Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 (Daftar Penyakit Area Kompetensi), baris No. 42: Nama Penyakit (Id) “Vaginitis”, Disease (En) “Vaginitis”, ICD-10 N76.0, ICD-11 GA02, Keterangan/Populasi “Inflamasi vagina”. Definisi operasional istilah pada lampiran Kepkonsil (hlm. 516): peradangan vagina ditandai keputihan, gatal, nyeri, atau dispareunia, dengan penyebab umum vaginosis bakterialis, kandidiasis, dan trikomoniasis.
PPK ini merupakan turunan operasional dari bab infeksi saluran reproduksi bawah dan duh vagina pada Buku Tematik B6 — Ginekologi Umum dan Infeksi Saluran Reproduksi.
Vaginitis (vaginitis) adalah peradangan pada mukosa vagina yang secara klinis ditandai oleh keputihan (vaginal discharge) yang berubah dari kondisi fisiologis, rasa gatal atau iritasi (pruritus), nyeri, dan/atau nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia). Sesuai Kepkonsil Tabel 7 No. 42, entri ini tercatat dengan kode ICD-10 N76.0 dan ICD-11 GA02.
1.1 Klasifikasi dan Etiologi
Tiga penyebab tersering vaginitis adalah vaginosis bakterialis (bacterial vaginosis), yaitu disbiosis mikrobiota vagina berupa penurunan populasi Lactobacillus dan peningkatan bakteri anaerob; kandidiasis vulvovaginal (vulvovaginal candidiasis), yaitu pertumbuhan berlebih jamur Candida spp., terutama Candida albicans; dan trikomoniasis (trichomoniasis), yaitu infeksi protozoa Trichomonas vaginalis yang tergolong infeksi menular seksual (IMS). Vaginosis bakterialis dan kandidiasis vulvovaginal secara konvensional tidak digolongkan sebagai IMS, meskipun keduanya dapat berkaitan dengan aktivitas seksual.
Pada populasi dengan hipoestrogenisme — pascamenopause, pascasalin dengan laktasi eksklusif, atau pascaooforektomi — dapat pula dijumpai vaginitis atrofik (atrophic vaginitis) yang bersifat non-infeksius akibat penipisan dan kekeringan mukosa vagina. Penyebab lain yang lebih jarang meliputi vaginitis inflamatorik deskuamativa dan vaginitis iritan/alergi akibat bahan kimia lokal.
1.2 Epidemiologi dan Beban Penyakit
Vaginosis bakterialis merupakan penyebab keputihan tersering pada perempuan usia reproduksi di tingkat global. Menurut tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru yang dirujuk WHO, prevalensi vaginosis bakterialis pada perempuan usia reproduksi berkisar 23–29% dan bervariasi antarwilayah serta kelompok populasi. Untuk trikomoniasis, WHO memperkirakan sekitar 156,3 juta kasus baru Trichomonas vaginalis terjadi secara global pada kelompok usia 15–49 tahun sepanjang tahun 2020. Kandidiasis vulvovaginal diperkirakan dialami oleh sebagian besar perempuan setidaknya sekali seumur hidup, dengan sebagian kecil mengalami bentuk rekuren (≥4 episode per tahun). Data epidemiologi spesifik Indonesia belum tercantum eksplisit pada Kepkonsil [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — Kemenkes, BKKBN, POGI, atau WHO].
2. Anamnesis
Anamnesis terarah bertujuan membedakan etiologi vaginitis serta menyingkirkan diagnosis banding yang memerlukan tata laksana berbeda.
Karakteristik duh vagina: jumlah, warna, konsistensi (homogen, kental seperti keju/cottage-cheese, atau berbusa), dan ada tidaknya bau amis (fishy odor).
Rasa gatal, panas, atau iritasi pada vulva dan vagina.
Nyeri saat berkemih (disuria eksterna bila urin mengenai mukosa yang teriritasi) dan dispareunia.
Onset, durasi, sifat berulang (recurrent), serta hubungan dengan siklus haid.
Riwayat aktivitas seksual, jumlah/penggantian pasangan, dan penggunaan kondom.
Riwayat douching, penggunaan sabun/pewangi vagina, deterjen, atau produk higiene intim lain.
Riwayat pemakaian antibiotik spektrum luas terbaru, kontrasepsi hormonal, dan status kehamilan.
