Kista dan Abses Bartholin
Bartholin's Cyst and Abscess
1. Pengertian/Definisi
PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Infeksi dan Kelainan Kelenjar Vestibular Buku Tematik B6 — Ginekologi Umum dan Infeksi Saluran Reproduksi, yang menempatkan kelainan kelenjar Bartholin sebagai bagian dari spektrum kondisi vulvovaginal jinak dan infeksi saluran reproduksi bawah pada perempuan usia reproduksi.
Kelenjar Bartholin (kelenjar vestibular mayor/greater vestibular gland) adalah sepasang kelenjar penghasil mukus berukuran sekitar 0,5 cm yang bermuara melalui duktus sepanjang 2,0–2,5 cm di antara labium minus dan tepi himen, umumnya terletak di posisi jam 4 dan jam 8 introitus vagina. Dalam keadaan sehat, kelenjar ini tidak teraba pada pemeriksaan fisik. Kista dan abses Bartholin adalah pembesaran kistik atau koleksi pus pada kelenjar Bartholin akibat obstruksi/infeksi duktus.
1.1 Kista Bartholin
Kista retensi yang terbentuk akibat obstruksi duktus ekskretorius kelenjar Bartholin tanpa disertai tanda infeksi akut. Bersifat unilateral pada sebagian besar kasus, berdiameter khas 2–4 cm, tumbuh perlahan, dan sering asimtomatik bila berukuran kecil; keluhan yang mungkin timbul berupa dispareunia, iritasi berkemih, atau rasa tidak nyaman pada panggul.
1.2 Abses Bartholin
Infeksi pada kelenjar atau duktus Bartholin yang ditandai kumpulan pus disertai tanda inflamasi lokal akut (eritema, indurasi, teraba hangat, nyeri tekan, fluktuasi), dapat disertai selulitis di jaringan sekitar dan gejala sistemik pada kasus berat. Abses tidak selalu didahului oleh kista yang sudah ada sebelumnya; abses dapat terbentuk langsung dari infeksi primer kelenjar.
1.3 Etiologi dan Epidemiologi
Obstruksi duktus dapat terjadi akibat trauma vulva, episiotomi, persalinan, gesekan saat hubungan seksual, atau tanpa sebab yang jelas teridentifikasi. Setelah duktus tersumbat dan terinfeksi, abses yang terbentuk umumnya bersifat polimikrobial — melibatkan flora vagina dan serviks normal seperti Staphylococcus, Streptococcus, dan Escherichia coli — dan pada sebagian kasus melibatkan patogen menular seksual seperti Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis.
Kista dan abses Bartholin paling sering terjadi pada usia reproduksi dan jarang pada usia prapubertas atau pascamenopause. Kasus simtomatik diperkirakan menyumbang sekitar 2% dari seluruh kunjungan ginekologi setiap tahun, dengan abses tercatat kurang lebih tiga kali lebih sering dibandingkan kista murni. Karsinoma kelenjar Bartholin sangat jarang, menyumbang kurang dari 2% keganasan vulva dan lazim ditemukan pascamenopause — sehingga setiap massa Bartholin baru pada kelompok usia tersebut memerlukan kewaspadaan lebih tinggi terhadap keganasan meski insidens kista/abses jinak menurun setelah menopause.
2. Anamnesis
2.1 Kista Bartholin
- Benjolan pada vulva sisi labium mayor, umumnya unilateral, teraba sejak beberapa waktu, membesar perlahan.
- Umumnya tidak nyeri; keluhan bersifat mekanis bila ukuran besar — mengganggu saat duduk, berjalan, berhubungan seksual (dispareunia), atau memakai pakaian ketat; dapat pula disertai keluhan iritasi berkemih.
- Riwayat episode serupa sebelumnya (rekurensi) perlu digali, karena riwayat kista/abses Bartholin merupakan faktor risiko rekurensi.
