1. Pengertian/Definisi
PPK ini merupakan pendalaman operasional dari Buku Tematik B4 — Kehamilan dengan Penyakit Penyerta.
Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi — Tabel 7, entri No. 30, hlm. 60 (Nama Penyakit: "Kehamilan dengan infeksi saluran kemih"; ICD-10 O23.4; ICD-11 JA62; Keterangan/Populasi: "Infeksi traktus urinarius") dan Daftar Istilah, hlm. 514 ("Infeksi saluran kemih pada kehamilan mencakup bakteriuria asimtomatik, sistitis, atau pielonefritis yang terjadi selama kehamilan").
Infeksi saluran kemih (ISK) dalam kehamilan — urinary tract infection (UTI) in pregnancy (ICD-10 O23.4; ICD-11 JA62) — adalah spektrum infeksi pada traktus urinarius yang terjadi selama masa kehamilan, mencakup tiga entitas klinis dengan tingkat keparahan berjenjang: bakteriuria asimtomatik (asymptomatic bacteriuria/ASB), sistitis akut (acute cystitis), dan pielonefritis akut (acute pyelonephritis). Escherichia coli merupakan patogen tersering pada ketiga entitas tersebut.
Secara epidemiologis, ISK memengaruhi sekitar 8% kehamilan secara keseluruhan; bakteriuria asimtomatik dilaporkan pada 2-10% kehamilan, sistitis akut pada 1-2%, dan pielonefritis akut pada 1-2% kehamilan, dengan puncak insidensi pielonefritis pada trimester kedua (ACOG Clinical Consensus No. 4, 2023). Data epidemiologi spesifik Indonesia mengikuti laporan/registri resmi terkini (Kementerian Kesehatan, POGI, atau WHO) yang berlaku pada periode audit unit pelayanan.
Kehamilan meningkatkan risiko ISK melalui perubahan anatomis dan fisiologis traktus urinarius: dilatasi ureter dan pelvis renalis akibat efek relaksan otot polos progesteron, penekanan mekanis ureter oleh uterus gravid, penurunan peristaltik ureter, peningkatan volume residu urine kandung kemih, serta refluks vesikoureter fungsional. Perubahan ini menimbulkan stasis urine yang memudahkan kolonisasi bakteri dan infeksi asendens, sehingga bakteriuria asimtomatik yang tidak diobati pada kehamilan memiliki risiko progresi ke pielonefritis akut yang jauh lebih tinggi dibandingkan pada perempuan tidak hamil.
Bakteriuria asimtomatik didefinisikan sebagai pertumbuhan bakteri bermakna (≥100.000 CFU/mL atau 10^5 colony-forming units/mL, satu jenis uropatogen, pada urine tangkap-tengah/midstream) tanpa gejala saluran kemih. Sistitis akut ditandai gejala iritatif bawah (disuria, frekuensi, urgensi, hematuria) tanpa demam atau nyeri pinggang. Pielonefritis akut adalah infeksi parenkim ginjal dengan demam ≥38°C, menggigil, dan nyeri sudut kostovertebra, yang pada kehamilan tergolong kondisi berisiko tinggi karena berkaitan dengan sepsis maternal, acute respiratory distress syndrome (ARDS), koagulasi intravaskular diseminata, persalinan preterm, dan anemia maternal.
2. Anamnesis
Anamnesis diarahkan untuk membedakan ketiga entitas klinis ISK dalam kehamilan serta menyingkirkan diagnosis banding. Gejala frekuensi, urgensi, dan nokturia perlu dinilai cermat karena tumpang tindih dengan keluhan fisiologis kehamilan itu sendiri.
