PPK-021 Persalinan Preterm
Divisi Pengampu: Fetomaternal

Persalinan Preterm

Preterm Labor

Panduan Praktik Klinis (Individu) — turunan operasional Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal.

Disusun oleh Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. · Perpustakaan Digital ABBA, Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138

Kode Unit
PPK-021
Dokumen
21 dari 73 PPK
ICD-10
O60.0–O60.3
ICD-11
JB00.0–JB00.3
Divisi Pengampu
Fetomaternal

1. Pengertian/Definisi

Persalinan preterm (preterm labor) adalah timbulnya kontraksi uterus yang teratur disertai perubahan serviks progresif (pendataran dan/atau pembukaan) sebelum usia kehamilan genap 37 minggu dan setelah usia kehamilan 20 minggu. Batas bawah 20 minggu membedakan kondisi ini dari abortus; batas atas 37 minggu 0 hari membedakannya dari persalinan aterm. Kelahiran preterm (preterm birth) adalah kelahiran hidup sebelum 37 minggu lengkap, dan menurut usia kehamilan saat lahir dibagi menjadi extremely preterm (kurang dari 28 minggu), very preterm (28 sampai kurang dari 32 minggu), dan moderate to late preterm (32 sampai kurang dari 37 minggu).

Persalinan preterm dibedakan dari persalinan preterm mengancam (threatened preterm labor), yaitu kontraksi uterus tanpa perubahan serviks bermakna, dan dari ketuban pecah dini preterm (KPD preterm/preterm premature rupture of membranes, PPROM) yang memiliki tata laksana tersendiri meski sering tumpang tindih secara klinis.

1.1 Patofisiologi Ringkas

Persalinan preterm bukan satu penyakit tunggal, melainkan sindrom klinis (preterm labor syndrome) dengan empat jalur patofisiologis utama yang dapat tumpang tindih: (1) infeksi/inflamasi intrauterin dengan pelepasan sitokin proinflamasi yang memicu prostaglandin dan matriks metaloproteinase; (2) iskemia uteroplasenta akibat gangguan invasi trofoblas atau insufisiensi vaskular; (3) distensi uterus berlebihan pada kehamilan multipel atau polihidramnion; dan (4) aktivasi dini aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal maternal-janin akibat stres fisiologis atau psikososial. Pemahaman jalur ini mendasari pemilihan pemeriksaan penunjang dan tata laksana pada bagian selanjutnya.

Dasar Regulasi

Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7, entri diagnosis "Persalinan preterm / Preterm labor" (baris ke-21), turunan operasional Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal. Nama diagnosis, kode ICD, dan catatan populasi sasaran pada dokumen ini disusun berdasarkan penunjuk lokasi yang diberikan pada dokumen kerja internal; kecocokan kata-demi-kata terhadap Tabel 7 asli dan nomor bab spesifik pada Buku Tematik B3 belum dapat diverifikasi pada sesi penyusunan ini karena berkas sumber Kepkonsil tidak tersedia untuk ditelusuri langsung, dan wajib dituntaskan oleh pengampu sebelum PPK ini disahkan secara resmi.

2. Anamnesis

Anamnesis terstruktur ditujukan untuk memastikan usia kehamilan, mengidentifikasi faktor risiko, dan menyingkirkan diagnosis banding.

2.1 Keluhan Utama dan Karakteristik Kontraksi

  • Frekuensi, durasi, dan intensitas kontraksi (kriteria operasional: 4 kali atau lebih dalam 20 menit, atau 8 kali atau lebih dalam 60 menit).
  • Nyeri pinggang bawah menetap, rasa tertekan pada panggul (pelvic pressure), atau kram menyerupai nyeri haid.
  • Perubahan sekret vagina: cairan (curigai KPD preterm), lendir bercampur darah (bloody show), atau perdarahan.

2.2 Penentuan Usia Kehamilan

Konfirmasi Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) dan bandingkan dengan hasil USG trimester pertama bila tersedia. Penentuan usia kehamilan yang akurat adalah prasyarat mutlak sebelum label "preterm" ditegakkan dan sebelum keputusan tokolisis, kortikosteroid, atau magnesium sulfat diambil, karena seluruh jendela terapi tersebut ditentukan oleh usia kehamilan.