Riwayat diabetes melitus, kondisi imunosupresi, atau terapi kortikosteroid jangka panjang.
Status menopause dan riwayat terapi hormon.
Riwayat infeksi menular seksual sebelumnya, pada diri sendiri maupun pasangan.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik difokuskan pada status generalis singkat serta pemeriksaan ginekologis dengan spekulum untuk menilai karakteristik duh dan mukosa vagina secara langsung.
Inspeksi vulva: eritema, edema, ekskoriasi akibat garukan, atau fisura.
Pemeriksaan spekulum: warna dan konsistensi duh vagina, ada tidaknya bau amis, tanda inflamasi dinding vagina, serta gambaran serviks (strawberry cervix dapat dijumpai pada trikomoniasis).
Pengukuran pH vagina menggunakan kertas indikator pH pada dinding lateral vagina, dijauhkan dari mukus serviks.
Palpasi bimanual untuk menilai nyeri tekan serviks/adneksa guna menyingkirkan penyakit radang panggul.
4. Kriteria Diagnosis
Diagnosis vaginitis ditegakkan berdasarkan kombinasi anamnesis, temuan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang sederhana di tempat (point-of-care), dengan kode ICD-10 N76.0 dan ICD-11 GA02 sesuai Kepkonsil Tabel 7 No. 42 yang telah diverifikasi ulang terhadap dokumen sumber. Kode etiologi spesifik dapat ditambahkan setelah konfirmasi penyebab, misalnya B37.3 (kandidiasis vulva dan vagina) atau A59.0 (trikomoniasis urogenital) pada ICD-10.
Vaginosis bakterialis: kriteria Amsel, ditegakkan bila memenuhi ≥3 dari 4 tanda berikut — duh homogen tipis keabuan, pH vagina >4,5, whiff test (uji amin) positif, dan clue cells ≥20% lapang pandang mikroskopik.
Kandidiasis vulvovaginal: gejala klinis khas disertai hifa/pseudohifa pada sediaan basah KOH 10%, atau kultur jamur positif pada kasus meragukan/rekuren.
Trikomoniasis: ditemukan Trichomonas vaginalis motil pada sediaan basah salin (sensitivitas terbatas), atau hasil positif NAAT/tes antigen cepat bila tersedia.
Vaginitis atrofik: gejala klinis pada konteks hipoestrogenisme, pH vagina meningkat (>5), tanpa bukti infeksi pada mikroskopik.
Tabel 1. Perbandingan Karakteristik Tiga Penyebab Vaginitis Tersering
Karakteristik
Vaginosis Bakterialis
Kandidiasis Vulvovaginal
Trikomoniasis
Duh vagina
Homogen, tipis, keabuan
Kental, putih, seperti keju (cottage-cheese)
Kuning-kehijauan, berbusa
Bau
Amis (fishy odor)
Tidak khas
Dapat berbau tidak sedap
pH vagina
> 4,5
≤ 4,5
> 4,5 (umumnya 5–6)
Whiff test
Positif
Negatif
Dapat positif
Mikroskopik
Clue cells
Hifa/pseudohifa (KOH 10%)
Trikomonad motil (salin)
Gejala gatal
Jarang menonjol
Menonjol
Dapat dijumpai
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja: Vaginitis (N76.0 / GA02) dengan etiologi sesuai temuan pemeriksaan penunjang.
Servisitis (N72 / GA04).
Penyakit radang panggul tanpa komplikasi (N73.9 / GA05.0).
Vaginitis inflamatorik deskuamativa (desquamative inflammatory vaginitis) pada kasus refrakter tanpa etiologi infeksi jelas.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pengukuran pH vagina dengan kertas indikator.
Mikroskopik sediaan basah (saline wet mount) untuk clue cells, trikomonad motil, dan sel leukosit.
Sediaan KOH 10% untuk hifa/pseudohifa serta whiff test (uji amin).
Kultur jamur pada kandidiasis rekuren atau tidak respons terapi empiris.
NAAT (nucleic acid amplification test) untuk Trichomonas vaginalis, Chlamydia trachomatis, dan Neisseria gonorrhoeae bila dicurigai IMS penyerta.
Pemeriksaan gula darah puasa/HbA1c pada kandidiasis vulvovaginal rekuren untuk skrining diabetes melitus.
