Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal
Dokumen
20 dari 73 — Kategori PPK
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138 · Agustus 2026
Dasar Regulasi
Diagnosis "Persalinan macet / Dystocia" tercantum pada Tabel 7 Lampiran Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, baris No. 20, dengan kode ICD-10 O66.9 dan ICD-11 JB06.0, keterangan populasi prioritas: "Hambatan kemajuan persalinan; risiko intervensi". Definisi resmi pada Glosarium Istilah (hal. 513) Kepkonsil: "Persalinan macet (dystocia) adalah kemajuan persalinan yang abnormal lambat atau terhenti akibat faktor kekuatan, jalan lahir, atau janin." Catatan koding: pada tabel klasifikasi ICD-11 resmi (icd.who.int), blok JB06 mencakup beberapa subkategori penyebab spesifik (JB06.0 distosia bahu, JB06.1 kembar terkunci, JB06.2 janin besar, JB06.3 kelainan janin lain, JB06.Z penyebab tidak spesifik); penetapan kode presisi per kasus tetap mengikuti hasil pemeriksaan klinis dan kebijakan koding institusi masing-masing.
PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal, pada cakupan topik distosia dan gangguan kemajuan persalinan (labor dystocia).
Panduan Praktik Klinis (PPK) ini disusun sebagai acuan operasional tata laksana Persalinan Macet (Dystocia) bagi dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi di rumah sakit pendidikan, merujuk pada entri No. 20 Tabel 7 Kepkonsil, dan diperkaya dengan standar praktik klinis internasional terkini (WHO, ACOG/SMFM, NICE/RCOG, Cochrane, serta pedoman operasional WHO/UNFPA/UNICEF untuk pelayanan obstetri neonatal emergensi).
1. Pengertian/Definisi
Persalinan macet (dystocia) — ICD-10 O66.9; ICD-11 JB06 — didefinisikan secara resmi dalam Glosarium Kepkonsil sebagai kemajuan persalinan yang abnormal lambat atau terhenti akibat faktor kekuatan (power), jalan lahir (passage), atau janin (passenger). Ketiga faktor ini secara klasik dikenal sebagai kerangka "3P" dan menjadi dasar penelusuran etiologi pada setiap kasus.
Secara operasional, dystocia mencakup dua fenomena klinis yang berbeda namun berkaitan: persalinan protracted (kemajuan dilatasi serviks dan/atau penurunan kepala yang lebih lambat dari batas normal) dan persalinan arrested (kemajuan yang berhenti sama sekali pada suatu titik pengamatan tertentu, meski kontraksi adekuat). Perbedaan keduanya menentukan pendekatan tata laksana: protracted labor umumnya masih dapat diobservasi dengan augmentasi, sedangkan arrested labor pada kondisi tertentu merupakan indikasi tindakan operatif.
Pemahaman tentang kemajuan persalinan normal telah bergeser signifikan sejak data kontemporer menunjukkan bahwa dilatasi serviks pada banyak perempuan berlangsung lebih lambat dari kurva Friedman klasik (dekade 1950-an), terutama pada rentang pembukaan 4–6 cm. Konsorsium Safe Labor di Amerika Serikat, yang datanya mendasari konsensus ACOG/SMFM, menunjukkan bahwa fase aktif dengan percepatan dilatasi yang khas sering kali baru dimulai pada pembukaan 6 cm, bukan 4 cm seperti diajarkan sebelumnya. Pergeseran pemahaman ini menjadi dasar revisi kriteria diagnosis pada bagian 4.
Dystocia dapat terjadi pada kala I (fase laten atau fase aktif) maupun kala II persalinan, dan penting dibedakan dari distosia bahu (shoulder dystocia), yang merupakan kegawatdaruratan tersendiri terjadi setelah kepala janin lahir namun bahu tertahan di jalan lahir. Distosia bahu memiliki kompetensi prosedural tersendiri pada pemetaan Kepkonsil (manuver McRoberts, tekanan suprapubik, manuver Rubin/Wood's screw) dan bukan cakupan tata laksana utama PPK ini, meski keduanya berbagi rumpun kode ICD-11 JB06.
2. Anamnesis
Anamnesis diarahkan untuk mengidentifikasi faktor risiko dan menelusuri kronologi persalinan secara rinci, sebagai dasar penilaian apakah kemajuan persalinan benar-benar abnormal.
