Infeksi dan Demam saat Nifas
Puerperal Fever and Infection
Ringkasan Dokumen
Panduan tata laksana infeksi dan demam pada masa nifas (0–42 hari pascapersalinan), mencakup pengenalan dini tanda infeksi/sepsis puerperal, kriteria diagnosis, tata laksana antibiotik lini pertama, kerangka bundel FAST-M untuk deteksi dan respons sepsis, serta kriteria rujukan ke subspesialis Fetomaternal.
- Demam ≥38.0°C pada 2 dari 10 hari pertama pascapersalinan (tidak termasuk 24 jam pertama) adalah tanda kunci kecurigaan infeksi puerperium.
- Endometritis puerperalis merupakan penyebab tersering, terjadi pada sekitar 1–3% persalinan pervaginam dan hingga 27% persalinan seksio sesarea tanpa profilaksis adekuat.
- Kewaspadaan tanda sepsis maternal wajib pada setiap kasus demam nifas; keterlambatan pemberian antibiotik dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian pada setiap jam penundaan.
- Bundel FAST-M (Fluids, Antibiotics, Source identification and control, Transfer, Monitoring) merupakan kerangka kerja berbasis bukti untuk deteksi dan respons cepat sepsis maternal yang telah diuji pada skala besar.
Entri Tabel 7 Kepkonsil No. 39: "Infeksi dan demam saat nifas / Puerperal fever and infection" — ICD-10 O85 ; O86.4, ICD-11 JB40. Keterangan/Populasi resmi: infeksi puerperium dengan risiko sepsis maternal.
1. Pengertian/Definisi
PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Masa Nifas Fisiologis dan Patologis, Buku Tematik B5 — Persalinan, Nifas, dan Laktasi.
Infeksi dan demam pada nifas (puerperal fever and infection) adalah infeksi bakteri atau lainnya yang terjadi dalam 42 hari setelah persalinan dengan gejala demam dan tanda infeksi, sebagaimana ditetapkan pada Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026.
Secara operasional, demam puerperal (puerperal pyrexia) didefinisikan sebagai suhu tubuh ≥38.0°C yang terjadi pada dua hari atau lebih dalam 10 hari pertama pascapersalinan, tidak termasuk 24 jam pertama pascapersalinan. Infeksi puerperium (puerperal sepsis/infection) mencakup spektrum infeksi pada traktus genitalia dan organ terkait yang timbul sejak ruptur ketuban atau persalinan hingga akhir masa nifas.
Kode ICD-11 JB40 merupakan kategori blok "Infections in the puerperium" yang mencakup beberapa subkategori operasional, antara lain JB40.0 (Puerperal sepsis) dan JB40.4 (Pyrexia of unknown origin following delivery) — keduanya relevan dengan padanan ICD-10 O85 (Sepsis puerperalis) dan O86.4 (Pireksia yang tidak diketahui sebabnya setelah persalinan) yang tercantum pada Tabel 7 Kepkonsil. Penentuan subkode ICD-11 spesifik pada rekam medis dilakukan sesuai manifestasi klinis definitif kasus.
Sumber infeksi tersering meliputi endometritis puerperalis (infeksi endometrium dan miometrium pascapersalinan), infeksi luka operasi seksio sesarea atau laserasi perineum, infeksi saluran kemih, mastitis, tromboflebitis pelvis septik, dan sumber non-genital (misalnya pneumonia atau infeksi saluran kemih) yang bermanifestasi pada periode puerperium.
Secara mikrobiologis, infeksi puerperium umumnya bersifat polimikrobial, melibatkan flora vagina asendens seperti streptokokus grup A dan B, Escherichia coli, serta bakteri anaerob (Bacteroides spp., Peptostreptococcus spp.). Infeksi Streptococcus pyogenes (grup A) invasif memerlukan kewaspadaan khusus karena berkaitan dengan perjalanan klinis yang dapat memburuk sangat cepat.
2. Anamnesis
Anamnesis terarah bertujuan mengidentifikasi awitan, pola, dan sumber demam serta faktor risiko infeksi puerperium.