2.2 Abses Bartholin
- Nyeri vulva akut yang memberat progresif dalam hitungan jam hingga beberapa hari, umumnya jauh lebih hebat dibandingkan kista.
- Kesulitan duduk, berjalan, atau melakukan aktivitas seksual akibat nyeri hebat; dapat disertai demam pada kasus dengan selulitis luas atau sepsis lokal.
- Faktor risiko yang perlu ditanyakan: usia reproduksi, riwayat kista/abses Bartholin sebelumnya, riwayat perilaku seksual berisiko/infeksi menular seksual (IMS).
- Pada perempuan usia ≥40 tahun atau massa yang tidak khas/menetap meski terapi adekuat, anamnesis diarahkan pula pada kemungkinan keganasan kelenjar Bartholin (jarang, namun wajib diwaspadai terutama pascamenopause).
3. Pemeriksaan Fisik
3.1 Inspeksi dan Palpasi
Ditemukan asimetri vulva berupa protrusi unilateral pada aspek inferior vulva/introitus vagina, posisi jam 4 atau jam 8 labium mayor posterior, dengan ukuran bervariasi dari beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter.
3.2 Tanda Abses versus Kista Tanpa Infeksi
- Kista tanpa infeksi: massa mobile, batas tegas, tidak nyeri tekan, kulit di atasnya tampak normal; perjalanan klinis cenderung lama karena umumnya asimtomatik.
- Abses: sangat nyeri, eritema, edema, indurasi, teraba hangat, fluktuasi jelas, dapat disertai drainase purulen spontan.
- Periksa tanda sistemik (demam, takikardia) dan pembesaran kelenjar getah bening inguinal pada kasus abses dengan selulitis luas.
4. Kriteria Diagnosis
4.1 Kista Bartholin
Diagnosis klinis berdasarkan temuan massa kistik non-inflamasi pada kelenjar Bartholin sesuai anamnesis dan pemeriksaan fisik pada butir 1 dan 2.
4.2 Abses Bartholin
Diagnosis klinis berdasarkan temuan massa fluktuatif disertai tanda inflamasi akut lokal, dengan atau tanpa tanda sistemik.
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
5.1 Diagnosis Kerja
Kista Bartholin atau Abses Bartholin, ditegakkan sesuai temuan klinis pada butir 4.
5.2 Diagnosis Banding
- Kista epidermoid (epidermal inclusion cyst) vulva.
- Kista Muller (Mullerian cyst), kista duktus Gartner, kista duktus Skene, dan kista kanal Nuck.
- Lipoma vulva dan kista sebasea.
- Hidradenoma papiliferum vulva.
- Hernia inguinalis dengan penonjolan ke labium.
- Karsinoma kelenjar Bartholin — wajib disingkirkan terutama pada perempuan usia ≥40 tahun, massa persisten/tidak khas, atau tidak berespons terhadap tata laksana standar; sebagian besar berupa karsinoma sel skuamosa.
Catatan diagnostik: kriteria histopatologis untuk menegakkan keganasan primer kelenjar Bartholin (kriteria Chamlian dan Taylor, revisi 1972 atas kriteria 1897) mensyaratkan (1) lesi berada pada area anatomis kelenjar Bartholin dan sesuai histologi asal organ tersebut, (2) tampak area transisi dari jaringan normal ke elemen neoplastik, serta (3) tidak ditemukan tumor primer lain sebagai penyebab keganasan. Penegakan diagnosis definitif merupakan kewenangan patologi anatomi/subspesialis onkologi ginekologi.
6. Pemeriksaan Penunjang
6.1 Indikasi Pemeriksaan Penunjang
Kista dan abses Bartholin pada perempuan usia reproduksi dengan gambaran klinis khas umumnya tidak memerlukan pemeriksaan penunjang tambahan untuk penegakan diagnosis; pencitraan dapat membantu bila etiologi atau presentasi tidak jelas, atau untuk perencanaan eksisi bedah pada kasus kompleks.
