PPK-030 · Fetomaternal Kehamilan dengan Infeksi Saluran Kemih
Dokumen 30 / 73
Panduan Praktik Klinis · Kategori PPK

Kehamilan dengan Infeksi Saluran Kemih

Urinary Tract Infection in Pregnancy

ICD-10 O23.4 ICD-11 JA62 Divisi Pengampu: Fetomaternal Dokumen 30 dari 73
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138

1. Pengertian/Definisi

Rujukan Silang Buku Tematik

PPK ini merupakan pendalaman operasional dari Buku Tematik B4 — Kehamilan dengan Penyakit Penyerta.

Dasar Regulasi

Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi — Tabel 7, entri No. 30, hlm. 60 (Nama Penyakit: "Kehamilan dengan infeksi saluran kemih"; ICD-10 O23.4; ICD-11 JA62; Keterangan/Populasi: "Infeksi traktus urinarius") dan Daftar Istilah, hlm. 514 ("Infeksi saluran kemih pada kehamilan mencakup bakteriuria asimtomatik, sistitis, atau pielonefritis yang terjadi selama kehamilan").

Infeksi saluran kemih (ISK) dalam kehamilan — urinary tract infection (UTI) in pregnancy (ICD-10 O23.4; ICD-11 JA62) — adalah spektrum infeksi pada traktus urinarius yang terjadi selama masa kehamilan, mencakup tiga entitas klinis dengan tingkat keparahan berjenjang: bakteriuria asimtomatik (asymptomatic bacteriuria/ASB), sistitis akut (acute cystitis), dan pielonefritis akut (acute pyelonephritis). Escherichia coli merupakan patogen tersering pada ketiga entitas tersebut.

Secara epidemiologis, ISK memengaruhi sekitar 8% kehamilan secara keseluruhan; bakteriuria asimtomatik dilaporkan pada 2-10% kehamilan, sistitis akut pada 1-2%, dan pielonefritis akut pada 1-2% kehamilan, dengan puncak insidensi pielonefritis pada trimester kedua (ACOG Clinical Consensus No. 4, 2023). Data epidemiologi spesifik Indonesia mengikuti laporan/registri resmi terkini (Kementerian Kesehatan, POGI, atau WHO) yang berlaku pada periode audit unit pelayanan.

Kehamilan meningkatkan risiko ISK melalui perubahan anatomis dan fisiologis traktus urinarius: dilatasi ureter dan pelvis renalis akibat efek relaksan otot polos progesteron, penekanan mekanis ureter oleh uterus gravid, penurunan peristaltik ureter, peningkatan volume residu urine kandung kemih, serta refluks vesikoureter fungsional. Perubahan ini menimbulkan stasis urine yang memudahkan kolonisasi bakteri dan infeksi asendens, sehingga bakteriuria asimtomatik yang tidak diobati pada kehamilan memiliki risiko progresi ke pielonefritis akut yang jauh lebih tinggi dibandingkan pada perempuan tidak hamil.

Bakteriuria asimtomatik didefinisikan sebagai pertumbuhan bakteri bermakna (≥100.000 CFU/mL atau 10^5 colony-forming units/mL, satu jenis uropatogen, pada urine tangkap-tengah/midstream) tanpa gejala saluran kemih. Sistitis akut ditandai gejala iritatif bawah (disuria, frekuensi, urgensi, hematuria) tanpa demam atau nyeri pinggang. Pielonefritis akut adalah infeksi parenkim ginjal dengan demam ≥38°C, menggigil, dan nyeri sudut kostovertebra, yang pada kehamilan tergolong kondisi berisiko tinggi karena berkaitan dengan sepsis maternal, acute respiratory distress syndrome (ARDS), koagulasi intravaskular diseminata, persalinan preterm, dan anemia maternal.

2. Anamnesis

Anamnesis diarahkan untuk membedakan ketiga entitas klinis ISK dalam kehamilan serta menyingkirkan diagnosis banding. Gejala frekuensi, urgensi, dan nokturia perlu dinilai cermat karena tumpang tindih dengan keluhan fisiologis kehamilan itu sendiri.

Keluhan saluran kemih bawah (mengarah sistitis)

Keluhan mengarah pielonefritis akut (tanda bahaya)

Riwayat dan faktor risiko

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik bertujuan menilai derajat keparahan infeksi dan menyingkirkan komplikasi obstetri penyerta.

Tanda vital

Pemeriksaan abdomen dan pinggang

Pemeriksaan obstetri

4. Kriteria Diagnosis

Kode diagnosis (terverifikasi dari Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, entri No. 30, hlm. 60): Kehamilan dengan infeksi saluran kemih / Urinary tract infection in pregnancy — ICD-10 O23.4; ICD-11 JA62.

Bakteriuria asimtomatik

Sistitis akut

Pielonefritis akut

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala klinis dan hasil urinalisis/kultur urine sesuai kriteria pada bagian 4.

Diagnosis banding yang perlu disingkirkan

6. Pemeriksaan Penunjang

Skrining bakteriuria asimtomatik dilakukan satu kali pada kunjungan antenatal awal untuk seluruh ibu hamil, mengingat potensi progresi ke pielonefritis bila tidak diobati. Bukti belum cukup untuk merekomendasikan atau menolak skrining ulang rutin setelah hasil awal negatif, kecuali pada populasi berisiko tinggi tertentu.

