1. Pengertian/Definisi
PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B4 — Kehamilan dengan Penyakit Penyerta, pada bagian yang membahas kondisi metabolik-nutrisional dalam kehamilan.
Kehamilan dengan obesitas (pregnancy with obesity) adalah kehamilan pada perempuan dengan indeks massa tubuh (IMT; body mass index, BMI) ≥30 kg/m² yang diukur pada kunjungan awal antenatal (booking), dengan implikasi risiko obstetri dan neonatal yang bermakna secara klinis (Kepkonsil Tabel 7 No. 29).
IMT dihitung dari berat badan sebelum hamil bila tersedia, atau berat badan pada kunjungan trimester pertama paling awal, dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m²). Klasifikasi mengikuti kategori WHO yang berlaku umum secara internasional: obesitas kelas I (IMT 30,0–34,9 kg/m²), kelas II (35,0–39,9 kg/m²), dan kelas III/obesitas berat (≥40,0 kg/m²). Stratifikasi kelas ini menentukan intensitas pemantauan dan ambang rujukan subspesialis pada bagian Tata Laksana.
Obesitas merupakan kondisi metabolik kronik multifaktorial, bukan semata persoalan kosmetik atau kegagalan disiplin diri individu. Tenaga kesehatan menggunakan bahasa yang berorientasi pada orang (people-first language — "perempuan dengan obesitas", bukan label yang mereduksi identitas pasien pada kondisi kliniknya) sepanjang episode layanan, sejalan dengan konsensus internasional mengenai penghapusan stigma obesitas dalam layanan kesehatan.
2. Anamnesis
Anamnesis terstruktur mencakup komponen berikut:
- Riwayat berat badan sebelum hamil, pola kenaikan berat badan pada kehamilan sebelumnya, dan riwayat penurunan/kenaikan berat badan bermakna dalam 1 tahun terakhir.
- Riwayat obstetri: makrosomia, diabetes gestasional, preeklampsia/hipertensi gestasional, seksio sesarea, distosia bahu, atau kematian janin pada kehamilan sebelumnya.
- Riwayat penyakit metabolik dan komorbid: diabetes melitus tipe 2, hipertensi kronik, sindrom ovarium polikistik (PCOS), dislipidemia, penyakit hati berlemak nonalkoholik.
- Riwayat penggunaan obat penurun berat badan, termasuk secara spesifik agonis reseptor GLP-1 (GLP-1 receptor agonist/GLP-1 RA — misalnya semaglutide, liraglutide, tirzepatide) yang makin banyak digunakan pada usia reproduksi; tanyakan waktu penghentian obat sebelum konsepsi dan kemungkinan paparan pada awal kehamilan yang belum disadari.
- Gejala sugestif apnea tidur obstruktif/obstructive sleep apnea (OSA): mendengkur keras, henti napas saat tidur yang disaksikan pasangan, kantuk berlebihan di siang hari.
- Riwayat bedah bariatrik (jenis prosedur — restriktif seperti sleeve gastrectomy atau malabsorptif seperti Roux-en-Y gastric bypass, jarak waktu ke konsepsi, riwayat komplikasi bedah, dan risiko defisiensi nutrisi spesifik pascabedah).
- Pola makan, aktivitas fisik, dan kesiapan perubahan perilaku (readiness to change).
- Riwayat psikososial: gejala depresi/ansietas terkait citra tubuh, riwayat stigmatisasi dalam layanan kesehatan sebelumnya, dukungan keluarga.
- Riwayat keluarga: diabetes melitus, hipertensi, penyakit kardiovaskular dini.
3. Pemeriksaan Fisik
- Pengukuran berat badan dan tinggi badan yang akurat menggunakan alat timbang berkapasitas dan berkalibrasi sesuai, untuk penghitungan IMT yang valid.
- Pengukuran tekanan darah dengan manset (cuff) berukuran sesuai lingkar lengan atas; manset standar yang terlalu kecil menghasilkan bacaan tekanan darah yang keliru lebih tinggi.
- Penapisan tanda klinis OSA: lingkar leher, skor risiko terstruktur (misalnya STOP-BANG) bila fasilitas tersedia.
- Inspeksi kulit: akantosis nigrikans sebagai penanda klinis resistensi insulin.