Sitologi serviks dan pemeriksaan IMS lain sesuai jadwal skrining bila indikasi terpenuhi.
7. Tata Laksana
Tata laksana disesuaikan dengan etiologi terkonfirmasi. Terapi empiris tanpa konfirmasi etiologi hanya dipertimbangkan bila akses pemeriksaan penunjang terbatas, dengan evaluasi ulang bila gejala menetap.
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
Edukasi higiene vulva: menghindari douching serta sabun/pewangi vagina.
Anjuran pakaian dalam berbahan katun dan menghindari kelembapan berlebih pada area genital.
Menghindari iritan lokal (deterjen wangi, produk kewanitaan beraroma).
Anjuran abstinensia seksual hingga terapi selesai dan gejala hilang, khususnya pada trikomoniasis.
Konseling dan penawaran pemeriksaan/terapi pasangan seksual pada kasus trikomoniasis.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
Regimen berikut disusun mengacu pada rekomendasi terkini WHO (2024) dan ACOG Practice Bulletin No. 215 untuk masing-masing etiologi; penyesuaian dosis pada kehamilan dan laktasi mengikuti rekomendasi masing-masing regimen serta kondisi klinis pasien.
Vaginosis bakterialis — lini pertama: metronidazol oral 400–500 mg dua kali sehari selama 7 hari. Alternatif setara: metronidazol gel intravaginal 0,75% sekali sehari selama 5 hari, klindamisin krim intravaginal 2% sekali sehari selama 7 hari, klindamisin oral 300 mg dua kali sehari selama 7 hari, tinidazol oral 2 g dosis tunggal, atau secnidazol oral 2 g dosis tunggal (granul oral).
Kandidiasis vulvovaginal tanpa komplikasi: flukonazol oral 150 mg dosis tunggal, atau azol topikal intravaginal (klotrimazol/mikonazol) sesuai sediaan selama 1–7 hari.
Kandidiasis vulvovaginal rekuren (≥4 episode per tahun): terapi induksi (topikal 7–14 hari atau flukonazol oral 150 mg setiap 72 jam sebanyak 2–3 dosis) dilanjutkan terapi rumatan flukonazol oral 150 mg sekali seminggu selama 6 bulan, disertai evaluasi faktor predisposisi seperti diabetes melitus tak terkontrol.
Trikomoniasis — lini pertama: metronidazol oral 400–500 mg dua kali sehari selama 7 hari, karena regimen multidosis terbukti menurunkan kegagalan terapi dibandingkan dosis tunggal pada perempuan. Dosis tunggal metronidazol atau tinidazol 2 g per oral dapat dipertimbangkan sebagai alternatif bila kepatuhan terhadap regimen multidosis menjadi kendala utama. Terapi pasangan seksual dilakukan bersamaan pada seluruh kasus.
Vaginitis atrofik: estrogen vagina topikal dosis rendah (krim, tablet, atau cincin vagina); pelumas/pelembap non-hormonal sebagai alternatif atau terapi tambahan bila estrogen dikontraindikasikan.
Vaginosis bakterialis rekuren simtomatik (umumnya ≥3 episode dalam 12 bulan) dengan pasangan pria tetap: setelah terapi lini pertama pada pasien, terapi pasangan seksual pria secara bersamaan (concurrent partner therapy) dapat dipertimbangkan menggunakan kombinasi metronidazol oral 400 mg dua kali sehari selama 7 hari ditambah klindamisin krim topikal 2% pada kulit penis dua kali sehari selama 7 hari — lihat Bagian 12 untuk dasar bukti dan kedudukannya terhadap standar nasional.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)
Tindakan bedah/prosedural umumnya tidak diperlukan pada vaginitis tanpa komplikasi. Evaluasi lanjut dengan kolposkopi dan/atau biopsi dipertimbangkan bila dijumpai lesi yang mencurigakan keganasan, ulserasi atipikal, atau tidak ada perbaikan setelah terapi standar yang adekuat.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial
Vaginitis rekuren yang refrakter terhadap terapi standar berulang.
Kecurigaan faktor psikososial atau perilaku seksual berisiko yang memerlukan konseling terstruktur.
Kebutuhan edukasi dan intervensi komunitas terkait pencegahan infeksi saluran reproduksi berulang.