Identitas, usia, gravida-para-abortus, dan usia kehamilan berdasarkan HPHT/USG trimester awal.
Waktu awitan his teratur dan durasi kala I sejak memasuki fase aktif, termasuk perubahan pola his yang dirasakan pasien.
Karakteristik subjektif kontraksi: frekuensi, durasi, dan intensitas yang dirasakan.
Status ketuban: pecah spontan atau belum, waktu pecah, warna dan volume cairan ketuban (jernih, mekonium, berbau).
Komorbiditas yang berkontribusi pada makrosomia atau kelainan jalan lahir, seperti diabetes gestasional dan obesitas.
Keluhan penyerta yang mengarah ke komplikasi: nyeri perut yang menetap dan tidak hilang di antara kontraksi (curiga ruptur uteri mengancam), perdarahan pervaginam, atau berkurangnya gerak janin.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik mengonfirmasi temuan anamnesis dan menjadi dasar penilaian tiga komponen power–passage–passenger secara sistematis.
Tanda vital ibu, termasuk penilaian tanda syok bila dicurigai perdarahan tersembunyi atau ruptur uteri.
Pemeriksaan Leopold: taksiran berat janin (TBJ), presentasi, posisi punggung janin, dan penurunan bagian terbawah janin per palpasi abdomen (metode per-lima).
Auskultasi denyut jantung janin (DJJ) berkala, atau pemantauan elektronik berkelanjutan (kardiotokografi) bila tersedia dan terindikasi.
Palpasi his: frekuensi, durasi, dan intensitas kontraksi per 10 menit untuk menilai kecukupan tenaga persalinan (adekuat versus inadekuat).
Pemeriksaan dalam (vaginal toucher): pembukaan dan penipisan serviks, station penurunan kepala (Hodge/De Lee), presentasi dan posisi (termasuk deteksi posisi oksiput posterior persisten), serta ada-tidaknya moulase dan kaput suksedaneum sebagai penanda tidak langsung disproporsi.
Penilaian imbang feto-pelvik secara klinis dan pelvimetri klinis (diameter konjugata diagonalis, penonjolan spina ischiadika, sudut arkus pubis) untuk menilai kemungkinan disproporsi sefalopelvik (CPD).
Tanda ruptur uteri imminen: lingkaran Bandl yang meninggi dan nyeri tekan menetap pada segmen bawah rahim — kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan segera.
4. Kriteria Diagnosis
Diagnosis persalinan macet (ICD-10 O66.9; ICD-11 JB06) ditegakkan berdasarkan evaluasi longitudinal kemajuan persalinan menggunakan WHO Labour Care Guide (lihat bagian 6), dikombinasikan dengan pemeriksaan dalam berkala serta penyingkiran penyebab spesifik. Kriteria kuantitatif berikut merujuk pada konsensus ACOG/Society for Maternal-Fetal Medicine (SMFM) yang paling luas diadopsi secara internasional.
Fase aktif kala I baru dianggap dimulai pada pembukaan 6 cm; standar kemajuan fase aktif tidak diterapkan sebelum ambang ini. Protracted labor pada fase aktif ditandai laju dilatasi serviks yang lebih lambat dari batas normal populasi kontemporer, dengan mempertimbangkan bahwa laju 1 cm/jam yang dahulu dianggap baku (kurva Friedman) tidak lagi digunakan sebagai satu-satunya ambang, karena variasi fisiologis normal — terutama pada nulipara — dapat berlangsung lebih lambat tanpa membahayakan ibu maupun janin.
Arrested labor (kegagalan kemajuan) pada kala I ditegakkan bila pada pembukaan serviks ≥6 cm dengan ketuban telah pecah, tidak terdapat perubahan dilatasi serviks meski kontraksi adekuat (≥6 kontraksi per 10 menit selama ≥4 jam), atau meski kontraksi belum adekuat namun telah diaugmentasi oksitosin selama ≥6 jam tanpa perubahan serviks.
