Perpustakaan Digital ABBA — Seri PPK Sp.OGPPK-024 · PPK 24/73
Panduan Praktik Klinis · Individu
Gawat Janin
Fetal Distress
ICD-10: O68.9ICD-11: KB20 ; JA86.2
Gangguan oksigenasi janin; indikasi tindakan segera
Divisi Pengampu: Fetomaternal
Dr. dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138
PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal, disusun sebagai panduan praktik klinis individu untuk entri Tabel 7 No. 24 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026: “Gawat janin (Fetal distress)”.
Divisi Fetomaternal berkontribusi memberikan perspektif tambahan pada aspek pemantauan kesejahteraan janin, interpretasi kardiotokografi (KTG — cardiotocography), dan Doppler velocimetry, khususnya pada kehamilan risiko tinggi dengan restriksi pertumbuhan intrauterin.
Gawat janin (fetal distress) adalah kondisi klinis yang menggambarkan gangguan oksigenasi janin (impaired fetal oxygenation) akibat insufisiensi pertukaran gas uteroplasenta pada periode antepartum atau, tersering, intrapartum, yang ditandai oleh perubahan pola denyut jantung janin (DJJ) atau parameter kesejahteraan janin lain yang mengindikasikan risiko asidemia metabolik signifikan sehingga memerlukan evaluasi dan tindakan klinis segera untuk mencegah morbiditas dan mortalitas perinatal.
Sesuai Keterangan/Populasi resmi pada Tabel 7 No. 24 Kepkonsil, kondisi ini didefinisikan sebagai “gangguan oksigenasi janin; indikasi tindakan segera”, menegaskan bahwa diagnosis ini merupakan diagnosis kerja yang secara inheren memerlukan respons klinis waktu-kritis (time-critical), bukan semata deskripsi temuan pemantauan.
Secara patofisiologi, gangguan oksigenasi janin timbul melalui rangkaian: penurunan perfusi/pertukaran gas uteroplasenta → penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) janin → pergeseran metabolisme janin ke jalur anaerob → akumulasi asam laktat → asidemia metabolik. Kecepatan dan pola rangkaian ini berbeda-beda tergantung penyebab yang mendasari, sehingga literatur kontemporer membedakan beberapa pola hipoksia janin intrapartum: hipoksia akut (acute hypoxia, misalnya pada prolaps tali pusat atau ruptur uteri), hipoksia subakut (subacute hypoxia, misalnya pada takisistol berat), hipoksia evolving/gradual (evolving/gradual hypoxia, paling sering ditemukan pada persalinan lama), dan hipoksia kronik yang memberat (chronic hypoxia with reduced reserve, umumnya pada janin dengan restriksi pertumbuhan intrauterin).
Istilah “gawat janin” bersifat generik secara historis dan pada literatur internasional kontemporer umumnya digantikan dengan istilah yang lebih deskriptif seperti “pola denyut jantung janin kategori II/III” (Category II/III fetal heart rate tracing) atau “kompromis janin intrapartum” (intrapartum fetal compromise) — lihat Bagian 12 untuk pembahasan perbandingan terminologi dan kerangka klasifikasi ini.