2.3 Faktor Risiko

  • Riwayat persalinan atau kelahiran preterm sebelumnya — faktor risiko tunggal terkuat untuk kehamilan berikutnya.
  • Kehamilan multipel (gemelli atau multipel lain), polihidramnion.
  • Riwayat prosedur serviks (konisasi, LEEP) atau insufisiensi serviks.
  • Perdarahan antepartum, solusio plasenta, plasenta previa.
  • Infeksi: infeksi saluran kemih, vaginosis bakterialis, infeksi menular seksual, korioamnionitis subklinis, infeksi periodontal berat.
  • Kelainan uterus (uterus bikornu, mioma submukosa besar), riwayat bedah uterus.
  • Interval kehamilan pendek (kurang dari 18 bulan sejak persalinan sebelumnya).
  • Faktor ibu: usia kurang dari 18 atau lebih dari 35 tahun, indeks massa tubuh ekstrem, merokok aktif atau pasif, penyalahgunaan zat, stres psikososial berat, status gizi buruk, penyakit sistemik (hipertensi kronik, diabetes, penyakit tiroid tidak terkontrol).

3. Pemeriksaan Fisik

3.1 Pemeriksaan Umum dan Obstetri Luar

  • Tanda vital ibu — curigai infeksi/korioamnionitis bila demam disertai takikardia.
  • Palpasi Leopold: taksiran berat janin, presentasi, letak — relevan untuk rencana persalinan bila preterm tidak tertahankan.
  • Palpasi kontraksi uterus: frekuensi dan tonus.
  • Denyut jantung janin melalui auskultasi Doppler atau kardiotokografi.

3.2 Pemeriksaan Serviks

Inspekulo steril dilakukan terlebih dahulu untuk menilai dilatasi visual, cairan atau perdarahan, dan mengambil sampel (fibronektin janin, kultur/swab bila indikasi) sebelum colok vagina digital, karena colok digital dapat mengganggu hasil pemeriksaan fibronektin janin dan berisiko pada kecurigaan plasenta previa atau KPD. Pemeriksaan digital dilakukan bila inspekulo tidak menunjukkan kontraindikasi, untuk menilai pendataran, pembukaan, konsistensi, dan posisi serviks (skor Bishop bila relevan untuk rencana persalinan).

Pemeriksaan digital serviks berulang tanpa indikasi kuat sebaiknya dihindari pada kecurigaan KPD preterm karena meningkatkan risiko infeksi asenden.

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis persalinan preterm ditegakkan pada usia kehamilan 20 sampai kurang dari 37 minggu bila memenuhi kombinasi kriteria kontraksi dan kriteria serviks berikut:

  1. Kontraksi uterus teratur (4 kali atau lebih dalam 20 menit, atau 8 kali atau lebih dalam 60 menit) yang terpalpasi atau terekam kardiotokografi, DAN
  2. Perubahan serviks progresif: pembukaan 2 cm atau lebih dan/atau pendataran 80% atau lebih, ATAU pembukaan serviks yang berkembang pada pemeriksaan serial, ATAU panjang serviks 20 mm atau kurang pada USG transvaginal disertai kontraksi simtomatik.

Pada kondisi ambigu (kontraksi simtomatik namun serviks belum jelas berubah), panjang serviks USG transvaginal dan/atau fibronektin janin digunakan sebagai penapis untuk menstratifikasi risiko persalinan dalam 7–14 hari (lihat bagian 6). Pendekatan ini konsisten dengan alat prediksi berbasis kombinasi klinis dan biomarker yang kini direkomendasikan (mis. algoritme QUiPP) untuk mengurangi rawat inap dan intervensi yang tidak perlu pada risiko rendah.

4.1 Kode Klasifikasi

Kode ICD-10Deskripsi
O60.0Persalinan preterm tanpa persalinan (preterm labour without delivery)
O60.1Persalinan preterm spontan dengan kelahiran preterm
O60.2Persalinan preterm spontan dengan kelahiran aterm
O60.3Kelahiran preterm tanpa persalinan spontan (induksi/seksio elektif)
Kode ICD-11Deskripsi
JB00.0Preterm labour without delivery
JB00.1Preterm spontaneous labour with preterm delivery
JB00.2Preterm labour with term delivery
JB00.3Preterm delivery following iatrogenic induction of labour or caesarean section

Catatan: pemetaan kode di atas mengikuti nomenklatur resmi WHO ICD-10 dan ICD-11 untuk kategori Preterm labor/O60 dan JB00. Kecocokan baris ini terhadap entri persis Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026 — termasuk kemungkinan subkode tambahan yang ditetapkan khusus oleh Kepkonsil — belum dapat diverifikasi pada sesi ini (lihat kotak Dasar Regulasi di atas) dan wajib dikonfirmasi pengampu.

