PPK-044 Ekosistem Literatur Standar SpOG
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK) · Dokumen 44 dari 73

Penyakit Radang Panggul Tanpa Komplikasi

Pelvic Inflammatory Disease Without Complication

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.  ·  Perpustakaan Digital ABBA, Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138

ICD-10 / ICD-11
N73.9 / GA05.0
BUKU TEMATIK INDUK
B6 — Ginekologi Umum dan Infeksi Saluran Reproduksi
DIVISI PENGAMPU
Obstetri Ginekologi Sosial

1. Pengertian/Definisi

PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Infeksi Saluran Reproduksi Atas Buku Tematik B6 — Ginekologi Umum dan Infeksi Saluran Reproduksi.

Penyakit radang panggul (Pelvic Inflammatory Disease, PID) tanpa komplikasi adalah infeksi naik (ascending infection) pada genitalia interna bagian atas — endometrium, tuba fallopii, dan ovarium — dengan kemungkinan perluasan ke peritoneum pelvis, tanpa disertai abses tubo-ovarium maupun sepsis.

Dasar Regulasi

Definisi baku mengikuti Tabel 7 Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Lampiran Tabel 7 No. 44: nama diagnosis "Penyakit radang panggul tanpa komplikasi" (Pelvic inflammatory disease without complication), kode ICD-10 N73.9, kode ICD-11 GA05.0, keterangan/populasi: "Infeksi pelvis; nyeri panggul kronis".

Diagnosis PID ditegakkan secara klinis karena tidak ada satu gejala, tanda, maupun pemeriksaan penunjang tunggal yang cukup sensitif dan spesifik. Nilai duga positif (positive predictive value) diagnosis klinis PID terhadap temuan laparoskopi berkisar 65–90%, bergantung pada karakteristik epidemiologis populasi yang diperiksa; nilai duga positif lebih tinggi dijumpai pada perempuan muda yang aktif secara seksual dan pada populasi dengan prevalensi gonore atau klamidia yang tinggi [2],[4].

Secara etiologis, PID bersifat polimikrobial. Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis telah lama diidentifikasi sebagai agen penyebab klasik, meskipun proporsi kasus PID yang terkait kedua organisme tersebut menunjukkan kecenderungan menurun pada dekade terakhir — sekitar separuh perempuan dengan diagnosis PID akut memiliki hasil uji positif untuk salah satu dari keduanya [2]. Mikroorganisme flora vagina endogen — termasuk anaerob, Gardnerella vaginalis, Haemophilus influenzae, batang gram negatif enterik, dan Streptococcus agalactiae — turut berperan, terutama pada kasus yang tidak menunjukkan hasil positif untuk N. gonorrhoeae/C. trachomatis (PID dengan hasil uji patogen negatif adalah temuan yang umum) [2],[4]. Mycoplasma genitalium juga diakui berperan dalam patogenesis sebagian kasus dan dikaitkan dengan gejala yang cenderung lebih ringan [2],[4].

Populasi sasaran PPK ini adalah perempuan usia reproduksi yang aktif secara seksual dengan keluhan nyeri panggul akut atau subakut. Faktor risiko yang perlu ditelusuri pada anamnesis meliputi usia muda (di bawah 25 tahun), riwayat infeksi menular seksual (IMS) sebelumnya, berganti-ganti pasangan seksual atau pasangan baru, tidak menggunakan kontrasepsi barrier, pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dalam beberapa minggu pertama pascapemasangan (risiko tertinggi pada 3–6 minggu pertama, kemudian menurun), serta riwayat instrumentasi genital (kuretase, biopsi endometrium, histerosalpingografi) [2],[4].

