Fetomaternal PPK-036
Kehamilan dengan HIV/AIDS tanpa Komplikasi
Panduan Praktik Klinis (Individu) — Dokumen 36 dari 73

Kehamilan dengan HIV/AIDS tanpa Komplikasi

HIV/AIDS Infection in Pregnancy

ICD-10
B20–B24
ICD-11
JB63.7
Rujukan Buku Induk
Buku Tematik B4 — Kehamilan dengan Penyakit Penyerta
Divisi Pengampu
Fetomaternal

1. Pengertian/Definisi

PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Kehamilan dengan Infeksi HIV/AIDS pada Buku Tematik B4 — Kehamilan dengan Penyakit Penyerta. Kehamilan dengan HIV/AIDS tanpa komplikasi (HIV/AIDS infection in pregnancy) adalah kehamilan yang terjadi pada perempuan dengan status terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) — virus retro yang secara progresif menurunkan jumlah limfosit T CD4 sehingga melemahkan sistem imun — tanpa disertai infeksi oportunistik aktif, penyakit penanda Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), maupun komplikasi obstetri akut yang mengubah alur tata laksana dasar.

Kehamilan pada perempuan dengan HIV membawa dua kepentingan klinis yang berjalan beriringan: kesehatan ibu sendiri sebagai orang dengan HIV (ODHIV) yang memerlukan terapi berkelanjutan, dan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak atau Prevention of Mother-to-Child Transmission (PMTCT) — di Indonesia dikenal sebagai Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA). Prinsip utamanya adalah inisiasi terapi antiretroviral kombinasi atau combination Antiretroviral Therapy (cART) sesegera mungkin dan dipertahankan seumur hidup, pemantauan jumlah virus dalam darah (viral load), serta perencanaan persalinan dan tata laksana bayi baru lahir yang terstandar.

Dengan cakupan terapi antiretroviral yang adekuat dan viral load yang tersupresi hingga tidak terdeteksi, risiko penularan HIV dari ibu ke anak dapat ditekan hingga sangat rendah, sejalan dengan prinsip Undetectable = Untransmittable (U=U) yang kini menjadi dasar konseling pasien dengan HIV secara global.

Dasar Regulasi

Diagnosis ini tercantum pada Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 No. 36: "Kehamilan dengan HIV/AIDS tanpa komplikasi / HIV/AIDS infection in pregnancy" — ICD-10 B20–B24; ICD-11 JB63.7. Tata laksana program PPIA nasional turut diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak, serta Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual.

2. Anamnesis

Anamnesis diarahkan untuk memastikan status HIV, riwayat terapi, dan faktor risiko penularan vertikal, sekaligus menilai kesiapan pasien menjalani terapi jangka panjang.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik umum dan obstetri standar dilakukan seperti pada kehamilan pada umumnya, ditambah penapisan tanda infeksi oportunistik dan komplikasi terkait HIV.

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan serologi HIV yang reaktif sesuai algoritme pemeriksaan nasional (strategi serial tiga reagen), tanpa disertai kriteria stadium klinis WHO III–IV aktif pada kunjungan tersebut.

  1. Hasil tes cepat (rapid diagnostic test) HIV reaktif pada pemeriksaan serial sesuai algoritme nasional, dikonfirmasi melalui alur tiga reagen berturutan.
  2. Atau riwayat diagnosis HIV positif yang telah terkonfirmasi sebelumnya dan tercatat pada rekam medis atau kartu pengobatan ARV.
  3. Tidak dijumpai kondisi penanda AIDS aktif (infeksi oportunistik berat, keganasan terkait HIV) pada saat pemeriksaan. Bila dijumpai, kondisi diklasifikasikan sebagai kehamilan dengan HIV/AIDS dengan komplikasi dan memerlukan tata laksana khusus di luar cakupan PPK ini.
DiagnosisKode ICD-10Kode ICD-11
Kehamilan dengan HIV/AIDS tanpa komplikasi (HIV/AIDS infection in pregnancy)B20–B24JB63.7

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Kehamilan dengan HIV/AIDS tanpa komplikasi, dengan usia gestasi sesuai hasil pemeriksaan obstetri.

6. Pemeriksaan Penunjang

7. Tata Laksana

Prinsip utama tata laksana adalah strategi "tes dan obati" (test and treat): inisiasi cART segera setelah diagnosis tanpa menunggu hasil CD4, idealnya pada kunjungan yang sama dengan diagnosis (same-day initiation), dan dipertahankan seumur hidup terlepas dari nilai CD4, disertai pemantauan supresi virus serta perencanaan persalinan yang aman.

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Regimen lini pertama yang direkomendasikan pada kehamilan adalah kombinasi dua obat golongan Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI) ditambah satu Integrase Strand Transfer Inhibitor (INSTI): Tenofovir disoproxil fumarate (TDF) + Lamivudine atau Emtricitabine (3TC/FTC) + Dolutegravir (DTG), sering tersedia sebagai kombinasi dosis tetap (TLD). Regimen ini dimulai segera setelah diagnosis, tanpa menunggu hasil CD4.

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

Status HIV tanpa komplikasi bukan indikasi mutlak seksio sesarea elektif. Cara persalinan ditentukan terutama berdasarkan status supresi virus menjelang persalinan.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Dengan inisiasi cART dini, kepatuhan baik, dan viral load tersupresi, prognosis ibu maupun janin secara umum baik dan mendekati populasi tanpa HIV pada sebagian besar luaran obstetri. Risiko penularan vertikal dapat ditekan menjadi sangat rendah bila protokol PPIA/PMTCT dijalankan lengkap — ART maternal konsisten, cara persalinan sesuai indikasi, profilaksis ARV bayi, dan pemberian nutrisi bayi yang aman. Tanpa intervensi, risiko penularan ibu ke anak jauh lebih tinggi [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes RI, WHO].