Keluhan saluran kemih bawah (mengarah sistitis)
- Disuria (nyeri atau rasa terbakar saat berkemih)
- Frekuensi berkemih meningkat di luar pola fisiologis kehamilan
- Urgensi berkemih
- Nyeri suprapubik
- Hematuria makroskopik (bila ada)
Keluhan mengarah pielonefritis akut (tanda bahaya)
- Demam ≥38°C, menggigil
- Nyeri pinggang unilateral atau bilateral, dapat menjalar ke area inguinal
- Mual dan muntah
- Malaise dan lemah badan
- Kontraksi uterus atau tanda ancaman persalinan preterm
Riwayat dan faktor risiko
- Riwayat ISK berulang atau ISK pada kehamilan sebelumnya
- Riwayat kelainan struktural traktus urinarius, batu saluran kemih, atau refluks vesikoureter
- Diabetes melitus pragestasi atau gestasional
- Riwayat sifat pembawa (trait) hemoglobinopati (sickle cell trait, talasemia)
- Riwayat kateterisasi urine atau prosedur urologis
- Usia kehamilan saat ini, karena memengaruhi pilihan antibiotik
- Riwayat alergi antibiotik, khususnya golongan beta-laktam
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik bertujuan menilai derajat keparahan infeksi dan menyingkirkan komplikasi obstetri penyerta.
Tanda vital
- Suhu tubuh — demam ≥38°C mengarah pielonefritis, bukan sistitis sederhana
- Tekanan darah dan nadi — waspada tanda sepsis (takikardia, hipotensi) pada pielonefritis berat
- Frekuensi napas dan saturasi oksigen bila dicurigai sepsis atau ARDS
Pemeriksaan abdomen dan pinggang
- Nyeri tekan suprapubik (mengarah sistitis)
- Nyeri ketok sudut kostovertebra/costovertebral angle tenderness (CVAT) — tanda khas pielonefritis
- Palpasi tinggi fundus uteri dan aktivitas uterus untuk menyingkirkan kontraksi preterm
Pemeriksaan obstetri
- Denyut jantung janin sesuai usia kehamilan
- Penilaian tanda persalinan preterm bila terdapat kontraksi atau nyeri pinggang yang menjalar
4. Kriteria Diagnosis
Kode diagnosis (terverifikasi dari Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, entri No. 30, hlm. 60): Kehamilan dengan infeksi saluran kemih / Urinary tract infection in pregnancy — ICD-10 O23.4; ICD-11 JA62.
Bakteriuria asimtomatik
- Kultur urine tangkap-tengah dengan pertumbuhan ≥100.000 CFU/mL satu jenis bakteri uropatogen
- Tanpa gejala saluran kemih
- Kolonisasi Streptokokus grup B (SGB) >100.000 CFU/mL ditatalaksana sebagai ASB sekaligus menjadi indikasi profilaksis intrapartum SGB; kolonisasi dengan hitung koloni lebih rendah tidak memerlukan terapi namun tetap dicatat sebagai indikasi profilaksis persalinan
Sistitis akut
- Gejala iritatif bawah (disuria, frekuensi, urgensi, hematuria) tanpa demam atau nyeri pinggang
- Urinalisis mendukung: piuria (>5 leukosit/lapang pandang besar atau esterase leukosit positif) dan/atau nitrit positif
- Konfirmasi kultur urine dengan ambang ≥100.000 CFU/mL; pada pasien simtomatik, hitung koloni serendah 100 CFU/mL satu organisme dapat dipertimbangkan bermakna
Pielonefritis akut
- Demam ≥38°C, dengan atau tanpa menggigil
- Nyeri ketok sudut kostovertebra (CVAT) positif, dapat disertai nyeri pinggang
- Urinalisis dan kultur urine mendukung ISK; dapat disertai mual, muntah, atau tanda sistemik lain
- Pemeriksaan darah perifer lengkap dapat menunjukkan leukositosis, bandemia, trombositopenia, atau anemia — kelainan pada lebih dari satu lini sel berkorelasi dengan luaran maternal yang lebih buruk
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala klinis dan hasil urinalisis/kultur urine sesuai kriteria pada bagian 4.