- Pengukuran tinggi fundus uteri (TFU); akurasi TFU menurun pada obesitas sehingga penilaian pertumbuhan janin bergantung pada pencitraan ultrasonografi serial (lihat bagian 6).
- Evaluasi akses vena perifer dan kesulitan pemeriksaan abdomen/palpasi Leopold untuk perencanaan logistik persalinan.
- Pemeriksaan tanda vital lengkap dan auskultasi jantung-paru sebagai penapisan komorbid kardiorespirasi.
- Pada obesitas kelas III, penilaian risiko cedera kulit/dekubitus (tissue viability) pada trimester ketiga oleh tenaga terlatih, mengingat imobilitas relatif dan tekanan jaringan yang lebih tinggi.
4. Kriteria Diagnosis
Diagnosis ditegakkan bila IMT ibu ≥30 kg/m² pada kunjungan antenatal awal, dikonfirmasi dengan pengukuran berat dan tinggi badan langsung (bukan atas dasar taksiran/laporan pasien). Diagnosis dicantumkan bersama kelas obesitas (I/II/III) dan usia gestasi saat penegakan diagnosis.
| Kode | Sistem | Keterangan |
|---|---|---|
| O99.8 & E66 | ICD-10 | Penyakit dan kondisi tertentu lain yang memperumit kehamilan, persalinan, dan nifas (O99.8), dikombinasikan dengan kode obesitas (E66). |
| JB64.2 ; KA00.61 ; 5B81.Z | ICD-11 | Kode kombinasi kehamilan-dengan-obesitas dan kode obesitas terkait, sesuai Kepkonsil Tabel 7 No. 29. |
Kode ICD-10 dan ICD-11 di atas dikutip dari Kepkonsil Tabel 7 No. 29 (kolom Icd-10 dan Icd-11), dengan keterangan/populasi resmi: "Faktor risiko obstetri; komplikasi maternal-fetal". Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 ("Spektrum Penyakit dan Kondisi Klinis yang Ditangani Spesialis Obstetri dan Ginekologi"), entri No. 29.
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja dituliskan sebagai: "Kehamilan [usia gestasi] minggu dengan obesitas kelas [I/II/III]", disertai komorbid yang menyertai bila ada (contoh: dengan diabetes melitus pragestasi, dengan hipertensi kronik).
Kondisi yang perlu dipertimbangkan atau disingkirkan pada evaluasi awal:
- Edema dan retensi cairan berlebih akibat preeklampsia — dibedakan melalui pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan protein urin, bukan semata estimasi visual pada tubuh dengan jaringan adiposa banyak.
- Kehamilan multipel (Kepkonsil No. 28) — pembesaran uterus yang tidak proporsional pada palpasi yang sulit perlu dikonfirmasi USG.
- Mola hidatidosa (Kepkonsil No. 4) bila terdapat distensi abdomen tidak sesuai usia gestasi.
- Sindrom Cushing atau hipotiroid berat sebagai penyebab kenaikan berat badan nonfisiologis, terutama bila obesitas onset cepat disertai gejala endokrin lain.
6. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium:
- Tes toleransi glukosa oral (TTGO) 75 g dini pada trimester pertama untuk perempuan dengan obesitas (risiko diabetes gestasional meningkat kurang lebih tiga kali lipat dibanding IMT normal), diulang pada 24–28 minggu bila hasil awal normal.
- HbA1c bila dicurigai diabetes melitus pragestasi yang belum terdiagnosis.
- Profil lipid dan fungsi tiroid sesuai indikasi klinis.
- Urinalisis/rasio protein-kreatinin urin sebagai baseline dan pemantauan preeklampsia.
- Kadar vitamin D — perempuan dengan obesitas berisiko lebih tinggi mengalami defisiensi vitamin D.
Pencitraan dan penunjang lain:
- USG skrining anomali struktural pada trimester pertama dan trimester kedua (11–14 dan 18–22 minggu), dengan pencatatan eksplisit pada rekam medis bahwa visualisasi struktur janin lebih terbatas pada obesitas sehingga sensitivitas deteksi anomali menurun; konseling ulang bila visualisasi tidak adekuat.
- USG pertumbuhan janin serial pada trimester ketiga menggantikan pemantauan TFU manual yang kurang akurat pada obesitas.
- Konsultasi anestesi antenatal untuk obesitas kelas II–III guna perencanaan jalan napas dan analgesia/anestesi persalinan lebih awal, bukan saat persalinan berlangsung.