2. Anamnesis
Anamnesis diarahkan pada identifikasi faktor risiko dan gejala yang mendahului atau menyertai kecurigaan gangguan oksigenasi janin, meliputi:
Persepsi ibu terhadap gerakan janin berkurang (reduced fetal movement/RGJ) — riwayat frekuensi dan intensitas gerak janin dalam 24 jam terakhir
Karakteristik cairan ketuban saat ketuban pecah — warna hijau/kehitaman (mekonium) mengindikasikan kemungkinan stres janin sebelumnya
Pola kontraksi uterus — kontraksi berlebihan/takisistol (>5 kontraksi per 10 menit) yang dapat menurunkan perfusi uteroplasenta
Riwayat penggunaan oksitosin augmentasi/induksi persalinan dan analgesia epidural yang dapat memengaruhi pola DJJ
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik difokuskan pada penilaian kondisi maternal yang dapat memengaruhi oksigenasi janin serta penilaian langsung kesejahteraan janin:
Tanda vital ibu: tekanan darah (deteksi hipotensi pasca-epidural atau hipertensi berat), nadi, suhu (demam sebagai penanda kemungkinan korioamnionitis), saturasi oksigen
Pemeriksaan abdomen: tinggi fundus uteri, palpasi Leopold I-IV untuk taksiran berat janin dan presentasi, palpasi kontraksi (frekuensi, durasi, intensitas)
Auskultasi denyut jantung janin intermiten menggunakan Doppler genggam atau fetoskop Pinard bila pemantauan elektronik kontinu tidak tersedia, atau evaluasi kardiotokografi (KTG) kontinu bila tersedia dan terindikasi
Pemeriksaan dalam vagina: penilaian pembukaan dan pendataran serviks, stasion/penurunan bagian terbawah janin, karakteristik cairan ketuban (jernih vs mekonium kental/encer), serta eksklusi prolaps tali pusat
Penilaian tanda kegawatdaruratan obstetri penyerta bila dicurigai: nyeri perut hebat dan kontur uterus abnormal (kecurigaan ruptur uteri), nyeri tekan uterus dan perdarahan gelap (kecurigaan solusio plasenta)
4. Kriteria Diagnosis
Dasar Regulasi
Kode diagnosis telah diverifikasi ulang terhadap Tabel 7 No. 24 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026 (bukan disalin mentah dari penunjuk lokasi prompt individual): ICD-10 O68.9 dan ICD-11 KB20 ; JA86.2.
Diagnosis gawat janin (fetal distress, ICD-10 O68.9; ICD-11 KB20 ; JA86.2) ditegakkan berdasarkan kombinasi temuan pemantauan elektronik janin dan/atau pemeriksaan penunjang lain yang menunjukkan kemungkinan gangguan oksigenasi. Dua kerangka interpretasi kardiotokografi (KTG) yang berlaku secara internasional dan dapat digunakan saling melengkapi diuraikan pada Bagian 12; kriteria berikut merangkum kedua kerangka tersebut:
Pola kardiotokografi (KTG) yang memenuhi kriteria Kategori II atau Kategori III menurut sistem klasifikasi 3-tingkat (three-tier system, NICHD/ACOG) — meliputi bradikardia janin persisten (<110 kali/menit selama >10 menit), takikardia janin (>160 kali/menit), deselerasi lambat berulang (recurrent late decelerations), deselerasi variabel berat berulang, variabilitas minimal atau tidak ada tanpa akselerasi, atau pola sinusoidal
Pada kerangka interpretasi fisiologis (physiological CTG interpretation), pola di atas diklasifikasikan lebih lanjut menurut jenis hipoksia yang mendasari (akut, subakut, evolving/gradual, atau kronik memberat) berdasarkan kombinasi garis dasar (baseline), variabilitas, dan karakteristik deselerasi, guna mengarahkan urgensi dan jenis intervensi
Profil biofisik (biophysical profile) dengan skor ≤6/10
Indeks cairan ketuban abnormal (oligohidramnion) sebagai faktor pendukung risiko kompresi tali pusat
Analisis gas darah kulit kepala janin (fetal scalp blood sampling), bila fasilitas tersedia, menunjukkan pH <7,20 yang mengindikasikan asidosis
Doppler velocimetry arteri umbilikalis dengan aliran diastolik akhir tidak ada (absent) atau terbalik (reversed) pada konteks restriksi pertumbuhan intrauterin
Diagnosis definitif retrospektif dikonfirmasi melalui analisis gas darah tali pusat segera pascalahir (lihat Bagian 6).