2. Anamnesis

Keluhan utama tersering adalah nyeri perut bagian bawah atau nyeri panggul, umumnya bilateral (dapat pula unilateral), bersifat tumpul hingga sedang, dan sering memburuk atau baru muncul segera setelah periode menstruasi. Penting dicatat bahwa PID kerap bergejala samar atau bahkan asimtomatik, sehingga kewaspadaan klinis harus tetap tinggi pada populasi berisiko meskipun keluhan tidak khas [2]. Anamnesis terstruktur mencakup:

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan umum mencakup tanda vital — suhu tubuh dapat normal atau meningkat ringan hingga sedang pada bentuk tanpa komplikasi; suhu oral di atas 38°C lebih mengarah pada penyakit sedang-berat. Pemeriksaan abdomen menunjukkan nyeri tekan kuadran bawah, biasanya bilateral, tanpa tanda peritonitis generalisata atau massa teraba yang mengarah pada abses.

Pemeriksaan genitalia dengan spekulum dan pemeriksaan bimanual merupakan komponen kunci penegakan diagnosis klinis:

4. Kriteria Diagnosis

Dasar Regulasi

Kode diagnosis terverifikasi terhadap Tabel 7 Kepkonsil: ICD-10 N73.9 (Salpingitis and oophoritis, unspecified) dan ICD-11 GA05.0 (Pelvic inflammatory disease).

Diagnosis PID ditegakkan secara klinis karena tidak ada satu gejala, tanda, maupun pemeriksaan penunjang tunggal yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Pendekatan klinis menggunakan kriteria minimal, kriteria tambahan, dan kriteria definitif berikut, mengikuti kriteria yang digunakan secara konsisten oleh CDC dan BASHH [2],[4].

4.1 Kriteria Minimal

Terapi empiris PID dipertimbangkan pada perempuan usia reproduksi aktif seksual dengan risiko IMS, yang mengalami nyeri perut bawah atau panggul tanpa penyebab lain yang dapat diidentifikasi, disertai minimal satu dari tanda berikut pada pemeriksaan bimanual:

Ambang diagnosis yang rendah ini sengaja dipilih karena konsekuensi keterlambatan terapi PID terhadap fertilitas jauh lebih besar dibandingkan risiko pemberian antibiotik empiris yang kemudian terbukti tidak diperlukan [2],[4].

4.2 Kriteria Tambahan (Memperkuat Kepastian Diagnosis)

4.3 Kriteria Definitif (Bila Diperlukan Kepastian Lebih Tinggi)

PPK ini secara spesifik mencakup PID tanpa komplikasi, yaitu tanpa bukti abses tubo-ovarium (teraba atau tervisualisasi) dan tanpa tanda sepsis atau peritonitis generalisata. Temuan tersebut mengarahkan klasifikasi ke PID dengan komplikasi dan memerlukan tata laksana rawat inap di luar cakupan dokumen ini.

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Penyakit radang panggul tanpa komplikasi (N73.9 / GA05.0).

Diagnosis banding penting untuk disingkirkan mengingat tumpang tindih gejala nyeri panggul akut. Kehamilan harus disingkirkan pada seluruh perempuan usia reproduksi yang berpotensi hamil sebelum terapi PID dimulai [2],[4]:

Diagnosis BandingPembeda Klinis Kunci
Kehamilan ektopik tergangguUji kehamilan positif; nyeri unilateral mendadak; tanda hemodinamik tidak stabil pada kasus ruptur.
Apendisitis akutNyeri bermigrasi ke kuadran kanan bawah; mual-muntah dijumpai pada mayoritas kasus apendisitis namun hanya sekitar separuh kasus PID; nyeri goyang serviks lebih jarang (sekitar seperempat kasus apendisitis).
Kista ovarium terpuntir (torsi adneksa)Nyeri unilateral mendadak dan hebat; massa adneksa pada USG dengan gangguan aliran darah pada Doppler.
Ruptur atau perdarahan kista korpus luteumNyeri unilateral mendadak, sering pada pertengahan siklus; cairan bebas pada USG; tanpa demam maupun duh mukopurulen.
Infeksi saluran kemih / sistitisDisuria dan frekuensi menonjol; nyeri suprapubik tanpa nyeri goyang serviks; urinalisis abnormal.
EndometriosisHubungan gejala dengan siklus menstruasi membantu penegakan diagnosis; tanpa demam maupun duh mukopurulen; riwayat berulang.
Sindrom iritasi usus / gangguan gastrointestinalPerubahan pola buang air besar dan gejala yang menetap dalam jangka waktu lama; sering disertai gejala gastrointestinal lain.