- Penapisan OSA lebih lanjut (polisomnografi) bila temuan klinis pada anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarah kuat ke OSA.
- EKG dan evaluasi kardiovaskular sesuai indikasi klinis pada komorbid kardiovaskular.
7. Tata Laksana
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
- Konseling nutrisi dan gizi individual, idealnya melibatkan ahli gizi/dietisien, dengan penekanan pada kualitas asupan dan bukan pembatasan kalori ekstrem selama kehamilan.
- Target kenaikan berat badan gestasional total 5–9 kg untuk IMT pragestasi ≥30 kg/m², mengikuti kerangka rekomendasi Institute of Medicine/National Academy of Medicine (2009) yang tetap menjadi acuan yang digunakan luas secara internasional hingga saat ini; kerangka ini melengkapi kolom Keterangan/Populasi Kepkonsil yang menyatakan kondisi ini sebagai "faktor risiko obstetri" tanpa mencantumkan angka target kenaikan berat badan.
- Anjuran aktivitas fisik intensitas sedang yang aman dalam kehamilan, disesuaikan kapasitas fungsional pasien.
- Edukasi pemantauan mandiri gerak janin (kick count) pada trimester ketiga.
- Penapisan kesehatan mental (gejala depresi/ansietas) pada setiap kunjungan trimester.
- Perencanaan tempat dan cara persalinan mempertimbangkan ketersediaan peralatan (tempat tidur, meja operasi, kursi roda berkapasitas sesuai) di fasilitas rujukan.
- Konseling laktasi dini dan berkelanjutan — inisiasi dan pemeliharaan menyusui secara fisiologis lebih sulit tercapai pada obesitas sehingga dukungan konselor laktasi terstruktur perlu dimulai sejak masa antenatal.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
- Asam folat dosis tinggi 5 mg/hari, dimulai minimal 1 bulan prakonsepsi dan dilanjutkan sepanjang trimester pertama — dosis lebih tinggi dari populasi umum karena obesitas meningkatkan risiko defek tabung saraf.
- Suplementasi vitamin D sesuai hasil pemeriksaan kadar serum atau secara empiris bila pemeriksaan tidak tersedia, mengingat prevalensi defisiensi yang lebih tinggi pada populasi ini.
- Aspirin dosis rendah untuk profilaksis preeklampsia pada perempuan dengan obesitas kelas II ke atas (IMT ≥35 kg/m²) yang disertai minimal satu faktor risiko tambahan (nulipara, usia >40 tahun, riwayat keluarga preeklampsia, kehamilan multipel), dimulai usia gestasi 12–16 minggu hingga persalinan. Dosis mengikuti sumber acuan yang dipakai: 81 mg/hari (formulasi tetap ACOG/SMFM/USPSTF) atau 75–162 mg/hari, lazimnya 150 mg/hari (formulasi RCOG/WHO/FIGO) — dosis lokal ditetapkan mengikuti sediaan yang tersedia di fasilitas.
- Profilaksis tromboemboli vena (VTE) dengan heparin berat molekul rendah (LMWH) sesuai stratifikasi risiko terstruktur — IMT ≥30 kg/m² pada booking merupakan faktor risiko pre-existing untuk VTE yang harus dinilai ulang pada setiap kunjungan dan periode peripartum/pascasalin.
- Tata laksana farmakologis diabetes gestasional atau diabetes pragestasi bila terdiagnosis, mengikuti PPK Kehamilan dengan Diabetes yang relevan.
- Agonis reseptor GLP-1 (GLP-1 RA) dan agen penurun berat badan lain tidak diindikasikan dan tidak dilanjutkan selama kehamilan karena keterbatasan data keamanan pada manusia; bila pasien datang dengan riwayat penggunaan GLP-1 RA menjelang atau pada awal kehamilan, hentikan obat begitu kehamilan diketahui, alihkan ke pendekatan non-farmakologis dan/atau metformin bila ada indikasi diabetes, dan sampaikan konseling reassurance berbasis data observasional terkini yang belum menunjukkan peningkatan risiko anomali kongenital bermakna pada paparan awal kehamilan yang tidak disengaja — keputusan lanjutan tetap didiskusikan bersama pasien secara individual.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural
- Perencanaan anestesi dini mencakup antisipasi kesulitan intubasi dan kebutuhan peralatan khusus (jarum spinal/epidural yang lebih panjang, meja operasi berkapasitas tinggi).
