan macet / Dystocia" tercantum pada Tabel 7 Lampiran Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, baris No. 20, dengan kode ICD-10 O66.9 dan ICD-11 JB06.0, keterangan populasi prioritas: "Hambatan kemajuan persalinan; risiko intervensi". Definisi resmi pada Glosarium Istilah (hal. 513) Kepkonsil: "Persalinan macet (dystocia) adalah kemajuan persalinan yang abnormal lambat atau terhenti akibat faktor kekuatan, jalan lahir, atau janin." Catatan koding: pada tabel klasifikasi ICD-11 resmi (icd.who.int), blok JB06 mencakup beberapa subkategori penyebab spesifik (JB06.0 distosia bahu, JB06.1 kembar terkunci, JB06.2 janin besar, JB06.3 kelainan janin lain, JB06.Z penyebab tidak spesifik); penetapan kode presisi per kasus tetap mengikuti hasil pemeriksaan klinis dan kebijakan koding institusi masing-masing.

PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal, pada cakupan topik distosia dan gangguan kemajuan persalinan (labor dystocia).

Panduan Praktik Klinis (PPK) ini disusun sebagai acuan operasional tata laksana Persalinan Macet (Dystocia) bagi dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi di rumah sakit pendidikan, merujuk pada entri No. 20 Tabel 7 Kepkonsil, dan diperkaya dengan standar praktik klinis internasional terkini (WHO, ACOG/SMFM, NICE/RCOG, Cochrane, serta pedoman operasional WHO/UNFPA/UNICEF untuk pelayanan obstetri neonatal emergensi).

1. Pengertian/Definisi

Persalinan macet (dystocia) — ICD-10 O66.9; ICD-11 JB06 — didefinisikan secara resmi dalam Glosarium Kepkonsil sebagai kemajuan persalinan yang abnormal lambat atau terhenti akibat faktor kekuatan (power), jalan lahir (passage), atau janin (passenger). Ketiga faktor ini secara klasik dikenal sebagai kerangka "3P" dan menjadi dasar penelusuran etiologi pada setiap kasus.

Secara operasional, dystocia mencakup dua fenomena klinis yang berbeda namun berkaitan: persalinan protracted (kemajuan dilatasi serviks dan/atau penurunan kepala yang lebih lambat dari batas normal) dan persalinan arrested (kemajuan yang berhenti sama sekali pada suatu titik pengamatan tertentu, meski kontraksi adekuat). Perbedaan keduanya menentukan pendekatan tata laksana: protracted labor umumnya masih dapat diobservasi dengan augmentasi, sedangkan arrested labor pada kondisi tertentu merupakan indikasi tindakan operatif.

Pemahaman tentang kemajuan persalinan normal telah bergeser signifikan sejak data kontemporer menunjukkan bahwa dilatasi serviks pada banyak perempuan berlangsung lebih lambat dari kurva Friedman klasik (dekade 1950-an), terutama pada rentang pembukaan 4–6 cm. Konsorsium Safe Labor di Amerika Serikat, yang datanya mendasari konsensus ACOG/SMFM, menunjukkan bahwa fase aktif dengan percepatan dilatasi yang khas sering kali baru dimulai pada pembukaan 6 cm, bukan 4 cm seperti diajarkan sebelumnya. Pergeseran pemahaman ini menjadi dasar revisi kriteria diagnosis pada bagian 4.

Dystocia dapat terjadi pada kala I (fase laten atau fase aktif) maupun kala II persalinan, dan penting dibedakan dari distosia bahu (shoulder dystocia), yang merupakan kegawatdaruratan tersendiri terjadi setelah kepala janin lahir namun bahu tertahan di jalan lahir. Distosia bahu memiliki kompetensi prosedural tersendiri pada pemetaan Kepkonsil (manuver McRoberts, tekanan suprapubik, manuver Rubin/Wood's screw) dan bukan cakupan tata laksana utama PPK ini, meski keduanya berbagi rumpun kode ICD-11 JB06.

2. Anamnesis

Anamnesis diarahkan untuk mengidentifikasi faktor risiko dan menelusuri kronologi persalinan secara rinci, sebagai dasar penilaian apakah kemajuan persalinan benar-benar abnormal.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik mengonfirmasi temuan anamnesis dan menjadi dasar penilaian tiga komponen power–passage–passenger secara sistematis.

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis persalinan macet (ICD-10 O66.9; ICD-11 JB06) ditegakkan berdasarkan evaluasi longitudinal kemajuan persalinan menggunakan WHO Labour Care Guide (lihat bagian 6), dikombinasikan dengan pemeriksaan dalam berkala serta penyingkiran penyebab spesifik. Kriteria kuantitatif berikut merujuk pada konsensus ACOG/Society for Maternal-Fetal Medicine (SMFM) yang paling luas diadopsi secara internasional.