6.2 Kultur, Skrining IMS, dan Biopsi
- Kultur cairan pus dianjurkan saat dilakukan drainase abses, mengingat sifat infeksi yang umumnya polimikrobial serta kemungkinan keterlibatan patogen menular seksual.
- Skrining IMS lengkap dipertimbangkan pada pasien dengan faktor risiko, mengingat kista/abses Bartholin terbukti berasosiasi dengan infeksi menular seksual pada sebagian kasus.
- Biopsi jaringan dianjurkan pada perempuan usia ≥40 tahun, massa dengan gambaran atipikal, rekurensi multipel, atau tidak berespons terhadap tata laksana standar, untuk menyingkirkan keganasan kelenjar Bartholin; biopsi dapat dilakukan bersamaan dengan tindakan insisi-drainase.
[DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, POGI — untuk data insidens dan pola mikrobiologi kista/abses Bartholin pada populasi Indonesia; angka epidemiologi pada PPK ini bersumber dari literatur internasional dan belum tentu merepresentasikan populasi nasional.]
7. Tata Laksana
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
- Kista Bartholin kecil dan asimtomatik: observasi tanpa intervensi aktif; tidak memerlukan tata laksana.
- Kista/abses kecil yang mengalami drainase spontan dapat ditata laksana konservatif dengan rendam hangat (sitz bath) dan analgesik.
- Rendam hangat beberapa kali sehari selama 3–4 hari membantu meredakan nyeri dan mendukung drainase alami.
- Higiene vulva dijaga selama masa penyembuhan; mobilisasi dini dianjurkan pascatindakan.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
- Analgesik (parasetamol atau OAINS) untuk tata laksana nyeri pada seluruh fase tata laksana, termasuk nyeri pascapemasangan kateter Word yang dilaporkan cukup bermakna pada beberapa pasien.
- Antibiotik sistemik dipertimbangkan secara selektif, yaitu pada: kegagalan drainase awal disertai pemasangan kateter Word, tanda sistemik/demam, kecurigaan sepsis lokal, kondisi imunokompromais atau kehamilan, serta pasien dengan risiko tinggi rekurensi atau hasil kultur mengarah patogen IMS.
- Bila infeksi menular seksual dicurigai atau terkonfirmasi kultur/NAAT, regimen antibiotik mengikuti pedoman pengobatan IMS terkini (WHO 2024) dan pola resistensi antimikroba setempat — sebagai acuan umum: seftriakson dosis tunggal intramuskular, ditambah doksisiklin oral 2×100 mg selama 7 hari bila infeksi klamidia belum disingkirkan. [DATA: dosis definitif dan pilihan lini pertama mengikuti pedoman pengendalian resistensi antimikroba nasional/Kemenkes RI yang berlaku.]
- Terapi definitif abses Bartholin adalah drainase disertai pembentukan traktus permanen (kateter Word/marsupialisasi); antibiotik bersifat terapi tambahan, bukan pengganti tindakan drainase.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural
Insisi dan drainase sederhana tanpa disertai pemasangan kateter atau pembentukan traktus permanen memiliki angka rekurensi yang tidak dapat diterima dan tidak direkomendasikan sebagai tata laksana tunggal. Pilihan prosedural berikut disusun berdasarkan bukti terkini, disesuaikan dengan riwayat rekurensi dan ketersediaan fasilitas/kompetensi:
- Pemasangan kateter Word (Word catheter) — insisi kecil (3–5 mm) pada permukaan mukosa labium minus, kateter silikon berbalon dipasang dan balon diisi 3–5 mL cairan salin, dipertahankan minimal 4 minggu untuk epitelisasi traktus. Merupakan tindakan rawat jalan, cepat, dan menjadi pilihan lini pertama pada kista/abses simtomatik pertama kali maupun rekuren.