- Waktu awitan demam dihitung sejak persalinan, disertai pola suhu (intermiten, kontinu) dan gejala penyerta (menggigil, malaise).
- Riwayat persalinan: cara persalinan (pervaginam atau seksio sesarea), lama persalinan, lama ketuban pecah (durasi ketuban pecah dini merupakan faktor risiko penting), jumlah pemeriksaan dalam (vaginal touché) selama persalinan, dan tindakan instrumental (forsep/vakum).
- Nyeri perut bawah atau pelvis, karakteristik lokia (jumlah, warna, bau — lokia berbau busuk mengarah pada endometritis), dan nyeri pada luka operasi/laserasi perineum.
- Gejala saluran kemih (disuria, frekuensi, nyeri pinggang) untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih sebagai sumber demam.
- Gejala payudara (nyeri, kemerahan, bengkak lokal) untuk menyingkirkan mastitis sebagai sumber demam.
- Gejala respirasi (batuk, sesak) untuk menyingkirkan sumber pulmonal, khususnya pada pasien pascaseksio dengan anestesi umum.
- Riwayat komorbid yang meningkatkan risiko infeksi: anemia, diabetes melitus, obesitas (indeks massa tubuh >30), imunosupresi, dan status gizi.
- Riwayat prosedur invasif tambahan pascapersalinan (kuretase, plasenta manual) yang meningkatkan risiko endometritis.
- Riwayat persalinan seksio sesarea emergensi dan persalinan memanjang turut ditelusuri karena merupakan faktor risiko utama sepsis pascaseksio yang telah diidentifikasi secara internasional.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik sistematis diarahkan untuk mengonfirmasi demam, menilai tanda vital sebagai indikator kegawatan (kecurigaan sepsis), serta menelusuri sumber infeksi secara berurutan dari genitalia hingga organ non-genital.
- Tanda vital lengkap: suhu, frekuensi nadi, frekuensi napas, tekanan darah, dan saturasi oksigen — digunakan sebagai dasar penilaian sistem peringatan dini maternal (Maternal Early Obstetric Warning System) untuk deteksi dini perburukan klinis.
- Status generalis: kesadaran, tanda dehidrasi, dan tanda perfusi perifer (waktu pengisian kapiler) sebagai penanda kegawatan sistemik.
- Pemeriksaan abdomen: nyeri tekan fundus uteri, involusi uterus (subinvolusi mengarah pada retensi sisa plasenta/endometritis), tanda peritonitis.
- Inspeksi luka operasi seksio sesarea atau laserasi perineum/episiotomi: tanda infeksi lokal (eritema, edema, discharge purulen, dehisensi).
- Pemeriksaan genitalia: karakteristik lokia (volume, warna, bau), nyeri goyang serviks, dan nyeri adneksa pada pemeriksaan bimanual bila diperlukan dan dapat ditoleransi.
- Pemeriksaan payudara untuk menyingkirkan mastitis sebagai sumber demam alternatif.
- Auskultasi paru dan pemeriksaan sudut kostovertebra untuk menyingkirkan sumber pulmonal dan renal.
4. Kriteria Diagnosis
Kode klasifikasi diagnosis mengikuti hasil verifikasi terhadap Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026: kode ICD-10 O85 (Sepsis puerperalis) dan O86.4 (Pireksia yang tidak diketahui sebabnya setelah persalinan), serta kode ICD-11 JB40 (Infections in the puerperium), dengan subkode operasional JB40.0 untuk sepsis puerperal dan JB40.4 untuk pireksia pascapersalinan yang tidak diketahui sebabnya.
Diagnosis infeksi/demam puerperal ditegakkan berdasarkan kriteria klinis berikut, digunakan bersama sebagai pertimbangan diagnosis holistik, bukan kriteria tunggal yang berdiri sendiri:
- Suhu ≥38.0°C yang terjadi pada dua hari atau lebih dalam 10 hari pertama pascapersalinan (tidak termasuk 24 jam pertama), disertai penyingkiran sumber demam non-infeksi (misalnya demam terkait obat atau engorgement payudara fisiologis).
