Panduan Praktik Klinis · PPK No. 31 dari 73

Kehamilan dengan Anemia

Anemia in Pregnancy · ICD-10 O99.0 ICD-11 JB64.0

PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B4 — Kehamilan dengan Penyakit Penyerta, pada bagian yang membahas anemia dan kelainan hematologi dalam kehamilan. PPK ini berbatasan langsung dengan PPK No. 32 (Kehamilan dengan Kelainan Darah) untuk kasus anemia non-defisiensi-besi atau kelainan hematologi struktural.

Kode Unit PPK-031 (31 dari 73 PPK)
ICD-10 O99.0
ICD-11 JB64.0
Divisi Pengampu Fetomaternal
Populasi Sasaran Ibu hamil dengan anemia defisiensi besi
Dasar Regulasi
Tabel 7 No. 31, Lampiran Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, ditetapkan di Jakarta pada 7 Mei 2026.

1. Pengertian/Definisi

Kehamilan dengan anemia (Anemia in pregnancy) adalah kondisi kehamilan yang disertai penurunan kadar hemoglobin (Hb) di bawah ambang normal sesuai usia kehamilan, akibat berkurangnya massa eritrosit fungsional sehingga menurunkan kapasitas angkut oksigen darah ibu. Sesuai Tabel 7 No. 31 pada Lampiran Kepkonsil, entri ini dikodekan ICD-10 O99.0 dan ICD-11 JB64.0, dengan catatan Keterangan/Populasi resmi “anemia defisiensi besi” — sehingga fokus utama PPK ini adalah anemia defisiensi besi (iron deficiency anemia) sebagai etiologi tersering anemia dalam kehamilan.

Secara fisiologis, volume plasma meningkat lebih besar dibandingkan massa eritrosit sepanjang kehamilan (hemodilusi fisiologis), sehingga kadar Hb secara alami menurun pada trimester kedua sebelum kembali meningkat mendekati aterm. Di atas perubahan fisiologis tersebut, kebutuhan besi total kehamilan meningkat tajam untuk memenuhi ekspansi massa eritrosit ibu, pertumbuhan janin dan plasenta, serta cadangan menghadapi kehilangan darah saat persalinan. Bila asupan dan cadangan besi tidak mencukupi kebutuhan ini, terjadi deplesi cadangan besi (feritin turun), diikuti eritropoiesis defisiensi besi, dan akhirnya anemia defisiensi besi yang bersifat mikrositik-hipokrom.

Ambang diagnosis Hb pada PPK ini mengikuti pembaruan World Health Organization (WHO) tahun 2024 mengenai ambang hemoglobin untuk mendefinisikan anemia: Hb <11,0 g/dL pada trimester pertama dan ketiga, serta Hb <10,5 g/dL pada trimester kedua — menggantikan ambang tunggal 11,0 g/dL yang sebelumnya berlaku seragam pada seluruh trimester. Derajat keparahan diklasifikasikan ringan (10,0–10,9 g/dL), sedang (7,0–9,9 g/dL), dan berat (<7,0 g/dL).

Etiologi lain di luar defisiensi besi — defisiensi folat/vitamin B12, penyakit kronis atau inflamasi, infeksi, maupun kelainan hematologi struktural seperti thalassemia — harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding dan, bila terbukti sebagai penyebab dominan, dikelola sebagai entri diagnosis tersendiri (lihat Bagian 5).

2. Anamnesis

Keluhan anemia ringan-sedang sering tidak khas dan tumpang tindih dengan keluhan fisiologis kehamilan, sehingga anamnesis terarah dan indeks kecurigaan klinis penting ditegakkan, terutama pada kelompok berisiko tinggi.

Keluhan yang perlu digali:

Faktor risiko yang perlu ditelusuri:

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik ditujukan untuk mengonfirmasi tanda klinis anemia dan menyingkirkan tanda dekompensasi kardiovaskular pada kasus berat.

