PPK No. 40 / 73 · Fetomaternal Panduan Praktik Klinis (Individu)
Panduan Praktik Klinis (PPK)

Masalah Menyusui

Breast-feeding Problem

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138 · Edisi Agustus 2026
Kode ICD-10
O92.7
Kode ICD-11
QA48.1 ; JB46
Kategori Dokumen
PPK No. 40 dari 73
Divisi Pengampu
Fetomaternal
Buku Tematik Induk
B5 — Persalinan, Nifas, dan Laktasi
Target Populasi
Ibu menyusui pada masa nifas dan bayi terkait
Edisi
Agustus 2026

1. Pengertian/Definisi

Dasar Regulasi

Kepkonsil Tabel 7 No. 40: "Masalah menyusui / Breast-feeding problem" — ICD-10 O92.7; ICD-11 QA48.1 ; JB46; Keterangan/Populasi Prioritas: gangguan laktasi, masa nifas.

PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Laktasi dan Masalah Menyusui pada Buku Tematik B5 — Persalinan, Nifas, dan Laktasi.

Masalah menyusui (breast-feeding problem) adalah gangguan pada proses laktasi dan/atau teknik menyusui yang timbul pada masa nifas (puerperium), mencakup antara lain pelekatan (attachment/latch) yang tidak optimal, bendungan payudara (engorgement), spektrum mastitis (mulai dari penyempitan duktus/ductal narrowing, mastitis inflamasi, hingga mastitis bakterial dan abses), nyeri atau luka pada puting, serta persepsi produksi Air Susu Ibu (ASI) yang dirasakan kurang (hipogalaktia) atau berlebih (hiperlaktasi). Kondisi ini memengaruhi kenyamanan dan kesehatan ibu maupun kecukupan asupan nutrisi bayi.

Secara patofisiologis, gangguan menyusui dapat bersifat fungsional-mekanis (masalah teknik menyusui dan pelekatan), inflamatorik-infeksius (spektrum mastitis, abses payudara), maupun persepsional (kekhawatiran ibu terhadap kecukupan produksi ASI tanpa tanda objektif hipogalaktia). Kerangka spektrum mastitis (mastitis spectrum) yang diperbarui oleh Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) menekankan bahwa penyempitan duktus akibat produksi ASI berlebih (hiperlaktasi) dan edema stroma merupakan titik awal suatu kontinum yang dapat berkembang menjadi mastitis inflamasi, mastitis bakterial, phlegmon, hingga abses apabila tidak ditata laksana secara tepat.

Diagnosis dan tata laksana yang tepat waktu penting untuk mendukung keberhasilan menyusui serta mencegah penyapihan dini yang tidak diinginkan (premature weaning). Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, proporsi bayi usia 0–5 bulan yang mendapat ASI eksklusif secara nasional tercatat 68,6%, dengan variasi antarprovinsi yang cukup lebar; capaian ini masih berada di bawah target nasional sehingga dukungan tata laksana masalah menyusui yang tepat memiliki relevansi kesehatan masyarakat yang bermakna.

2. Anamnesis

Anamnesis difokuskan pada riwayat persalinan, pola menyusui, keluhan lokal payudara, dan keluhan sistemik yang menyertai.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik mencakup status generalis ibu, pemeriksaan payudara terarah, serta observasi langsung proses menyusui bila memungkinkan.

4. Kriteria Diagnosis

Dasar Regulasi

Kepkonsil Tabel 7 No. 40 — ICD-10: O92.7 (Gangguan laktasi lain dan tidak spesifik); ICD-11: QA48.1 (Kesulitan berkaitan dengan menyusui) berdampingan dengan JB46 (Gangguan spesifik payudara atau laktasi terkait persalinan). Kode ICD-10 pada baris subkategori di bawah adalah kode granular yang WAJIB diverifikasi ulang oleh koder/DPJP terhadap tabel resmi ICD-10 WHO dan ICD-11 Coding Tool (icd.who.int) sebelum dicantumkan pada rekam medis, karena Kepkonsil hanya menetapkan kode induk pada tingkat entri diagnosis.

Diagnosis masalah menyusui bersifat klinis, ditegakkan berdasarkan kesesuaian anamnesis dan temuan pemeriksaan fisik. Sejak pembaruan kerangka spektrum mastitis oleh Academy of Breastfeeding Medicine (ABM Clinical Protocol #36, 2022), kondisi peradangan payudara terkait laktasi tidak lagi dipandang sebagai satu entitas tunggal, melainkan sebagai kontinum yang dimulai dari penyempitan duktus/hiperlaktasi, berlanjut ke mastitis inflamasi, mastitis bakterial, hingga phlegmon dan abses. PPK ini mengadaptasi kerangka tersebut untuk memandu penentuan diagnosis kerja.