Fase aktif kala I baru dianggap dimulai pada pembukaan 6 cm; standar kemajuan fase aktif tidak diterapkan sebelum ambang ini. Protracted labor pada fase aktif ditandai laju dilatasi serviks yang lebih lambat dari batas normal populasi kontemporer, dengan mempertimbangkan bahwa laju 1 cm/jam yang dahulu dianggap baku (kurva Friedman) tidak lagi digunakan sebagai satu-satunya ambang, karena variasi fisiologis normal — terutama pada nulipara — dapat berlangsung lebih lambat tanpa membahayakan ibu maupun janin.

Arrested labor (kegagalan kemajuan) pada kala I ditegakkan bila pada pembukaan serviks ≥6 cm dengan ketuban telah pecah, tidak terdapat perubahan dilatasi serviks meski kontraksi adekuat (≥6 kontraksi per 10 menit selama ≥4 jam), atau meski kontraksi belum adekuat namun telah diaugmentasi oksitosin selama ≥6 jam tanpa perubahan serviks.

Kala II memanjang dinilai berdasarkan durasi mengejan tanpa kemajuan penurunan kepala setelah pembukaan lengkap: pada nulipara, lebih dari 3 jam dengan anestesi regional atau lebih dari 2 jam tanpa anestesi regional; pada multipara, lebih dari 2 jam dengan anestesi regional atau lebih dari 1 jam tanpa anestesi regional. Ambang operasional yang sejalan juga digunakan dalam Panduan EmONC (Emergency Obstetric and Newborn Care) WHO/UNFPA/UNICEF: penurunan bagian terbawah janin kurang dari 1 cm per jam pada nulipara, atau kurang dari 2 cm per jam pada multipara, sebagai indikator kala II memanjang.

Diagnosis kerja akhir mengintegrasikan temuan pemantauan longitudinal, pemeriksaan dalam berkala, dan identifikasi faktor etiologi dominan (power, passage, atau passenger) — bukan berdasarkan satu titik waktu pemeriksaan saja.

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Persalinan macet (dystocia), dispesifikasi menurut faktor etiologi dominan yang teridentifikasi:

Diagnosis banding yang wajib disingkirkan: persalinan palsu (false labor, kontraksi Braxton-Hicks yang disalahartikan sebagai persalinan aktif), distosia bahu (kegawatdaruratan terpisah yang terjadi setelah kepala lahir), ruptur uteri, serta gawat janin murni tanpa hambatan mekanis kemajuan persalinan yang dapat menyerupai gambaran klinis serupa pada pemantauan.

6. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang bertujuan mengonfirmasi etiologi, menilai kesejahteraan janin, dan mempersiapkan kemungkinan tindakan operatif.

7. Tata Laksana

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Prognosis maternal dan janin pada umumnya baik apabila dystocia dikenali dan ditangani tepat waktu. Keterlambatan diagnosis atau intervensi meningkatkan risiko ruptur uteri, perdarahan pascapersalinan, infeksi intrapartum/pascapersalinan, serta asfiksia dan trauma lahir pada neonatus.

Riwayat persalinan macet pada kehamilan sebelumnya bukan merupakan indikasi mutlak untuk seksio sesarea elektif berulang; evaluasi dilakukan per kasus, dan persalinan pervaginam setelah seksio sesarea (VBAC) tetap dapat dipertimbangkan sesuai kriteria seleksi yang berlaku.

[DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, POGI] untuk angka morbiditas dan mortalitas maternal-perinatal nasional terkait persalinan macet.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Menggunakan skala evidens standar (GRADE/Oxford CEBM):

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

World Health Organization, dalam WHO Recommendations: Intrapartum Care for a Positive Childbirth Experience (2018), merevisi definisi awitan fase aktif kala I menjadi pembukaan 5 cm dan menekankan bahwa laju dilatasi 1 cm/jam tidak lagi dijadikan satu-satunya ambang diagnostik baku untuk protracted labor. Rekomendasi ini diimplementasikan secara praktis melalui WHO Labour Care Guide (2020), yang menggantikan partograf konvensional sebagai instrumen pemantauan standar WHO saat ini.

American College of Obstetricians and Gynecologists bersama Society for Maternal-Fetal Medicine, dalam Obstetric Care Consensus No. 1 — Safe Prevention of the Primary Cesarean Delivery (2014, dikonfirmasi ulang 2019 dan masih menjadi acuan aktif hingga saat ini), menetapkan ambang pembukaan 6 cm sebagai batas awal penerapan standar kemajuan fase aktif, serta kriteria arrest of labor yang lebih ketat — tidak ada perubahan serviks pada pembukaan ≥6 cm dengan ketuban pecah, setelah kontraksi adekuat ≥4 jam atau kontraksi tidak adekuat ≥6 jam meski telah diaugmentasi — dengan tujuan eksplisit menurunkan angka seksio sesarea primer yang tidak perlu.

National Institute for Health and Care Excellence (NICE) — pedoman Intrapartum Care, NICE Guideline NG235 (diterbitkan 2023, diperbarui bertahap hingga 2026, dikembangkan oleh National Guideline Alliance yang bernaung di bawah Royal College of Obstetricians and Gynaecologists/RCOG) — memberikan protokol operasional augmentasi oksitosin yang selaras: interval kenaikan dosis tidak lebih sering dari 30 menit hingga tercapai 4–5 kontraksi per 10 menit, dengan evaluasi dilatasi serviks 4 jam setelah oksitosin dimulai sebagai titik keputusan klinis.