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Persalinan preterm (Preterm labor), usia kehamilan sesuai HPHT/USG, disertai status membran (utuh/pecah) dan pembukaan serviks saat pemeriksaan.

5.1 Diagnosis Banding

  • Persalinan preterm mengancam (threatened preterm labor) — kontraksi tanpa perubahan serviks bermakna.
  • Ketuban pecah dini preterm (PPROM) — pecah membran mendahului kontraksi.
  • Kontraksi Braxton-Hicks — ireguler, tidak disertai perubahan serviks.
  • Infeksi saluran kemih atau pielonefritis — nyeri pinggang, dapat memicu kontraksi tanpa perubahan serviks primer.
  • Solusio plasenta — nyeri perut mendadak, uterus tegang (tetani), dapat disertai perdarahan.
  • Nyeri muskuloskeletal kehamilan dan kolik gastrointestinal/renal.
  • Insufisiensi serviks (cervical insufficiency) — dilatasi tanpa nyeri/kontraksi bermakna, umumnya trimester kedua.

6. Pemeriksaan Penunjang

  • USG transvaginal untuk panjang serviks — nilai 20 mm atau kurang pada usia kehamilan kurang dari 34 minggu meningkatkan risiko persalinan preterm; nilai 30 mm atau lebih memiliki nilai prediksi negatif tinggi.
  • Fibronektin janin (fetal fibronectin) kualitatif dari sekret servikovaginal pada usia kehamilan 22–34 minggu — nilai prediksi negatif tinggi untuk persalinan dalam 7–14 hari bila negatif, membantu menghindari intervensi yang tidak perlu.
  • Kardiotokografi (KTG) untuk menilai frekuensi kontraksi dan kesejahteraan janin.
  • USG obstetri: taksiran berat janin, presentasi, indeks cairan amnion, lokasi plasenta.
  • Darah perifer lengkap dan C-reactive protein bila terdapat kecurigaan infeksi/korioamnionitis.
  • Urinalisis dan kultur urin untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih sebagai pencetus.
  • Swab vagina-rektum untuk Streptococcus grup B bila status belum diketahui dan persalinan preterm mengancam nyata, sesuai protokol profilaksis intrapartum.
  • Swab/kultur untuk infeksi menular seksual dan vaginosis bakterialis bila terdapat indikasi klinis.
  • Amniosentesis untuk pemeriksaan penanda infeksi/inflamasi cairan amnion dapat dipertimbangkan pada kasus terpilih dengan kecurigaan infeksi intra-amnion subklinis yang tata laksananya tidak jelas — pemeriksaan ini merupakan kewenangan tingkat rujukan Fetomaternal.

7. Tata Laksana

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

  • Rawat inap untuk observasi kontraksi, kesejahteraan janin, dan tanda infeksi.
  • Aktivitas dimodifikasi sesuai gejala; tirah baring ketat berkepanjangan tidak dianjurkan secara rutin karena tidak terbukti menunda persalinan dan meningkatkan risiko tromboemboli serta dekondisi otot.
  • Hidrasi adekuat; koreksi bila terdapat dehidrasi yang memicu kontraksi.
  • Pemantauan tanda vital ibu dan denyut jantung janin secara berkala.
  • Rencana tempat persalinan disesuaikan dengan kapasitas neonatal fasilitas; rujukan in-utero ke fasilitas dengan NICU sesuai usia kehamilan dilakukan bila fasilitas setempat tidak memadai.

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Tiga pilar farmakologis utama pada persalinan preterm mengancam nyata usia kehamilan 24 sampai kurang dari 34 minggu adalah kortikosteroid antenatal, tokolisis jangka pendek, dan magnesium sulfat untuk neuroproteksi janin; antibiotik hanya diberikan atas indikasi spesifik. WHO memperluas kemungkinan pemberian kortikosteroid hingga usia kehamilan 34–36 minggu pada kondisi tertentu sesuai penilaian klinis fasilitas.