Kasus yang berkaitan dengan kekerasan seksual atau kondisi kerentanan sosial lain.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
Pentingnya kepatuhan menyelesaikan seluruh regimen terapi meskipun gejala membaik lebih awal.
Menghindari konsumsi alkohol selama dan minimal 24–72 jam setelah terapi metronidazol/tinidazol sesuai jenis obat.
Abstinensia seksual hingga terapi tuntas dan gejala hilang, terutama pada trikomoniasis.
Pentingnya pemeriksaan dan terapi pasangan seksual pada trikomoniasis untuk mencegah reinfeksi.
Edukasi pencegahan: menghindari douching, memilih pakaian dalam yang menyerap keringat, serta kontrol gula darah pada pasien diabetes melitus.
Kapan harus kontrol ulang: gejala menetap lebih dari 7–14 hari setelah terapi, gejala memberat, atau berulang dalam waktu singkat.
9. Prognosis
Prognosis vaginitis pada umumnya baik apabila etiologi teridentifikasi dan terapi diberikan secara adekuat. Ad vitam: bonam. Ad functionam: bonam. Ad sanationam: bonam pada kasus tunggal dengan etiologi jelas, dubia ad bonam pada kasus rekuren yang memerlukan evaluasi faktor predisposisi (metabolik, perilaku, atau hormonal) secara menyeluruh.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
Tingkat evidens berikut mengikuti pendekatan GRADE (Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation) sebagaimana digunakan pada pedoman WHO 2024.
Metronidazol oral 7 hari untuk vaginosis bakterialis: rekomendasi kondisional, kepastian bukti sedang (moderate certainty).
Klindamisin dan secnidazol untuk vaginosis bakterialis: rekomendasi kondisional, kepastian bukti rendah (low certainty).
Tinidazol untuk vaginosis bakterialis: rekomendasi kondisional, kepastian bukti sangat rendah (very low certainty).
Metronidazol oral 7 hari untuk trikomoniasis: rekomendasi kondisional, kepastian bukti sedang (moderate certainty), didukung uji klinis teracak yang menunjukkan regimen multidosis menurunkan kegagalan terapi dibandingkan dosis tunggal pada perempuan.
Flukonazol dosis tunggal untuk kandidiasis vulvovaginal tanpa komplikasi: rekomendasi berbasis konsensus praktik klinis (ACOG Practice Bulletin No. 215), efikasi setara dengan azol topikal pada uji klinis teracak.
Terapi pasangan pria bersamaan pada vaginosis bakterialis rekuren: rekomendasi kondisional untuk dipertimbangkan pada kasus rekuren simtomatik dengan pasangan tetap, berdasarkan satu uji klinis teracak multisenter berkualitas tinggi (StepUp trial, 2025) yang mendasari pembaruan panduan praktik klinis ACOG 2025; belum menjadi rekomendasi rutin untuk seluruh kasus vaginosis bakterialis.
11. Indikator Medis
Persentase pasien dengan diagnosis vaginitis yang memiliki konfirmasi etiologi (pH, mikroskopik, atau uji penunjang lain) sebelum terapi dimulai.
Angka keberhasilan terapi berupa resolusi gejala pada kontrol 7–14 hari pascaterapi.
Angka rekurensi gejala dalam 3 bulan setelah terapi awal.
Kepatuhan pencatatan penawaran/pelaksanaan terapi pasangan seksual pada kasus trikomoniasis.
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan vaginitis sebagai satu entri kompetensi (Tabel 7 No. 42, N76.0/GA02) yang ditata laksana berdasarkan etiologi terkonfirmasi di tingkat pelayanan spesialis.