Diagnosis banding yang perlu disingkirkan
- Nefrolitiasis atau kolik ureter — nyeri kolik khas, dapat disertai hematuria tanpa piuria bermakna
- Apendisitis akut pada kehamilan — nyeri kuadran kanan bergeser sesuai pergeseran posisi apendiks akibat pembesaran uterus
- Persalinan preterm dengan nyeri pinggang yang menyerupai pielonefritis
- Solusio plasenta — nyeri perut/pinggang akut disertai perdarahan pervaginam
- Korioamnionitis — bila disertai ketuban pecah dan demam
- Vaginitis atau servisitis dengan disuria eksterna (bukan infeksi intraluminal saluran kemih)
- Abses ginjal atau obstruksi saluran kemih — dipertimbangkan bila respons terapi pielonefritis buruk dalam 48-72 jam
6. Pemeriksaan Penunjang
Skrining bakteriuria asimtomatik dilakukan satu kali pada kunjungan antenatal awal untuk seluruh ibu hamil, mengingat potensi progresi ke pielonefritis bila tidak diobati. Bukti belum cukup untuk merekomendasikan atau menolak skrining ulang rutin setelah hasil awal negatif, kecuali pada populasi berisiko tinggi tertentu.
Pemeriksaan laboratorium
- Urinalisis (dipstik dan mikroskopik): leukosit esterase, nitrit, eritrosit, protein — dipstik rutin tanpa indikasi tidak cukup sensitif untuk skrining bakteriuria asimtomatik dan tidak menggantikan kultur urine
- Kultur urine tangkap-tengah (midstream) dengan uji kepekaan antibiotik — baku emas diagnosis maupun skrining
- Darah perifer lengkap bila dicurigai pielonefritis, untuk menilai leukositosis, bandemia, trombositopenia, atau anemia
- Fungsi ginjal (ureum, kreatinin) pada pielonefritis atau kecurigaan komplikasi
- Kultur darah dapat dipertimbangkan pada tanda sepsis, meski hasilnya jarang mengubah tata laksana klinis karena umumnya konkordan dengan kultur urine
- Gula darah untuk menapis diabetes melitus sebagai faktor predisposisi
Pemeriksaan pencitraan (sesuai indikasi)
- Ultrasonografi ginjal — pada pielonefritis berat, respons terapi buruk dalam 48-72 jam, atau kecurigaan obstruksi/abses ginjal
- Ultrasonografi obstetri — menilai kesejahteraan janin dan menyingkirkan tanda persalinan preterm bila ada indikasi klinis
7. Tata Laksana
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
- Edukasi hidrasi adekuat untuk membantu bilas mekanis saluran kemih
- Edukasi kebiasaan berkemih teratur, tidak menahan berkemih
- Edukasi teknik higiene perineum (arah bersih depan ke belakang)
- Analgesik/antipiretik parasetamol untuk kenyamanan simtomatik pada sistitis dan pielonefritis; ibuprofen dapat dipertimbangkan pada trimester I-II bila parasetamol tidak sesuai, dengan kehati-hatian sesuai usia kehamilan
- Pemantauan suhu tubuh mandiri dan edukasi tanda bahaya untuk kontrol ulang segera
- Rawat inap untuk observasi dan terapi cairan intravena pada pielonefritis akut atau tanda dehidrasi/sepsis
7.2 Tata Laksana Farmakologis
Pemilihan antibiotik mempertimbangkan usia kehamilan, profil keamanan pada kehamilan, dan pola kepekaan lokal. Terapi empiris disesuaikan setelah hasil kultur dan uji kepekaan tersedia. Regimen amoksisilin atau ampisilin sebaiknya dihindari sebagai terapi empiris awal karena tingginya angka resistensi Escherichia coli terhadap kedua antibiotik tersebut di sebagian besar wilayah.
