PPK-039 Perpustakaan Digital ABBA
Divisi Pengampu: Fetomaternal
PPK No. 39 dari 73

Infeksi dan Demam saat Nifas

Puerperal Fever and Infection

ICD-10: O85 ; O86.4 ICD-11: JB40 Kode Unit: PPK-039 Rujukan: B5 — Persalinan, Nifas, dan Laktasi

Ringkasan Dokumen

Panduan tata laksana infeksi dan demam pada masa nifas (0–42 hari pascapersalinan), mencakup pengenalan dini tanda infeksi/sepsis puerperal, kriteria diagnosis, tata laksana antibiotik lini pertama, kerangka bundel FAST-M untuk deteksi dan respons sepsis, serta kriteria rujukan ke subspesialis Fetomaternal.

Dasar Regulasi

Entri Tabel 7 Kepkonsil No. 39: "Infeksi dan demam saat nifas / Puerperal fever and infection" — ICD-10 O85 ; O86.4, ICD-11 JB40. Keterangan/Populasi resmi: infeksi puerperium dengan risiko sepsis maternal.

1. Pengertian/Definisi

PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Masa Nifas Fisiologis dan Patologis, Buku Tematik B5 — Persalinan, Nifas, dan Laktasi.

Infeksi dan demam pada nifas (puerperal fever and infection) adalah infeksi bakteri atau lainnya yang terjadi dalam 42 hari setelah persalinan dengan gejala demam dan tanda infeksi, sebagaimana ditetapkan pada Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026.

Secara operasional, demam puerperal (puerperal pyrexia) didefinisikan sebagai suhu tubuh ≥38.0°C yang terjadi pada dua hari atau lebih dalam 10 hari pertama pascapersalinan, tidak termasuk 24 jam pertama pascapersalinan. Infeksi puerperium (puerperal sepsis/infection) mencakup spektrum infeksi pada traktus genitalia dan organ terkait yang timbul sejak ruptur ketuban atau persalinan hingga akhir masa nifas.

Kode ICD-11 JB40 merupakan kategori blok "Infections in the puerperium" yang mencakup beberapa subkategori operasional, antara lain JB40.0 (Puerperal sepsis) dan JB40.4 (Pyrexia of unknown origin following delivery) — keduanya relevan dengan padanan ICD-10 O85 (Sepsis puerperalis) dan O86.4 (Pireksia yang tidak diketahui sebabnya setelah persalinan) yang tercantum pada Tabel 7 Kepkonsil. Penentuan subkode ICD-11 spesifik pada rekam medis dilakukan sesuai manifestasi klinis definitif kasus.

Sumber infeksi tersering meliputi endometritis puerperalis (infeksi endometrium dan miometrium pascapersalinan), infeksi luka operasi seksio sesarea atau laserasi perineum, infeksi saluran kemih, mastitis, tromboflebitis pelvis septik, dan sumber non-genital (misalnya pneumonia atau infeksi saluran kemih) yang bermanifestasi pada periode puerperium.

Secara mikrobiologis, infeksi puerperium umumnya bersifat polimikrobial, melibatkan flora vagina asendens seperti streptokokus grup A dan B, Escherichia coli, serta bakteri anaerob (Bacteroides spp., Peptostreptococcus spp.). Infeksi Streptococcus pyogenes (grup A) invasif memerlukan kewaspadaan khusus karena berkaitan dengan perjalanan klinis yang dapat memburuk sangat cepat.

2. Anamnesis

Anamnesis terarah bertujuan mengidentifikasi awitan, pola, dan sumber demam serta faktor risiko infeksi puerperium.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik sistematis diarahkan untuk mengonfirmasi demam, menilai tanda vital sebagai indikator kegawatan (kecurigaan sepsis), serta menelusuri sumber infeksi secara berurutan dari genitalia hingga organ non-genital.

4. Kriteria Diagnosis

Kode klasifikasi diagnosis mengikuti hasil verifikasi terhadap Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026: kode ICD-10 O85 (Sepsis puerperalis) dan O86.4 (Pireksia yang tidak diketahui sebabnya setelah persalinan), serta kode ICD-11 JB40 (Infections in the puerperium), dengan subkode operasional JB40.0 untuk sepsis puerperal dan JB40.4 untuk pireksia pascapersalinan yang tidak diketahui sebabnya.

