Panduan Praktik Klinis tata laksana mioma uteri (leiomioma) tanpa penyulit pada layanan spesialis Obstetri dan Ginekologi — dari anamnesis dan penegakan diagnosis hingga pemilihan tata laksana non-farmakologis, farmakologis, dan bedah/prosedural sesuai beratnya gejala dan rencana reproduksi pasien.
PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B6 — Ginekologi Umum dan Infeksi Saluran Reproduksi, disusun berdasarkan Tabel 7 Lampiran Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, entri No. 47.
Tabel 7 Lampiran Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, entri No. 47; Glosarium Lampiran Bab I huruf D
Mioma uteri (leiomioma uteri, uterine fibroid/leiomyoma) adalah neoplasma jinak monoklonal yang berasal dari sel otot polos (miometrium) uterus, dapat tumbuh tunggal atau multipel, dan merupakan tumor pelvis jinak tersering pada perempuan usia reproduksi.
Sesuai Tabel 7 Lampiran Kepkonsil, entri No. 47, "Mioma uteri tanpa penyulit" (Uterine fibroid without complication) didefinisikan sebagai leiomioma jinak pada uterus tanpa gejala berat atau komplikasi pada penilaian saat ini — dengan keterangan tabel: tumor jinak uterus tanpa komplikasi. Kategori ini mencakup mioma yang asimtomatik atau bergejala ringan-sedang, tanpa disertai perdarahan masif akut, degenerasi bergejala berat, torsi, prolaps mioma submukosa terinfeksi, obstruksi saluran kemih/usus, atau kecurigaan keganasan (leiomiosarkoma).
Klasifikasi lokasi anatomis mengikuti sistem subklasifikasi leiomioma FIGO (submukosa tipe 0-2, intramural tipe 3-4, subserosa tipe 5-7, dan tipe 8 untuk lokasi khusus seperti serviks) — lihat Bagian 12 untuk pembahasan sistem ini sebagai pengayaan standar internasional.
Mioma uteri merupakan neoplasma jinak tersering pada traktus reproduksi perempuan. Tinjauan sistematis epidemiologi oleh Stewart dkk. (2017) melaporkan rentang prevalensi 4,5-68,6% dan insidensi 217-3.745 kasus per 100.000 perempuan-tahun, bervariasi luas menurut populasi studi, usia, dan modalitas deteksi yang digunakan; angka pasti untuk populasi Indonesia [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, POGI] belum tersedia secara nasional.
Kepkonsil Area Kompetensi 2 (Kompetensi Medis) dan Area Kompetensi 3 (Penguasaan Pengetahuan Medis)
Banyak kasus mioma uteri tanpa penyulit bersifat asimtomatik dan ditemukan insidental pada pemeriksaan ginekologis rutin atau ultrasonografi. Bila bergejala, keluhan yang perlu digali secara terarah meliputi:
Kepkonsil Area Kompetensi 2 (Kompetensi Medis)
Pemeriksaan abdomen dapat menunjukkan massa padat, tidak nyeri tekan (kecuali pada degenerasi akut), berbatas relatif jelas, teraba dari arah pelvis pada mioma berukuran besar.
Pemeriksaan ginekologis bimanual umumnya menunjukkan uterus membesar, kontur ireguler atau berbenjol ("bosselated"), konsistensi padat kenyal, mobile, tanpa nyeri tekan pada kasus tanpa penyulit. Pemeriksaan spekulum dilakukan untuk menyingkirkan patologi serviks dan menilai kemungkinan mioma submukosa yang prolaps melalui ostium uteri eksternum.
Tanda vital dan status generalis diperiksa untuk menilai dampak sistemik perdarahan kronik (misalnya tanda anemia) — bukan untuk kegawatan akut, yang berada di luar cakupan kategori tanpa penyulit ini.
Tabel 7 Lampiran Kepkonsil, entri No. 47 (kode ICD hasil verifikasi ulang terhadap sumber)
Kode ICD-10: D25.9 (Leiomioma uteri, tidak dijelaskan/unspecified). Kode ICD-11: 2E86.0. Kedua kode dicantumkan berdampingan sesuai Aturan 3 Perintah Umum.