Bakteriuria asimtomatik dan sistitis akut (terapi oral, tata laksana rawat jalan)
- Nitrofurantoin 100 mg per oral 2 kali sehari selama 5-7 hari — pilihan lini pertama pada trimester II-III karena angka resistensi rendah dan konsentrasi tinggi di kandung kemih; dihindari pada usia kehamilan aterm (38-42 minggu), saat persalinan berlangsung, dan pada bayi baru lahir usia <1 bulan karena risiko teoretis anemia hemolitik neonatal, serta dihindari pada ibu dengan defisiensi G6PD diketahui/dicurigai
- Sefaleksin (cephalexin) 500 mg per oral 4 kali sehari selama 5-7 hari — pilihan aman sepanjang trimester, termasuk mendekati aterm
- Fosfomisin trometamol dosis tunggal 3 g per oral — alternatif efektif untuk sistitis tanpa komplikasi maupun ASB dengan kepatuhan tinggi karena dosis tunggal; data keamanan trimester awal masih terbatas dibandingkan agen lini pertama lain
- Amoksisilin-klavulanat dapat digunakan bila hasil kultur menunjukkan kepekaan, namun tidak direkomendasikan sebagai terapi empiris awal
- Nitrofurantoin dan sulfonamida (misalnya trimetoprim-sulfametoksazol) dapat dipertimbangkan pada trimester I bila tidak tersedia alternatif yang sesuai, dengan mempertimbangkan bukti yang masih beragam mengenai potensi risiko malformasi kongenital pada pajanan trimester I; sulfonamida dihindari mendekati aterm karena risiko kernikterus neonatal
- Hindari golongan fluorokuinolon pada kehamilan kecuali tidak ada alternatif aman berdasarkan hasil kultur dan pertimbangan multidisiplin
- Durasi terapi standar 5-7 hari untuk ASB maupun sistitis akut; bukti belum cukup untuk merekomendasikan durasi 3 hari pada kehamilan
- Uji kultur ulang (test of cure) dapat dipertimbangkan 1-2 minggu pasca-terapi sistitis akut, atau evaluasi ulang hanya bila gejala berulang; bukti belum cukup untuk menetapkan strategi baku
Pielonefritis akut (tata laksana awal rawat inap)
- Terapi cairan intravena untuk koreksi dehidrasi dan menjaga produksi urine adekuat
- Antibiotik empiris intravena dengan penetrasi jaringan ginjal yang adekuat: beta-laktam spektrum luas dengan pertimbangan penambahan aminoglikosida (misalnya ampisilin plus gentamisin), atau sefalosporin dosis tunggal harian seperti seftriakson atau sefepim; pada alergi beta-laktam berisiko rendah anafilaksis, sefalosporin tetap dapat dipertimbangkan, sedangkan risiko tinggi anafilaksis memerlukan regimen alternatif seperti aztreonam dan konsultasi penyakit infeksi
- Terapi disesuaikan berdasarkan hasil kultur dan uji kepekaan urine begitu tersedia
- Sebagian besar pasien (75-95%) menunjukkan perbaikan klinis — didefinisikan sebagai bebas demam >24 jam disertai perbaikan gejala — dalam 48-72 jam sejak inisiasi antibiotik intravena
- Pasien tanpa perbaikan klinis dalam 72 jam dievaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan resistensi antibiotik dan menjalani pencitraan guna menyingkirkan patologi saluran kemih lain (mis. obstruksi, abses ginjal)
- Setelah perbaikan klinis, terapi dialihkan ke antibiotik oral sesuai hasil kepekaan untuk melengkapi total durasi terapi 14 hari; nitrofurantoin dan fosfomisin tidak sesuai untuk fase oral pielonefritis karena tidak mencapai kadar terapeutik di parenkim ginjal
- Kultur urine ulang dilakukan setelah terapi lengkap untuk memastikan tidak ada infeksi residual
- Waspadai organisme penghasil extended-spectrum beta-lactamase (ESBL) yang prevalensinya meningkat pada populasi hamil; konsultasi dengan disiplin penyakit infeksi dipertimbangkan bila teridentifikasi organisme resisten
- Pemantauan kesejahteraan janin dan tanda persalinan preterm selama perawatan
Tata laksana ISK berulang dan pasca-pielonefritis
- ISK berulang didefinisikan sebagai ≥2 episode ISK terdiagnosis dalam kehamilan yang sama