Temuan yang dinilai:

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan kadar hemoglobin sesuai usia kehamilan, didukung indeks eritrosit dan pemeriksaan status besi. Kode diagnosis: ICD-10 O99.0; ICD-11 JB64.0 (Tabel 7 No. 31, Lampiran Kepkonsil).

Kriteria kadar hemoglobin (ambang WHO 2024):

Klasifikasi derajat keparahan (berlaku lintas trimester):

Kriteria penunjang defisiensi besi:

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: kehamilan dengan anemia defisiensi besi (O99.0 / JB64.0), sesuai Keterangan/Populasi resmi pada Tabel 7 No. 31 Lampiran Kepkonsil.

Diagnosis banding yang perlu disingkirkan atau dipertimbangkan:

6. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan lini pertama:

Pemeriksaan lanjutan (sesuai indikasi klinis):

7. Tata Laksana

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Terapi lini pertama adalah suplementasi besi oral. Sesuai rekomendasi FIGO (2025), seluruh ibu hamil mendapat suplementasi besi elemental oral 30–60 mg/hari (rekomendasi kuat, kualitas bukti tinggi); dosis 60 mg/hari lebih dianjurkan pada populasi dengan prevalensi anemia defisiensi besi tinggi (≥40% ibu hamil) — termasuk konteks Indonesia — serta pada kelompok risiko tinggi (riwayat anemia sebelumnya, kehamilan multipel, jarak kehamilan <1 tahun, pola makan vegetarian).

Pemberian dosis tunggal harian (once daily) maupun dosis selang-sehari (alternate-day/every-other-day) sama-sama diterima sebagai regimen lini pertama; ACOG Practice Bulletin No. 233 (2021) mencatat bahwa dosis selang-sehari dapat memperbaiki efisiensi absorpsi dan toleransi gastrointestinal dibandingkan dosis harian penuh, sejalan dengan prinsip regimen intermiten yang dievaluasi Cochrane (Peña-Rosas dkk., 2015).

Program suplementasi antenatal nasional Indonesia mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 88 Tahun 2014 tentang Standar Tablet Tambah Darah bagi Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil, yang menetapkan tablet tambah darah berisi 60 mg besi elemental dan 0,4 mg asam folat, diberikan minimal 90 tablet selama kehamilan sebagai upaya pencegahan populasi. Pada kasus anemia yang sudah terdiagnosis secara klinis, dosis dan durasi terapi kuratif disesuaikan derajat keparahan mengacu pada rekomendasi FIGO (2025) dan ACOG Practice Bulletin No. 233 (2021), dengan evaluasi ulang kadar Hb setelah 2–4 minggu terapi untuk menilai respons.

Bila terdapat intoleransi gastrointestinal terhadap regimen harian, FIGO (2025) merekomendasikan regimen intermiten 120 mg besi elemental satu kali per minggu sebagai alternatif dengan kualitas bukti tinggi; hal ini konsisten dengan tinjauan Cochrane oleh Peña-Rosas dkk. (2015) yang menunjukkan luaran maternal-neonatal yang setara antara regimen intermiten dan harian, dengan efek samping gastrointestinal yang lebih sedikit pada regimen intermiten.

Besi parenteral (mis. iron sucrose atau ferric carboxymaltose) dipertimbangkan pada: intoleransi berat terhadap besi oral, kondisi malabsorpsi, anemia sedang-berat pada paruh kedua kehamilan yang membutuhkan koreksi cepat menjelang persalinan, atau tidak ada respons kenaikan Hb setelah 2–4 minggu terapi oral adekuat — sejalan dengan RCOG Green-top Guideline No. 47 (2015) dan pedoman British Society for Haematology (Pavord dkk., 2020).