SubkategoriKriteria Klinis KunciICD-10
Pelekatan/teknik menyusui tidak optimal, dengan atau tanpa nyeri/lecet putingNyeri saat menyusui, puting lecet atau retak, bayi rewel atau sulit mempertahankan pelekatan, tanpa tanda inflamasi payudara sistemikO92.1
Bendungan payudara fisiologis (engorgement)Payudara tegang, bengkak difus bilateral, nyeri ringan–sedang, umumnya hari ke-3 s.d. ke-5 pascasalin, tanpa demam tinggiO92.7
Hiperlaktasi / penyempitan duktus (awal spektrum mastitis)Produksi ASI berlebih, kebocoran ASI, area indurasi lokal tanpa eritema luas maupun gejala sistemikO92.6
Mastitis inflamasiArea kemerahan berbatas tegas berbentuk baji, nyeri lokal, tanpa atau dengan gejala sistemik ringan; belum tentu disertai infeksi bakteri aktifO91.2
Mastitis bakterialEritema meluas, nyeri hebat, demam ≥38,3°C, menggigil, nyeri seperti flu; tidak membaik dengan tata laksana suportif 12–24 jamO91.2
Phlegmon / abses payudara laktasiMassa fluktuatif nyeri tekan, tidak membaik dengan tata laksana mastitis standar 48–72 jam, dapat disertai demam menetapO91.1
Produksi ASI dipersepsikan kurang (perceived insufficient milk) / hipogalaktiaKekhawatiran subjektif ibu; hipogalaktia objektif ditandai penurunan berat badan bayi bermakna atau tanda dehidrasiO92.4
Catatan Verifikasi Kode

Kode ICD-10 pada baris subkategori merupakan pemetaan klinis granular untuk kepentingan pencatatan; kode induk yang tercantum resmi pada Tabel 7 Kepkonsil untuk entri diagnosis "Masalah menyusui" adalah ICD-10 O92.7 dan ICD-11 QA48.1 ; JB46. Galaktokel (kista retensi ASI akibat hiperlaktasi/penyempitan duktus yang tidak teratasi) termasuk dalam diagnosis banding pada bagian berikutnya, bukan diagnosis kerja utama PPK ini.

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja ditegakkan sesuai subkategori pada bagian Kriteria Diagnosis. Diagnosis banding perlu dipertimbangkan terutama pada kasus dengan demam atau massa payudara agar kondisi yang memerlukan tata laksana berbeda tidak terlewat.

6. Pemeriksaan Penunjang

Sebagian besar kasus masalah menyusui didiagnosis secara klinis tanpa pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan tambahan diindikasikan pada kondisi tertentu sebagai berikut.

7. Tata Laksana

Tata laksana bersifat bertahap sesuai posisi kondisi pada spektrum mastitis dan subkategori diagnosis lainnya, dengan prioritas utama pada koreksi teknik menyusui, pengaturan produksi ASI agar sesuai kebutuhan bayi (bukan pengosongan payudara agresif berlebihan), dan dukungan berkelanjutan terhadap ibu menyusui.

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Prinsip Keamanan Obat pada Laktasi

Pemilihan farmakoterapi pada ibu menyusui wajib mempertimbangkan kompatibilitas obat dengan laktasi dan keamanan bagi bayi; menyusui pada umumnya tidak perlu dihentikan pada spektrum mastitis, termasuk mastitis bakterial, karena pengosongan payudara yang wajar dan berkelanjutan justru mendukung penyembuhan, sementara pengosongan yang berlebihan dapat memperberat kondisi.

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fetomaternal

Rujukan ke subspesialis Fetomaternal atau layanan terkait dipertimbangkan pada kondisi di luar kewenangan spesialis umum atau memerlukan tata laksana lanjutan sebagai berikut.