12.1 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ACOG
WHO, dalam Recommendations for the Treatment of Trichomonas Vaginalis, Mycoplasma Genitalium, Candida Albicans, Bacterial Vaginosis and Human Papillomavirus (Anogenital Warts) (2024), merekomendasikan metronidazol oral 400–500 mg dua kali sehari selama 7 hari sebagai lini pertama vaginosis bakterialis maupun trikomoniasis, sejalan dengan regimen pada Bagian 7.2. Untuk fasilitas dengan keterbatasan akses laboratorium, pedoman WHO sebelumnya (Guidelines for the Management of Symptomatic Sexually Transmitted Infections, 2021) tetap merekomendasikan pendekatan tata laksana sindromik duh vagina — terapi empiris berbasis kelompok gejala tanpa menunggu konfirmasi mikrobiologis. Praktik di Indonesia pada tingkat layanan spesialis mengikuti standar nasional yang mengutamakan konfirmasi etiologi melalui pemeriksaan penunjang sederhana sebelum terapi definitif, dengan pendekatan sindromik disediakan sebagai opsi pada keterbatasan fasilitas — sehingga terdapat perbedaan penekanan (bukan pertentangan) antara standar nasional dan rekomendasi WHO untuk konteks sumber daya terbatas. ACOG Practice Bulletin No. 215 (2020) tentang Vaginitis in Nonpregnant Patients memberikan regimen farmakologis yang secara substansial sejalan dengan WHO 2024 dan Bagian 7.2 di atas.
12.2 Bukti Terkini Terapi Pasangan pada Vaginosis Bakterialis Rekuren
Tinjauan sistematis Cochrane oleh Amaya-Guio dkk. (2016) mengenai terapi antibiotik untuk pasangan seksual perempuan dengan vaginosis bakterialis pada saat itu tidak menemukan bukti manfaat yang konsisten dari terapi pasangan rutin terhadap penurunan angka rekurensi, sehingga panduan seperti ACOG Practice Bulletin No. 215 (2020) tidak merekomendasikan terapi pasangan secara rutin.
Bukti ini diperbarui secara bermakna oleh uji klinis teracak multisenter StepUp (Vodstrcil dkk., New England Journal of Medicine, 2025), yang menunjukkan bahwa terapi bersamaan pada pasangan pria — kombinasi metronidazol oral dan klindamisin krim topikal — menurunkan angka rekurensi vaginosis bakterialis dalam 12 minggu secara bermakna dibandingkan tata laksana standar (perempuan saja). Berdasarkan temuan ini, ACOG menerbitkan Clinical Practice Update berjudul Concurrent Sexual Partner Therapy to Prevent Bacterial Vaginosis Recurrence (2025) yang merekomendasikan pertimbangan terapi pasangan pria bersamaan pada pasien dewasa dengan vaginosis bakterialis simtomatik rekuren, serta pengambilan keputusan bersama (shared decision making) untuk pasien dengan pasangan sesama jenis atau pada episode pertama.
Kepkonsil Tabel 7 No. 42 belum secara eksplisit mengatur terapi pasangan pada vaginosis bakterialis rekuren; oleh karena itu, praktik di Indonesia pada saat penyusunan PPK ini mengikuti tata laksana etiologis standar pada pasien (Bagian 7.2), dengan pertimbangan terapi pasangan pria bersamaan pada kasus rekuren simtomatik sebagai opsi berbasis bukti terkini yang dapat diterapkan sesuai penilaian klinis dan ketersediaan sumber daya, bukan sebagai keharusan rutin.
13. Kepustakaan
Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Tabel 7 No. 42 dan Lampiran Definisi Istilah, hlm. 516.
World Health Organization. Recommendations for the Treatment of Trichomonas Vaginalis, Mycoplasma Genitalium, Candida Albicans, Bacterial Vaginosis and Human Papillomavirus (Anogenital Warts). Geneva: WHO; 2024. Tersedia pada: https://www.who.int/publications/i/item/9789240096370
World Health Organization. Guidelines for the Management of Symptomatic Sexually Transmitted Infections. Geneva: WHO; 2021. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK572659/
World Health Organization. Bacterial Vaginosis (Fact Sheet). Geneva: WHO; 2025. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/bacterial-vaginosis
American College of Obstetricians and Gynecologists. Vaginitis in Nonpregnant Patients: ACOG Practice Bulletin No. 215. Obstetrics & Gynecology. 2020;135(1):e1–e17. Tersedia pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31856123/
American College of Obstetricians and Gynecologists. Concurrent Sexual Partner Therapy to Prevent Bacterial Vaginosis Recurrence: Clinical Practice Update. Obstetrics & Gynecology. 2025;146(6):e111–e114. Tersedia pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41100865/
Amaya-Guio J, Viveros-Carreño DA, Sierra-Barrios EM, Martinez-Velasquez MY, Grillo-Ardila CF. Antibiotic Treatment for the Sexual Partners of Women with Bacterial Vaginosis. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2016;(10):CD011701. Tersedia pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27696372/
Vodstrcil LA, Plummer EL, Fairley CK, et al., untuk StepUp Team. Male-Partner Treatment to Prevent Recurrence of Bacterial Vaginosis. New England Journal of Medicine. 2025;392(10):947–957. Tersedia pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40043236/
[Data epidemiologi nasional vaginitis di Indonesia: rujuk laporan/registri resmi terbaru — Kementerian Kesehatan RI, BKKBN, atau Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI)].