- Setelah episode ISK berulang atau pasca-pielonefritis akut, dapat dipertimbangkan profilaksis antibiotik supresif untuk sisa masa kehamilan, menggunakan dosis tunggal harian rendah sesuai kepekaan bakteri penyebab — regimen umum: nitrofurantoin 100 mg per oral sekali sehari atau sefaleksin 250-500 mg per oral sekali sehari
- Bukti mengenai strategi optimal pasca-terapi ISK berulang atau pielonefritis masih terbatas; keputusan profilaksis bersifat individual berdasarkan penilaian risiko-manfaat
- Bila profilaksis pasca-pielonefritis diberikan, dipertimbangkan hingga 4-6 minggu pascasalin disertai pemantauan kultur urine berkala selama sisa kehamilan
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural
Tata laksana bedah/prosedural umumnya tidak diperlukan pada ISK tanpa komplikasi. Intervensi prosedural (misalnya drainase perkutan) dipertimbangkan hanya pada komplikasi berat seperti abses ginjal atau obstruksi saluran kemih akibat batu, dan dilakukan berkoordinasi dengan disiplin urologi.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal
- Pielonefritis akut dengan tanda sepsis maternal, ARDS, atau respons terapi buruk dalam 48-72 jam
- ISK berulang (≥2 episode dalam kehamilan yang sama) atau kecurigaan kelainan struktural traktus urinarius
- ISK disertai tanda ancaman persalinan preterm atau komplikasi obstetri lain
- Infeksi oleh organisme resisten (misalnya ESBL) yang memerlukan tata laksana antibiotik lini lanjut
- Kebutuhan pemantauan janin intensif akibat kondisi maternal berat
- Kasus dengan komorbiditas signifikan (diabetes melitus, hemoglobinopati, penyakit ginjal kronik) yang memerlukan tata laksana terintegrasi
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
- Penjelasan bahwa ISK pada kehamilan, termasuk yang tanpa gejala, wajib diobati untuk mencegah progresi ke pielonefritis dan komplikasi kehamilan seperti persalinan preterm
- Kepatuhan menghabiskan seluruh durasi antibiotik yang diresepkan meski gejala membaik lebih awal
- Pentingnya kontrol ulang dan, bila diindikasikan, kultur urine ulang sesuai anjuran dokter
- Tanda bahaya yang mengharuskan kontrol segera: demam, nyeri pinggang, kontraksi, perdarahan, atau penurunan gerak janin
- Edukasi hidrasi, pola berkemih, dan higiene perineum sebagai upaya pencegahan berulang
- Penjelasan mengenai rencana pemantauan lanjutan bila terdapat riwayat ISK berulang atau pielonefritis
9. Prognosis
Dengan deteksi dini melalui skrining rutin dan tata laksana antibiotik yang tepat, prognosis bakteriuria asimtomatik dan sistitis akut pada kehamilan umumnya baik dengan angka kesembuhan tinggi. Sejak skrining dan pengobatan ASB menjadi praktik rutin, insidensi pielonefritis pada kehamilan menurun dari sekitar 20-35% menjadi 1-4% pada populasi yang diskrining dan diobati. Pielonefritis akut yang ditangani adekuat umumnya juga memiliki prognosis baik, namun keterlambatan tata laksana berkaitan dengan peningkatan risiko sepsis maternal, ARDS, persalinan preterm, berat badan lahir rendah, dan anemia maternal. Recurrent pyelonephritis (pielonefritis berulang) dilaporkan pada hingga 25% pasien sebelum persalinan, sehingga pemantauan ketat sepanjang sisa kehamilan diperlukan pada kelompok berisiko.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
| Rekomendasi | Tingkat Evidens | Sumber |
|---|---|---|
| Skrining bakteriuria asimtomatik satu kali pada kunjungan antenatal awal dengan kultur urine | B | USPSTF 2019; ACOG CC No. 4 (2023) |
| Terapi antibiotik pada bakteriuria asimtomatik untuk mencegah pielonefritis | A | Cochrane CD000490.pub4 (2019) |
| Durasi terapi 5-7 hari untuk ASB dan sistitis akut tanpa komplikasi | B | ACOG CC No. 4 (2023) |