Ruptur uteri (nyeri hebat mendadak, perubahan kontur abdomen, syok)
Prolaps tali pusat (teraba tali pusat pada pemeriksaan dalam, deselerasi variabel berat mendadak)
Anemia janin berat (misalnya akibat perdarahan fetomaternal atau isoimunisasi)
Aritmia janin kongenital yang menyerupai pola DJJ abnormal namun bersifat kronik/struktural
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang berikut digunakan untuk menegakkan, mengkonfirmasi, atau memantau perkembangan diagnosis:
Kardiotokografi (KTG) kontinu — modalitas standar utama pemantauan intrapartum pada kehamilan risiko tinggi atau saat dicurigai gangguan oksigenasi
Ultrasonografi (USG) untuk penilaian profil biofisik, indeks cairan ketuban, dan evaluasi morfologi/lokasi plasenta
Doppler velocimetry arteri umbilikalis dan arteri serebral media, terutama pada kehamilan dengan kecurigaan restriksi pertumbuhan intrauterin
Analisis gas darah tali pusat (arteri dan vena umbilikalis) segera setelah lahir untuk konfirmasi retrospektif derajat asidemia
Pemeriksaan laboratorium ibu (darah lengkap, elektrolit, penanda infeksi) bila dicurigai korioamnionitis, sepsis, atau dehidrasi sebagai faktor pencetus
Dua modalitas tambahan berikut secara historis pernah diusulkan sebagai pelengkap KTG, namun berdasarkan tinjauan bukti terkini tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin: pulse oximetry janin intrapartum, karena belum terbukti menurunkan angka persalinan operatif maupun memperbaiki luaran neonatal secara konsisten; dan analisis segmen-ST elektrokardiogram janin (STAN), karena tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru terhadap uji klinis acak yang tersedia tidak menunjukkan manfaat tambahan yang bermakna terhadap luaran intrapartum dibandingkan KTG saja. Kedua modalitas ini dapat dipertimbangkan secara selektif di pusat rujukan dengan protokol dan pelatihan khusus, bukan sebagai standar pemeriksaan penunjang lini pertama.
7. Tata Laksana
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
Langkah resusitasi intrauterin (intrauterine resuscitation) merupakan tindakan lini pertama yang dilakukan segera saat pola DJJ mencurigakan atau abnormal terdeteksi, sambil mempersiapkan evaluasi dan intervensi lanjutan:
Reposisi ibu ke posisi lateral (kiri atau kanan) untuk mengurangi kompresi vena kava inferior dan memperbaiki perfusi uteroplasenta
Koreksi hipotensi maternal dengan bolus cairan intravena isotonik, terutama pasca-analgesia epidural
Pengurangan atau penghentian sementara agen augmentasi/induksi (oksitosin) bila terdapat takisistol uterus
Amnioinfusi pada kasus oligohidramnion atau deselerasi variabel berat berulang akibat kompresi tali pusat
Persiapan segera fasilitas dan tim untuk persalinan operatif (vakum/forsep atau seksio sesarea emergensi) sesuai indikasi
Suplementasi oksigen rutin pada ibu melalui masker TIDAK direkomendasikan untuk pola DJJ Kategori II atau III tanpa disertai hipoksia maternal yang terbukti, karena bukti terkini tidak menunjukkan manfaat konsisten terhadap luaran janin dan berpotensi menimbulkan efek merugikan melalui vasokonstriksi uteroplasenta; oksigen suplemental hanya diberikan bila terdapat indikasi hipoksia pada ibu sendiri (lihat Bagian 12).
7.2 Tata Laksana Farmakologis
Tokolisis akut (misalnya terbutalin subkutan) dapat dipertimbangkan pada kasus takisistol uterus persisten yang tidak membaik dengan penghentian oksitosin, untuk mengurangi frekuensi kontraksi dan memperbaiki perfusi uteroplasenta sementara
Antipiretik (parasetamol) pada demam maternal yang berkontribusi terhadap takikardia janin
Antibiotik empirik intravena bila terdapat kecurigaan klinis korioamnionitis sebagai faktor pencetus
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural
Persalinan pervaginam operatif (ekstraksi vakum atau forsep) bila pembukaan serviks lengkap, stasion kepala janin cukup rendah, dan syarat persalinan operatif pervaginam terpenuhi
Seksio sesarea emergensi (kategori 1) pada pola DJJ Kategori III yang persisten atau tidak berespons terhadap langkah resusitasi intrauterin, dengan target interval keputusan-ke-lahir sesingkat mungkin (lihat Bagian 11)