Kala II memanjang dinilai berdasarkan durasi mengejan tanpa kemajuan penurunan kepala setelah pembukaan lengkap: pada nulipara, lebih dari 3 jam dengan anestesi regional atau lebih dari 2 jam tanpa anestesi regional; pada multipara, lebih dari 2 jam dengan anestesi regional atau lebih dari 1 jam tanpa anestesi regional. Ambang operasional yang sejalan juga digunakan dalam Panduan EmONC (Emergency Obstetric and Newborn Care) WHO/UNFPA/UNICEF: penurunan bagian terbawah janin kurang dari 1 cm per jam pada nulipara, atau kurang dari 2 cm per jam pada multipara, sebagai indikator kala II memanjang.
Diagnosis kerja akhir mengintegrasikan temuan pemantauan longitudinal, pemeriksaan dalam berkala, dan identifikasi faktor etiologi dominan (power, passage, atau passenger) — bukan berdasarkan satu titik waktu pemeriksaan saja.
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja: Persalinan macet (dystocia), dispesifikasi menurut faktor etiologi dominan yang teridentifikasi:
Kelainan tenaga (power): inersia uteri hipotonik (kontraksi lemah/jarang) atau hipertonik (kontraksi tidak terkoordinasi, sering nyeri hebat tanpa kemajuan efektif).
Kelainan jalan lahir (passage): disproporsi sefalopelvik (CPD), kelainan struktur atau ukuran panggul, massa jalan lahir yang menghalangi.
Kelainan janin (passenger): malpresentasi (sungsang, letak lintang), malposisi (oksiput posterior/transversal persisten), makrosomia, atau kelainan kongenital janin yang menghambat penurunan.
Diagnosis banding yang wajib disingkirkan: persalinan palsu (false labor, kontraksi Braxton-Hicks yang disalahartikan sebagai persalinan aktif), distosia bahu (kegawatdaruratan terpisah yang terjadi setelah kepala lahir), ruptur uteri, serta gawat janin murni tanpa hambatan mekanis kemajuan persalinan yang dapat menyerupai gambaran klinis serupa pada pemantauan.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang bertujuan mengonfirmasi etiologi, menilai kesejahteraan janin, dan mempersiapkan kemungkinan tindakan operatif.
WHO Labour Care Guide (LCG) — instrumen pemantauan longitudinal utama yang berlaku saat ini, menggantikan partograf konvensional sejak diperkenalkan WHO pada 2020 sebagai implementasi praktis rekomendasi intrapartum WHO 2018. LCG mencatat dilatasi serviks, penurunan kepala, pola his, DJJ, tanda vital ibu, serta elemen dukungan asuhan (mobilitas, asupan oral, pendampingan) secara terintegrasi per jam.
Kardiotokografi (CTG) kontinu untuk menilai kesejahteraan janin bila tersedia dan terindikasi secara klinis.
Ultrasonografi (USG) obstetri: estimasi berat janin, konfirmasi presentasi dan posisi kepala (oksiput), serta volume cairan ketuban.
Pelvimetri klinis rutin pada setiap kasus dengan kecurigaan CPD; pelvimetri radiologis (CT/MRI) tidak direkomendasikan secara rutin dan hanya dipertimbangkan pada indikasi khusus mengingat keterbatasan nilai prediktif serta pertimbangan radiasi/biaya.
Pemeriksaan laboratorium: darah perifer lengkap, golongan darah dan uji cocok silang sebagai antisipasi tindakan operatif atau perdarahan, profil koagulasi bila dicurigai komplikasi.
7. Tata Laksana
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
Mobilisasi dan perubahan posisi ibu secara berkala untuk memfasilitasi rotasi dan penurunan kepala janin.
Dukungan persalinan berkesinambungan (continuous labor support) oleh pendamping terlatih — terbukti menurunkan angka seksio sesarea dan meningkatkan kepuasan ibu terhadap pengalaman melahirkan (lihat bagian 12).
Amniotomi (pemecahan ketuban buatan) bila ketuban masih intak dan syarat klinis terpenuhi, untuk mempercepat kemajuan persalinan; tidak dilakukan secara rutin pada persalinan yang berjalan normal.
Hidrasi dan asupan oral adekuat, serta manajemen nyeri non-farmakologis (perubahan posisi, pijat, teknik relaksasi napas).
7.2 Tata Laksana Farmakologis
Augmentasi oksitosin intravena dengan titrasi bertahap sesuai protokol institusi: interval peningkatan dosis tidak lebih sering dari setiap 30 menit, dinaikkan hingga tercapai 4–5 kontraksi adekuat per 10 menit, disertai pemantauan DJJ ketat.