Diagnosis infeksi/demam puerperal ditegakkan berdasarkan kriteria klinis berikut, digunakan bersama sebagai pertimbangan diagnosis holistik, bukan kriteria tunggal yang berdiri sendiri:

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja ditentukan berdasarkan sumber infeksi yang paling mungkin dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Diagnosis banding berikut wajib dipertimbangkan secara sistematis pada setiap kasus demam puerperal:

6. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang diarahkan untuk mengonfirmasi sumber infeksi, menilai derajat keparahan, dan memandu pemilihan terapi antibiotik.

7. Tata Laksana

Tata laksana mengikuti prinsip identifikasi sumber infeksi, pemberian antibiotik empiris segera, dan pemantauan ketat tanda perburukan sistemik. Pada kecurigaan sepsis maternal, tata laksana awal direkomendasikan mengikuti kerangka bundel FAST-M (Fluids, Antibiotics, Source identification and control, Transfer bila diperlukan, Monitoring) yang dikembangkan melalui konsensus internasional dan telah diuji efektivitasnya pada uji klinis skala besar di fasilitas pelayanan kesehatan.

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

  • Rawat inap untuk observasi tanda vital ketat dan pemantauan sistem peringatan dini maternal pada kasus demam tinggi atau kecurigaan sepsis.
  • Resusitasi cairan intravena (komponen "Fluids" pada bundel FAST-M) pada tanda hipoperfusi atau kecurigaan sepsis, mengikuti prinsip tata laksana sepsis dini.
  • Perawatan luka lokal (debridement bila diperlukan, ganti balut aseptik) pada infeksi daerah operasi.
  • Dukungan laktasi tetap dianjurkan bila kondisi ibu stabil dan tidak terdapat kontraindikasi spesifik terhadap obat yang diberikan.
  • Mobilisasi dini sesuai toleransi untuk mencegah komplikasi tromboemboli, kecuali terdapat kontraindikasi klinis.
  • Monitoring berkelanjutan kondisi ibu dan bayi (komponen "Monitoring" pada bundel FAST-M) hingga tanda infeksi/sepsis teratasi.

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Antibiotik empiris spektrum luas (komponen "Antibiotics" pada bundel FAST-M) diberikan segera setelah kultur diambil, tanpa menunggu hasil kultur, mengikuti prinsip cakupan polimikrobial (aerob dan anaerob) pada endometritis puerperalis.

  • Regimen lini pertama untuk endometritis puerperalis: kombinasi klindamisin intravena dengan gentamisin, terbukti melalui tinjauan sistematis Cochrane sebagai regimen paling efektif dibandingkan regimen antibiotik lain untuk tata laksana endometritis pascapersalinan.
  • Alternatif regimen mengikuti rekomendasi ACOG untuk infeksi intraamnion/pascapersalinan: ampisilin dikombinasikan dengan gentamisin, ditambah klindamisin atau metronidazol pada persalinan seksio sesarea; vankomisin dipertimbangkan sebagai pengganti klindamisin pada kolonisasi streptokokus grup B yang resisten atau riwayat alergi penisilin berat.
  • Regimen disesuaikan pada infeksi saluran kemih, mastitis, atau infeksi daerah operasi sesuai pedoman antibiotik empiris masing-masing kondisi dan hasil kultur bila tersedia.
  • Antipiretik (parasetamol) diberikan sebagai terapi simtomatik demam, tanpa menggantikan terapi antibiotik kausal.
  • Evaluasi respons klinis dilakukan dalam 48–72 jam; kegagalan respons terhadap antibiotik lini pertama menjadi indikasi eskalasi regimen dan pencarian fokus infeksi tambahan (misalnya abses atau tromboflebitis pelvis septik). Perlu diwaspadai laporan peningkatan resistensi anaerob terhadap klindamisin pada sejumlah wilayah, sehingga pemilihan regimen definitif WAJIB mempertimbangkan pola resistensi lokal.
  • Dosis dan pemilihan antibiotik definitif WAJIB disesuaikan dengan formularium rumah sakit setempat, pola resistensi lokal (antibiogram), fungsi ginjal pasien, dan status laktasi.

