Panduan Praktik Klinis

Vaginitis (Vaginitis)

N76.0 / GA02
Kode Unit
PPK-042
Kategori
PPK No. 42 dari 73
Nama Penyakit (Id)
Vaginitis
Disease (En)
Vaginitis
ICD-10
N76.0
ICD-11
GA02
Keterangan/Populasi
Inflamasi vagina
Buku Tematik Induk
B6 — Ginekologi Umum dan Infeksi Saluran Reproduksi
Divisi Pengampu
Obstetri Ginekologi Sosial
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Penerbit: Perpustakaan Digital ABBA
Alamat: Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138
Edisi Agustus 2026

1. Pengertian/Definisi

Dasar Regulasi

Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 (Daftar Penyakit Area Kompetensi), baris No. 42: Nama Penyakit (Id) “Vaginitis”, Disease (En) “Vaginitis”, ICD-10 N76.0, ICD-11 GA02, Keterangan/Populasi “Inflamasi vagina”. Definisi operasional istilah pada lampiran Kepkonsil (hlm. 516): peradangan vagina ditandai keputihan, gatal, nyeri, atau dispareunia, dengan penyebab umum vaginosis bakterialis, kandidiasis, dan trikomoniasis.

PPK ini merupakan turunan operasional dari bab infeksi saluran reproduksi bawah dan duh vagina pada Buku Tematik B6 — Ginekologi Umum dan Infeksi Saluran Reproduksi.

Vaginitis (vaginitis) adalah peradangan pada mukosa vagina yang secara klinis ditandai oleh keputihan (vaginal discharge) yang berubah dari kondisi fisiologis, rasa gatal atau iritasi (pruritus), nyeri, dan/atau nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia). Sesuai Kepkonsil Tabel 7 No. 42, entri ini tercatat dengan kode ICD-10 N76.0 dan ICD-11 GA02.

1.1 Klasifikasi dan Etiologi

Tiga penyebab tersering vaginitis adalah vaginosis bakterialis (bacterial vaginosis), yaitu disbiosis mikrobiota vagina berupa penurunan populasi Lactobacillus dan peningkatan bakteri anaerob; kandidiasis vulvovaginal (vulvovaginal candidiasis), yaitu pertumbuhan berlebih jamur Candida spp., terutama Candida albicans; dan trikomoniasis (trichomoniasis), yaitu infeksi protozoa Trichomonas vaginalis yang tergolong infeksi menular seksual (IMS). Vaginosis bakterialis dan kandidiasis vulvovaginal secara konvensional tidak digolongkan sebagai IMS, meskipun keduanya dapat berkaitan dengan aktivitas seksual.

Pada populasi dengan hipoestrogenisme — pascamenopause, pascasalin dengan laktasi eksklusif, atau pascaooforektomi — dapat pula dijumpai vaginitis atrofik (atrophic vaginitis) yang bersifat non-infeksius akibat penipisan dan kekeringan mukosa vagina. Penyebab lain yang lebih jarang meliputi vaginitis inflamatorik deskuamativa dan vaginitis iritan/alergi akibat bahan kimia lokal.

1.2 Epidemiologi dan Beban Penyakit

Vaginosis bakterialis merupakan penyebab keputihan tersering pada perempuan usia reproduksi di tingkat global. Menurut tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru yang dirujuk WHO, prevalensi vaginosis bakterialis pada perempuan usia reproduksi berkisar 23–29% dan bervariasi antarwilayah serta kelompok populasi. Untuk trikomoniasis, WHO memperkirakan sekitar 156,3 juta kasus baru Trichomonas vaginalis terjadi secara global pada kelompok usia 15–49 tahun sepanjang tahun 2020. Kandidiasis vulvovaginal diperkirakan dialami oleh sebagian besar perempuan setidaknya sekali seumur hidup, dengan sebagian kecil mengalami bentuk rekuren (≥4 episode per tahun). Data epidemiologi spesifik Indonesia belum tercantum eksplisit pada Kepkonsil [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — Kemenkes, BKKBN, POGI, atau WHO].