- Profilaksis antibiotik perioperatif pada seksio sesarea disesuaikan dosis dengan berat badan aktual sesuai protokol farmasi rumah sakit.
- Teknik penutupan luka operasi disesuaikan (misalnya penjahitan lapisan subkutan) untuk menurunkan risiko infeksi luka operasi dan dehisensi pada jaringan adiposa tebal.
- Profilaksis mekanis tromboemboli (misalnya kompresi pneumatik intermiten) selama dan pascaoperasi pada seksio sesarea, dikombinasikan dengan profilaksis farmakologis sesuai indikasi.
- Persiapan tim multidisiplin (obstetri, anestesi, keperawatan, jika perlu bedah umum) sebelum persalinan terencana pada obesitas kelas III.
- Pada perempuan dengan riwayat bedah bariatrik malabsorptif, waspadai risiko obstruksi usus akibat hernia interna selama kehamilan bila timbul nyeri abdomen atipikal — pertimbangkan evaluasi bedah umum tanpa menunda karena gambaran klinis dapat menyerupai keluhan obstetri biasa.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal
Rujukan ke subspesialis Fetomaternal dipertimbangkan pada kondisi berikut (di luar kewenangan tata laksana spesialis umum):
- Obesitas kelas III (IMT ≥40 kg/m²).
- Obesitas disertai komorbid berat yang tidak terkontrol: diabetes pragestasi tidak terkontrol, hipertensi kronik dengan kerusakan organ target.
- Riwayat bedah bariatrik dengan risiko komplikasi nutrisi/bedah kompleks selama kehamilan.
- Keterbatasan penilaian anomali struktural atau pertumbuhan janin pada USG standar yang membutuhkan modalitas/keahlian lanjut.
- Komplikasi maternal-fetal berat (preeklampsia berat, restriksi pertumbuhan janin berat) yang membutuhkan tata laksana dan pemantauan lanjut.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
- Penjelasan risiko obstetri dan neonatal terkait obesitas secara jujur, proporsional, dan tanpa stigmatisasi.
- Pentingnya kehadiran pada jadwal kunjungan antenatal yang lebih sering untuk pemantauan tekanan darah, gula darah, dan pertumbuhan janin.
- Pengenalan tanda bahaya kehamilan (nyeri kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium, penurunan gerak janin) yang memerlukan pemeriksaan segera.
- Diskusi rencana persalinan termasuk kemungkinan rujukan ke fasilitas dengan kapasitas peralatan sesuai.
- Edukasi manfaat aktivitas fisik aman dan pola makan seimbang selama kehamilan, tanpa target penurunan berat badan selama hamil.
- Konseling menyusui: manfaat ASI tetap dianjurkan meskipun inisiasi laktasi mungkin membutuhkan dukungan tambahan.
- Pentingnya kontrol pascasalin, termasuk skrining ulang metabolik dan konseling keluarga berencana; interval antarkehamilan yang terlalu pendek meningkatkan risiko komplikasi berulang pada kehamilan berikutnya.
- Dukungan psikososial dan rujukan ke layanan kesehatan mental bila ditemukan tanda depresi/ansietas.
9. Prognosis
Prognosis pada umumnya baik dengan tata laksana antenatal yang adekuat dan pendekatan multidisiplin. Risiko komplikasi meningkat secara bertingkat (dose-response) seiring kenaikan kelas obesitas, meliputi diabetes gestasional, preeklampsia, makrosomia, distosia bahu, persalinan seksio sesarea, perdarahan pascasalin, tromboemboli vena, dan infeksi luka operasi. Risiko jangka panjang pada anak mencakup peningkatan kecenderungan obesitas dan gangguan metabolik di kemudian hari.