Evaluasi ulang kemajuan serviks melalui pemeriksaan dalam sekitar 4 jam setelah augmentasi oksitosin dimulai pada persalinan yang telah mapan; bila kemajuan dilatasi kurang dari 2 cm dalam interval tersebut, dilakukan evaluasi obstetrik lanjutan untuk menilai kebutuhan tindakan operatif.
Analgesia epidural sesuai indikasi klinis, preferensi pasien, dan ketersediaan fasilitas.
Antibiotik profilaksis dipertimbangkan bila terdapat ketuban pecah lama untuk menurunkan risiko infeksi intrapartum.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural
Seksio sesarea diindikasikan bila diagnosis arrested labor telah tegak sesuai kriteria bagian 4, terdapat tanda gawat janin, atau terdapat kontraindikasi augmentasi/persalinan pervaginam seperti CPD absolut atau malpresentasi yang tidak dapat dikoreksi.
Ekstraksi vakum atau forsep dapat dipertimbangkan pada kala II memanjang bila syarat klinis terpenuhi (pembukaan lengkap, kepala telah engaged, tidak ada kecurigaan CPD) dan dilakukan oleh operator yang kompeten, dengan kesiapan konversi ke seksio sesarea bila gagal.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal
Komorbiditas maternal berat yang menyertai (penyakit jantung, preeklamsia dengan gejala berat).
Riwayat seksio sesarea berulang dengan kecurigaan tanda ruptur uteri.
Kelainan struktur panggul kompleks yang memerlukan penilaian subspesialistik.
Janin dengan kelainan kongenital yang mempersulit mekanisme persalinan.
Fasilitas pelayanan tanpa kemampuan seksio sesarea emergensi segera — dirujuk sesuai sistem rujukan berjenjang sebelum kondisi memburuk.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
Menjelaskan proses persalinan macet dalam bahasa yang mudah dipahami, kemungkinan penyebab, serta pilihan tata laksana (augmentasi vs tindakan operatif) beserta risiko dan manfaatnya.
Memperoleh persetujuan tindakan medis (informed consent) tertulis sebelum tindakan operatif atau instrumental.
Edukasi tanda bahaya pascapersalinan — perdarahan dan infeksi — khususnya bila persalinan berujung trauma jalan lahir atau tindakan operatif.
Memberikan dukungan psikologis, terutama pada kasus yang berujung seksio sesarea darurat, karena dapat memengaruhi persepsi pengalaman melahirkan ibu.
9. Prognosis
Prognosis maternal dan janin pada umumnya baik apabila dystocia dikenali dan ditangani tepat waktu. Keterlambatan diagnosis atau intervensi meningkatkan risiko ruptur uteri, perdarahan pascapersalinan, infeksi intrapartum/pascapersalinan, serta asfiksia dan trauma lahir pada neonatus.
Riwayat persalinan macet pada kehamilan sebelumnya bukan merupakan indikasi mutlak untuk seksio sesarea elektif berulang; evaluasi dilakukan per kasus, dan persalinan pervaginam setelah seksio sesarea (VBAC) tetap dapat dipertimbangkan sesuai kriteria seleksi yang berlaku.
[DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, POGI] untuk angka morbiditas dan mortalitas maternal-perinatal nasional terkait persalinan macet.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
Menggunakan skala evidens standar (GRADE/Oxford CEBM):
Augmentasi oksitosin pada persalinan macet — Level evidens I, Rekomendasi A (terintegrasi dalam rekomendasi WHO 2018 dan konsensus ACOG/SMFM 2014).
Dukungan persalinan berkesinambungan (continuous labor support) — Level evidens I, Rekomendasi A (tinjauan sistematis Cochrane, Bohren dkk. 2017).
WHO Labour Care Guide sebagai instrumen pemantauan kemajuan persalinan — Level evidens II, Rekomendasi B (rekomendasi WHO 2018 dan manual implementasi 2020, berbasis evaluasi multisenter).
Kriteria kuantitatif arrest of labor (ambang 6 cm, 4/6 jam) — Level evidens II, Rekomendasi B (konsensus ACOG/SMFM 2014 berbasis data Konsorsium Safe Labor).
11. Indikator Medis
Persentase kasus persalinan dengan dokumentasi WHO Labour Care Guide lengkap dan tepat waktu.