Dekompresi manual tali pusat (elevasi bagian terbawah janin per vaginam) pada kecurigaan atau konfirmasi prolaps tali pusat, dipertahankan hingga persalinan operatif segera tercapai
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal
Rujukan ke subspesialis Fetomaternal dipertimbangkan pada kondisi di luar kewenangan spesialis umum, meliputi:
Restriksi pertumbuhan intrauterin berat disertai Doppler arteri umbilikalis abnormal (end-diastolic flow absent/reversed) yang memerlukan tata laksana ekspektatif terstruktur
Kehamilan risiko tinggi kompleks dengan kegagalan berulang resusitasi intrauterin
Fasilitas pelayanan tanpa kemampuan seksio sesarea emergensi dalam interval keputusan-ke-lahir yang memadai, memerlukan rujukan terencana lebih awal (bukan saat kegawatan telah terjadi)
Kecurigaan anomali kongenital atau aritmia janin struktural yang menyerupai atau menyertai pola DJJ abnormal dan memerlukan evaluasi ekokardiografi janin lanjut
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
Edukasi disampaikan secara jelas dan empatik mengingat sifat waktu-kritis kondisi ini:
Penjelasan kondisi janin saat ini, dasar temuan klinis/pemantauan yang mendasari diagnosis, dan urgensi tindakan yang direncanakan
Penjelasan risiko dan manfaat opsi persalinan (persalinan operatif pervaginam vs seksio sesarea emergensi), termasuk risiko terkait prosedur dan risiko bila tindakan tertunda
Proses informed consent yang didokumentasikan sebelum tindakan operatif, dengan tetap memperhatikan keterbatasan waktu pada situasi kegawatdaruratan
Informasi mengenai kemungkinan observasi intensif/rawat neonatal (NICU) pascalahir bila terdapat tanda asfiksia, termasuk rencana pemantauan lanjutan bayi
9. Prognosis
Prognosis bergantung pada derajat dan durasi hipoksia janin serta kecepatan pengenalan dan intervensi klinis. Deteksi dini disertai tindakan tepat waktu umumnya memberikan luaran neonatal baik. Keterlambatan pengenalan atau intervensi berisiko menyebabkan asidemia metabolik berat, ensefalopati hipoksik-iskemik neonatal, gangguan neurodevelopmental jangka panjang termasuk palsi serebral, hingga kematian perinatal.
[DATA: insidens ensefalopati neonatal dan luaran neurodevelopmental akibat asfiksia intrapartum terkait gawat janin di Indonesia — rujuk laporan/registri resmi terbaru, mis. Kemenkes, POGI, atau registri perinatal rumah sakit pendidikan]
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
Skala evidens yang digunakan mengikuti gradasi standar (Level I-IV, Rekomendasi Grade A-D) sebagaimana lazim digunakan pada penyusunan PNPK Kementerian Kesehatan.
Pernyataan
Tingkat Evidens
Grade Rekomendasi
Sumber
Klasifikasi KTG 3-tingkat (Kategori I/II/III, NICHD) digunakan sebagai kerangka utama interpretasi pola DJJ intrapartum
Level II
B
ACOG Clinical Practice Guideline No. 10 (2025)
Interpretasi fisiologis KTG (klasifikasi jenis hipoksia berdasarkan garis dasar, variabilitas, dan deselerasi) sebagai kerangka pelengkap
Level III
C
Chandraharan E, dkk. (2024)
Pemantauan KTG kontinu dibandingkan auskultasi intermiten menurunkan kejang neonatal namun meningkatkan angka persalinan operatif tanpa perbaikan bermakna angka palsi serebral
Level I
A
Alfirevic Z, dkk., Cochrane (2017)
Resusitasi intrauterin (reposisi, koreksi hipotensi, pengurangan/penghentian oksitosin) sebagai langkah awal sebelum tindakan operatif pada Kategori II
Level II
B
ACOG Clinical Practice Guideline No. 10 (2025)
Suplementasi oksigen maternal rutin TIDAK direkomendasikan pada Kategori II/III tanpa hipoksia maternal
Level II
B
ACOG Clinical Practice Guideline No. 10 (2025)
Analisis segmen-ST (STAN) sebagai tambahan KTG tidak menunjukkan manfaat bermakna terhadap luaran intrapartum dibandingkan KTG saja
Level I
A
Blix E, dkk. (2024)
Doppler arteri umbilikalis abnormal pada restriksi pertumbuhan intrauterin meningkatkan risiko kompromis janin dan menjadi indikasi pemantauan intensif/persalinan terencana
Level I
A
ISUOG Practice Guidelines (Lees CC, dkk., 2020)