Angka kejadian dan luaran spesifik pada populasi Indonesia belum dicantumkan secara numerik di sini karena tidak tersedia secara eksplisit pada Kepkonsil maupun sumber resmi yang diverifikasi pada penyusunan dokumen ini; nilai baseline dan tren terkini sebaiknya dirujuk dari laporan/registri resmi terbaru (Kemenkes, BKKBN, atau POGI) pada saat implementasi.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
| Rekomendasi | Tingkat Evidens | Kekuatan Rekomendasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| Suplementasi asam folat 5 mg/hari prakonsepsi–trimester I | Evidens tidak langsung dari studi observasional risiko NTD pada obesitas | Rekomendasi praktik baik (GPP) | RCOG GTG No. 72 (2019) |
| Skrining TTGO 75 g dini trimester I pada IMT ≥30 kg/m² | Studi kohort besar, evidens level II | Rekomendasi B | RCOG GTG No. 72; ACOG PB No. 230 |
| Aspirin dosis rendah untuk profilaksis preeklampsia pada risiko tambahan | Uji klinis teracak dan meta-analisis, evidens level I | Rekomendasi A/B (tergantung kombinasi faktor risiko) | ACOG/SMFM Practice Advisory; RCOG GTG No. 72 |
| Stratifikasi dan profilaksis VTE peripartum | Studi kohort prospektif, evidens level II | Rekomendasi B/C | RCOG GTG No. 37a |
| Konsultasi anestesi antenatal pada obesitas kelas II–III | Evidens observasional dan konsensus ahli | Rekomendasi praktik baik (GPP) | RCOG GTG No. 72; ACOG PB No. 230 |
| Konseling perilaku (diet dan/atau aktivitas fisik) untuk membatasi kenaikan berat badan gestasional berlebih | Tinjauan sistematis Cochrane atas uji klinis teracak, evidens level I | Rekomendasi A | Muktabhant dkk., Cochrane Database Syst Rev 2015 |
| Penghentian agonis reseptor GLP-1 sebelum konsepsi terencana | Tinjauan naratif dan data farmakokinetik/kohort observasional, evidens level II–III | Rekomendasi praktik baik (GPP) | Cesta dkk., JAMA 2025; tinjauan GLP-1 RA, Ann Med Surg 2025 |
Skala evidens dan kekuatan rekomendasi mengikuti sistem yang digunakan RCOG Green-top Guidelines (Level evidens I–IV; Rekomendasi A–C dan Good Practice Point/GPP), dicantumkan bersama sumber pada setiap baris agar tertelusur.
11. Indikator Medis
- Persentase pasien dengan IMT ≥30 kg/m² pada booking yang menjalani TTGO 75 g pada trimester pertama.
- Persentase pasien yang menerima resep asam folat 5 mg/hari sesuai indikasi.
- Persentase pasien dengan penilaian risiko VTE terstruktur pada setiap kunjungan trimester dan periode peripartum.
- Persentase pasien obesitas kelas II–III yang menjalani konsultasi anestesi antenatal sebelum usia gestasi 36 minggu.
- Insidensi preeklampsia, diabetes gestasional, dan seksio sesarea emergensi pada kohort pasien dengan obesitas, dipantau tren dari waktu ke waktu; nilai baseline dan target numerik mengikuti laporan/registri resmi terbaru fasilitas dan Kemenkes.
- Waktu rerata dari diagnosis obesitas kelas III hingga rujukan ke subspesialis Fetomaternal (bila memenuhi kriteria rujukan).
- Persentase pasien dengan riwayat penggunaan GLP-1 RA yang teridentifikasi dan terdokumentasi sejak kunjungan antenatal pertama.
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Kepkonsil Tabel 7 No. 29 menetapkan diagnosis, padanan kode ICD-10/ICD-11, dan keterangan populasi ("faktor risiko obstetri; komplikasi maternal-fetal") sebagai kerangka kompetensi nasional, namun tidak merinci ambang dosis atau protokol tata laksana teknis. Bagian ini memetakan pengayaan dari standar internasional yang melengkapi kerangka tersebut.
- RCOG Green-top Guideline No. 72, edisi kedua (Care of Women with Obesity in Pregnancy): merekomendasikan asam folat 5 mg/hari prakonsepsi–trimester I, penilaian risiko VTE terstruktur pada setiap kontak antenatal, aspirin dosis rendah pada kombinasi faktor risiko preeklampsia, dan konsultasi anestesi antenatal pada obesitas kelas II ke atas.
- ACOG Practice Bulletin No. 230 (Obesity in Pregnancy): menekankan pendekatan terintegrasi mulai prakonsepsi, penapisan OSA berbasis anamnesis, keterbatasan deteksi anomali struktural pada USG obesitas, dan kebutuhan kesiapan fasilitas (peralatan, ruang operasi) untuk pasien dengan berat badan tinggi.