2. Anamnesis

Anamnesis terarah bertujuan membedakan etiologi vaginitis serta menyingkirkan diagnosis banding yang memerlukan tata laksana berbeda.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik difokuskan pada status generalis singkat serta pemeriksaan ginekologis dengan spekulum untuk menilai karakteristik duh dan mukosa vagina secara langsung.

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis vaginitis ditegakkan berdasarkan kombinasi anamnesis, temuan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang sederhana di tempat (point-of-care), dengan kode ICD-10 N76.0 dan ICD-11 GA02 sesuai Kepkonsil Tabel 7 No. 42 yang telah diverifikasi ulang terhadap dokumen sumber. Kode etiologi spesifik dapat ditambahkan setelah konfirmasi penyebab, misalnya B37.3 (kandidiasis vulva dan vagina) atau A59.0 (trikomoniasis urogenital) pada ICD-10.

Tabel 1. Perbandingan Karakteristik Tiga Penyebab Vaginitis Tersering
KarakteristikVaginosis BakterialisKandidiasis VulvovaginalTrikomoniasis
Duh vaginaHomogen, tipis, keabuanKental, putih, seperti keju (cottage-cheese)Kuning-kehijauan, berbusa
BauAmis (fishy odor)Tidak khasDapat berbau tidak sedap
pH vagina> 4,5≤ 4,5> 4,5 (umumnya 5–6)
Whiff testPositifNegatifDapat positif
MikroskopikClue cellsHifa/pseudohifa (KOH 10%)Trikomonad motil (salin)
Gejala gatalJarang menonjolMenonjolDapat dijumpai

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Vaginitis (N76.0 / GA02) dengan etiologi sesuai temuan pemeriksaan penunjang.

6. Pemeriksaan Penunjang

7. Tata Laksana

Tata laksana disesuaikan dengan etiologi terkonfirmasi. Terapi empiris tanpa konfirmasi etiologi hanya dipertimbangkan bila akses pemeriksaan penunjang terbatas, dengan evaluasi ulang bila gejala menetap.

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Regimen berikut disusun mengacu pada rekomendasi terkini WHO (2024) dan ACOG Practice Bulletin No. 215 untuk masing-masing etiologi; penyesuaian dosis pada kehamilan dan laktasi mengikuti rekomendasi masing-masing regimen serta kondisi klinis pasien.

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)

Tindakan bedah/prosedural umumnya tidak diperlukan pada vaginitis tanpa komplikasi. Evaluasi lanjut dengan kolposkopi dan/atau biopsi dipertimbangkan bila dijumpai lesi yang mencurigakan keganasan, ulserasi atipikal, atau tidak ada perbaikan setelah terapi standar yang adekuat.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Prognosis vaginitis pada umumnya baik apabila etiologi teridentifikasi dan terapi diberikan secara adekuat. Ad vitam: bonam. Ad functionam: bonam. Ad sanationam: bonam pada kasus tunggal dengan etiologi jelas, dubia ad bonam pada kasus rekuren yang memerlukan evaluasi faktor predisposisi (metabolik, perilaku, atau hormonal) secara menyeluruh.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Tingkat evidens berikut mengikuti pendekatan GRADE (Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation) sebagaimana digunakan pada pedoman WHO 2024.

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan vaginitis sebagai satu entri kompetensi (Tabel 7 No. 42, N76.0/GA02) yang ditata laksana berdasarkan etiologi terkonfirmasi di tingkat pelayanan spesialis.