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Prognosis masalah menyusui pada umumnya baik dengan tata laksana yang tepat dan tepat waktu. Bendungan payudara dan masalah pelekatan umumnya membaik dalam beberapa hari dengan koreksi teknik. Kondisi pada spektrum awal mastitis (hiperlaktasi, penyempitan duktus, mastitis inflamasi) pada sebagian besar kasus membaik dalam 48–72 jam dengan tata laksana suportif tanpa mengganggu kelanjutan menyusui. Mastitis bakterial yang ditata laksana adekuat, termasuk dengan antibiotik bila diindikasikan, umumnya sembuh sempurna tanpa komplikasi. Phlegmon dan abses payudara memiliki prognosis baik setelah drainase adekuat, meski dapat memperlambat proses menyusui pada payudara terkena sementara waktu. Keterlambatan penanganan atau tata laksana yang tidak adekuat — termasuk pengosongan payudara yang berlebihan pada fase inflamasi awal — berisiko memperpanjang perjalanan penyakit, menyebabkan penyapihan dini yang tidak diinginkan, penurunan kepercayaan diri ibu dalam menyusui, serta pada kasus mastitis bakterial dapat berkembang menjadi abses atau, jarang, sepsis puerperal.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Skala tingkat evidens dan derajat rekomendasi mengikuti format standar Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; skala ini bersifat metodologis umum dan bukan merupakan bagian dari Kepkonsil.

Aspek Tata LaksanaTingkat EvidensDerajat Rekomendasi
Koreksi pelekatan dan teknik menyusui sebagai lini pertamaIIB
Menyusui/pengosongan payudara sesuai kebutuhan (bukan berlebihan) dan dilanjutkan pada spektrum mastitisIIB
Kompres dingin dan hindari pijatan kuat pada area inflamasi mastitisIIIC
Berbagai intervensi untuk bendungan payudara (kompres, daun kubis, pijat) — bukti masih terbatas dan tidak konsistenIIC
Antibiotik pada mastitis bakterial tidak respons tata laksana suportif — bukti kualitas tinggi masih terbatasIIC
Aspirasi jarum dengan panduan ultrasonografi pada phlegmon/abses payudara laktasi ukuran kecil–sedangIIB
Galaktogog untuk produksi ASI kurang yang terkonfirmasi objektif, sebagai lini lanjutanIIIC

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan "Masalah menyusui" sebagai satu entri kompetensi tunggal (Tabel 7 No. 40, ICD-10 O92.7; ICD-11 QA48.1 ; JB46) yang mencakup spektrum gangguan laktasi pada masa nifas tanpa merinci subklasifikasi bertingkat; standar internasional dari Academy of Breastfeeding Medicine (ABM Clinical Protocol #36: The Mastitis Spectrum, Revised 2022) merekomendasikan pendekatan bertingkat yang membedakan secara eksplisit penyempitan duktus/hiperlaktasi, mastitis inflamasi, mastitis bakterial, phlegmon, dan abses, termasuk perubahan pendekatan non-farmakologis dari kompres hangat dan pijatan kuat menjadi kompres dingin dan pengosongan payudara yang tidak berlebihan; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional dengan tetap memanfaatkan kerangka internasional tersebut sebagai pengayaan teknis tata laksana.

World Health Organization (WHO), dalam WHO Recommendations on Maternal and Newborn Care for a Positive Postnatal Experience (2022), menekankan pentingnya dukungan menyusui aktif oleh tenaga kesehatan pada setiap kontak pascasalin, termasuk penilaian pelekatan dan posisi menyusui sebagai bagian rutin pemeriksaan nifas, sejalan dengan pendekatan non-farmakologis lini pertama pada PPK ini.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), dalam Committee Opinion No. 820 "Breastfeeding Challenges" (2021), menegaskan bahwa dokter kandungan dan tenaga obstetri wajib memiliki kompetensi menata laksana bendungan payudara, mastitis, persepsi kekurangan ASI, nyeri, dan massa payudara terkait laktasi sebagai bagian rutin praktik obstetri, sejalan dengan cakupan diagnosis banding dan kriteria rujukan pada PPK ini.

Tinjauan sistematis Cochrane oleh Zakarija-Grkovic dan Stewart (2020) mengenai tata laksana bendungan payudara menyimpulkan bahwa bukti untuk sebagian besar intervensi non-farmakologis (kompres, daun kubis, pijat) masih terbatas dan tidak konsisten, sehingga PPK ini menempatkan rekomendasi terkait pada derajat C; sementara tinjauan Cochrane oleh Jahanfar dkk. (2013) mengenai antibiotik pada mastitis mencatat keterbatasan bukti kualitas tinggi untuk superioritas satu rejimen antibiotik, memperkuat pentingnya penilaian klinis individual dan kebijakan resistensi antimikroba lokal dalam pemilihan terapi.