- Kerangka kenaikan berat badan gestasional Institute of Medicine/National Academy of Medicine (2009): target 5–9 kg total untuk IMT pragestasi ≥30 kg/m². Kerangka ini masih menjadi acuan operasional utama pada 2026; forum National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine tahun 2026 mengulas bukti dan inovasi terbaru terkait IMT prakehamilan dan kenaikan berat badan gestasional tanpa menerbitkan angka target baru yang menggantikan kerangka 2009.
- Cochrane Review (Muktabhant dkk., 2015) terkait intervensi diet dan aktivitas fisik pada kehamilan: mendukung konseling perilaku terstruktur untuk membatasi kenaikan berat badan gestasional berlebih sebagai intervensi berbasis bukti kuat.
- Perkembangan terbaru terkait agonis reseptor GLP-1: tinjauan naratif tahun 2025 dan analisis kohort observasional (dipublikasikan di JAMA, Desember 2025) memberikan panduan praktis mengenai waktu penghentian obat sebelum konsepsi dan tata laksana kehamilan pada pasien dengan riwayat penggunaan GLP-1 RA — topik yang belum diatur dalam pedoman nasional maupun pedoman internasional yang lebih lama.
Tidak ditemukan pertentangan mendasar antara Kepkonsil dan standar internasional di atas untuk topik ini — Kepkonsil menetapkan cakupan kompetensi dan padanan kode diagnosis, sedangkan standar internasional mengisi rincian operasional dosis, ambang rujukan, dan protokol teknis yang belum dirinci Kepkonsil. Satu perbedaan teknis yang perlu diperhatikan: dosis aspirin profilaksis preeklampsia berbeda antara formulasi tetap 81 mg/hari (ACOG/SMFM/USPSTF, Amerika Serikat) dan rentang 75–162 mg/hari yang lazimnya diresepkan 150 mg/hari (RCOG/WHO/FIGO); praktik di Indonesia mengikuti kerangka kompetensi nasional (Kepkonsil) sebagai dasar hukum, dengan pemilihan dosis aspirin dan protokol teknis lain mengacu pada sediaan yang tersedia dan kebijakan Kementerian Kesehatan/POGI yang berlaku di fasilitas masing-masing.
13. Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Tabel 7, entri No. 29. 2026.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Obesity in Pregnancy. ACOG Practice Bulletin No. 230. Obstet Gynecol. 2021;137(6):e128–e144. doi:10.1097/AOG.0000000000004395. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/practice-bulletin/articles/2021/06/obesity-in-pregnancy
- Denison FC, Aedla NR, Keag O, Hor K, Reynolds RM, Milne A, Diamond A, on behalf of the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Care of Women with Obesity in Pregnancy. Green-top Guideline No. 72. BJOG. 2019;126(3):e62–e106. doi:10.1111/1471-0528.15386. https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/care-of-women-with-obesity-in-pregnancy-green-top-guideline-no-72/
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Reducing the Risk of Venous Thromboembolism during Pregnancy and the Puerperium. Green-top Guideline No. 37a. London: RCOG; 2015. https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/reducing-the-risk-of-thrombosis-and-embolism-during-pregnancy-and-the-puerperium-green-top-guideline-no-37a/
- World Health Organization. WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience. Geneva: World Health Organization; 2016. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549912
- Muktabhant B, Lawrie TA, Lumbiganon P, Laopaiboon M. Diet or exercise, or both, for preventing excessive weight gain in pregnancy. Cochrane Database Syst Rev. 2015;(6):CD007145. doi:10.1002/14651858.CD007145.pub3. https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD007145.pub3/information
- Institute of Medicine and National Research Council. Weight Gain During Pregnancy: Reexamining the Guidelines. Washington, DC: The National Academies Press; 2009. doi:10.17226/12584. https://nap.nationalacademies.org/catalog/12584/weight-gain-during-pregnancy-reexamining-the-guidelines
- National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. Prepregnancy BMI and Gestational Weight Gain: New Evidence, Emerging Innovations, and Policy Implications: Proceedings of a Workshop. Washington, DC: The National Academies Press; 2026. doi:10.17226/29228. https://www.nationalacademies.org/read/29228/chapter/2
- Cesta CE, Hutcheon JA, Johansson K. Guiding Obstetric Care and Treatment Decisions for Women With Prior GLP-1 Receptor Agonist Use. JAMA. 2025;334(24):2168–2170. doi:10.1001/jama.2025.19841. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41284284/
- GLP-1 receptor agonists and preconception planning: bridging the gap between obesity treatment and reproductive safety, a narrative review. Ann Med Surg (Lond). 2025;87(12):8597–8603. doi:10.1097/MS9.0000000000004189. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12688977/
- Rubino F, Puhl RM, Cummings DE, et al. Joint international consensus statement for ending stigma of obesity. Nat Med. 2020;26:485–497. doi:10.1038/s41591-020-0803-x.