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Komponen Tata LaksanaTingkat EvidensRekomendasiSumber
Inisiasi cART segera (same-day) pada seluruh ibu hamil terdiagnosis HIV, dipertahankan seumur hidupIAKuatWHO (2021, pembaruan 2025); Kepkonsil Tabel 7 No. 36
Regimen lini pertama TDF + 3TC/FTC + DTG (TLD) pada kehamilanIAKuatWHO (2021); Permenkes RI No. 23/2022
Persalinan pervaginam bila viral load tersupresi (<1.000 kopi/mL) tanpa indikasi obstetri lainIIASedang–KuatACOG Committee Opinion No. 751 (2018); BHIVA (2025)
Seksio sesarea terjadwal pada 38 minggu bila viral load ≥1.000 kopi/mL atau tidak diketahui menjelang persalinanIIASedang–KuatACOG Committee Opinion No. 751 (2018); BHIVA (2025)
Profilaksis ARV bayi baru lahir sesuai stratifikasi risikoIAKuatWHO (2021); Permenkes RI No. 52/2017

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan tata laksana HIV/AIDS tanpa komplikasi dalam kehamilan sebagai kewenangan spesialis Obstetri dan Ginekologi dengan rujukan ke subspesialis Fetomaternal pada kondisi kompleks. Pengayaan standar internasional berikut memperkaya, bukan menggantikan, standar nasional.

13. Kepustakaan

  1. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 No. 36.
  2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak.
  3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual.
  4. World Health Organization. Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring: Recommendations for a Public Health Approach. Geneva: WHO; 2021.
  5. World Health Organization. WHO Updated Recommendations on HIV Clinical Management: Recommendations for a Public Health Approach. Geneva: WHO; 2025.
  6. Panel on Treatment of HIV During Pregnancy and Prevention of Perinatal Transmission. Recommendations for the Use of Antiretroviral Drugs During Pregnancy and Interventions to Reduce Perinatal HIV Transmission in the United States. Rockville: HHS Clinicalinfo; pembaruan Desember 2024.
  7. American College of Obstetricians and Gynecologists. Committee Opinion No. 751: Labor and Delivery Management of Women With Human Immunodeficiency Virus Infection. Obstet Gynecol. 2018;132(3):e131–e137.
  8. Byrne L, Short C-E, Bamford A, et al. BHIVA Guidelines on the Management of HIV in Pregnancy and the Postpartum Period 2025. HIV Medicine. 2025;26:1757–1880.
  9. Buku Tematik B4 — Kehamilan dengan Penyakit Penyerta.
  10. [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes RI, BKKBN, POGI, WHO — untuk statistik epidemiologi dan capaian program PPIA nasional terkini].

14. Glosarium

IstilahPenjelasan
AFASSKriteria kelayakan pemberian susu formula pada bayi: Acceptable, Feasible, Affordable, Sustainable, Safe (dapat diterima, layak dilakukan, terjangkau, berkelanjutan, dan aman).
AIDSAcquired Immunodeficiency Syndrome; kumpulan gejala akibat penurunan kekebalan tubuh berat pada stadium lanjut infeksi HIV.
ART / cARTAntiretroviral Therapy / combination Antiretroviral Therapy; terapi kombinasi obat antiretroviral yang menekan replikasi HIV.
CD4Jenis limfosit T yang menjadi target utama HIV; jumlahnya mencerminkan status kekebalan tubuh.
DTG (Dolutegravir)Obat antiretroviral golongan Integrase Strand Transfer Inhibitor (INSTI) yang menjadi komponen regimen lini pertama.
Genotipe ResistansiPemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi mutasi virus HIV yang menyebabkan kekebalan terhadap obat antiretroviral tertentu.
INSTIIntegrase Strand Transfer Inhibitor; golongan obat antiretroviral yang menghambat enzim integrase HIV.
KotrimoksazolKombinasi trimetoprim-sulfametoksazol yang diberikan sebagai profilaksis infeksi oportunistik pada pasien dengan kekebalan tubuh rendah.
NRTINucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor; golongan obat antiretroviral yang menghambat enzim reverse transcriptase HIV.
Opt-out TestingStrategi penawaran tes HIV secara rutin kepada seluruh ibu hamil, dengan pasien berhak menolak secara aktif bila tidak berkenan diperiksa.
PPIA / PMTCTPencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak / Prevention of Mother-to-Child Transmission; rangkaian intervensi untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi.
TDF (Tenofovir disoproxil fumarate)Obat antiretroviral golongan NRTI yang menjadi komponen regimen lini pertama.
TLDKombinasi dosis tetap Tenofovir + Lamivudine + Dolutegravir, salah satu bentuk sediaan regimen lini pertama yang praktis digunakan.
U=U (Undetectable = Untransmittable)Prinsip bahwa viral load yang secara konsisten tidak terdeteksi menekan risiko penularan HIV, baik secara seksual maupun ke bayi, hingga sangat rendah.
Viral LoadJumlah salinan RNA HIV per mililiter darah; indikator utama keberhasilan terapi antiretroviral.
WHO Clinical StagingSistem stadium klinis HIV/AIDS menurut World Health Organization (stadium I–IV) berdasarkan gejala dan kondisi klinis yang menyertai.