Perbedaan utama yang perlu dicermati adalah pergeseran paradigma tata laksana fisik mastitis: sejumlah pedoman lama menganjurkan kompres hangat dan pemijatan kuat/pengosongan agresif, sedangkan kerangka ABM 2022 merekomendasikan kompres dingin dan pembatasan pengosongan berlebihan untuk mengurangi edema stroma; PPK ini mengadopsi pendekatan yang diperbarui tersebut sebagai standar tata laksana non-farmakologis.

13. Kepustakaan

  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Tabel 7 No. 40.
  2. World Health Organization. WHO Recommendations on Maternal and Newborn Care for a Positive Postnatal Experience. Geneva: WHO; 2022.
    https://www.who.int/publications/i/item/9789240045989
  3. American College of Obstetricians and Gynecologists. Breastfeeding Challenges: ACOG Committee Opinion No. 820. Obstet Gynecol. 2021;137:e42–e53.
    https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2021/02/breastfeeding-challenges
  4. Mitchell KB, Johnson HM, Rodríguez JM, et al.; Academy of Breastfeeding Medicine. ABM Clinical Protocol #36: The Mastitis Spectrum, Revised 2022. Breastfeed Med. 2022;17(5):360–376.
    https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35576513/
  5. Zakarija-Grkovic I, Stewart F. Treatments for Breast Engorgement during Lactation. Cochrane Database Syst Rev. 2020;9(9):CD006946.
    https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD006946.pub4/full
  6. Jahanfar S, Ng CJ, Teng CL. Antibiotics for Mastitis in Breastfeeding Women. Cochrane Database Syst Rev. 2013;(2):CD005458.
    https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD005458.pub3/full
  7. International Confederation of Midwives. Essential Competencies for Midwifery Practice (pembaruan 2024).
    https://internationalmidwives.org/resources/essential-competencies-for-midwifery-practice/
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023: Hasil Utama.
    https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/daftar-frequently-asked-question-seputar-hasil-utama-ski-2023/hasil-utama-ski-2023/

14. Glosarium

ASI (Air Susu Ibu)
Cairan yang disekresikan oleh kelenjar payudara ibu sebagai sumber nutrisi utama bagi bayi.
ASI eksklusif
Pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman lain, kecuali obat-obatan atau vitamin/mineral tetes.
Ankyloglossia (tongue-tie)
Kondisi frenulum lidah bayi yang pendek atau ketat sehingga membatasi pergerakan lidah dan dapat mengganggu pelekatan menyusui.
Bendungan payudara (breast engorgement)
Pembengkakan payudara akibat penumpukan ASI, darah, dan cairan limfe, umumnya terjadi hari ke-3 hingga ke-5 pascasalin.
Galaktogog
Zat atau obat yang digunakan untuk membantu memulai, mempertahankan, atau meningkatkan produksi ASI.
Galaktokel
Kista jinak pada payudara berisi ASI yang terperangkap akibat sumbatan duktus laktiferus.
Hiperlaktasi (hyperlactation)
Produksi ASI yang melebihi kebutuhan bayi, dapat menyebabkan kebocoran ASI dan menjadi titik awal spektrum mastitis.
Hipogalaktia
Produksi ASI yang secara objektif tidak mencukupi kebutuhan bayi, dibuktikan antara lain dengan tren penurunan berat badan bayi.
Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Praktik meletakkan bayi baru lahir di dada ibu segera setelah lahir untuk memulai proses menyusui secara alami.
Laktasi
Proses produksi dan pengeluaran ASI oleh kelenjar payudara.
Mastitis
Peradangan pada jaringan payudara yang dapat bersifat inflamasi non-infeksius maupun bakterial (infeksius), merupakan bagian dari spektrum mastitis.
Pelekatan (latch/attachment)
Cara mulut bayi menempel pada payudara ibu saat menyusui; pelekatan yang baik penting untuk transfer ASI yang efektif dan mencegah nyeri puting.
Phlegmon
Peradangan jaringan lunak difus tanpa pengumpulan nanah yang jelas, merupakan tahap lanjut pada spektrum mastitis sebelum terbentuknya abses.
Puerperium (masa nifas)
Periode enam minggu setelah persalinan saat organ reproduksi ibu kembali ke kondisi sebelum hamil.
Reverse pressure softening
Teknik memberikan tekanan lembut pada areola sebelum menyusui untuk melunakkan jaringan dan memudahkan pelekatan pada payudara yang bendungan.