- Marsupialisasi — insisi ±2 cm pada tepi kapsul kista/abses, tepi kapsul dijahit ke tepi kulit/mukosa untuk membentuk saluran drainase permanen; umumnya dikerjakan di kamar operasi, dipertimbangkan sebagai lini pertama alternatif atau pada kasus rekuren.
- Cincin Jacobi (Jacobi ring) — alternatif kateter balon menggunakan selang kupu-kupu dan benang, dipertahankan 4–6 minggu; berguna terutama di fasilitas dengan keterbatasan sumber daya.
- Eksisi kelenjar Bartholin lengkap — dipertimbangkan pada kasus rekuren berulang yang gagal dengan prosedur konservatif berulang, atau kecurigaan keganasan; risiko perdarahan lebih tinggi karena vaskularisasi area yang kaya, sehingga dihindari pada kehamilan bila memungkinkan.
Uji klinis acak WoMan-trial (161 perempuan, Belanda dan Inggris) membandingkan kateter Word dengan marsupialisasi: rekurensi dalam 1 tahun terjadi pada 12% kelompok kateter Word dan 10% kelompok marsupialisasi (perbedaan tidak bermakna secara klinis), namun kelompok kateter Word memiliki waktu dari diagnosis ke tindakan yang jauh lebih singkat (1 jam berbanding 4 jam) dan penggunaan analgesik pascatindakan 24 jam pertama yang lebih rendah (33% berbanding 74%). Kedua teknik dapat dipertimbangkan setara dari segi efektivitas, dengan pertimbangan kenyamanan dan sumber daya menentukan pilihan.
Pada perempuan hamil dengan abses Bartholin, prinsip tata laksana sama dengan perempuan tidak hamil, kecuali eksisi kelenjar Bartholin yang sebaiknya dihindari bila memungkinkan karena peningkatan risiko perdarahan.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial
Rujukan ke subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial dipertimbangkan bila kondisi di luar kewenangan tata laksana spesialis umum, meliputi:
- Rekurensi berulang yang bermakna memengaruhi fungsi dan kualitas hidup, terutama pada kelompok dengan hambatan akses layanan (geografis, finansial, disabilitas, atau kondisi sosial-ekonomi khusus).
- Kebutuhan pendampingan psikososial pada pasien dengan prosedur berulang atau kekhawatiran terkait citra tubuh dan fungsi seksual, termasuk dampak sementara pemasangan kateter Word terhadap aktivitas seksual yang perlu dikomunikasikan sejak awal.
- Kebutuhan koordinasi rujukan lintas sektor/lintas fasilitas pada populasi berisiko yang memerlukan navigasi layanan.
A. Deskripsi
Kista dan abses Bartholin yang rekuren berdampak langsung pada fungsi harian, aktivitas seksual, dan kualitas hidup pasien; pada kelompok dengan keterbatasan akses layanan atau ekonomi, hambatan ini kerap membuat pasien menunda prosedur definitif sehingga rekurensi berulang. Perspektif Obstetri Ginekologi Sosial relevan untuk memastikan kesinambungan tata laksana tidak terhenti akibat hambatan non-klinis.
B. Navigasi Akses dan Edukasi Berkelanjutan pada Kasus Rekuren
Peran divisi Obstetri Ginekologi Sosial pada kasus rekuren mencakup identifikasi hambatan akses (administratif, finansial, geografis, atau sosial) yang menghalangi pasien menjalani prosedur definitif (kateter Word/marsupialisasi/eksisi), fasilitasi navigasi atau rujukan ke skema pembiayaan layanan kesehatan yang berlaku (termasuk Jaminan Kesehatan Nasional), serta edukasi berkelanjutan lintas kunjungan untuk mencegah putus tata laksana. Pendekatan ini dijalankan dengan sikap profesional tanpa diskriminasi dan didokumentasikan dalam rekam medis atau sistem rujukan sesuai mekanisme mutu unit.