Transfusi komponen darah dipertimbangkan pada anemia berat (Hb <7 g/dL) dengan gejala dekompensasi kardiovaskular, ketidakstabilan hemodinamik, atau kebutuhan koreksi segera mendekati persalinan/tindakan operatif — keputusan bersifat individual dengan mempertimbangkan risiko dan manfaat sesuai prinsip pada RCOG Green-top Guideline No. 47 (2015).

Preparat Besi OralKandungan Besi ElementalFrekuensi UmumCatatan Praktis
Ferrous sulfat≈ 20% dari berat garam (mis. 300 mg garam ≈ 60 mg besi elemental)1–2 kali/hari atau selang-sehariPreparat paling banyak diteliti; efek samping gastrointestinal relatif lebih sering pada dosis penuh harian
Ferrous fumarat≈ 33% dari berat garam1 kali/hari atau selang-sehariKandungan besi elemental per tablet lebih tinggi pada berat garam yang sama
Ferrous gluconat≈ 12% dari berat garam1–2 kali/hariToleransi gastrointestinal relatif lebih baik pada sebagian pasien
Regimen intermiten (mingguan)120 mg besi elemental, 1 kali/minggu1 kali/mingguAlternatif bila intoleransi terhadap regimen harian (FIGO 2025; Cochrane CD009997)

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

Tidak terdapat tindakan bedah spesifik untuk anemia defisiensi besi. Pada anemia berat menjelang persalinan, dilakukan persiapan cadangan komponen darah dan manajemen aktif kala tiga untuk meminimalkan risiko perdarahan pascasalin yang dapat memperberat kondisi anemia.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Dengan deteksi dini dan terapi adekuat, prognosis anemia defisiensi besi dalam kehamilan umumnya baik (quo ad vitam bonam, quo ad functionam bonam). Anemia sedang-berat yang tidak terkoreksi berasosiasi dengan peningkatan risiko persalinan preterm, berat badan lahir rendah, cadangan fisiologis maternal yang rendah saat menghadapi perdarahan pascasalin, serta pada kasus berat dapat menimbulkan gangguan fungsi kardiovaskular maternal. Besaran risiko relatif yang spesifik untuk populasi Indonesia perlu mengacu pada data surveilans nasional terkini, mengingat angka epidemiologi berubah dari waktu ke waktu dan tidak dicantumkan secara eksplisit pada Lampiran Kepkonsil.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Tingkat evidens dan kekuatan rekomendasi berikut mengacu pada skema GRADE sebagaimana digunakan FIGO (2025) dan WHO (2024), dilengkapi rujukan Kepkonsil sebagai dasar regulasi nasional.

RekomendasiKekuatanKualitas BuktiSumber
Skrining Hb pada kunjungan ANC pertama dan diulang pada trimester ketigaKuatSedangWHO Antenatal Care Guideline 2016; ACOG Practice Bulletin No. 233 (2021)
Suplementasi besi elemental oral 30–60 mg/hari untuk seluruh ibu hamilKuatTinggiFIGO 2025
Dosis 60 mg/hari pada populasi prevalensi tinggi/kelompok risikoKondisionalRendahFIGO 2025
Regimen intermiten 120 mg/minggu bila intoleransi harianKuatTinggiFIGO 2025; Cochrane CD009997 (Peña-Rosas dkk., 2015)
Besi parenteral pada indikasi spesifik (intoleransi, malabsorpsi, koreksi cepat menjelang persalinan)KondisionalSedangRCOG Green-top Guideline No. 47 (2015); Pavord dkk. (2020)
Kode diagnosis O99.0 / JB64.0 sebagai acuan pencatatan nasionalKuat (regulasi)Kepkonsil Tabel 7 No. 31

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan kode diagnosis O99.0/JB64.0 dengan catatan populasi “anemia defisiensi besi” tanpa merinci ambang Hb spesifik per trimester. Untuk operasionalisasi ambang diagnosis dan derajat keparahan, PPK ini mengadopsi standar internasional terbaru sebagai pengayaan non-superior, sebagaimana diuraikan berikut.