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan pencitraan (sesuai indikasi)

7. Tata Laksana

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Pemilihan antibiotik mempertimbangkan usia kehamilan, profil keamanan pada kehamilan, dan pola kepekaan lokal. Terapi empiris disesuaikan setelah hasil kultur dan uji kepekaan tersedia. Regimen amoksisilin atau ampisilin sebaiknya dihindari sebagai terapi empiris awal karena tingginya angka resistensi Escherichia coli terhadap kedua antibiotik tersebut di sebagian besar wilayah.

Bakteriuria asimtomatik dan sistitis akut (terapi oral, tata laksana rawat jalan)

Pielonefritis akut (tata laksana awal rawat inap)

Tata laksana ISK berulang dan pasca-pielonefritis

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

Tata laksana bedah/prosedural umumnya tidak diperlukan pada ISK tanpa komplikasi. Intervensi prosedural (misalnya drainase perkutan) dipertimbangkan hanya pada komplikasi berat seperti abses ginjal atau obstruksi saluran kemih akibat batu, dan dilakukan berkoordinasi dengan disiplin urologi.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Dengan deteksi dini melalui skrining rutin dan tata laksana antibiotik yang tepat, prognosis bakteriuria asimtomatik dan sistitis akut pada kehamilan umumnya baik dengan angka kesembuhan tinggi. Sejak skrining dan pengobatan ASB menjadi praktik rutin, insidensi pielonefritis pada kehamilan menurun dari sekitar 20-35% menjadi 1-4% pada populasi yang diskrining dan diobati. Pielonefritis akut yang ditangani adekuat umumnya juga memiliki prognosis baik, namun keterlambatan tata laksana berkaitan dengan peningkatan risiko sepsis maternal, ARDS, persalinan preterm, berat badan lahir rendah, dan anemia maternal. Recurrent pyelonephritis (pielonefritis berulang) dilaporkan pada hingga 25% pasien sebelum persalinan, sehingga pemantauan ketat sepanjang sisa kehamilan diperlukan pada kelompok berisiko.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

RekomendasiTingkat EvidensSumber
Skrining bakteriuria asimtomatik satu kali pada kunjungan antenatal awal dengan kultur urineBUSPSTF 2019; ACOG CC No. 4 (2023)
Terapi antibiotik pada bakteriuria asimtomatik untuk mencegah pielonefritisACochrane CD000490.pub4 (2019)
Durasi terapi 5-7 hari untuk ASB dan sistitis akut tanpa komplikasiBACOG CC No. 4 (2023)
Nitrofurantoin dihindari pada usia kehamilan aterm dan saat persalinanBUKTIS; JAC-Antimicrobial Resistance 2022
Rawat inap, antibiotik parenteral, dan total durasi 14 hari pada pielonefritis akutBACOG CC No. 4 (2023); NICE NG111 (2024)
Profilaksis antibiotik supresif pasca-ISK berulang atau pielonefritis bersifat individual (bukti terbatas)CACOG CC No. 4 (2023)

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil, Tabel 7 entri No. 30) menetapkan Kehamilan dengan Infeksi Saluran Kemih sebagai satu entitas kompetensi wajib yang dikuasai spesialis Obstetri dan Ginekologi, tanpa merinci algoritma terapi spesifik. Algoritma tata laksana pada PPK ini disusun mengacu pengayaan standar internasional berikut, dan diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan kerangka kompetensi Kepkonsil.

ACOG (American College of Obstetricians and Gynecologists)

USPSTF dan Cochrane

NICE (National Institute for Health and Care Excellence, Inggris) dan WHO

Perbedaan yang perlu diperhatikan

13. Kepustakaan

14. Glosarium

Bakteriuria asimtomatik (asymptomatic bacteriuria/ASB)
Pertumbuhan bakteri bermakna (≥100.000 CFU/mL) pada kultur urine tanpa disertai gejala saluran kemih.
Sistitis akut
Infeksi saluran kemih bawah dengan gejala iritatif (disuria, frekuensi, urgensi) tanpa demam atau nyeri pinggang.
Pielonefritis akut
Infeksi parenkim ginjal yang ditandai demam, menggigil, dan nyeri sudut kostovertebra; termasuk infeksi saluran kemih atas.
CFU/mL (colony-forming units per mL)
Satuan hitung koloni bakteri per mililiter urine, digunakan sebagai ambang diagnostik infeksi saluran kemih bermakna.
CVAT (costovertebral angle tenderness)
Nyeri saat perkusi/ketok pada sudut kostovertebra, tanda klinis khas pielonefritis akut.
ESBL (extended-spectrum beta-lactamase)
Enzim yang dihasilkan sebagian bakteri Gram-negatif sehingga resisten terhadap banyak antibiotik golongan beta-laktam, termasuk sebagian besar sefalosporin.
Uropatogen
Mikroorganisme yang menyebabkan infeksi pada saluran kemih; tersering Escherichia coli.
Urine tangkap-tengah (midstream urine)
Teknik pengambilan sampel urine pada pertengahan aliran berkemih untuk mengurangi kontaminasi flora kulit/vagina.
Profilaksis supresif
Pemberian antibiotik dosis rendah berkelanjutan untuk mencegah kekambuhan infeksi saluran kemih.
Test of cure
Evaluasi ulang (biasanya kultur urine) setelah terapi selesai untuk memastikan infeksi telah tuntas diobati.
ARDS (acute respiratory distress syndrome)
Sindrom gagal napas akut akibat cedera paru difus, salah satu komplikasi berat pielonefritis dengan sepsis.
Vesikoureter, refluks
Aliran balik urine dari kandung kemih menuju ureter, dapat bersifat fungsional pada kehamilan akibat perubahan hormonal dan mekanis.