Interval waktu dari penegakan diagnosis arrested labor hingga keputusan tindakan definitif (target internal disarankan tercapai secepat kondisi klinis mengizinkan).
Proporsi seksio sesarea dengan indikasi dystocia, dipantau dalam kerangka klasifikasi Robson untuk audit mutu berkelanjutan.
Tidak terdapat keterlambatan rujukan pada kasus yang memenuhi kriteria rujukan ke subspesialis fetomaternal (bagian 7.4).
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
World Health Organization, dalam WHO Recommendations: Intrapartum Care for a Positive Childbirth Experience (2018), merevisi definisi awitan fase aktif kala I menjadi pembukaan 5 cm dan menekankan bahwa laju dilatasi 1 cm/jam tidak lagi dijadikan satu-satunya ambang diagnostik baku untuk protracted labor. Rekomendasi ini diimplementasikan secara praktis melalui WHO Labour Care Guide (2020), yang menggantikan partograf konvensional sebagai instrumen pemantauan standar WHO saat ini.
American College of Obstetricians and Gynecologists bersama Society for Maternal-Fetal Medicine, dalam Obstetric Care Consensus No. 1 — Safe Prevention of the Primary Cesarean Delivery (2014, dikonfirmasi ulang 2019 dan masih menjadi acuan aktif hingga saat ini), menetapkan ambang pembukaan 6 cm sebagai batas awal penerapan standar kemajuan fase aktif, serta kriteria arrest of labor yang lebih ketat — tidak ada perubahan serviks pada pembukaan ≥6 cm dengan ketuban pecah, setelah kontraksi adekuat ≥4 jam atau kontraksi tidak adekuat ≥6 jam meski telah diaugmentasi — dengan tujuan eksplisit menurunkan angka seksio sesarea primer yang tidak perlu.
National Institute for Health and Care Excellence (NICE) — pedoman Intrapartum Care, NICE Guideline NG235 (diterbitkan 2023, diperbarui bertahap hingga 2026, dikembangkan oleh National Guideline Alliance yang bernaung di bawah Royal College of Obstetricians and Gynaecologists/RCOG) — memberikan protokol operasional augmentasi oksitosin yang selaras: interval kenaikan dosis tidak lebih sering dari 30 menit hingga tercapai 4–5 kontraksi per 10 menit, dengan evaluasi dilatasi serviks 4 jam setelah oksitosin dimulai sebagai titik keputusan klinis.
Tinjauan sistematis Cochrane (Bohren MA, Hofmeyr GJ, Sakala C, Fukuzawa RK, Cuthbert A. Continuous Support for Women during Childbirth, 2017) menunjukkan bahwa dukungan persalinan berkesinambungan menurunkan risiko seksio sesarea, mempersingkat durasi persalinan, dan meningkatkan kepuasan ibu terhadap pengalaman persalinan, tanpa bukti dampak merugikan.
Pernyataan eksplisit perbedaan standar: Standar nasional (Kepkonsil) mendefinisikan persalinan macet (dystocia) secara umum sebagai hambatan kemajuan persalinan akibat faktor kekuatan, jalan lahir, atau janin (ICD-10 O66.9; ICD-11 JB06), tanpa mencantumkan ambang kuantitatif baku dalam Tabel 7; standar internasional (WHO, ACOG/SMFM, NICE) memberikan kriteria kuantitatif operasional yang lebih rinci dan telah direvisi seiring bukti terbaru untuk membedakan protracted versus arrested labor. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional sebagai acuan utama diagnosis, dengan kriteria kuantitatif internasional tersebut digunakan sebagai alat bantu operasional selama tidak bertentangan dengan penilaian klinis holistik yang disyaratkan Kepkonsil.
13. Kepustakaan
Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta, 7 Mei 2026. Lampiran, Tabel 7 No. 20; Glosarium Istilah hal. 513.
World Health Organization. WHO Recommendations: Intrapartum Care for a Positive Childbirth Experience. Geneva: WHO; 2018. Tersedia pada: https://iris.who.int/handle/10665/260178
World Health Organization. WHO Labour Care Guide: User's Manual. Geneva: WHO; 2020. Tersedia pada: https://www.who.int/publications/i/item/9789240017566
American College of Obstetricians and Gynecologists, Society for Maternal-Fetal Medicine. Obstetric Care Consensus No. 1: Safe Prevention of the Primary Cesarean Delivery. Obstet Gynecol. 2014;123(3):693–711.