  • Kortikosteroid antenatal — betametason 12 mg intramuskular dua dosis dengan interval 24 jam, atau deksametason 6 mg intramuskular empat dosis dengan interval 12 jam, pada usia kehamilan 24–34 minggu dengan kemungkinan tinggi persalinan dalam 7 hari. Mempercepat maturasi paru janin dan menurunkan risiko sindrom distres pernapasan, kematian neonatal, dan perdarahan intraventrikular. Satu kali pengulangan (repeat course) dapat dipertimbangkan bila kursus pertama diberikan lebih dari 7 hari sebelumnya dan ibu masih berisiko tinggi melahirkan preterm sebelum 34 minggu; pengulangan rutin lebih dari satu kali tidak dianjurkan.
  • Tokolisis jangka pendek — bertujuan menunda persalinan hingga 48 jam untuk melengkapi kortikosteroid dan/atau memungkinkan rujukan in-utero. Nifedipin oral atau antagonis reseptor oksitosin (atosiban, bila tersedia) merupakan pilihan lini pertama sesuai ketersediaan dan profil keamanan. Golongan beta-agonis (mis. terbutalin) TIDAK dianjurkan sebagai lini pertama karena profil efek samping kardiovaskular ibu yang lebih besar dibanding nifedipin/atosiban tanpa keunggulan efektivitas. Indometasin dapat dipertimbangkan sebagai alternatif hanya pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu dan durasi pemberian dibatasi maksimal 48 jam, mengingat risiko oligohidramnion dan penutupan dini duktus arteriosus janin pada pemakaian lebih lama atau usia kehamilan lebih tua. Tokolisis dikontraindikasikan pada korioamnionitis, solusio plasenta berat, kematian janin dalam kandungan, atau kondisi lain yang mengharuskan persalinan segera.
  • Magnesium sulfat untuk neuroproteksi janin — diberikan pada persalinan preterm yang sangat mengancam pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu untuk menurunkan risiko cerebral palsy. Regimen loading dose diikuti dosis rumatan, dengan pemantauan refleks patela, frekuensi napas, dan produksi urin ibu setiap jam untuk mendeteksi toksisitas magnesium; kalsium glukonat 1 g intravena perlahan disiapkan sebagai antidotum bila timbul tanda toksisitas (refleks patela menghilang, depresi napas).
  • Antibiotik — TIDAK diberikan secara rutin pada persalinan preterm dengan membran utuh tanpa bukti infeksi, karena tidak terbukti memperbaiki luaran dan berpotensi merugikan. Diberikan atas indikasi spesifik seperti profilaksis Streptococcus grup B intrapartum, korioamnionitis, atau ketuban pecah dini preterm sesuai PPK terkait.

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

Tidak ada prosedur bedah definitif untuk episode persalinan preterm aktif itu sendiri. Cerclage serviks emergensi (rescue cerclage) dapat dipertimbangkan pada dilatasi serviks tanpa kontraksi bermakna dan membran masih utuh tanpa tanda infeksi, sebagai tata laksana insufisiensi serviks — bukan untuk persalinan preterm dengan kontraksi aktif, dan keputusan diambil kasus per kasus mengingat risiko infeksi. Seksio sesarea dilakukan atas indikasi obstetri baku, bukan atas dasar prematuritas semata, termasuk pada presentasi bokong dengan taksiran berat janin sangat rendah sesuai kesepakatan klinis fasilitas.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal

  • Usia kehamilan kurang dari 32 minggu dengan persalinan preterm aktif dan fasilitas setempat tidak memiliki NICU level sesuai kebutuhan — rujuk in-utero.
  • Kegagalan tokolisis dengan risiko persalinan imminen pada usia kehamilan yang masih memerlukan optimalisasi maturasi paru.
  • Kehamilan multipel dengan persalinan preterm.
  • Kecurigaan insufisiensi serviks yang memerlukan cerclage emergensi.
  • Kecurigaan infeksi intra-amnion subklinis yang memerlukan amniosentesis diagnostik.
  • Komplikasi penyerta berat: solusio plasenta, korioamnionitis dengan sepsis, preeklampsia berat bersamaan.
  • Kelainan janin struktural yang memerlukan perencanaan persalinan multidisiplin.