- Terdapat tanda klinis infeksi sesuai sumber yang teridentifikasi: nyeri tekan uterus dan lokia berbau busuk untuk endometritis; eritema/discharge purulen luka untuk infeksi daerah operasi; disuria dan nyeri pinggang untuk infeksi saluran kemih.
- Kriteria sepsis maternal (bila terdapat kecurigaan progresi sistemik) ditegakkan menggunakan definisi organisasi kesehatan dunia: kondisi disfungsi organ akut yang mengancam nyawa akibat infeksi selama kehamilan, persalinan, pascaabortus, atau periode pascapersalinan — memerlukan eskalasi tata laksana segera sebagai kegawatdaruratan obstetri.
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja ditentukan berdasarkan sumber infeksi yang paling mungkin dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Diagnosis banding berikut wajib dipertimbangkan secara sistematis pada setiap kasus demam puerperal:
- Endometritis puerperalis — diagnosis kerja tersering, khususnya pascaseksio sesarea atau dengan riwayat ketuban pecah lama.
- Infeksi daerah operasi (luka seksio sesarea atau laserasi perineum/episiotomi), dengan insidensi infeksi situs bedah pascaseksio dilaporkan sekitar 7% secara global dan bervariasi 2,5–20,5% tergantung populasi dan fasilitas layanan.
- Infeksi saluran kemih, termasuk pielonefritis akut pascapersalinan.
- Mastitis puerperalis, dengan atau tanpa abses payudara.
- Tromboflebitis pelvis septik — dipertimbangkan bila demam persisten meskipun antibiotik adekuat dan sumber lain telah disingkirkan.
- Retensi sisa hasil konsepsi (sisa plasenta) yang menjadi fokus infeksi persisten.
- Sumber non-obstetri: pneumonia (khususnya pascaanestesi umum), apendisitis, atau infeksi saluran cerna yang bermanifestasi pada periode nifas.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang diarahkan untuk mengonfirmasi sumber infeksi, menilai derajat keparahan, dan memandu pemilihan terapi antibiotik.
- Darah perifer lengkap dengan hitung jenis untuk menilai leukositosis dan tanda inflamasi sistemik.
- Kultur darah (blood culture) pada kecurigaan sepsis atau demam tinggi persisten, idealnya diambil sebelum pemberian antibiotik pertama.
- Kultur lokia atau usap endoserviks pada kecurigaan endometritis, meskipun interpretasi terbatas karena kontaminasi flora vagina normal.
- Urinalisis dan kultur urin pada kecurigaan infeksi saluran kemih.
- Fungsi ginjal, elektrolit, dan laktat serum pada kecurigaan sepsis untuk menilai disfungsi organ dan memandu resusitasi cairan.
- Ultrasonografi pelvis pada kecurigaan retensi sisa hasil konsepsi, abses pelvis, atau untuk menilai involusi uterus abnormal.
- Pencitraan tambahan (CT scan abdomen-pelvis) dipertimbangkan pada kecurigaan abses pelvis kompleks atau tromboflebitis pelvis septik yang tidak berespons terhadap antibiotik.
7. Tata Laksana
Tata laksana mengikuti prinsip identifikasi sumber infeksi, pemberian antibiotik empiris segera, dan pemantauan ketat tanda perburukan sistemik. Pada kecurigaan sepsis maternal, tata laksana awal direkomendasikan mengikuti kerangka bundel FAST-M (Fluids, Antibiotics, Source identification and control, Transfer bila diperlukan, Monitoring) yang dikembangkan melalui konsensus internasional dan telah diuji efektivitasnya pada uji klinis skala besar di fasilitas pelayanan kesehatan.
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
- Rawat inap untuk observasi tanda vital ketat dan pemantauan sistem peringatan dini maternal pada kasus demam tinggi atau kecurigaan sepsis.