11. Indikator Medis
Indikator keberhasilan tata laksana yang terukur meliputi:
Interval keputusan-ke-lahir (decision-to-delivery interval) pada seksio sesarea kategori 1 tercapai dalam <30 menit
Nilai APGAR menit ke-5 ≥7
pH arteri tali pusat ≥7,10 atau base excess > ‒12 mmol/L pada analisis gas darah tali pusat
Insidens rawat NICU akibat asfiksia perinatal pada kasus dengan diagnosis gawat janin
Konsistensi/akurasi interpretasi KTG antar tenaga kesehatan melalui audit berkala (interobserver agreement)
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil, Tabel 7 No. 24) menetapkan istilah diagnosis “Gawat janin (Fetal distress)” dengan kode ICD-10 O68.9 dan ICD-11 KB20 ; JA86.2. Standar internasional kontemporer menggunakan kerangka klasifikasi yang lebih bertingkat, dengan dua pendekatan utama yang saat ini berlaku berdampingan:
ACOG Clinical Practice Guideline No. 10 (2025), yang menggantikan Practice Bulletin No. 106 dan No. 116 sebelumnya, menetapkan sistem klasifikasi kardiotokografi 3-tingkat (Category I/II/III, NICHD) sebagai kerangka standar Amerika Serikat. Pedoman ini secara eksplisit merekomendasikan terhadap pemberian oksigen suplemental maternal rutin pada Kategori II/III tanpa hipoksia maternal, terhadap penggunaan rutin pulse oximetry janin, terhadap analisis segmen-ST (STAN) rutin, dan terhadap ketergantungan utama pada interpretasi terkomputerisasi pola DJJ — seluruhnya merupakan pergeseran dari praktik yang sebelumnya lazim dilakukan
Konsensus ahli internasional tentang interpretasi fisiologis KTG (Chandraharan E, dkk., revisi pertama 2024) menawarkan kerangka pelengkap yang mengklasifikasikan pola DJJ berdasarkan jenis hipoksia yang mendasari (akut, subakut, evolving/gradual, kronik memberat) alih-alih semata mengelompokkan fitur DJJ ke dalam kategori. Pendekatan ini telah diadopsi di lebih dari 20 unit maternitas di Inggris serta rumah sakit di berbagai negara, dengan sejumlah laporan penurunan angka ensefalopati hipoksik-iskemik terkait intrapartum di pusat yang mengadopsinya
NICE (Inggris, pedoman Fetal monitoring in labour, terakhir diamendemen 2026) menetapkan kriteria stratifikasi risiko untuk memilih auskultasi intermiten versus KTG kontinu sejak awal persalinan, dengan penekanan pada penilaian sistematis per jam dan diskusi bersama ibu bersalin mengenai preferensi perawatan
Tinjauan Cochrane (Alfirevic Z, Gyte GML, Cuthbert A, Devane D, 2017) tentang pemantauan KTG kontinu versus auskultasi intermiten menunjukkan penurunan kejang neonatal namun peningkatan angka persalinan operatif (seksio sesarea dan operatif pervaginam) tanpa perbaikan bermakna pada angka palsi serebral atau mortalitas perinatal secara keseluruhan
ISUOG Practice Guidelines tentang restriksi pertumbuhan janin kecil untuk masa kehamilan (Lees CC, dkk., 2020) menekankan peran Doppler velocimetry arteri umbilikalis sebagai alat skrining tambahan pada kehamilan dengan restriksi pertumbuhan intrauterin untuk mengidentifikasi janin berisiko kompromis oksigenasi lebih awal
Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional (Kepkonsil) dalam penggunaan istilah dan kode diagnosis “Gawat janin” untuk keperluan pengodean dan pelaporan layanan kesehatan, sambil secara klinis-operasional mengadopsi kerangka klasifikasi KTG 3-tingkat internasional (ACOG) sebagai dasar interpretasi pola DJJ, dengan kerangka interpretasi fisiologis sebagai pelengkap pada fasilitas yang memiliki pelatihan khusus untuk itu.
13. Kepustakaan
Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 No. 24.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Clinical Practice Guideline No. 10: Intrapartum Fetal Heart Rate Monitoring — Interpretation and Management. Obstetrics & Gynecology. 2025;146(4):583–599.
Chandraharan E, Pereira S, Ghi T, Gracia Perez-Bonfils A, Fieni S, Jia YJ, dkk. International expert consensus statement on physiological interpretation of cardiotocograph (CTG): First revision (2024). European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology. 2024;302:346–355.