C. Ilustrasi Kasus Lapangan
Seorang pasien datang dengan abses Bartholin rekuren untuk ketiga kalinya dalam satu tahun, telah menjalani insisi-drainase sederhana pada dua episode sebelumnya di fasilitas primer tanpa pemasangan kateter, sehingga berulang kambuh. Keterbatasan biaya membuat pasien enggan menjalani prosedur definitif. Tim Obstetri Ginekologi Sosial membantu proses rujukan melalui skema jaminan kesehatan yang berlaku, memberikan edukasi mengenai pentingnya prosedur definitif untuk mencegah rekurensi lanjut, dan mendampingi proses hingga pasien menjalani marsupialisasi tanpa hambatan pembiayaan.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
8.1 Edukasi Fase Akut
- Menjaga higiene vulva dan kepatuhan terhadap rendam hangat (sitz bath) atau perawatan pascadrainase sesuai instruksi.
- Bila terpasang kateter Word, pasien diinformasikan bahwa prosedur pemasangan dapat terasa nyeri namun umumnya dapat ditoleransi setelahnya; tidak ada pembatasan aktivitas khusus termasuk aktivitas seksual, meski sebagian pasien melaporkan gangguan sementara pada aktivitas tersebut selama kateter terpasang.
- Mengenali tanda bahaya yang memerlukan kontrol segera: demam tinggi, nyeri yang memberat, perluasan kemerahan, atau tanda infeksi sistemik.
8.2 Edukasi Pencegahan Rekurensi
- Pentingnya kontrol ulang bila teraba massa menetap atau berulang.
- Penjelasan mengenai pilihan prosedur definitif (kateter Word/marsupialisasi) untuk menurunkan risiko kekambuhan dibandingkan insisi-drainase sederhana tanpa kateter.
- Anjuran skrining IMS bila terdapat faktor risiko, serta praktik seksual aman dan higiene perineum untuk mengurangi risiko obstruksi/infeksi duktus berulang.
9. Prognosis
9.1 Prognosis Kista Bartholin
Umumnya sangat baik; kista kecil asimtomatik dapat menetap tanpa gangguan bermakna atau mengalami resolusi spontan tanpa tata laksana.
9.2 Prognosis Abses dan Rekurensi
Baik dengan drainase yang adekuat disertai kateter Word atau marsupialisasi, dengan angka rekurensi berkisar 10–12% dalam satu tahun berdasarkan bukti uji klinis acak. Insisi-drainase sederhana tanpa disertai pembentukan traktus permanen memiliki risiko rekurensi yang jauh lebih tinggi dan tidak direkomendasikan sebagai tata laksana tunggal. Keganasan kelenjar Bartholin sangat jarang; prognosis pada kasus tersebut bergantung pada stadium saat ditemukan dan memerlukan tata laksana onkologi ginekologi.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
10.1 Ringkasan Evidens Diagnostik
| Aspek | Tingkat Evidens | Rekomendasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| Diagnosis klinis kista/abses tanpa penunjang rutin | Level IV (opini ahli/konsensus) | B | Kepkonsil Tabel 7 No. 45; Carlson & Wittler, StatPearls 2025 |
| Biopsi pada usia ≥40 tahun untuk menyingkirkan keganasan | Level III (studi observasional) | B | Carlson & Wittler, StatPearls 2025; Bati-Paracha & Sharma, TOG 2023 |
| Skrining IMS pada kasus abses dengan faktor risiko | Level III (studi observasional) | B | Elkins dkk., Am J Emerg Med 2021 |
10.2 Ringkasan Evidens Tata Laksana
| Aspek | Tingkat Evidens | Rekomendasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| Kateter Word setara efektif dengan marsupialisasi (rekurensi 12% vs 10%/tahun) | Level I (RCT tunggal) | A | Kroese dkk. (WoMan-trial), BJOG 2017 |
| Insisi-drainase sederhana tanpa kateter memiliki rekurensi tidak dapat diterima | Level II (tinjauan sistematis) | A | Illingworth dkk., BJOG 2020; Carlson & Wittler, StatPearls 2025 |
| Drainase sebagai terapi definitif abses; antibiotik sebagai tambahan bukan pengganti | Level III–IV (konsensus klinis) | B | Bati-Paracha & Sharma, TOG 2023 |
| Kateter Word dapat menimbulkan nyeri pemasangan dan gangguan sementara fungsi seksual | Level III (studi kohort) | B | Psilopatis dkk., In Vivo 2024 |
11. Indikator Medis
11.1 Indikator Proses
- Proporsi kasus abses Bartholin yang mendapat tindakan drainase disertai kateter Word/marsupialisasi (bukan insisi-drainase sederhana tanpa kateter) pada kunjungan yang sama [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru].