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)

  • Kuretase evakuasi sisa hasil konsepsi pada kasus dengan konfirmasi retensi sisa plasenta yang menjadi fokus infeksi (komponen "Source identification and control" pada bundel FAST-M), dilakukan setelah antibiotik adekuat mulai diberikan.
  • Debridement dan drainase bedah pada abses luka operasi atau abses pelvis yang tidak berespons terhadap antibiotik saja.
  • Eksplorasi ulang laparotomi dipertimbangkan pada kecurigaan komplikasi intraabdomen berat (misalnya nekrosis fasia, dehisensi luka seksio dengan peritonitis) yang mengancam nyawa.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal

Rujukan atau konsultasi ke subspesialis Fetomaternal dipertimbangkan bila kondisi berada di luar kewenangan spesialis umum, meliputi kebutuhan penilaian "Transfer" pada bundel FAST-M dengan kriteria sebagai berikut:

  • Tanda sepsis maternal dengan disfungsi organ akut yang memerlukan perawatan intensif.
  • Kegagalan respons klinis terhadap antibiotik lini pertama dan kedua.
  • Kecurigaan tromboflebitis pelvis septik atau abses pelvis kompleks yang memerlukan tata laksana multidisiplin.
  • Komorbiditas berat yang mempersulit tata laksana (sepsis pada pasien dengan penyakit jantung, gangguan koagulasi, atau imunosupresi).
  • Kebutuhan intervensi bedah kompleks di luar kompetensi fasilitas primer/sekunder.

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Prognosis umumnya baik pada infeksi puerperium yang terdiagnosis dan ditata laksana dini dengan antibiotik adekuat, dengan sebagian besar kasus endometritis puerperalis tanpa komplikasi menunjukkan perbaikan klinis dalam 48–72 jam.

Prognosis memburuk pada keterlambatan diagnosis, progresi menjadi sepsis maternal dengan disfungsi organ, atau adanya fokus infeksi persisten (abses, tromboflebitis pelvis septik, retensi sisa hasil konsepsi) yang tidak tertangani. Secara global, sepsis dan infeksi peripartum tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian maternal yang dapat dicegah, dengan kontribusi diperkirakan sekitar 11% dari seluruh kematian maternal di dunia, dan lebih tinggi lagi pada populasi dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

[DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI] untuk angka insidensi, angka kematian ibu terkait sepsis puerperal, dan tren morbiditas terkini yang spesifik untuk populasi Indonesia, karena data granular tingkat nasional belum tersedia pada sumber yang dapat diverifikasi langsung oleh penulis pada saat penyusunan dokumen ini.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Aspek Tata LaksanaTingkat EvidensKekuatan RekomendasiSumber
Antibiotik kombinasi klindamisin-gentamisin sebagai lini pertama endometritis puerperalisI (tinjauan sistematis Cochrane atas 40 uji klinis teracak, 4240 partisipan)KuatCochrane (Mackeen dkk., 2015)
Pemberian antibiotik empiris segera tanpa menunda untuk hasil kultur pada kecurigaan sepsis maternal; deteksi dini dan "golden hour" tata laksana sepsisII (konsensus ahli internasional berbasis bukti observasional)KuatWHO (2015); RCOG Green-top Guideline No. 64 (2024)
Penggunaan bundel terstruktur FAST-M untuk deteksi dan respons sepsis maternalI–II (uji klinis kluster teracak multisenter, 59 rumah sakit, >430.000 persalinan)KuatLissauer dkk., BJOG 2020; NEJM 2025 (uji APT-Sepsis)
Kuretase evakuasi sisa hasil konsepsi setelah antibiotik adekuat pada retensi sisa plasenta terinfeksiIII (konsensus ahli/praktik klinis standar)SedangACOG Committee Opinion No. 712 (2017); Kepkonsil
Profilaksis antibiotik pre-insisi 30–60 menit sebelum seksio sesarea untuk mencegah infeksi pascabedahI (tinjauan bukti FIGO atas studi multinegara)KuatFIGO Committee on Infections During Pregnancy (Lazzaro dkk., 2025)

