Perpustakaan Digital ABBA — Seri PPK Sp.OG PPK-024 · PPK 24/73
Panduan Praktik Klinis · Individu

Gawat Janin

Fetal Distress

ICD-10: O68.9 ICD-11: KB20 ; JA86.2
Gangguan oksigenasi janin; indikasi tindakan segera
Divisi Pengampu: Fetomaternal
Dr. dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138

PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B3 — Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal, disusun sebagai panduan praktik klinis individu untuk entri Tabel 7 No. 24 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026: “Gawat janin (Fetal distress)”.

Divisi Fetomaternal berkontribusi memberikan perspektif tambahan pada aspek pemantauan kesejahteraan janin, interpretasi kardiotokografi (KTG — cardiotocography), dan Doppler velocimetry, khususnya pada kehamilan risiko tinggi dengan restriksi pertumbuhan intrauterin.

1. Pengertian/Definisi

Dasar Regulasi

Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 No. 24 (Halaman 59): “Gawat janin / Fetal distress”, ICD-10 O68.9, ICD-11 KB20 ; JA86.2. Keterangan/Populasi resmi: “Gangguan oksigenasi janin; indikasi tindakan segera.”

Gawat janin (fetal distress) adalah kondisi klinis yang menggambarkan gangguan oksigenasi janin (impaired fetal oxygenation) akibat insufisiensi pertukaran gas uteroplasenta pada periode antepartum atau, tersering, intrapartum, yang ditandai oleh perubahan pola denyut jantung janin (DJJ) atau parameter kesejahteraan janin lain yang mengindikasikan risiko asidemia metabolik signifikan sehingga memerlukan evaluasi dan tindakan klinis segera untuk mencegah morbiditas dan mortalitas perinatal.

Sesuai Keterangan/Populasi resmi pada Tabel 7 No. 24 Kepkonsil, kondisi ini didefinisikan sebagai “gangguan oksigenasi janin; indikasi tindakan segera”, menegaskan bahwa diagnosis ini merupakan diagnosis kerja yang secara inheren memerlukan respons klinis waktu-kritis (time-critical), bukan semata deskripsi temuan pemantauan.

Secara patofisiologi, gangguan oksigenasi janin timbul melalui rangkaian: penurunan perfusi/pertukaran gas uteroplasenta → penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) janin → pergeseran metabolisme janin ke jalur anaerob → akumulasi asam laktat → asidemia metabolik. Kecepatan dan pola rangkaian ini berbeda-beda tergantung penyebab yang mendasari, sehingga literatur kontemporer membedakan beberapa pola hipoksia janin intrapartum: hipoksia akut (acute hypoxia, misalnya pada prolaps tali pusat atau ruptur uteri), hipoksia subakut (subacute hypoxia, misalnya pada takisistol berat), hipoksia evolving/gradual (evolving/gradual hypoxia, paling sering ditemukan pada persalinan lama), dan hipoksia kronik yang memberat (chronic hypoxia with reduced reserve, umumnya pada janin dengan restriksi pertumbuhan intrauterin).

Istilah “gawat janin” bersifat generik secara historis dan pada literatur internasional kontemporer umumnya digantikan dengan istilah yang lebih deskriptif seperti “pola denyut jantung janin kategori II/III” (Category II/III fetal heart rate tracing) atau “kompromis janin intrapartum” (intrapartum fetal compromise) — lihat Bagian 12 untuk pembahasan perbandingan terminologi dan kerangka klasifikasi ini.

2. Anamnesis

Anamnesis diarahkan pada identifikasi faktor risiko dan gejala yang mendahului atau menyertai kecurigaan gangguan oksigenasi janin, meliputi:

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik difokuskan pada penilaian kondisi maternal yang dapat memengaruhi oksigenasi janin serta penilaian langsung kesejahteraan janin:

4. Kriteria Diagnosis

Dasar Regulasi

Kode diagnosis telah diverifikasi ulang terhadap Tabel 7 No. 24 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026 (bukan disalin mentah dari penunjuk lokasi prompt individual): ICD-10 O68.9 dan ICD-11 KB20 ; JA86.2.