- Proporsi kasus dengan dokumentasi kriteria biopsi (usia ≥40 tahun/atipikal/rekuren) pada rekam medis.
11.2 Indikator Luaran
- Tingkat rekurensi pascaprosedur dalam periode pemantauan 1 tahun, dengan target sejalan bukti acuan (≤12%) [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru untuk capaian aktual unit].
- Tingkat komplikasi pascaprosedur (perdarahan, infeksi luka, dispareunia persisten, gangguan fungsi seksual sementara).
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan kista dan abses Bartholin sebagai satu entri kompetensi klinis (Tabel 7 No. 45) tanpa merinci hierarki teknik prosedural. Standar internasional berikut memperkaya — bukan menggantikan — acuan tersebut dalam pemilihan teknik tata laksana definitif.
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (melalui jurnal The Obstetrician & Gynaecologist/TOG, Bati-Paracha & Sharma, 2023) merekomendasikan drainase sebagai tata laksana definitif abses Bartholin, dengan pemasangan kateter Word atau marsupialisasi sebagai pilihan lini pertama pada kasus simtomatik/rekuren dibandingkan insisi-drainase sederhana, serta biopsi pada usia ≥40 tahun untuk menyingkirkan keganasan.
- Tinjauan sistematis yang melibatkan peneliti dari Cochrane Gynaecology and Fertility Group (Illingworth dkk., BJOG 2020) menyimpulkan bahwa marsupialisasi dan kateter Word memberikan angka rekurensi lebih rendah dibandingkan insisi-drainase sederhana, sejalan dengan hasil uji klinis acak WoMan-trial (Kroese dkk., BJOG 2017) yang menunjukkan efektivitas setara antara kedua teknik tersebut dengan perbedaan pada kecepatan tindakan dan kebutuhan analgesik.
- WHO, melalui rekomendasi pengobatan terkini untuk Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis (WHO, 2024), menjadi acuan pemilihan regimen antibiotik pada abses Bartholin dengan kultur atau kecurigaan klinis IMS positif, dengan penyesuaian pada pola resistensi antimikroba regional.
Perbedaan penekanan: standar nasional menetapkan kompetensi umum diagnosis dan tata laksana kista/abses Bartholin sebagai kewenangan spesialis Obstetri dan Ginekologi tanpa preferensi teknik prosedural spesifik; standar internasional secara eksplisit tidak merekomendasikan insisi-drainase sederhana tanpa kateter sebagai tata laksana tunggal karena rekurensi tinggi, dan mengutamakan kateter Word/marsupialisasi. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional sebagai kerangka kompetensi, dengan pemilihan teknik definitif disesuaikan dengan bukti internasional tersebut serta ketersediaan fasilitas dan kompetensi operator setempat.
13. Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Tabel 7, entri No. 45. 2026. (Dokumen regulasi internal, tidak dipublikasikan daring.)