| Nitrofurantoin dihindari pada usia kehamilan aterm dan saat persalinan | B | UKTIS; JAC-Antimicrobial Resistance 2022 |
| Rawat inap, antibiotik parenteral, dan total durasi 14 hari pada pielonefritis akut | B | ACOG CC No. 4 (2023); NICE NG111 (2024) |
| Profilaksis antibiotik supresif pasca-ISK berulang atau pielonefritis bersifat individual (bukti terbatas) | C | ACOG CC No. 4 (2023) |
11. Indikator Medis
- Cakupan skrining kultur urine pada kunjungan antenatal pertama, dengan baseline mengacu laporan/registri resmi nasional terkini yang berlaku pada periode audit unit pelayanan
- Proporsi kasus bakteriuria asimtomatik/sistitis yang mencapai eradikasi bakteriuria pada evaluasi pasca-terapi
- Waktu bebas demam pada kasus pielonefritis akut sejak inisiasi terapi (target klinis: perbaikan dalam 48-72 jam)
- Insidensi progresi bakteriuria asimtomatik menjadi pielonefritis akut pada kasus yang mendapat terapi tepat waktu
- Proporsi kasus ISK berulang atau pielonefritis yang dirujuk sesuai kriteria pada bagian 7.4
- Kepatuhan penyelesaian total durasi terapi 14 hari pada kasus pielonefritis akut
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil, Tabel 7 entri No. 30) menetapkan Kehamilan dengan Infeksi Saluran Kemih sebagai satu entitas kompetensi wajib yang dikuasai spesialis Obstetri dan Ginekologi, tanpa merinci algoritma terapi spesifik. Algoritma tata laksana pada PPK ini disusun mengacu pengayaan standar internasional berikut, dan diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan kerangka kompetensi Kepkonsil.
ACOG (American College of Obstetricians and Gynecologists)
- Clinical Consensus No. 4 (Agustus 2023) merekomendasikan skrining ASB satu kali pada kunjungan antenatal awal dan terapi 5-7 hari untuk ASB maupun sistitis akut dengan ambang koloni ≥100.000 CFU/mL
- Merekomendasikan rawat inap, antibiotik parenteral dengan penetrasi ginjal adekuat, dan total durasi terapi 14 hari untuk pielonefritis akut, dengan transisi ke oral setelah perbaikan klinis
USPSTF dan Cochrane
- USPSTF (2019, rekomendasi kelas B) menegaskan skrining ASB pada kehamilan tetap direkomendasikan meski derajat manfaatnya diturunkan dari kelas A menjadi B dibandingkan rekomendasi sebelumnya, seiring penurunan insidensi pielonefritis pada populasi yang telah rutin diskrining
- Tinjauan sistematis Cochrane (Smaill & Vazquez, 2019, CD000490.pub4) menegaskan terapi antibiotik pada ASB efektif menurunkan risiko pielonefritis dibandingkan tanpa terapi
NICE (National Institute for Health and Care Excellence, Inggris) dan WHO
- NICE NG109 (2018, pembaruan terakhir 2025) dan NG111 (2024) memberikan algoritma pilihan antibiotik lini pertama-kedua untuk sistitis dan pielonefritis akut, termasuk pada kehamilan, berdasarkan data resistensi antimikroba nasional Inggris
- WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience (2016) menempatkan skrining dan tata laksana bakteriuria asimtomatik sebagai bagian dari paket inti asuhan antenatal rutin, termasuk pada fasilitas dengan akses kultur urine terbatas
Perbedaan yang perlu diperhatikan
- Standar internasional (ACOG, NICE) memberikan algoritma pemilihan antibiotik lini pertama-kedua dan ambang durasi terapi yang lebih terperinci per trimester dibandingkan Kepkonsil, yang bersifat kerangka kompetensi umum tanpa protokol farmakologis rinci. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional (Kepkonsil) sebagai kerangka kompetensi wajib, dengan algoritma farmakologis pada bagian 7.2 PPK ini sebagai pengayaan operasional berbasis bukti internasional yang tidak bertentangan dengan kerangka tersebut; penyesuaian pola kepekaan antibiotik mengikuti data resistensi lokal/nasional yang berlaku.