Ayres-de-Campos D, Spong CY, Chandraharan E, untuk FIGO Intrapartum Fetal Monitoring Expert Consensus Panel. FIGO consensus guidelines on intrapartum fetal monitoring: Cardiotocography. International Journal of Gynaecology and Obstetrics. 2015;131(1):13–24.
National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Fetal monitoring in labour (NG229). Terakhir diamendemen 2026.
Lees CC, Stampalija T, Baschat A, da Silva Costa F, Ferrazzi E, Figueras F, dkk. ISUOG Practice Guidelines: diagnosis and management of small-for-gestational-age fetus and fetal growth restriction. Ultrasound in Obstetrics & Gynecology. 2020;56(3):298–312.
Alfirevic Z, Gyte GML, Cuthbert A, Devane D. Continuous cardiotocography (CTG) as a form of electronic fetal monitoring (EFM) for fetal assessment during labour. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017;2:CD006066.
Blix E, Brurberg KG, Reierth E, dkk. ST waveform analysis versus cardiotocography alone for intrapartum fetal monitoring: an updated systematic review and meta-analysis of randomized trials. Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica. 2024;103(3):437–448.
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Himpunan Kedokteran Feto Maternal (HKFM). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Pengelolaan Kehamilan dengan Pertumbuhan Janin Terhambat. 2016.
Glossarium
Gawat janin (Fetal distress)
Istilah diagnosis Kepkonsil untuk gangguan oksigenasi janin yang memerlukan tindakan segera; pada literatur internasional kontemporer sepadan dengan “intrapartum fetal compromise” atau pola DJJ Kategori II/III.
KTG (Kardiotokografi) / CTG (Cardiotocography)
Rekaman elektronik simultan denyut jantung janin dan kontraksi uterus, modalitas utama pemantauan kesejahteraan janin intrapartum.
Frekuensi denyut jantung janin, dinilai dari garis dasar, variabilitas, akselerasi, dan deselerasi pada rekaman KTG.
Deselerasi lambat (Late deceleration)
Penurunan DJJ yang dimulai setelah puncak kontraksi dan kembali ke garis dasar setelah kontraksi berakhir; berkaitan dengan insufisiensi uteroplasenta.
Deselerasi variabel (Variable deceleration)
Penurunan DJJ mendadak yang bervariasi dalam waktu terhadap kontraksi; umumnya berkaitan dengan kompresi tali pusat.
Takisistol uterus (Uterine tachysystole)
Frekuensi kontraksi uterus lebih dari 5 kali dalam 10 menit, rata-rata dalam periode 30 menit.
Asidemia metabolik (Metabolic acidemia)
Peningkatan kadar asam (penurunan pH, peningkatan defisit basa) dalam darah janin akibat metabolisme anaerob akibat hipoksia berkepanjangan.
Rangkaian tindakan non-invasif segera (reposisi ibu, koreksi hipotensi, pengurangan oksitosin, amnioinfusi) untuk memperbaiki oksigenasi janin sebelum tindakan operatif.
Doppler velocimetry
Teknik ultrasonografi untuk menilai kecepatan aliran darah pada pembuluh darah janin/plasenta (misalnya arteri umbilikalis), digunakan untuk menilai fungsi plasenta.
Kondisi janin tidak mencapai potensi pertumbuhan genetiknya akibat insufisiensi plasenta atau penyebab lain.
Profil biofisik (Biophysical profile)
Penilaian kesejahteraan janin gabungan berbasis USG dan KTG, mencakup gerak napas janin, gerak tubuh, tonus, volume cairan ketuban, dan reaktivitas DJJ.
Rentang waktu dari keputusan klinis untuk melakukan persalinan operatif hingga bayi lahir; indikator kecepatan respons layanan kegawatdaruratan obstetri.
STAN (ST-segment Analysis)
Analisis morfologi segmen-ST pada elektrokardiogram janin sebagai pelengkap KTG; penggunaan rutin tidak lagi direkomendasikan berdasarkan bukti terkini.
Kerangka interpretasi KTG yang mengklasifikasikan pola DJJ berdasarkan jenis dan mekanisme hipoksia janin yang mendasari, bukan semata pengelompokan fitur.
Dr. dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Perpustakaan Digital ABBA — Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138