- Carlson K, Wittler M. Bartholin Gland Cyst. Dalam: StatPearls [Internet]. Treasure Island: StatPearls Publishing; diperbarui 19 Agustus 2025. PMID: 30335304. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532271/
- Bati-Paracha A, Sharma M. Management of Bartholin's cyst and abscess. The Obstetrician & Gynaecologist. 2023;25:72–77. Tersedia pada: https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/tog.12847
- Illingworth B, Stocking K, Showell M, Kirk E, Duffy J. Evaluation of treatments for Bartholin's cyst or abscess: a systematic review. BJOG. 2020;127:671–678. PMID: 31876985. Tersedia pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31876985/
- Kroese JA, van der Velde M, Morssink LP, Zafarmand MH, Geomini P, van Kesteren P, dkk. Word catheter and marsupialisation in women with a cyst or abscess of the Bartholin gland (WoMan-trial): a randomised clinical trial. BJOG. 2017;124:243–249. PMID: 27640367. Tersedia pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27640367/
- World Health Organization. Updated recommendations for the treatment of Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis and Treponema pallidum (syphilis), and new recommendations on syphilis testing and partner services. Geneva: WHO; 2024. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/n/who378213/
- National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Balloon catheter insertion for Bartholin's cyst or abscess. Interventional Procedures Guidance [IPG323]. London: NICE; 2009. Tersedia pada: https://www.nice.org.uk/guidance/ipg323
- Elkins JM, Hamid OS, Simon LV, Sheele JM. Association of Bartholin cysts and abscesses and sexually transmitted infections. Am J Emerg Med. 2021;44:323–327. PMID: 32321682. Tersedia pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32321682/
- Psilopatis I, Emons J, Levidou G, Hildebrandt T, Pretscher J, Kehl S. Feasibility and satisfaction with the Word catheter in treatment of Bartholin's cyst and abscess. In Vivo. 2024;38(3):1292–1299. PMID: 38688643. Tersedia pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38688643/
14. Glossarium
- Abses Bartholin
- Infeksi pada kelenjar/duktus Bartholin dengan kumpulan pus disertai tanda inflamasi akut.
- Dispareunia
- Nyeri yang dirasakan saat atau setelah hubungan seksual.
- Duktus Bartholin
- Saluran sepanjang 2,0–2,5 cm yang mengalirkan sekresi kelenjar Bartholin ke introitus vagina.
- Fluktuasi
- Tanda klinis berupa kesan bergelombang/berisi cairan saat massa dipalpasi, khas pada kumpulan pus atau cairan.
- ICD-10 / ICD-11
- International Classification of Diseases revisi ke-10 dan ke-11, sistem klasifikasi dan pengkodean diagnosis yang diterbitkan WHO.
- Kateter Word (Word catheter)
- Selang silikon kecil berujung balon yang dipasang pada kista/abses Bartholin untuk membentuk saluran drainase permanen.
- Kista Bartholin
- Pembesaran kistik non-inflamasi pada kelenjar Bartholin akibat obstruksi duktus.
- Marsupialisasi
- Prosedur bedah menjahit tepi kapsul kista/abses ke tepi kulit/mukosa untuk membentuk saluran drainase permanen.
- NAAT (Nucleic Acid Amplification Test)
- Uji amplifikasi asam nukleat untuk mendeteksi patogen, termasuk Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis.
- Polimikrobial
- Melibatkan lebih dari satu jenis mikroorganisme sebagai penyebab infeksi.
- PPK (Panduan Praktik Klinis)
- Dokumen acuan tata laksana klinis untuk satu diagnosis pada satu episode layanan pasien, mengikuti format PNPK Kementerian Kesehatan.
- Rekurensi
- Kekambuhan kista/abses Bartholin setelah tata laksana sebelumnya.
- Sitz bath (rendam duduk hangat)
- Tindakan merendam area vulva/perineum dalam air hangat untuk meredakan nyeri dan mendukung drainase.
- Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial
- Cabang keilmuan obstetri-ginekologi yang berfokus pada aspek sosial, akses layanan, dan kesehatan reproduksi berbasis komunitas.