- Resusitasi cairan intravena (komponen "Fluids" pada bundel FAST-M) pada tanda hipoperfusi atau kecurigaan sepsis, mengikuti prinsip tata laksana sepsis dini.
- Perawatan luka lokal (debridement bila diperlukan, ganti balut aseptik) pada infeksi daerah operasi.
- Dukungan laktasi tetap dianjurkan bila kondisi ibu stabil dan tidak terdapat kontraindikasi spesifik terhadap obat yang diberikan.
- Mobilisasi dini sesuai toleransi untuk mencegah komplikasi tromboemboli, kecuali terdapat kontraindikasi klinis.
- Monitoring berkelanjutan kondisi ibu dan bayi (komponen "Monitoring" pada bundel FAST-M) hingga tanda infeksi/sepsis teratasi.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
Antibiotik empiris spektrum luas (komponen "Antibiotics" pada bundel FAST-M) diberikan segera setelah kultur diambil, tanpa menunggu hasil kultur, mengikuti prinsip cakupan polimikrobial (aerob dan anaerob) pada endometritis puerperalis.
- Regimen lini pertama untuk endometritis puerperalis: kombinasi klindamisin intravena dengan gentamisin, terbukti melalui tinjauan sistematis Cochrane sebagai regimen paling efektif dibandingkan regimen antibiotik lain untuk tata laksana endometritis pascapersalinan.
- Alternatif regimen mengikuti rekomendasi ACOG untuk infeksi intraamnion/pascapersalinan: ampisilin dikombinasikan dengan gentamisin, ditambah klindamisin atau metronidazol pada persalinan seksio sesarea; vankomisin dipertimbangkan sebagai pengganti klindamisin pada kolonisasi streptokokus grup B yang resisten atau riwayat alergi penisilin berat.
- Regimen disesuaikan pada infeksi saluran kemih, mastitis, atau infeksi daerah operasi sesuai pedoman antibiotik empiris masing-masing kondisi dan hasil kultur bila tersedia.
- Antipiretik (parasetamol) diberikan sebagai terapi simtomatik demam, tanpa menggantikan terapi antibiotik kausal.
- Evaluasi respons klinis dilakukan dalam 48–72 jam; kegagalan respons terhadap antibiotik lini pertama menjadi indikasi eskalasi regimen dan pencarian fokus infeksi tambahan (misalnya abses atau tromboflebitis pelvis septik). Perlu diwaspadai laporan peningkatan resistensi anaerob terhadap klindamisin pada sejumlah wilayah, sehingga pemilihan regimen definitif WAJIB mempertimbangkan pola resistensi lokal.
- Dosis dan pemilihan antibiotik definitif WAJIB disesuaikan dengan formularium rumah sakit setempat, pola resistensi lokal (antibiogram), fungsi ginjal pasien, dan status laktasi.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)
- Kuretase evakuasi sisa hasil konsepsi pada kasus dengan konfirmasi retensi sisa plasenta yang menjadi fokus infeksi (komponen "Source identification and control" pada bundel FAST-M), dilakukan setelah antibiotik adekuat mulai diberikan.
- Debridement dan drainase bedah pada abses luka operasi atau abses pelvis yang tidak berespons terhadap antibiotik saja.
- Eksplorasi ulang laparotomi dipertimbangkan pada kecurigaan komplikasi intraabdomen berat (misalnya nekrosis fasia, dehisensi luka seksio dengan peritonitis) yang mengancam nyawa.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal
Rujukan atau konsultasi ke subspesialis Fetomaternal dipertimbangkan bila kondisi berada di luar kewenangan spesialis umum, meliputi kebutuhan penilaian "Transfer" pada bundel FAST-M dengan kriteria sebagai berikut:
- Tanda sepsis maternal dengan disfungsi organ akut yang memerlukan perawatan intensif.
- Kegagalan respons klinis terhadap antibiotik lini pertama dan kedua.
- Kecurigaan tromboflebitis pelvis septik atau abses pelvis kompleks yang memerlukan tata laksana multidisiplin.
- Komorbiditas berat yang mempersulit tata laksana (sepsis pada pasien dengan penyakit jantung, gangguan koagulasi, atau imunosupresi).