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

  • Jelaskan tanda bahaya yang harus segera dilaporkan: kontraksi memberat, keluar cairan/perdarahan, gerak janin berkurang.
  • Jelaskan tujuan dan efek samping kortikosteroid, tokolitik, dan magnesium sulfat secara sederhana, termasuk bahwa tokolisis bertujuan menunda — bukan menghentikan permanen — persalinan.
  • Diskusikan rencana persalinan, kemungkinan rujukan ke fasilitas dengan NICU, dan gambaran umum perawatan neonatus preterm bila kelahiran preterm tidak terhindarkan.
  • Edukasi modifikasi faktor risiko yang dapat diintervensi pada kehamilan berikutnya: berhenti merokok, tata laksana infeksi, pengaturan jarak kehamilan, kontrol penyakit sistemik.
  • Dukungan psikososial — persalinan preterm merupakan sumber kecemasan signifikan bagi ibu dan keluarga; libatkan tenaga kesehatan jiwa/konseling bila diperlukan.

9. Prognosis

Prognosis neonatal bergantung utama pada usia kehamilan saat lahir dan berat lahir: semakin muda usia kehamilan, semakin tinggi risiko morbiditas (sindrom distres pernapasan, perdarahan intraventrikular, enterokolitis nekrotikans, retinopati prematuritas) dan mortalitas neonatal. Pemberian kortikosteroid antenatal lengkap, magnesium sulfat neuroproteksi pada indikasi yang sesuai, dan rujukan in-utero ke fasilitas dengan NICU memadai memperbaiki luaran secara bermakna. Prognosis ibu pada persalinan preterm tanpa komplikasi penyerta umumnya baik; kehamilan berikutnya memiliki risiko berulang yang memerlukan pemantauan panjang serviks dan konseling prakonsepsi.

Angka insidensi dan luaran neonatal preterm tingkat nasional/fasilitas: [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI, WHO], karena data epidemiologi spesifik tersebut tidak tercantum eksplisit pada dokumen sumber yang tersedia dalam sesi penyusunan ini.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

IntervensiTingkat EvidensKekuatan RekomendasiSumber
Kortikosteroid antenatal usia kehamilan 24–34 mingguIAWHO 2022; Cochrane (McGoldrick dkk. 2020); ACOG PB No. 171
Magnesium sulfat neuroproteksi janin usia kehamilan <32 mingguIACochrane (Shepherd dkk. 2024); ACOG
Tokolisis jangka pendek (nifedipin/atosiban) untuk menunda persalinan 48 jamIACochrane (Wilson dkk. 2022); NICE NG25
Betamimetik (mis. terbutalin) sebagai tokolitik lini pertamaI (bukti tidak mendukung keunggulan, profil efek samping lebih besar)D (tidak direkomendasikan sebagai lini pertama)NICE NG25; Cochrane (Wilson dkk. 2022)
Antibiotik rutin pada membran utuh tanpa infeksiI (bukti tidak mendukung manfaat)D (tidak direkomendasikan)WHO 2015; tinjauan sistematis terkait
Fibronektin janin/panjang serviks USG untuk stratifikasi risikoIIBNICE NG25; FIGO 2019
Tirah baring ketat berkepanjanganII (bukti tidak mendukung manfaat, berisiko)D (tidak direkomendasikan rutin)NICE NG25; ACOG

Skala evidens mengikuti gradasi standar (I–IV) dan kekuatan rekomendasi (A–D) yang lazim dipakai pada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran; rincian rujukan lihat bagian 13 Kepustakaan.

11. Indikator Medis

  • Proporsi kasus persalinan preterm usia kehamilan 24–34 minggu berisiko lahir dalam 7 hari yang menerima kortikosteroid antenatal lengkap sebelum persalinan.
  • Proporsi kasus usia kehamilan kurang dari 32 minggu dengan persalinan imminen yang menerima magnesium sulfat neuroproteksi sesuai protokol.
  • Waktu dari kedatangan hingga inisiasi tokolisis pada kasus tanpa kontraindikasi.
  • Proporsi rujukan in-utero yang terlaksana tepat waktu untuk usia kehamilan kurang dari 32 minggu tanpa fasilitas NICU memadai.
  • Insiden pemberian antibiotik tanpa indikasi pada persalinan preterm membran utuh — target serendah mungkin.
  • Insiden penggunaan betamimetik sebagai tokolitik lini pertama — target serendah mungkin, sesuai perubahan standar pada bagian 7.2.
  • [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI, WHO] untuk baseline dan target numerik tiap indikator di atas pada tingkat nasional/fasilitas.