6. Pemeriksaan Penunjang

[DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI, WHO] untuk data prevalensi PID, proporsi etiologi gonokokus/klamidia, dan pola resistensi antimikroba lokal di Indonesia, karena angka-angka tersebut bervariasi antarnegara dan memengaruhi pemilihan regimen empiris yang paling sesuai.

7. Tata Laksana

Sebagian besar kasus PID tanpa komplikasi dengan gejala ringan-sedang dapat ditangani secara rawat jalan; luaran klinis terapi rawat jalan setara dengan rawat inap pada penyakit ringan-sedang, sebagaimana ditunjukkan oleh studi acak PEACH (PID Evaluation and Clinical Health) [2],[4]. Indikasi rawat inap dipertimbangkan bila diagnosis banding bedah akut (misalnya apendisitis) belum dapat disingkirkan, terdapat abses tubo-ovarium, kehamilan, tidak respons klinis terhadap terapi oral, ketidakmampuan mentoleransi/mematuhi regimen oral, atau penyakit berat (mual muntah hebat, demam tinggi di atas 38,5°C) [2].

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Terapi antibiotik empiris dimulai segera setelah diagnosis klinis ditegakkan, tanpa menunggu hasil konfirmasi laboratorium, mengingat pencegahan sekuel jangka panjang bergantung pada kecepatan pemberian antimikroba yang tepat. Regimen harus mencakup N. gonorrhoeae, C. trachomatis, dan bakteri anaerob/fakultatif, karena data in vitro menunjukkan sebagian anaerob (misalnya Bacteroides fragilis) dapat menyebabkan kerusakan tuba dan epitel [2].

RegimenKomponen dan Dosis
Rawat jalan (IM/oral) — regimen lini pertamaCeftriakson 500 mg intramuskular dosis tunggal, DITAMBAH Doksisiklin 100 mg per oral 2 kali sehari selama 14 hari, DENGAN Metronidazol 500 mg per oral 2 kali sehari selama 14 hari.
Alternatif rawat jalanCefoxitin 2 g intramuskular dosis tunggal bersama Probenesid 1 g per oral dosis tunggal, DITAMBAH Doksisiklin 100 mg per oral 2 kali sehari selama 14 hari, DENGAN Metronidazol 500 mg per oral 2 kali sehari selama 14 hari.
Bila alergi sefalosporin berat, prevalensi gonore lokal rendah, dan pemantauan lanjut memungkinkanLevofloksasin 500 mg per oral sekali sehari DITAMBAH Metronidazol 500 mg per oral 2 kali sehari selama 14 hari; ATAU Moksifloksasin 400 mg per oral sekali sehari selama 14 hari; ATAU regimen berbasis azitromisin sesuai penilaian klinis. Kultur gonore hendaknya diambil sebelum terapi dimulai.

Perlu dicatat bahwa regimen berbasis kuinolon (levofloksasin, moksifloksasin) bukan lagi pilihan lini pertama karena meningkatnya resistensi gonokokus terhadap kuinolon, dan karena tinjauan keamanan Badan Obat Eropa (European Medicines Agency, EMA) tahun 2019 mengidentifikasi risiko efek samping serius, melumpuhkan, dan berpotensi permanen pada tendon, otot, sendi, dan sistem saraf terkait golongan fluorokuinolon; regimen ini kini diposisikan sebagai lini kedua, kecuali pada PID terkait M. genitalium yang belum memiliki alternatif terapi lain [4],[6].

Indikasi rawat inap dengan terapi parenteral meliputi kecurigaan abses tubo-ovarium, kehamilan, penyakit berat, ketidakmampuan mentoleransi terapi oral, atau kegagalan respons terhadap terapi oral; tata laksana parenteral tersebut berada di luar cakupan PPK rawat jalan tanpa komplikasi ini dan mengikuti alur rujukan pada bagian 7.4.