- Kebutuhan intervensi bedah kompleks di luar kompetensi fasilitas primer/sekunder.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
- Penjelasan mengenai tanda bahaya nifas (demam, lokia berbau, nyeri hebat, perdarahan berlebih) yang wajib segera dilaporkan kepada tenaga kesehatan.
- Pentingnya kepatuhan terhadap antibiotik sesuai dosis dan durasi yang diresepkan, termasuk penjelasan bahwa penghentian dini dapat menyebabkan kegagalan terapi.
- Perawatan luka operasi/perineum di rumah: kebersihan, tanda infeksi yang harus diwaspadai, dan jadwal kontrol luka.
- Dukungan terhadap kelanjutan menyusui bila kondisi ibu memungkinkan, disertai penjelasan keamanan obat yang diberikan terhadap laktasi.
- Edukasi keluarga mengenai peran pendampingan, termasuk deteksi dini perubahan kondisi ibu (perubahan kesadaran, sesak, demam tinggi persisten) sebagai tanda kegawatan yang memerlukan pertolongan segera — sejalan dengan prinsip "berpikir sepsis" (think sepsis) pada setiap ibu nifas yang tampak tidak sehat.
- Jadwal kunjungan nifas terstruktur (24 jam, hari ke-3, minggu ke-1–2, minggu ke-6 pascapersalinan) untuk pemantauan lanjutan.
9. Prognosis
Prognosis umumnya baik pada infeksi puerperium yang terdiagnosis dan ditata laksana dini dengan antibiotik adekuat, dengan sebagian besar kasus endometritis puerperalis tanpa komplikasi menunjukkan perbaikan klinis dalam 48–72 jam.
Prognosis memburuk pada keterlambatan diagnosis, progresi menjadi sepsis maternal dengan disfungsi organ, atau adanya fokus infeksi persisten (abses, tromboflebitis pelvis septik, retensi sisa hasil konsepsi) yang tidak tertangani. Secara global, sepsis dan infeksi peripartum tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian maternal yang dapat dicegah, dengan kontribusi diperkirakan sekitar 11% dari seluruh kematian maternal di dunia, dan lebih tinggi lagi pada populasi dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.
[DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI] untuk angka insidensi, angka kematian ibu terkait sepsis puerperal, dan tren morbiditas terkini yang spesifik untuk populasi Indonesia, karena data granular tingkat nasional belum tersedia pada sumber yang dapat diverifikasi langsung oleh penulis pada saat penyusunan dokumen ini.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
| Aspek Tata Laksana | Tingkat Evidens | Kekuatan Rekomendasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| Antibiotik kombinasi klindamisin-gentamisin sebagai lini pertama endometritis puerperalis | I (tinjauan sistematis Cochrane atas 40 uji klinis teracak, 4240 partisipan) | Kuat | Cochrane (Mackeen dkk., 2015) |
| Pemberian antibiotik empiris segera tanpa menunda untuk hasil kultur pada kecurigaan sepsis maternal; deteksi dini dan "golden hour" tata laksana sepsis | II (konsensus ahli internasional berbasis bukti observasional) | Kuat | WHO (2015); RCOG Green-top Guideline No. 64 (2024) |
| Penggunaan bundel terstruktur FAST-M untuk deteksi dan respons sepsis maternal | I–II (uji klinis kluster teracak multisenter, 59 rumah sakit, >430.000 persalinan) | Kuat | Lissauer dkk., BJOG 2020; NEJM 2025 (uji APT-Sepsis) |
| Kuretase evakuasi sisa hasil konsepsi setelah antibiotik adekuat pada retensi sisa plasenta terinfeksi | III (konsensus ahli/praktik klinis standar) | Sedang | ACOG Committee Opinion No. 712 (2017); Kepkonsil |
| Profilaksis antibiotik pre-insisi 30–60 menit sebelum seksio sesarea untuk mencegah infeksi pascabedah | I (tinjauan bukti FIGO atas studi multinegara) | Kuat | FIGO Committee on Infections During Pregnancy (Lazzaro dkk., 2025) |
11. Indikator Medis
- Proporsi kasus demam puerperal yang mendapat penilaian sistem peringatan dini maternal dalam 1 jam sejak kecurigaan klinis.