12.1 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ACOG

WHO, dalam Recommendations for the Treatment of Trichomonas Vaginalis, Mycoplasma Genitalium, Candida Albicans, Bacterial Vaginosis and Human Papillomavirus (Anogenital Warts) (2024), merekomendasikan metronidazol oral 400–500 mg dua kali sehari selama 7 hari sebagai lini pertama vaginosis bakterialis maupun trikomoniasis, sejalan dengan regimen pada Bagian 7.2. Untuk fasilitas dengan keterbatasan akses laboratorium, pedoman WHO sebelumnya (Guidelines for the Management of Symptomatic Sexually Transmitted Infections, 2021) tetap merekomendasikan pendekatan tata laksana sindromik duh vagina — terapi empiris berbasis kelompok gejala tanpa menunggu konfirmasi mikrobiologis. Praktik di Indonesia pada tingkat layanan spesialis mengikuti standar nasional yang mengutamakan konfirmasi etiologi melalui pemeriksaan penunjang sederhana sebelum terapi definitif, dengan pendekatan sindromik disediakan sebagai opsi pada keterbatasan fasilitas — sehingga terdapat perbedaan penekanan (bukan pertentangan) antara standar nasional dan rekomendasi WHO untuk konteks sumber daya terbatas. ACOG Practice Bulletin No. 215 (2020) tentang Vaginitis in Nonpregnant Patients memberikan regimen farmakologis yang secara substansial sejalan dengan WHO 2024 dan Bagian 7.2 di atas.

12.2 Bukti Terkini Terapi Pasangan pada Vaginosis Bakterialis Rekuren

Tinjauan sistematis Cochrane oleh Amaya-Guio dkk. (2016) mengenai terapi antibiotik untuk pasangan seksual perempuan dengan vaginosis bakterialis pada saat itu tidak menemukan bukti manfaat yang konsisten dari terapi pasangan rutin terhadap penurunan angka rekurensi, sehingga panduan seperti ACOG Practice Bulletin No. 215 (2020) tidak merekomendasikan terapi pasangan secara rutin.

Bukti ini diperbarui secara bermakna oleh uji klinis teracak multisenter StepUp (Vodstrcil dkk., New England Journal of Medicine, 2025), yang menunjukkan bahwa terapi bersamaan pada pasangan pria — kombinasi metronidazol oral dan klindamisin krim topikal — menurunkan angka rekurensi vaginosis bakterialis dalam 12 minggu secara bermakna dibandingkan tata laksana standar (perempuan saja). Berdasarkan temuan ini, ACOG menerbitkan Clinical Practice Update berjudul Concurrent Sexual Partner Therapy to Prevent Bacterial Vaginosis Recurrence (2025) yang merekomendasikan pertimbangan terapi pasangan pria bersamaan pada pasien dewasa dengan vaginosis bakterialis simtomatik rekuren, serta pengambilan keputusan bersama (shared decision making) untuk pasien dengan pasangan sesama jenis atau pada episode pertama.

Kepkonsil Tabel 7 No. 42 belum secara eksplisit mengatur terapi pasangan pada vaginosis bakterialis rekuren; oleh karena itu, praktik di Indonesia pada saat penyusunan PPK ini mengikuti tata laksana etiologis standar pada pasien (Bagian 7.2), dengan pertimbangan terapi pasangan pria bersamaan pada kasus rekuren simtomatik sebagai opsi berbasis bukti terkini yang dapat diterapkan sesuai penilaian klinis dan ketersediaan sumber daya, bukan sebagai keharusan rutin.

13. Kepustakaan

Kontribusi Divisi Pengampu

Divisi: Obstetri Ginekologi Sosial

A. Deskripsi

Vaginitis rekuren atau berulang sering berkaitan dengan faktor sosial-perilaku — akses layanan kesehatan, literasi kesehatan reproduksi, pola perilaku seksual, serta kondisi psikososial pasien — sehingga perspektif Obstetri Ginekologi Sosial relevan untuk melengkapi tata laksana biomedis murni, khususnya pada kasus yang tidak membaik dengan terapi farmakologis standar.