WHO (2024) memperbarui ambang Hb menjadi spesifik-trimester: <11,0 g/dL pada trimester pertama dan ketiga, serta <10,5 g/dL pada trimester kedua — berbeda dari ambang tunggal 11,0 g/dL yang sebelumnya berlaku seragam lintas trimester. Standar nasional (Kepkonsil) belum mencantumkan pembedaan ambang per trimester secara eksplisit pada Tabel 7; praktik klinis di Indonesia direkomendasikan mengikuti pembaruan WHO 2024 ini selama belum ada ketentuan nasional yang lebih spesifik.

FIGO (2025) merekomendasikan suplementasi besi elemental oral 30–60 mg/hari untuk seluruh ibu hamil (kuat, bukti tinggi), dengan dosis lebih tinggi (60 mg) pada populasi prevalensi tinggi seperti Indonesia, serta regimen intermiten 120 mg/minggu sebagai alternatif bila terjadi intoleransi terhadap regimen harian.

ACOG Practice Bulletin No. 233 (2021) dan RCOG Green-top Guideline No. 47 (2015) merekomendasikan skrining Hb rutin pada kunjungan antenatal awal dan ulangan pada trimester ketiga (RCOG menambahkan pemeriksaan darah lengkap tambahan pada usia kehamilan 20–24 minggu untuk kehamilan multipel), dengan variasi antar-pedoman internasional terkait skrining feritin rutin versus selektif pada kelompok risiko — sebagaimana didokumentasikan pada tinjauan sistematis O'Toole dkk. (2024) terhadap empat belas pedoman internasional. Kedua pedoman turut merekomendasikan pemberian besi intravena pada anemia sedang-berat trimester akhir yang membutuhkan koreksi cepat sebelum persalinan, sejalan dengan Bagian 7.2 PPK ini.

13. Kepustakaan

Glosarium

Daftar istilah teknis yang digunakan dalam dokumen ini, disusun untuk memudahkan pembacaan lintas profesi kesehatan.

Hemoglobin (Hb)
Protein pengikat oksigen di dalam eritrosit; kadarnya menjadi parameter utama diagnosis anemia.
MCV (Mean Corpuscular Volume)
Rerata volume satu sel eritrosit; menurun pada anemia mikrositik seperti defisiensi besi.
MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin)
Rerata kandungan hemoglobin per sel eritrosit; menurun pada anemia hipokrom.
MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)
Konsentrasi hemoglobin rerata per volume eritrosit.
Feritin serum
Protein penyimpan besi; kadarnya mencerminkan cadangan besi tubuh, namun dapat meningkat palsu saat inflamasi.
TIBC (Total Iron Binding Capacity)
Kapasitas total transferin serum untuk mengikat besi; meningkat pada defisiensi besi.
Retikulosit
Eritrosit muda yang baru dilepas dari sumsum tulang; hitungnya menilai respons eritropoiesis terhadap terapi.
Koilonikia
Kelainan bentuk kuku menyerupai sendok (spoon nail), tanda defisiensi besi kronis.
Glositis
Peradangan lidah yang menyebabkan permukaan tampak licin dan kemerahan, dapat menyertai defisiensi besi berat.
Pica
Dorongan mengonsumsi bahan non-makanan (mis. es batu, tanah); gejala yang cukup spesifik untuk defisiensi besi.
Hemoglobinopati
Kelainan genetik pada struktur atau produksi rantai globin hemoglobin, misalnya thalassemia.
Eritropoiesis
Proses pembentukan sel eritrosit di sumsum tulang.
Besi elemental
Jumlah besi murni yang tersedia secara biologis dari suatu garam besi, digunakan sebagai acuan dosis terapi.
Ferric carboxymaltose
Salah satu sediaan besi intravena generasi baru dengan kapasitas dosis tunggal tinggi dan profil keamanan yang baik.
GRADE
Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation — sistem penilaian kekuatan rekomendasi dan kualitas bukti klinis.