- Proporsi kasus dengan kultur darah/lokia diambil sebelum pemberian antibiotik pertama pada kecurigaan sepsis.
- Waktu dari kecurigaan klinis hingga pemberian dosis pertama antibiotik empiris (target: dalam 1 jam pada kecurigaan sepsis, sesuai prinsip golden hour tata laksana sepsis maternal).
- Proporsi kasus dengan perbaikan klinis (afebris, perbaikan parameter inflamasi) dalam 48–72 jam pascaantibiotik lini pertama.
- Proporsi kasus yang memerlukan eskalasi ke rujukan subspesialis Fetomaternal atau perawatan intensif.
- Kelengkapan pendokumentasian kelima komponen bundel FAST-M pada rekam medis kasus kecurigaan sepsis maternal.
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan klasifikasi diagnosis infeksi dan demam nifas berdasarkan ICD-10 O85/O86.4 dan ICD-11 JB40 dengan penekanan pada identifikasi dini risiko sepsis maternal; standar internasional memperkaya aspek operasional deteksi dan tata laksana sebagai berikut:
- WHO (WHO Recommendations for Prevention and Treatment of Maternal Peripartum Infections, 2015) menekankan penggunaan definisi sepsis maternal berbasis disfungsi organ akut terkait infeksi selama kehamilan, persalinan, pascaabortus, atau pascapersalinan, serta pemberian antibiotik empiris segera tanpa menunda terapi untuk menunggu konfirmasi laboratorium — sejalan dengan praktik nasional yang mengutamakan tata laksana dini berbasis kecurigaan klinis.
- ACOG (Committee Opinion No. 712, 2017, tentang tata laksana intrapartum infeksi intraamnion) merekomendasikan regimen antibiotik ampisilin-gentamisin dengan tambahan klindamisin atau metronidazol pascaseksio sesarea; regimen klindamisin-gentamisin diadopsi sebagai acuan lini pertama pada PPK ini dengan penyesuaian formularium dan pola resistensi lokal Indonesia.
- RCOG (Green-top Guideline No. 64 edisi kedua, diterbitkan Desember 2024, menggantikan pedoman terpisah No. 64a dan 64b tahun 2012) merekomendasikan pendekatan terintegrasi "Think Sepsis" dengan eskalasi cepat ke antibiotik spektrum luas dan keterlibatan dini tim spesialis infeksi/perawatan intensif; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional dalam hal alur rujukan berjenjang, dengan pengayaan pendekatan deteksi dini tersebut sebagai alat bantu klinis tambahan yang direkomendasikan.
- Cochrane Review (Mackeen dkk., 2015) atas 40 uji klinis teracak dengan 4240 partisipan mendukung superioritas kombinasi klindamisin-gentamisin dibandingkan regimen antibiotik lain untuk tata laksana endometritis puerperalis, memperkuat dasar bukti tingkat I pada rekomendasi Bagian 10 PPK ini.
- FIGO Committee on Infections During Pregnancy (Lazzaro dkk., 2025) menerbitkan kerangka pencegahan sepsis pascaseksio sesarea yang menekankan profilaksis antibiotik pre-insisi, preparasi antiseptik vagina dan kulit, serta praktik bedah aman (penggantian sarung tangan pascapelahiran plasenta) sebagai strategi pencegahan berbasis bukti; standar nasional mengadopsi prinsip pencegahan ini sebagai pelengkap protokol profilaksis bedah yang telah berlaku.