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Tata laksana pada bagian 7 di atas disusun selaras dengan standar internasional terkini berikut; perbedaan penekanan dinyatakan eksplisit bila ada.

  • WHO recommendations on antenatal corticosteroids for improving preterm birth outcomes (2022) dan WHO recommendations on interventions to improve preterm birth outcomes (2015) menekankan paket intervensi inti: kortikosteroid antenatal, tokolisis jangka pendek, magnesium sulfat neuroproteksi, dan penundaan penjepitan tali pusat pada kelahiran preterm — sejalan dengan struktur bagian 7.2 di atas. Rekomendasi kortikosteroid 2022 menggantikan sebagian rekomendasi 2015 setelah tinjauan bukti baru.
  • ACOG Practice Bulletin No. 171: Management of Preterm Labor (2016, direafirmasi 2022) merekomendasikan pendekatan serupa, dengan penekanan tambahan pada penggunaan panjang serviks USG transvaginal dan fibronektin janin untuk menghindari tokolisis/kortikosteroid yang tidak perlu pada risiko rendah.
  • NICE guideline NG25 (Preterm Labour and Birth, terakhir diperbarui Juni 2022) — RCOG mengarahkan topik tokolisis ke pedoman ini setelah mengarsipkan Green-top Guideline No. 1b — secara eksplisit TIDAK merekomendasikan betamimetik sebagai tokolitik, sejalan dengan revisi bagian 7.2 dokumen ini.
  • FIGO good practice recommendations (kelompok kerja FIGO untuk Preterm Birth, 2019–2021) menekankan skrining panjang serviks pada populasi berisiko, penggunaan progestogen pada indikasi terpilih, dan kriteria cerclage berbasis panjang serviks — area yang berkembang dan perlu diselaraskan lebih lanjut dengan kebijakan skrining nasional.
  • Tinjauan sistematis Cochrane terbaru (jaringan meta-analisis tokolitik 2022; kortikosteroid antenatal 2020; magnesium sulfat neuroproteksi 2024) menjadi dasar bukti tingkat I untuk rekomendasi pada bagian 10 di atas.

Standar nasional (Kepkonsil, sesuai Buku Tematik B3) menetapkan kerangka kompetensi dan alur rujukan Fetomaternal seperti pada bagian 7.4 di atas; standar internasional di atas memperkaya detail farmakologis dan ambang skrining tanpa menggantikan kerangka rujukan nasional — praktik di Indonesia mengikuti standar nasional untuk kriteria rujukan dan pembagian kewenangan, dengan standar internasional sebagai rujukan teknis tata laksana klinis.

13. Kepustakaan

13.1 Rujukan Nasional

  1. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7. (Dokumen internal — nomor pasal/tabel dan isi persis belum diverifikasi langsung pada sesi penyusunan ini; wajib dikonfirmasi pengampu terhadap naskah resmi.)
  2. Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal, rujukan induk PPK ini. (Dokumen internal — nomor bab spesifik yang dirujuk belum dapat dipastikan tanpa akses langsung ke naskah.)