National Institute for Health and Care Excellence. Intrapartum Care. NICE Guideline NG235. London: NICE; 2023 (pembaruan berkala hingga 2026). Tersedia pada: https://www.nice.org.uk/guidance/ng235
Bohren MA, Hofmeyr GJ, Sakala C, Fukuzawa RK, Cuthbert A. Continuous Support for Women during Childbirth. Cochrane Database Syst Rev. 2017;7:CD003766.
World Health Organization, UNFPA, UNICEF. Operational Definitions of Major Direct Obstetric Complications and ICD-11 Codes — EmONC Guide. Edisi November 2024.
World Health Organization. International Classification of Diseases, Eleventh Revision (ICD-11) — MMS Browser. Tersedia pada: https://icd.who.int/browse11
Glosarium
Arrest of labor (kegagalan kemajuan persalinan)
Terhentinya kemajuan dilatasi serviks atau penurunan kepala janin sama sekali meski kontraksi rahim dinilai adekuat dalam jangka waktu tertentu.
Augmentasi persalinan
Tindakan mempercepat kemajuan persalinan yang sudah berlangsung namun melambat, umumnya melalui pemberian oksitosin intravena atau amniotomi.
Ketidaksesuaian ukuran antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin sulit atau tidak dapat melewati jalan lahir secara alami.
Distosia bahu (shoulder dystocia)
Kegawatdaruratan obstetri saat kepala janin telah lahir namun bahu anterior tertahan di belakang simfisis pubis, memerlukan manuver obstetri segera.
Ekstraksi vakum
Tindakan bantuan kelahiran pervaginam menggunakan alat penghisap (vakum) yang dipasang pada kepala janin untuk membantu proses persalinan kala II.
Fase aktif kala I
Tahap persalinan kala I yang ditandai percepatan laju dilatasi serviks; menurut konsensus ACOG/SMFM dimulai pada pembukaan 6 cm.
Forsep
Instrumen obstetri berbentuk sepasang sendok logam yang digunakan untuk membantu kelahiran kepala janin pada persalinan kala II.
GRADE
Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation — sistem penilaian mutu bukti ilmiah dan kekuatan rekomendasi klinis yang digunakan secara internasional.
Inersia uteri
Kontraksi rahim yang tidak efektif untuk mendorong kemajuan persalinan, dapat bersifat hipotonik (lemah) atau hipertonik (tidak terkoordinasi).
Kala I dan Kala II persalinan
Kala I adalah tahap sejak awitan persalinan hingga pembukaan serviks lengkap (10 cm); Kala II adalah tahap sejak pembukaan lengkap hingga bayi lahir.
Klasifikasi Robson
Sistem klasifikasi sepuluh kelompok kehamilan yang digunakan secara internasional untuk memantau dan membandingkan angka seksio sesarea secara terstandardisasi.
Malposisi
Posisi kepala janin yang tidak ideal terhadap panggul ibu, misalnya oksiput posterior atau transversal persisten, yang dapat menghambat kemajuan persalinan.
Malpresentasi
Bagian terbawah janin selain verteks (ubun-ubun kecil) yang memasuki jalan lahir, misalnya presentasi bokong (sungsang) atau letak lintang.
Oksitosin
Hormon yang juga digunakan sebagai obat untuk merangsang atau memperkuat kontraksi rahim pada induksi maupun augmentasi persalinan.
Partograf
Alat pemantauan grafis kemajuan persalinan yang telah digunakan sejak dekade 1970-an; sejak 2020 secara bertahap digantikan oleh WHO Labour Care Guide.
Protracted labor (persalinan memanjang)
Kemajuan dilatasi serviks atau penurunan kepala janin yang berlangsung lebih lambat dari batas normal populasi, namun belum sepenuhnya berhenti.
VBAC (Vaginal Birth After Cesarean)
Persalinan pervaginam yang dilakukan pada perempuan dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya, setelah memenuhi kriteria seleksi tertentu.
WHO Labour Care Guide (LCG)
Instrumen pemantauan persalinan resmi WHO yang diluncurkan tahun 2020, menggantikan partograf konvensional, mengintegrasikan pemantauan klinis dengan elemen asuhan suportif dan pengambilan keputusan bersama.