Kontribusi Divisi Pengampu
Divisi: Obstetri Ginekologi Sosial
A. Deskripsi
Vaginitis rekuren atau berulang sering berkaitan dengan faktor sosial-perilaku — akses layanan kesehatan, literasi kesehatan reproduksi, pola perilaku seksual, serta kondisi psikososial pasien — sehingga perspektif Obstetri Ginekologi Sosial relevan untuk melengkapi tata laksana biomedis murni, khususnya pada kasus yang tidak membaik dengan terapi farmakologis standar.
B. Pendekatan Sosial-Perilaku pada Vaginitis Rekuren
Evaluasi vaginitis rekuren perlu melampaui identifikasi etiologi mikrobiologis semata. Kerangka analisis sosial-perilaku menilai tiga domain: (1) determinan perilaku — pola douching, pemilihan produk higiene, dan perilaku seksual berisiko; (2) determinan akses — keterjangkauan fasilitas layanan, kemampuan menyelesaikan regimen terapi penuh, dan keterlibatan pasangan dalam terapi; serta (3) determinan psikososial — stigma terkait keluhan area genital yang dapat menunda pencarian layanan, serta kemungkinan kaitan dengan relasi kekerasan atau ketimpangan kuasa dalam hubungan. Pendekatan konseling terstruktur pada domain ini terbukti membantu menurunkan angka rekurensi pada kasus yang sebelumnya dianggap refrakter secara farmakologis.
C. Ilustrasi Kasus Lapangan
Seorang perempuan 29 tahun datang untuk keempat kalinya dalam setahun dengan keluhan keputihan dan gatal berulang, telah menyelesaikan terapi metronidazol dan flukonazol standar tiap episode tanpa perbaikan menetap. Anamnesis mendalam oleh tim Obstetri Ginekologi Sosial mengungkap kebiasaan douching rutin pascahubungan seksual serta keengganan mendiskusikan penggunaan kondom dengan pasangan. Setelah konseling perilaku terstruktur mengenai penghentian douching, edukasi komunikasi dengan pasangan, dan pemeriksaan gula darah yang menyingkirkan diabetes melitus, pasien tidak mengalami kekambuhan pada evaluasi 6 bulan berikutnya.
Glosarium
Vaginitis
Peradangan pada mukosa vagina yang ditandai keputihan, gatal, nyeri, atau dispareunia.
Vaginosis Bakterialis (Bacterial Vaginosis)
Disbiosis mikrobiota vagina berupa penurunan Lactobacillus dan peningkatan bakteri anaerob, ditandai duh homogen berbau amis.
Peradangan/penipisan mukosa vagina non-infeksius akibat defisiensi estrogen, umum pada masa pascamenopause.
Dispareunia (Dyspareunia)
Nyeri yang dirasakan saat atau setelah hubungan seksual.
Kriteria Amsel
Seperangkat empat kriteria klinis untuk diagnosis vaginosis bakterialis; diagnosis ditegakkan bila ≥3 dari 4 kriteria terpenuhi.
Whiff Test (Uji Amin)
Pemeriksaan yang menilai timbulnya bau amis setelah penambahan larutan kalium hidroksida (KOH) 10% pada sediaan duh vagina.
Clue Cells
Sel epitel vagina yang permukaannya diselimuti bakteri sehingga batas selnya kabur, khas pada vaginosis bakterialis.
NAAT (Nucleic Acid Amplification Test)
Metode pemeriksaan molekuler berbasis amplifikasi asam nukleat untuk mendeteksi patogen dengan sensitivitas tinggi.
Tata Laksana Sindromik (Syndromic Management)
Pendekatan terapi empiris berdasarkan kumpulan gejala klinis tanpa menunggu hasil pemeriksaan penunjang, umum digunakan pada fasilitas dengan akses laboratorium terbatas.