14. Glosarium
- Indeks Massa Tubuh (IMT) / Body Mass Index (BMI)
- Ukuran status gizi yang dihitung dari berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m); digunakan untuk mengklasifikasikan status berat badan termasuk obesitas.
- Obesitas kelas I, II, III
- Stratifikasi tingkat keparahan obesitas berdasarkan IMT: kelas I (30,0–34,9 kg/m²), kelas II (35,0–39,9 kg/m²), kelas III (≥40,0 kg/m²).
- Preeklampsia
- Kondisi hipertensi spesifik kehamilan yang disertai proteinuria atau disfungsi organ lain, biasanya muncul setelah usia gestasi 20 minggu.
- Eklampsia
- Kejang yang terjadi pada perempuan dengan preeklampsia, tanpa penyebab kejang lain yang dapat diidentifikasi.
- Diabetes Gestasional (GDM)
- Intoleransi glukosa yang pertama kali dikenali atau muncul selama kehamilan.
- Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)
- Pemeriksaan laboratorium untuk menilai respons tubuh terhadap glukosa, digunakan untuk skrining/diagnosis diabetes gestasional.
- HbA1c
- Pemeriksaan kadar hemoglobin terglikasi yang mencerminkan rerata kadar gula darah dalam 2–3 bulan terakhir.
- Tromboemboli Vena (VTE)
- Kondisi terbentuknya bekuan darah dalam vena, mencakup trombosis vena dalam dan emboli paru.
- Heparin Berat Molekul Rendah (LMWH)
- Golongan antikoagulan yang umum digunakan untuk profilaksis dan tata laksana VTE dalam kehamilan.
- Apnea Tidur Obstruktif (OSA)
- Gangguan tidur berupa henti napas berulang akibat obstruksi jalan napas atas saat tidur.
- Tinggi Fundus Uteri (TFU) / Symphysis Fundal Height (SFH)
- Jarak dari simfisis pubis ke puncak fundus uteri, digunakan sebagai penanda klinis pertumbuhan janin.
- Akantosis Nigrikans
- Penebalan dan penggelapan kulit pada lipatan tubuh yang merupakan penanda klinis resistensi insulin.
- Makrosomia
- Berat lahir bayi yang melebihi ambang tertentu (umumnya >4000 g), berisiko meningkatkan komplikasi persalinan.
- Distosia Bahu
- Kesulitan pengeluaran bahu janin setelah kepala lahir pada persalinan pervaginam, merupakan kegawatdaruratan obstetri.
- Agonis Reseptor GLP-1 (GLP-1 RA)
- Golongan obat (misalnya semaglutide, liraglutide, tirzepatide) yang digunakan untuk tata laksana diabetes tipe 2 dan/atau obesitas melalui jalur reseptor glucagon-like peptide-1.
- Bedah Bariatrik
- Prosedur bedah untuk tata laksana obesitas berat, dapat bersifat restriktif (misalnya sleeve gastrectomy) atau kombinasi restriktif-malabsorptif (misalnya Roux-en-Y gastric bypass).
- People-first Language
- Konvensi berbahasa yang menempatkan orang, bukan kondisi kliniknya, sebagai fokus utama (misalnya "perempuan dengan obesitas" alih-alih label kondisi semata).
- Fetomaternal
- Subspesialis Obstetri dan Ginekologi yang menangani kehamilan berisiko tinggi dan kompleks.
- Antenatal Care (ANC)
- Rangkaian layanan pemeriksaan dan pemantauan kesehatan ibu hamil sepanjang masa kehamilan.
- Dose-response
- Pola hubungan bertingkat antara besarnya paparan (dalam konteks ini, kelas obesitas) dan besarnya risiko luaran klinis.