Tinjauan sistematis Cochrane (Bohren MA, Hofmeyr GJ, Sakala C, Fukuzawa RK, Cuthbert A. Continuous Support for Women during Childbirth, 2017) menunjukkan bahwa dukungan persalinan berkesinambungan menurunkan risiko seksio sesarea, mempersingkat durasi persalinan, dan meningkatkan kepuasan ibu terhadap pengalaman persalinan, tanpa bukti dampak merugikan.

Pernyataan eksplisit perbedaan standar: Standar nasional (Kepkonsil) mendefinisikan persalinan macet (dystocia) secara umum sebagai hambatan kemajuan persalinan akibat faktor kekuatan, jalan lahir, atau janin (ICD-10 O66.9; ICD-11 JB06), tanpa mencantumkan ambang kuantitatif baku dalam Tabel 7; standar internasional (WHO, ACOG/SMFM, NICE) memberikan kriteria kuantitatif operasional yang lebih rinci dan telah direvisi seiring bukti terbaru untuk membedakan protracted versus arrested labor. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional sebagai acuan utama diagnosis, dengan kriteria kuantitatif internasional tersebut digunakan sebagai alat bantu operasional selama tidak bertentangan dengan penilaian klinis holistik yang disyaratkan Kepkonsil.

13. Kepustakaan

Glosarium

Arrest of labor (kegagalan kemajuan persalinan)
Terhentinya kemajuan dilatasi serviks atau penurunan kepala janin sama sekali meski kontraksi rahim dinilai adekuat dalam jangka waktu tertentu.
Augmentasi persalinan
Tindakan mempercepat kemajuan persalinan yang sudah berlangsung namun melambat, umumnya melalui pemberian oksitosin intravena atau amniotomi.
CPD (Cephalopelvic Disproportion / disproporsi sefalopelvik)
Ketidaksesuaian ukuran antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin sulit atau tidak dapat melewati jalan lahir secara alami.
Distosia bahu (shoulder dystocia)
Kegawatdaruratan obstetri saat kepala janin telah lahir namun bahu anterior tertahan di belakang simfisis pubis, memerlukan manuver obstetri segera.
Ekstraksi vakum
Tindakan bantuan kelahiran pervaginam menggunakan alat penghisap (vakum) yang dipasang pada kepala janin untuk membantu proses persalinan kala II.
Fase aktif kala I
Tahap persalinan kala I yang ditandai percepatan laju dilatasi serviks; menurut konsensus ACOG/SMFM dimulai pada pembukaan 6 cm.
Forsep
Instrumen obstetri berbentuk sepasang sendok logam yang digunakan untuk membantu kelahiran kepala janin pada persalinan kala II.
GRADE
Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation — sistem penilaian mutu bukti ilmiah dan kekuatan rekomendasi klinis yang digunakan secara internasional.
Inersia uteri
Kontraksi rahim yang tidak efektif untuk mendorong kemajuan persalinan, dapat bersifat hipotonik (lemah) atau hipertonik (tidak terkoordinasi).
Kala I dan Kala II persalinan
Kala I adalah tahap sejak awitan persalinan hingga pembukaan serviks lengkap (10 cm); Kala II adalah tahap sejak pembukaan lengkap hingga bayi lahir.
Klasifikasi Robson
Sistem klasifikasi sepuluh kelompok kehamilan yang digunakan secara internasional untuk memantau dan membandingkan angka seksio sesarea secara terstandardisasi.
Malposisi
Posisi kepala janin yang tidak ideal terhadap panggul ibu, misalnya oksiput posterior atau transversal persisten, yang dapat menghambat kemajuan persalinan.
Malpresentasi
Bagian terbawah janin selain verteks (ubun-ubun kecil) yang memasuki jalan lahir, misalnya presentasi bokong (sungsang) atau letak lintang.
Oksitosin
Hormon yang juga digunakan sebagai obat untuk merangsang atau memperkuat kontraksi rahim pada induksi maupun augmentasi persalinan.
Partograf
Alat pemantauan grafis kemajuan persalinan yang telah digunakan sejak dekade 1970-an; sejak 2020 secara bertahap digantikan oleh WHO Labour Care Guide.
Protracted labor (persalinan memanjang)
Kemajuan dilatasi serviks atau penurunan kepala janin yang berlangsung lebih lambat dari batas normal populasi, namun belum sepenuhnya berhenti.
VBAC (Vaginal Birth After Cesarean)
Persalinan pervaginam yang dilakukan pada perempuan dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya, setelah memenuhi kriteria seleksi tertentu.
WHO Labour Care Guide (LCG)
Instrumen pemantauan persalinan resmi WHO yang diluncurkan tahun 2020, menggantikan partograf konvensional, mengintegrasikan pemantauan klinis dengan elemen asuhan suportif dan pengambilan keputusan bersama.