13.2 Rujukan Internasional

  1. World Health Organization. WHO Recommendations on Antenatal Corticosteroids for Improving Preterm Birth Outcomes. Geneva: WHO; 2022.
  2. Vogel JP, Ramson J, Darmstadt GL, Qureshi ZP, Chou D, Bahl R, Oladapo OT. Updated WHO recommendations on antenatal corticosteroids and tocolytic therapy for improving preterm birth outcomes. Lancet Glob Health. 2022;10(12):e1707–e1708. DOI: 10.1016/S2214-109X(22)00434-X.
  3. World Health Organization. WHO Recommendations on Interventions to Improve Preterm Birth Outcomes. Geneva: WHO; 2015.
  4. American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 171: Management of Preterm Labor. Obstet Gynecol. 2016;128:e155–e164 (direafirmasi 2022). DOI: 10.1097/AOG.0000000000001711.
  5. National Institute for Health and Care Excellence. Preterm Labour and Birth. NICE Guideline NG25. London: NICE; 2015 (pembaruan terakhir 10 Juni 2022).
  6. Shennan A, Story L, Jacobsson B, Grobman WA; FIGO Working Group for Preterm Birth. FIGO good practice recommendations on cervical cerclage for prevention of preterm birth. Int J Gynecol Obstet. 2021;155(1):19–22. DOI: 10.1002/ijgo.13835.
  7. Jacobsson B, Simpson JL, Shennan A, et al.; FIGO Working Group for Preterm Birth. FIGO good practice recommendations for reducing preterm birth and improving child outcomes. Int J Gynecol Obstet. 2021;155(1):16–18. DOI: 10.1002/ijgo.13863.
  8. Di Renzo GC, Tosto V, Tsibizova V, et al. Good clinical practice advice: Prediction of preterm labor and preterm premature rupture of membranes. Int J Gynecol Obstet. 2019;144(3):340–346. DOI: 10.1002/ijgo.12744.
  9. McGoldrick E, Stewart F, Parker R, Dowswell T. Antenatal corticosteroids for accelerating fetal lung maturation for women at risk of preterm birth. Cochrane Database Syst Rev. 2020;12:CD004454. DOI: 10.1002/14651858.CD004454.pub4.
  10. Shepherd ES, Goldsmith S, Doyle LW, Middleton P, Marret S, Rouse DJ, Pryde P, Wolf HT, Crowther CA. Magnesium sulphate for women at risk of preterm birth for neuroprotection of the fetus. Cochrane Database Syst Rev. 2024;5:CD004661. DOI: 10.1002/14651858.CD004661.pub4.
  11. Wilson A, Hodgetts-Morton VA, Marson EJ, et al. Tocolytics for delaying preterm birth: a network meta-analysis. Cochrane Database Syst Rev. 2022;8:CD014978. DOI: 10.1002/14651858.CD014978.pub2.
  12. World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics — kategori JB00 Preterm labour or delivery.
  13. ICD-10-CM 2026 — kategori O60 Preterm labor.

Rujukan 13.1 No. 1–2 memerlukan verifikasi pasal/tabel dan nomor bab spesifik oleh pengampu terhadap naskah resmi sebelum PPK ini disahkan. Seluruh rujukan pada 13.2 telah ditelusuri ulang pada sesi revisi Agustus 2026 untuk memastikan menggunakan versi terbaru yang masih berlaku, bukan versi yang telah diarsipkan atau digantikan.

14. Glosarium

IstilahPenjelasan
Persalinan preterm (preterm labor)Kontraksi uterus teratur disertai perubahan serviks progresif sebelum usia kehamilan 37 minggu.
Kelahiran preterm (preterm birth)Kelahiran hidup sebelum usia kehamilan 37 minggu lengkap.
Threatened preterm laborKontraksi uterus tanpa perubahan serviks yang bermakna; persalinan preterm belum tegak.
PPROM (preterm premature rupture of membranes)Ketuban pecah dini yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, mendahului kontraksi.
TokolisisPemberian obat untuk menekan kontraksi uterus guna menunda persalinan, biasanya hingga 48 jam.
Kortikosteroid antenatalBetametason atau deksametason yang diberikan pada ibu untuk mempercepat maturasi paru janin sebelum kelahiran preterm.
Magnesium sulfat neuroproteksiPemberian magnesium sulfat pada ibu sebelum kelahiran preterm untuk menurunkan risiko cerebral palsy pada bayi.
Fibronektin janin (fetal fibronectin)Protein pada sekret servikovaginal yang bila negatif menunjukkan kemungkinan kecil persalinan preterm dalam 7–14 hari.
Panjang serviks (cervical length)Ukuran panjang kanalis servikalis pada USG transvaginal, digunakan untuk memprediksi risiko persalinan preterm.
KorioamnionitisInfeksi/inflamasi pada membran korioamnion dan cairan amnion.
CerclageProsedur penjahitan serviks untuk mempertahankan kehamilan pada insufisiensi serviks.
NICU (neonatal intensive care unit)Unit perawatan intensif neonatus untuk bayi yang memerlukan dukungan medis lanjut, termasuk bayi preterm.
Rujukan in-uteroRujukan ibu hamil ke fasilitas dengan kapasitas neonatal lebih tinggi sebelum bayi dilahirkan.
Skor BishopSistem penilaian kematangan serviks untuk memperkirakan keberhasilan induksi atau kemajuan persalinan.
Betamimetik (beta-agonis)Golongan obat tokolitik (mis. terbutalin) yang kini tidak lagi dianjurkan sebagai lini pertama karena efek samping kardiovaskular.