Evaluasi ulang klinis wajib dilakukan dalam 72 jam sejak terapi dimulai, khususnya pada penyakit sedang-berat. Perbaikan klinis (penurunan nyeri tekan abdomen, nyeri goyang serviks, dan nyeri tekan adneksa, disertai penurunan demam bila ada) menunjukkan respons adekuat. Tidak ada perbaikan dalam 72 jam mengindikasikan perlunya evaluasi ulang diagnosis, pemeriksaan penunjang tambahan (termasuk USG ulang untuk menyingkirkan abses tubo-ovarium), dan pertimbangan rawat inap [2],[4].

Seluruh pasien dengan diagnosis PID akibat klamidia atau gonore dianjurkan menjalani pengujian ulang (test of cure/reinfection) sekitar 3 bulan setelah terapi, terlepas dari status terapi pasangan; bila hal ini tidak memungkinkan, pengujian ulang dilakukan pada kunjungan berikutnya dalam 12 bulan pascaterapi [2].

Pasangan seksual dalam 60 hari sebelum onset gejala perlu dirujuk untuk evaluasi, pengujian, dan terapi empiris terhadap gonore dan klamidia, terlepas dari hasil pemeriksaan pasangan, guna mencegah reinfeksi; bila kontak seksual terakhir terjadi lebih dari 60 hari sebelum onset, pasangan seksual terakhir tetap dianjurkan menjalani terapi [2].

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (Bila Relevan)

Tindakan bedah atau prosedural tidak rutin diperlukan pada PID tanpa komplikasi. Laparoskopi diagnostik dipertimbangkan hanya bila diagnosis tetap meragukan setelah evaluasi klinis dan penunjang awal, atau bila tidak terdapat perbaikan meskipun telah menjalani terapi antibiotik adekuat, untuk menyingkirkan diagnosis bedah akut lain maupun mengonfirmasi derajat keterlibatan tuba/ovarium. Bila intraoperatif ditemukan abses tubo-ovarium, kasus direklasifikasi sebagai PID dengan komplikasi dan tata laksana mengikuti PPK yang relevan di luar dokumen ini.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial

Rujukan lintas perspektif ke subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial dipertimbangkan pada kondisi yang berada di luar kewenangan penanganan klinis murni, meliputi:

Kontribusi Divisi Pengampu — Obstetri Ginekologi Sosial
A. Deskripsi

Perspektif Obstetri Ginekologi Sosial relevan pada PID karena penyakit ini berakar pada determinan sosial dan perilaku — akses layanan kesehatan reproduksi, pendidikan kesehatan seksual, serta dinamika relasi kekuasaan dalam hubungan seksual — yang tidak sepenuhnya tertangani melalui pendekatan biomedis semata.

B. Substansi

Tata laksana PID yang berorientasi kesehatan masyarakat menekankan tiga pilar: (1) deteksi dini melalui skrining IMS proaktif pada populasi berisiko, bukan menunggu gejala; (2) notifikasi dan terapi pasangan yang sistematis untuk memutus rantai penularan; dan (3) edukasi berkelanjutan mengenai konsekuensi reproduksi jangka panjang agar kepatuhan terapi dan perilaku pencegahan meningkat. Pendekatan ini selaras dengan prinsip keadilan kesehatan reproduksi, khususnya bagi perempuan muda dan kelompok dengan akses layanan terbatas.

C. Ilustrasi Kasus Lapangan

Seorang perempuan berusia 19 tahun datang dengan nyeri panggul berulang, riwayat dua episode PID dalam satu tahun, dan enggan membawa pasangan untuk pemeriksaan karena alasan hubungan yang tidak setara. Selain terapi antibiotik standar, subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial melakukan konseling individual mengenai negosiasi penggunaan kondom, menghubungkan pasien dengan layanan notifikasi pasangan yang menjaga kerahasiaan, dan menjadwalkan edukasi kesehatan reproduksi berkelanjutan untuk menurunkan risiko rekurensi dan sekuel infertilitas.