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan klasifikasi diagnosis infeksi dan demam nifas berdasarkan ICD-10 O85/O86.4 dan ICD-11 JB40 dengan penekanan pada identifikasi dini risiko sepsis maternal; standar internasional memperkaya aspek operasional deteksi dan tata laksana sebagai berikut:

13. Kepustakaan

  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: KKI; 2026.
  2. World Health Organization. WHO Recommendations for Prevention and Treatment of Maternal Peripartum Infections. Geneva: World Health Organization; 2015. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549363
  3. American College of Obstetricians and Gynecologists. Committee Opinion No. 712: Intrapartum Management of Intraamniotic Infection. Obstetrics & Gynecology. 2017;130(2):e95–e101. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2017/08/intrapartum-management-of-intraamniotic-infection
  4. Lissauer D, Morgan M, Banerjee A, Plaat F, Pasupathy D; Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Identification and Management of Maternal Sepsis During and Following Pregnancy (Green-top Guideline No. 64). BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology. 2025;132(4):e61–e85. https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/identification-and-management-of-maternal-sepsis-during-and-following-pregnancy-green-top-guideline-no-64/
  5. Mackeen AD, Packard RE, Ota E, Speer L. Antibiotic Regimens for Postpartum Endometritis. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2015;2015(2):CD001067. https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD001067.pub3/full
  6. Lazzaro A, Karandikar G, Martins ML, dkk., untuk FIGO Committee on Infections During Pregnancy. Reducing Post-Cesarean Sepsis: Current Best Practice in Prevention and Treatment. International Journal of Gynecology & Obstetrics. 2025;171(2):517–527. https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/ijgo.70500
  7. Lissauer D, Cheshire J, Dunlop C, dkk. Development of the FAST-M Maternal Sepsis Bundle for Use in Low-Resource Settings: A Modified Delphi Process. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology. 2020;127(3):416–423. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7384197/
  8. Lissauer D, dkk. A Multicomponent Intervention to Improve Maternal Infection Outcomes (Uji Klinis APT-Sepsis). The New England Journal of Medicine. 2025. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2512698

Glosarium

Puerperium (Nifas)
Periode sejak setelah kala III persalinan hingga 6 minggu (42 hari) pascapersalinan, ketika organ reproduksi pulih.
Endometritis puerperalis
Infeksi pada endometrium dan miometrium yang terjadi pada masa nifas, umumnya bersifat polimikrobial.
Sepsis maternal
Kondisi disfungsi organ akut yang mengancam nyawa akibat infeksi selama kehamilan, persalinan, pascaabortus, atau periode pascapersalinan.
Sistem peringatan dini maternal (Maternal Early Obstetric Warning System)
Alat penilaian klinis berbasis parameter tanda vital untuk mendeteksi perburukan kondisi ibu secara dini.
Tromboflebitis pelvis septik
Peradangan disertai trombosis pada vena pelvis akibat infeksi, salah satu penyebab demam persisten meskipun antibiotik adekuat.
Lokia
Cairan yang keluar dari uterus dan vagina pada masa nifas, terdiri atas darah, jaringan desidua, dan lendir.
Bundel FAST-M
Kerangka tata laksana sepsis maternal berbasis konsensus internasional yang terdiri atas lima komponen: Fluids (cairan), Antibiotics (antibiotik), Source identification and control (identifikasi dan kendali sumber infeksi), Transfer (rujukan bila diperlukan), dan Monitoring (pemantauan ibu dan bayi).
Golden hour tata laksana sepsis
Prinsip klinis yang menekankan pemberian antibiotik dan resusitasi awal dalam satu jam pertama sejak kecurigaan sepsis untuk menurunkan risiko kematian.

Kolofon

Perpustakaan Digital ABBA — Infeksi dan Demam saat Nifas (Puerperal Fever and Infection)
PPK No. 39 dari 73. Kode unit: PPK-039.
Disusun oleh: Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Diterbitkan di: Jl Kerinci Raya No 9 Malang 65138
Dasar hukum: Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 No. 39, Halaman 61