B. Pendekatan Sosial-Perilaku pada Vaginitis Rekuren

Evaluasi vaginitis rekuren perlu melampaui identifikasi etiologi mikrobiologis semata. Kerangka analisis sosial-perilaku menilai tiga domain: (1) determinan perilaku — pola douching, pemilihan produk higiene, dan perilaku seksual berisiko; (2) determinan akses — keterjangkauan fasilitas layanan, kemampuan menyelesaikan regimen terapi penuh, dan keterlibatan pasangan dalam terapi; serta (3) determinan psikososial — stigma terkait keluhan area genital yang dapat menunda pencarian layanan, serta kemungkinan kaitan dengan relasi kekerasan atau ketimpangan kuasa dalam hubungan. Pendekatan konseling terstruktur pada domain ini terbukti membantu menurunkan angka rekurensi pada kasus yang sebelumnya dianggap refrakter secara farmakologis.

C. Ilustrasi Kasus Lapangan

Seorang perempuan 29 tahun datang untuk keempat kalinya dalam setahun dengan keluhan keputihan dan gatal berulang, telah menyelesaikan terapi metronidazol dan flukonazol standar tiap episode tanpa perbaikan menetap. Anamnesis mendalam oleh tim Obstetri Ginekologi Sosial mengungkap kebiasaan douching rutin pascahubungan seksual serta keengganan mendiskusikan penggunaan kondom dengan pasangan. Setelah konseling perilaku terstruktur mengenai penghentian douching, edukasi komunikasi dengan pasangan, dan pemeriksaan gula darah yang menyingkirkan diabetes melitus, pasien tidak mengalami kekambuhan pada evaluasi 6 bulan berikutnya.

Glosarium

Vaginitis
Peradangan pada mukosa vagina yang ditandai keputihan, gatal, nyeri, atau dispareunia.
Vaginosis Bakterialis (Bacterial Vaginosis)
Disbiosis mikrobiota vagina berupa penurunan Lactobacillus dan peningkatan bakteri anaerob, ditandai duh homogen berbau amis.
Kandidiasis Vulvovaginal (Vulvovaginal Candidiasis)
Infeksi jamur pada vulva dan vagina, terutama disebabkan Candida albicans, dengan duh kental menyerupai keju dan gatal menonjol.
Trikomoniasis (Trichomoniasis)
Infeksi menular seksual akibat protozoa Trichomonas vaginalis, ditandai duh berbusa kekuningan-kehijauan.
Vaginitis Atrofik (Atrophic Vaginitis)
Peradangan/penipisan mukosa vagina non-infeksius akibat defisiensi estrogen, umum pada masa pascamenopause.
Dispareunia (Dyspareunia)
Nyeri yang dirasakan saat atau setelah hubungan seksual.
Kriteria Amsel
Seperangkat empat kriteria klinis untuk diagnosis vaginosis bakterialis; diagnosis ditegakkan bila ≥3 dari 4 kriteria terpenuhi.
Whiff Test (Uji Amin)
Pemeriksaan yang menilai timbulnya bau amis setelah penambahan larutan kalium hidroksida (KOH) 10% pada sediaan duh vagina.
Clue Cells
Sel epitel vagina yang permukaannya diselimuti bakteri sehingga batas selnya kabur, khas pada vaginosis bakterialis.
NAAT (Nucleic Acid Amplification Test)
Metode pemeriksaan molekuler berbasis amplifikasi asam nukleat untuk mendeteksi patogen dengan sensitivitas tinggi.
Tata Laksana Sindromik (Syndromic Management)
Pendekatan terapi empiris berdasarkan kumpulan gejala klinis tanpa menunggu hasil pemeriksaan penunjang, umum digunakan pada fasilitas dengan akses laboratorium terbatas.
Terapi Pasangan Bersamaan (Concurrent Partner Therapy)
Pemberian terapi kepada pasangan seksual secara bersamaan dengan pasien indeks untuk mencegah reinfeksi atau rekurensi.
GRADE (Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation)
Sistem penilaian kepastian bukti dan kekuatan rekomendasi yang digunakan secara luas dalam pedoman praktik klinis, termasuk oleh WHO.