Diagnosis mioma uteri tanpa penyulit ditegakkan berdasarkan kombinasi temuan klinis (anamnesis dan pemeriksaan bimanual) dan konfirmasi pencitraan, dengan kriteria berikut:
Kepkonsil Area Kompetensi 3 (Penguasaan Pengetahuan Medis)
Diagnosis kerja: Mioma uteri tanpa penyulit (D25.9 / 2E86.0).
Kepkonsil Area Kompetensi 2 (Kompetensi Medis)
Ultrasonografi transvaginal (dilengkapi transabdominal bila uterus sangat membesar) merupakan modalitas penunjang lini pertama untuk konfirmasi jumlah, ukuran, dan lokasi anatomis mioma.
Kepkonsil Area Kompetensi 2 (Kompetensi Medis); ACOG Practice Bulletin No. 228 (2021) dan ACOG Committee Opinion No. 822 (2021) — lihat Bagian 12
Pemilihan tata laksana mioma uteri tanpa penyulit bersifat individual, mempertimbangkan beratnya gejala, ukuran dan lokasi mioma, usia pasien, serta rencana reproduksi. Prinsip umum: observasi pada kasus asimtomatik, tata laksana konservatif (non-bedah) sebagai lini pertama pada kasus bergejala ringan-sedang, dan tata laksana bedah/prosedural dipertimbangkan pada kegagalan terapi konservatif atau gejala berat yang mengganggu kualitas hidup.
Observasi berkala (watchful waiting) dengan evaluasi ulang klinis dan USG setiap 6-12 bulan merupakan pilihan yang tepat pada mioma asimtomatik atau bergejala ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, tanpa memandang ukuran mutlak mioma selama tidak ada tanda penyulit.
Edukasi mengenai pola makan bergizi seimbang dan aktivitas fisik teratur disampaikan sebagai bagian dari tata laksana suportif umum, meskipun bukti langsung terhadap regresi ukuran mioma masih terbatas.
Tujuan utama terapi farmakologis adalah mengendalikan gejala perdarahan dan nyeri, bukan mengeliminasi mioma secara permanen (kecuali agonis GnRH yang dapat mengecilkan volume mioma sementara).
Tata laksana bedah/prosedural dipertimbangkan pada kegagalan terapi farmakologis, gejala berat yang mengganggu kualitas hidup, mioma submukosa dengan gangguan fertilitas, atau atas permintaan pasien setelah konseling menyeluruh mengenai risiko dan manfaat setiap pilihan.
Bila tindakan bedah minimal invasif melibatkan morselasi jaringan, pasien wajib dievaluasi praoperasi terhadap faktor risiko keganasan korpus uteri, mengingat leiomiosarkoma tidak dapat disingkirkan secara pasti sebelum operasi hanya berdasarkan pencitraan. Persetujuan tindakan (informed consent) mencakup penjelasan eksplisit mengenai risiko penyebaran sel ganas yang tidak terdiagnosis melalui morselasi tanpa wadah (uncontained morcellation), beserta alternatif morselasi dalam kantong (contained) atau pendekatan bedah lain, sesuai prinsip pengambilan keputusan bersama.
Rujukan ke subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial dipertimbangkan pada situasi yang memerlukan perspektif tambahan mengenai dampak sosial-ekonomi kondisi terhadap fungsi keluarga dan reproduksi pasien — misalnya pasien dengan keterbatasan akses layanan, kebutuhan konseling reproduksi kompleks terkait rencana kehamilan di tengah tata laksana mioma, ketidaksetaraan akses terhadap pilihan bedah konservasi uterus akibat faktor biaya atau geografis, atau pasien yang memerlukan pendampingan pengambilan keputusan lintas faktor sosial sebelum memilih antara tata laksana konservatif dan bedah.
Rujukan ke subspesialis lain (Fetomaternal bila hamil dengan mioma; Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi bila terkait infertilitas kompleks; Onkologi Ginekologi bila dicurigai keganasan berdasarkan pertumbuhan cepat, nyeri atipikal, atau gambaran pencitraan mencurigakan) dilakukan sesuai indikasi klinis masing-masing, di luar cakupan PPK ini yang berfokus pada mioma tanpa penyulit.
Kepkonsil Area Kompetensi 4 (Kompetensi Interpersonal dan Komunikasi)
Pasien dan keluarga diberikan penjelasan bahwa mioma uteri adalah tumor jinak yang umum dijumpai pada perempuan usia reproduksi, dengan risiko keganasan yang sangat rendah, sehingga tidak seluruh mioma memerlukan tindakan bedah.