- Bundel FAST-M (dikembangkan melalui konsensus internasional yang melibatkan WHO Global Maternal and Neonatal Sepsis Initiative, dipublikasikan pertama kali oleh Lissauer dkk. pada BJOG 2020, dan divalidasi melalui uji klinis kluster teracak multisenter di Malawi dan Uganda yang dipublikasikan pada New England Journal of Medicine 2025) diperkenalkan pada PPK ini sebagai kerangka kerja tambahan yang dapat diadaptasikan pada konteks fasilitas layanan kesehatan Indonesia untuk memperkuat kecepatan dan kelengkapan respons terhadap kecurigaan sepsis maternal.
13. Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: KKI; 2026.
- World Health Organization. WHO Recommendations for Prevention and Treatment of Maternal Peripartum Infections. Geneva: World Health Organization; 2015. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549363
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Committee Opinion No. 712: Intrapartum Management of Intraamniotic Infection. Obstetrics & Gynecology. 2017;130(2):e95–e101. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2017/08/intrapartum-management-of-intraamniotic-infection
- Lissauer D, Morgan M, Banerjee A, Plaat F, Pasupathy D; Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Identification and Management of Maternal Sepsis During and Following Pregnancy (Green-top Guideline No. 64). BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology. 2025;132(4):e61–e85. https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/identification-and-management-of-maternal-sepsis-during-and-following-pregnancy-green-top-guideline-no-64/
- Mackeen AD, Packard RE, Ota E, Speer L. Antibiotic Regimens for Postpartum Endometritis. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2015;2015(2):CD001067. https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD001067.pub3/full
- Lazzaro A, Karandikar G, Martins ML, dkk., untuk FIGO Committee on Infections During Pregnancy. Reducing Post-Cesarean Sepsis: Current Best Practice in Prevention and Treatment. International Journal of Gynecology & Obstetrics. 2025;171(2):517–527. https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/ijgo.70500
- Lissauer D, Cheshire J, Dunlop C, dkk. Development of the FAST-M Maternal Sepsis Bundle for Use in Low-Resource Settings: A Modified Delphi Process. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology. 2020;127(3):416–423. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7384197/
- Lissauer D, dkk. A Multicomponent Intervention to Improve Maternal Infection Outcomes (Uji Klinis APT-Sepsis). The New England Journal of Medicine. 2025. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2512698
Glosarium
- Puerperium (Nifas)
- Periode sejak setelah kala III persalinan hingga 6 minggu (42 hari) pascapersalinan, ketika organ reproduksi pulih.
- Endometritis puerperalis
- Infeksi pada endometrium dan miometrium yang terjadi pada masa nifas, umumnya bersifat polimikrobial.
- Sepsis maternal
- Kondisi disfungsi organ akut yang mengancam nyawa akibat infeksi selama kehamilan, persalinan, pascaabortus, atau periode pascapersalinan.
- Sistem peringatan dini maternal (Maternal Early Obstetric Warning System)
- Alat penilaian klinis berbasis parameter tanda vital untuk mendeteksi perburukan kondisi ibu secara dini.
- Tromboflebitis pelvis septik
- Peradangan disertai trombosis pada vena pelvis akibat infeksi, salah satu penyebab demam persisten meskipun antibiotik adekuat.
- Lokia
- Cairan yang keluar dari uterus dan vagina pada masa nifas, terdiri atas darah, jaringan desidua, dan lendir.
- Bundel FAST-M
- Kerangka tata laksana sepsis maternal berbasis konsensus internasional yang terdiri atas lima komponen: Fluids (cairan), Antibiotics (antibiotik), Source identification and control (identifikasi dan kendali sumber infeksi), Transfer (rujukan bila diperlukan), dan Monitoring (pemantauan ibu dan bayi).
- Golden hour tata laksana sepsis
- Prinsip klinis yang menekankan pemberian antibiotik dan resusitasi awal dalam satu jam pertama sejak kecurigaan sepsis untuk menurunkan risiko kematian.
Kolofon
Perpustakaan Digital ABBA — Infeksi dan Demam saat Nifas (Puerperal Fever and Infection)
PPK No. 39 dari 73. Kode unit: PPK-039.
Disusun oleh: Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Diterbitkan di: Jl Kerinci Raya No 9 Malang 65138
Dasar hukum: Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 No. 39, Halaman 61