Diagnosis gawat janin (fetal distress, ICD-10 O68.9; ICD-11 KB20 ; JA86.2) ditegakkan berdasarkan kombinasi temuan pemantauan elektronik janin dan/atau pemeriksaan penunjang lain yang menunjukkan kemungkinan gangguan oksigenasi. Dua kerangka interpretasi kardiotokografi (KTG) yang berlaku secara internasional dan dapat digunakan saling melengkapi diuraikan pada Bagian 12; kriteria berikut merangkum kedua kerangka tersebut:

Diagnosis definitif retrospektif dikonfirmasi melalui analisis gas darah tali pusat segera pascalahir (lihat Bagian 6).

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Gawat janin (fetal distress) intrapartum — ICD-10 O68.9; ICD-11 KB20 ; JA86.2.

Diagnosis banding yang perlu disingkirkan sebelum menetapkan tata laksana definitif:

6. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang berikut digunakan untuk menegakkan, mengkonfirmasi, atau memantau perkembangan diagnosis:

Dua modalitas tambahan berikut secara historis pernah diusulkan sebagai pelengkap KTG, namun berdasarkan tinjauan bukti terkini tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin: pulse oximetry janin intrapartum, karena belum terbukti menurunkan angka persalinan operatif maupun memperbaiki luaran neonatal secara konsisten; dan analisis segmen-ST elektrokardiogram janin (STAN), karena tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru terhadap uji klinis acak yang tersedia tidak menunjukkan manfaat tambahan yang bermakna terhadap luaran intrapartum dibandingkan KTG saja. Kedua modalitas ini dapat dipertimbangkan secara selektif di pusat rujukan dengan protokol dan pelatihan khusus, bukan sebagai standar pemeriksaan penunjang lini pertama.

7. Tata Laksana

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

Langkah resusitasi intrauterin (intrauterine resuscitation) merupakan tindakan lini pertama yang dilakukan segera saat pola DJJ mencurigakan atau abnormal terdeteksi, sambil mempersiapkan evaluasi dan intervensi lanjutan:

  • Reposisi ibu ke posisi lateral (kiri atau kanan) untuk mengurangi kompresi vena kava inferior dan memperbaiki perfusi uteroplasenta
  • Koreksi hipotensi maternal dengan bolus cairan intravena isotonik, terutama pasca-analgesia epidural
  • Pengurangan atau penghentian sementara agen augmentasi/induksi (oksitosin) bila terdapat takisistol uterus
  • Amnioinfusi pada kasus oligohidramnion atau deselerasi variabel berat berulang akibat kompresi tali pusat
  • Persiapan segera fasilitas dan tim untuk persalinan operatif (vakum/forsep atau seksio sesarea emergensi) sesuai indikasi

Suplementasi oksigen rutin pada ibu melalui masker TIDAK direkomendasikan untuk pola DJJ Kategori II atau III tanpa disertai hipoksia maternal yang terbukti, karena bukti terkini tidak menunjukkan manfaat konsisten terhadap luaran janin dan berpotensi menimbulkan efek merugikan melalui vasokonstriksi uteroplasenta; oksigen suplemental hanya diberikan bila terdapat indikasi hipoksia pada ibu sendiri (lihat Bagian 12).

7.2 Tata Laksana Farmakologis

  • Tokolisis akut (misalnya terbutalin subkutan) dapat dipertimbangkan pada kasus takisistol uterus persisten yang tidak membaik dengan penghentian oksitosin, untuk mengurangi frekuensi kontraksi dan memperbaiki perfusi uteroplasenta sementara
  • Antipiretik (parasetamol) pada demam maternal yang berkontribusi terhadap takikardia janin
  • Antibiotik empirik intravena bila terdapat kecurigaan klinis korioamnionitis sebagai faktor pencetus

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

  • Persalinan pervaginam operatif (ekstraksi vakum atau forsep) bila pembukaan serviks lengkap, stasion kepala janin cukup rendah, dan syarat persalinan operatif pervaginam terpenuhi
  • Seksio sesarea emergensi (kategori 1) pada pola DJJ Kategori III yang persisten atau tidak berespons terhadap langkah resusitasi intrauterin, dengan target interval keputusan-ke-lahir sesingkat mungkin (lihat Bagian 11)
  • Dekompresi manual tali pusat (elevasi bagian terbawah janin per vaginam) pada kecurigaan atau konfirmasi prolaps tali pusat, dipertahankan hingga persalinan operatif segera tercapai