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Prognosis PID tanpa komplikasi yang diobati secara dini dan adekuat umumnya baik; sebagian besar pasien menunjukkan perbaikan klinis dalam 72 jam terapi antibiotik, dan pemodelan matematis kontemporer mendukung rendahnya angka infertilitas serta kehamilan ektopik setelah terapi PID yang efektif [4]. Namun, keterlambatan diagnosis, keterlambatan terapi, atau episode berulang meningkatkan risiko sekuel jangka panjang berupa nyeri panggul kronik, infertilitas akibat kerusakan tuba, dan peningkatan risiko kehamilan ektopik pada kehamilan berikutnya. Edukasi dan tata laksana pasangan yang konsisten merupakan determinan penting keberhasilan jangka panjang.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Derajat rekomendasi berikut mengikuti sistem penilaian bukti yang digunakan pada pedoman BASHH (United Kingdom National Guideline for the Management of Pelvic Inflammatory Disease, 2019 Interim Update), dengan Grade 1 menunjukkan rekomendasi kuat dan Grade 2 menunjukkan rekomendasi bersyarat; huruf A–D mencerminkan tingkat kepastian bukti pendukung [4].

Aspek Tata LaksanaDerajat RekomendasiSumber
Regimen antibiotik rawat jalan lini pertama (ceftriakson + doksisiklin + metronidazol)Grade 1ABASHH 2019 [4]; CDC 2021 [2]
Ambang diagnosis klinis yang rendah (kriteria minimal) untuk terapi empiris segeraGrade 1BBASHH 2019 [4]; CDC 2021 [2]
Abstinensia seksual dan edukasi tertulis mengenai konsekuensi jangka panjangGrade 1DBASHH 2019 [4]
Notifikasi dan terapi empiris pasangan seksualGrade 1DBASHH 2019 [4]; CDC 2021 [2]
Evaluasi ulang klinis dalam 72 jam pada penyakit sedang-beratGrade 2DBASHH 2019 [4]
Regimen berbasis fluorokuinolon sebagai alternatif lini kedua (bukan lini pertama)Grade 1B (sebagai alternatif)BASHH 2019 [4]; EMA 2019 [6]

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan klasifikasi dan kode diagnosis PID tanpa komplikasi sebagaimana Tabel 7 di atas, dengan pendekatan tata laksana berbasis diagnosis klinis ambang rendah dan terapi antibiotik empiris segera — pendekatan ini konsisten dengan standar internasional berikut.

Standar nasional menetapkan ceftriakson 500 mg intramuskular dosis tunggal sebagai komponen regimen lini pertama, mengikuti dosis yang direkomendasikan CDC untuk konteks Amerika Serikat [2]; standar internasional Y — dalam hal ini pedoman BASHH — merekomendasikan dosis ceftriakson 1 g intramuskular untuk konteks Britania Raya, mengingat pola kerentanan gonokokus terhadap sefalosporin yang berbeda antarwilayah [4]; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional berbasis dosis 500 mg sebagaimana diuraikan pada bagian Tata Laksana Farmakologis, dengan penyesuaian dosis mengikuti [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, POGI] apabila tersedia data surveilans resistensi gonokokus nasional yang mengindikasikan perlunya dosis lebih tinggi.

Perbedaan lain yang perlu dicermati adalah posisi regimen fluorokuinolon: sejak tinjauan keamanan EMA tahun 2019, BASHH memindahkan fluorokuinolon (ofloksasin, levofloksasin, moksifloksasin) dari lini pertama menjadi lini kedua akibat risiko efek samping serius pada tendon, otot, sendi, dan sistem saraf, kecuali untuk PID terkait M. genitalium [4],[6]; CDC juga tidak lagi merekomendasikan kuinolon sebagai regimen utama karena resistensi gonokokus, namun tetap mencantumkannya sebagai pilihan bersyarat bila terdapat alergi sefalosporin berat dan risiko gonore rendah [2]. Praktik di Indonesia mengikuti kehati-hatian yang sama; keputusan penggunaan fluorokuinolon pada PID hendaknya mempertimbangkan pedoman keamanan obat nasional dari Badan Pengawas Obat dan Makanan [DATA: rujuk pedoman keamanan obat nasional terbaru].