13. Kepustakaan
- Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 (hlm. 60) dan Daftar Istilah (hlm. 514).
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Urinary Tract Infections in Pregnant Individuals. Clinical Consensus No. 4. Obstet Gynecol 2023;142:435-45. Tersedia pada: https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/clinical-consensus/articles/2023/08/urinary-tract-infections-in-pregnant-individuals
- Owens DK, Davidson KW, Krist AH, dkk. Screening for Asymptomatic Bacteriuria in Adults: US Preventive Services Task Force Recommendation Statement. JAMA 2019;322(12):1188-94. Tersedia pada: https://www.uspreventiveservicestaskforce.org/uspstf/recommendation/asymptomatic-bacteriuria-in-adults-screening
- Smaill FM, Vazquez JC. Antibiotics for Asymptomatic Bacteriuria in Pregnancy. Cochrane Database Syst Rev 2019;(11):CD000490. Tersedia pada: https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD000490.pub4/full
- National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Urinary Tract Infection (Lower): Antimicrobial Prescribing. NG109 (2018, pembaruan 2025). Tersedia pada: https://www.nice.org.uk/guidance/ng109
- National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Pyelonephritis (Acute): Antimicrobial Prescribing. NG111 (2024). Tersedia pada: https://www.nice.org.uk/guidance/ng111
- World Health Organization (WHO). WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience. Geneva: WHO; 2016. Tersedia pada: https://iris.who.int/handle/10665/250796
- Recht J, Chansamouth V, White NJ, Ashley EA. Nitrofurantoin and Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase Deficiency: A Safety Review. JAC-Antimicrob Resist 2022;4(3):dlac045. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9070801/
14. Glosarium
- Bakteriuria asimtomatik (asymptomatic bacteriuria/ASB)
- Pertumbuhan bakteri bermakna (≥100.000 CFU/mL) pada kultur urine tanpa disertai gejala saluran kemih.
- Sistitis akut
- Infeksi saluran kemih bawah dengan gejala iritatif (disuria, frekuensi, urgensi) tanpa demam atau nyeri pinggang.
- Pielonefritis akut
- Infeksi parenkim ginjal yang ditandai demam, menggigil, dan nyeri sudut kostovertebra; termasuk infeksi saluran kemih atas.
- CFU/mL (colony-forming units per mL)
- Satuan hitung koloni bakteri per mililiter urine, digunakan sebagai ambang diagnostik infeksi saluran kemih bermakna.
- CVAT (costovertebral angle tenderness)
- Nyeri saat perkusi/ketok pada sudut kostovertebra, tanda klinis khas pielonefritis akut.
- ESBL (extended-spectrum beta-lactamase)
- Enzim yang dihasilkan sebagian bakteri Gram-negatif sehingga resisten terhadap banyak antibiotik golongan beta-laktam, termasuk sebagian besar sefalosporin.
- Uropatogen
- Mikroorganisme yang menyebabkan infeksi pada saluran kemih; tersering Escherichia coli.
- Urine tangkap-tengah (midstream urine)
- Teknik pengambilan sampel urine pada pertengahan aliran berkemih untuk mengurangi kontaminasi flora kulit/vagina.
- Profilaksis supresif
- Pemberian antibiotik dosis rendah berkelanjutan untuk mencegah kekambuhan infeksi saluran kemih.
- Test of cure
- Evaluasi ulang (biasanya kultur urine) setelah terapi selesai untuk memastikan infeksi telah tuntas diobati.
- ARDS (acute respiratory distress syndrome)
- Sindrom gagal napas akut akibat cedera paru difus, salah satu komplikasi berat pielonefritis dengan sepsis.
- Vesikoureter, refluks
- Aliran balik urine dari kandung kemih menuju ureter, dapat bersifat fungsional pada kehamilan akibat perubahan hormonal dan mekanis.