Kepkonsil Area Kompetensi 3 (Penguasaan Pengetahuan Medis)
Prognosis mioma uteri tanpa penyulit secara umum baik; mioma jinak tidak mengancam jiwa dan sebagian besar dapat dikendalikan dengan tata laksana konservatif atau bedah konservatif tanpa histerektomi.
Mioma cenderung mengecil secara alami setelah menopause akibat penurunan kadar estrogen. Rekurensi pascamiomektomi dapat terjadi terutama pada mioma multipel, sehingga pemantauan berkala dengan USG tetap direkomendasikan pada pasien yang menjalani tata laksana konservasi uterus, dan pasien perlu diinformasikan bahwa miomektomi tidak menghilangkan kecenderungan biologis pembentukan mioma baru.
Pada pasien dengan rencana kehamilan pascamiomektomi, prognosis reproduksi umumnya baik selama tidak dijumpai komplikasi perioperatif bermakna; jeda waktu pemulihan dinding uterus sebelum kehamilan berikutnya ditentukan secara individual oleh operator berdasarkan luas dan kedalaman insisi miometrium.
ACOG Practice Bulletin No. 228 (2021); FIGO Munro dkk. (2018); Stewart dkk. (2017) — lihat Bagian 12 dan 13
Tingkat evidens mengikuti skala evidens standar yang digunakan pada literatur internasional acuan (Level A: bukti ilmiah baik dan konsisten; Level B: bukti ilmiah terbatas atau tidak konsisten; Level C: konsensus dan opini ahli).
Kepkonsil Area Kompetensi 7 (Kesadaran Biaya dalam Pelayanan Medis)
Indikator keberhasilan tata laksana yang terukur pada pasien mioma uteri tanpa penyulit meliputi:
Aturan 2 Perintah Umum — sumber non-superior, memperkaya bukan menggantikan Kepkonsil
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan kategori "mioma uteri tanpa penyulit" sebagai satu entri diagnosis tunggal (Tabel 7 No. 47) tanpa subklasifikasi anatomis wajib pada level kompetensi dasar spesialis; standar internasional ACOG dan FIGO merekomendasikan pendekatan yang lebih granular berbasis lokasi dan gejala spesifik untuk memandu pemilihan terapi — praktik di Indonesia mengikuti standar nasional sebagai kerangka kompetensi, dengan sistem subklasifikasi internasional digunakan sebagai alat bantu klinis operasional, bukan pengganti kriteria diagnosis Kepkonsil.
ACOG Practice Bulletin No. 228, "Management of Symptomatic Uterine Leiomyomas" (2021), memberikan rekomendasi berbasis bukti terkini untuk tata laksana medis, prosedural, dan bedah leiomioma bergejala, termasuk penekanan bahwa histerektomi bukan satu-satunya pilihan definitif dan bahwa pilihan konservasi uterus (miomektomi, embolisasi arteri uterina, agonis GnRH, ablasi radiofrekuensi) harus dipertimbangkan sesuai preferensi dan rencana reproduksi pasien.
FIGO, melalui publikasi Munro, Critchley, dan Fraser (2018) mengenai revisi sistem PALM-COEIN, menyediakan sistem subklasifikasi leiomioma (tipe 0 hingga 8 berdasarkan lokasi terhadap kavum uteri dan serosa) yang membantu standardisasi komunikasi klinis lintas negara mengenai lokasi mioma dan implikasinya terhadap pemilihan pendekatan bedah — standar nasional Kepkonsil belum mewajibkan subklasifikasi ini secara eksplisit dalam Tabel 7, sehingga penggunaannya bersifat pengayaan opsional pada dokumentasi klinis operasional.
ACOG Committee Opinion No. 822, "Uterine Morcellation for Presumed Leiomyomas" (2021), menegaskan perlunya evaluasi risiko keganasan praoperasi dan persetujuan tindakan yang eksplisit mengenai risiko morselasi sebelum tindakan bedah minimal invasif — standar nasional Kepkonsil belum mengatur protokol konseling morselasi secara rinci pada level kompetensi dasar, sehingga poin ini menjadi pengayaan praktik keselamatan pasien yang relevan diterapkan pada layanan dengan fasilitas bedah minimal invasif.