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal

Rujukan ke subspesialis Fetomaternal dipertimbangkan pada kondisi di luar kewenangan spesialis umum, meliputi:

  • Restriksi pertumbuhan intrauterin berat disertai Doppler arteri umbilikalis abnormal (end-diastolic flow absent/reversed) yang memerlukan tata laksana ekspektatif terstruktur
  • Kehamilan risiko tinggi kompleks dengan kegagalan berulang resusitasi intrauterin
  • Fasilitas pelayanan tanpa kemampuan seksio sesarea emergensi dalam interval keputusan-ke-lahir yang memadai, memerlukan rujukan terencana lebih awal (bukan saat kegawatan telah terjadi)
  • Kecurigaan anomali kongenital atau aritmia janin struktural yang menyerupai atau menyertai pola DJJ abnormal dan memerlukan evaluasi ekokardiografi janin lanjut

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

Edukasi disampaikan secara jelas dan empatik mengingat sifat waktu-kritis kondisi ini:

9. Prognosis

Prognosis bergantung pada derajat dan durasi hipoksia janin serta kecepatan pengenalan dan intervensi klinis. Deteksi dini disertai tindakan tepat waktu umumnya memberikan luaran neonatal baik. Keterlambatan pengenalan atau intervensi berisiko menyebabkan asidemia metabolik berat, ensefalopati hipoksik-iskemik neonatal, gangguan neurodevelopmental jangka panjang termasuk palsi serebral, hingga kematian perinatal.

[DATA: insidens ensefalopati neonatal dan luaran neurodevelopmental akibat asfiksia intrapartum terkait gawat janin di Indonesia — rujuk laporan/registri resmi terbaru, mis. Kemenkes, POGI, atau registri perinatal rumah sakit pendidikan]

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Skala evidens yang digunakan mengikuti gradasi standar (Level I-IV, Rekomendasi Grade A-D) sebagaimana lazim digunakan pada penyusunan PNPK Kementerian Kesehatan.

PernyataanTingkat EvidensGrade RekomendasiSumber
Klasifikasi KTG 3-tingkat (Kategori I/II/III, NICHD) digunakan sebagai kerangka utama interpretasi pola DJJ intrapartumLevel IIBACOG Clinical Practice Guideline No. 10 (2025)
Interpretasi fisiologis KTG (klasifikasi jenis hipoksia berdasarkan garis dasar, variabilitas, dan deselerasi) sebagai kerangka pelengkapLevel IIICChandraharan E, dkk. (2024)
Pemantauan KTG kontinu dibandingkan auskultasi intermiten menurunkan kejang neonatal namun meningkatkan angka persalinan operatif tanpa perbaikan bermakna angka palsi serebralLevel IAAlfirevic Z, dkk., Cochrane (2017)
Resusitasi intrauterin (reposisi, koreksi hipotensi, pengurangan/penghentian oksitosin) sebagai langkah awal sebelum tindakan operatif pada Kategori IILevel IIBACOG Clinical Practice Guideline No. 10 (2025)
Suplementasi oksigen maternal rutin TIDAK direkomendasikan pada Kategori II/III tanpa hipoksia maternalLevel IIBACOG Clinical Practice Guideline No. 10 (2025)
Analisis segmen-ST (STAN) sebagai tambahan KTG tidak menunjukkan manfaat bermakna terhadap luaran intrapartum dibandingkan KTG sajaLevel IABlix E, dkk. (2024)
Doppler arteri umbilikalis abnormal pada restriksi pertumbuhan intrauterin meningkatkan risiko kompromis janin dan menjadi indikasi pemantauan intensif/persalinan terencanaLevel IAISUOG Practice Guidelines (Lees CC, dkk., 2020)

11. Indikator Medis

Indikator keberhasilan tata laksana yang terukur meliputi:

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil, Tabel 7 No. 24) menetapkan istilah diagnosis “Gawat janin (Fetal distress)” dengan kode ICD-10 O68.9 dan ICD-11 KB20 ; JA86.2. Standar internasional kontemporer menggunakan kerangka klasifikasi yang lebih bertingkat, dengan dua pendekatan utama yang saat ini berlaku berdampingan:

Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional (Kepkonsil) dalam penggunaan istilah dan kode diagnosis “Gawat janin” untuk keperluan pengodean dan pelaporan layanan kesehatan, sambil secara klinis-operasional mengadopsi kerangka klasifikasi KTG 3-tingkat internasional (ACOG) sebagai dasar interpretasi pola DJJ, dengan kerangka interpretasi fisiologis sebagai pelengkap pada fasilitas yang memiliki pelatihan khusus untuk itu.

13. Kepustakaan

Glossarium

Gawat janin (Fetal distress)
Istilah diagnosis Kepkonsil untuk gangguan oksigenasi janin yang memerlukan tindakan segera; pada literatur internasional kontemporer sepadan dengan “intrapartum fetal compromise” atau pola DJJ Kategori II/III.
KTG (Kardiotokografi) / CTG (Cardiotocography)
Rekaman elektronik simultan denyut jantung janin dan kontraksi uterus, modalitas utama pemantauan kesejahteraan janin intrapartum.
DJJ (Denyut Jantung Janin) / FHR (Fetal Heart Rate)
Frekuensi denyut jantung janin, dinilai dari garis dasar, variabilitas, akselerasi, dan deselerasi pada rekaman KTG.
Deselerasi lambat (Late deceleration)
Penurunan DJJ yang dimulai setelah puncak kontraksi dan kembali ke garis dasar setelah kontraksi berakhir; berkaitan dengan insufisiensi uteroplasenta.
Deselerasi variabel (Variable deceleration)
Penurunan DJJ mendadak yang bervariasi dalam waktu terhadap kontraksi; umumnya berkaitan dengan kompresi tali pusat.
Takisistol uterus (Uterine tachysystole)
Frekuensi kontraksi uterus lebih dari 5 kali dalam 10 menit, rata-rata dalam periode 30 menit.
Asidemia metabolik (Metabolic acidemia)
Peningkatan kadar asam (penurunan pH, peningkatan defisit basa) dalam darah janin akibat metabolisme anaerob akibat hipoksia berkepanjangan.
Resusitasi intrauterin (Intrauterine resuscitation)
Rangkaian tindakan non-invasif segera (reposisi ibu, koreksi hipotensi, pengurangan oksitosin, amnioinfusi) untuk memperbaiki oksigenasi janin sebelum tindakan operatif.
Doppler velocimetry
Teknik ultrasonografi untuk menilai kecepatan aliran darah pada pembuluh darah janin/plasenta (misalnya arteri umbilikalis), digunakan untuk menilai fungsi plasenta.
IUGR / PJT (Restriksi Pertumbuhan Intrauterin / Pertumbuhan Janin Terhambat)
Kondisi janin tidak mencapai potensi pertumbuhan genetiknya akibat insufisiensi plasenta atau penyebab lain.
Profil biofisik (Biophysical profile)
Penilaian kesejahteraan janin gabungan berbasis USG dan KTG, mencakup gerak napas janin, gerak tubuh, tonus, volume cairan ketuban, dan reaktivitas DJJ.
Interval keputusan-ke-lahir (Decision-to-delivery interval)
Rentang waktu dari keputusan klinis untuk melakukan persalinan operatif hingga bayi lahir; indikator kecepatan respons layanan kegawatdaruratan obstetri.
STAN (ST-segment Analysis)
Analisis morfologi segmen-ST pada elektrokardiogram janin sebagai pelengkap KTG; penggunaan rutin tidak lagi direkomendasikan berdasarkan bukti terkini.
Interpretasi fisiologis KTG (Physiological CTG interpretation)
Kerangka interpretasi KTG yang mengklasifikasikan pola DJJ berdasarkan jenis dan mekanisme hipoksia janin yang mendasari, bukan semata pengelompokan fitur.

Dr. dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

Perpustakaan Digital ABBA — Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138

2026