13. Kepustakaan

  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: 2026.
  2. Workowski KA, Bachmann LH, Chan PA, et al. Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021: Pelvic Inflammatory Disease. MMWR Recomm Rep 2021;70(RR-4):1–187. Centers for Disease Control and Prevention. Tersedia pada: https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/pid.htm
  3. World Health Organization. Guidelines for the Management of Symptomatic Sexually Transmitted Infections. Geneva: World Health Organization; 2021. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK572659/
  4. British Association for Sexual Health and HIV (BASHH). United Kingdom National Guideline for the Management of Pelvic Inflammatory Disease (2019 Interim Update). Tersedia pada: https://www.bashh.org/_userfiles/pages/files/resources/pidupdate2019.pdf
  5. American College of Obstetricians and Gynecologists. FAQs: Pelvic Inflammatory Disease (PID). Tersedia pada: https://www.acog.org/womens-health/faqs/pelvic-inflammatory-disease
  6. European Medicines Agency. Disabling and Potentially Permanent Side Effects Lead to Suspension or Restrictions of Quinolone and Fluoroquinolone Antibiotics. 2019. Tersedia pada: https://www.ema.europa.eu/en/news/disabling-potentially-permanent-side-effects-lead-suspension-or-restrictions-quinolone-fluoroquinolone-antibiotics

14. Glosarium

Daftar istilah berikut disusun untuk membantu pembaca memahami terminologi teknis yang digunakan dalam PPK ini.

IstilahPenjelasan
Adneksa (adnexa)Struktur di sekitar uterus, meliputi tuba fallopii dan ovarium beserta jaringan penyangganya.
Cervical motion tenderness (nyeri goyang serviks)Nyeri yang timbul saat serviks digerakkan pada pemeriksaan bimanual; salah satu tanda kunci kriteria minimal diagnosis PID.
DispareuniaNyeri yang dirasakan saat atau setelah hubungan seksual.
Dismenore sekunderNyeri haid yang timbul akibat kelainan organik yang mendasari, berbeda dari nyeri haid primer tanpa kelainan organik.
Empiris (terapi empiris)Pemberian terapi berdasarkan diagnosis klinis sebelum atau tanpa menunggu hasil konfirmasi laboratorium, karena penundaan terapi berisiko memperburuk luaran.
EndometritisPeradangan pada lapisan dalam rahim (endometrium).
Fitz-Hugh-Curtis syndromePerihepatitis (peradangan kapsul hati) yang menyertai sebagian kasus PID, ditandai nyeri kuadran kanan atas.
Nucleic Acid Amplification Test (NAAT)Metode pemeriksaan laboratorium berbasis amplifikasi materi genetik untuk mendeteksi patogen seperti N. gonorrhoeae dan C. trachomatis dengan sensitivitas tinggi.
Positive predictive value (nilai duga positif)Proporsi hasil diagnosis positif yang benar-benar mencerminkan adanya penyakit, dibandingkan dengan baku emas diagnostik (misalnya laparoskopi untuk PID).
SalpingitisPeradangan pada tuba fallopii, salah satu komponen spektrum PID.
Sekuel (sequelae)Kondisi lanjutan atau komplikasi jangka panjang yang timbul akibat suatu penyakit, misalnya infertilitas tuba pascainfeksi PID.
Tubo-ovarian abscess (abses tubo-ovarium)Kumpulan nanah yang melibatkan tuba fallopii dan ovarium; menandakan PID dengan komplikasi yang memerlukan tata laksana rawat inap.
Wet mount (mikroskopis basah)Pemeriksaan mikroskopis langsung terhadap sediaan cairan vagina dalam larutan salin untuk menilai jumlah leukosit dan mikroorganisme.