Adenomiosis tanpa Penyulit Infertilitas
Adenomyosis without Infertility
Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 No. 48 — populasi sasaran: "Adenomiosis ringan, tanpa infertilitas".
1. Pengertian/Definisi
Panduan ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B7 — Tumor Jinak Ginekologi dan Kelainan Struktural Uterus, khususnya bab tentang kelainan jinak miometrium, dan disusun berdasarkan entri No. 48 Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026.
Adenomiosis (Adenomyosis) adalah kelainan uterus jinak yang ditandai oleh keberadaan kelenjar dan stroma endometrium ektopik di dalam miometrium, disertai hiperplasia dan hipertrofi otot polos di sekitarnya. Secara klinis kondisi ini menimbulkan gejala nyeri haid, nyeri panggul, dan/atau perdarahan uterus abnormal, meskipun sekitar sepertiga penderita tidak bergejala. Kategori PPK ini secara khusus mencakup adenomiosis ringan tanpa penyulit infertilitas — yaitu pasien dengan gejala nyeri dan/atau perdarahan tanpa keluhan atau rencana kehamilan yang terkendala oleh kondisi ini pada saat penilaian dilakukan.
Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, entri No. 48: "Adenomiosis tanpa penyulit infertilitas / Adenomyosis without infertility", kode ICD-10 N80.0, kode ICD-11 GA11, dengan Keterangan/Populasi: "Adenomiosis ringan, tanpa infertilitas". Diagnosis dan tata laksana berada pada tingkat kompetensi spesialis Obstetri dan Ginekologi sesuai kewenangan yang ditetapkan Kepkonsil.
Patofisiologi Singkat
Mekanisme pasti terjadinya adenomiosis belum sepenuhnya dipahami. Tiga kelompok teori patogenesis yang paling banyak diterima meliputi: (1) invaginasi langsung endometrium basalis ke dalam miometrium melalui zona junctional yang mengalami gangguan struktural, disertai proses cedera dan perbaikan jaringan berulang akibat hiperperistaltik uterus; (2) metaplasia sel punca embrionik atau dewasa yang berada di dalam miometrium; dan (3) migrasi serta diferensiasi sel punca endometrium dan stroma setelah menstruasi retrograd, termasuk invasi dari lesi endometriosis infiltratif dalam ke arah miometrium ('dari luar ke dalam'). Pemahaman terhadap teori-teori ini membantu menjelaskan variasi fenotipe adenomiosis pada pencitraan dan histopatologi.
Klasifikasi Adenomiosis
Secara morfologis, adenomiosis diklasifikasikan sebagai difus (mengenai miometrium secara luas) atau fokal/adenomioma (lesi terbatas yang dikelilingi miometrium hipertrofik). Berdasarkan lokasi anatomis pada pencitraan resonansi magnetik (MRI), klasifikasi Kishi membagi adenomiosis menjadi empat subtipe: subtipe I (intrinsik, mengenai miometrium bagian dalam dan berhubungan langsung dengan zona junctional), subtipe II (ekstrinsik, mengenai miometrium bagian luar dan diduga berasal dari invasi endometriosis dari luar uterus), subtipe III (intramural, lesi soliter yang tidak berhubungan dengan struktur zona junctional maupun serosa), dan subtipe IV (tidak tergolongkan/campuran). Klasifikasi ini bermanfaat untuk menentukan strategi bedah konservatif, khususnya pada pasien yang mempertahankan keinginan fertilitas di kemudian hari.
Adenomiosis sering ditemukan bersamaan dengan endometriosis eksternal dan mioma uteri; laporan pada seri histerektomi menunjukkan komorbiditas ginekologis (mioma, endometriosis, polip endometrium, atau hiperplasia endometrium) pada sebagian besar kasus adenomiosis. Meskipun demikian, adenomiosis dan endometriosis dipandang sebagai dua entitas nosologis yang berbeda, bukan satu spektrum penyakit yang sama, sehingga memerlukan kerangka evidens dan tata laksana tersendiri.
Bila pada evaluasi ditemukan indikasi infertilitas yang berkaitan dengan adenomiosis, rujukan lintas-PPK ke jalur tata laksana infertilitas subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi harus dilakukan sesuai kriteria pada bagian 7.4.
2. Anamnesis
Anamnesis terarah ditujukan untuk menggali pola gejala khas adenomiosis serta menyingkirkan diagnosis banding penyebab nyeri panggul dan perdarahan uterus abnormal lain. Perlu diingat bahwa tidak terdapat satu pun gejala yang bersifat patognomonik untuk adenomiosis, sehingga kecurigaan klinis dibangun dari kombinasi gejala, bukan dari satu keluhan tunggal.
Keluhan Utama yang Perlu Digali
- Dismenore sekunder progresif — nyeri haid yang memberat dari waktu ke waktu, sering dimulai beberapa hari sebelum menstruasi dan berlanjut sepanjang masa haid; tingkat keparahan cenderung berkorelasi dengan kedalaman dan luas infiltrasi adenomiosis pada miometrium.
- Perdarahan uterus abnormal, umumnya berupa menoragia (perdarahan haid banyak dan/atau memanjang), akibat peningkatan volume uterus, vaskularisasi, gangguan kontraktilitas miometrium, serta peningkatan produksi estrogen dan prostaglandin lokal.
- Nyeri panggul kronik non-siklik pada sebagian pasien, terutama bila terdapat komorbiditas endometriosis infiltratif dalam.
- Dispareunia dalam (deep dyspareunia) pada sebagian kasus.
- Gejala tekanan lokal, serta keluhan berkemih atau buang air besar (disuria, diskezia) pada kasus dengan komorbiditas endometriosis kavum Douglas.
- Riwayat obstetrik dan ginekologi: paritas, riwayat seksio sesarea, atau prosedur intrauterin sebelumnya (kuretase), yang dilaporkan berhubungan dengan peningkatan risiko adenomiosis melalui mekanisme cedera mekanis pada antarmuka endometrium-miometrium.
- Usia — secara klasik gejala dikaitkan dengan wanita multipara usia 40-50 tahun, tetapi data pencitraan kontemporer menunjukkan gambaran adenomiosis juga dijumpai pada wanita nulipara usia muda (18-30 tahun) yang bergejala.
- Konfirmasi eksplisit tidak adanya keluhan infertilitas atau rencana kehamilan yang terhambat pada saat penilaian — untuk memastikan kesesuaian dengan cakupan PPK ini.
Penyingkiran Diagnosis Banding melalui Anamnesis
Tanyakan gejala yang mengarah ke mioma uteri (rasa penuh/tertekan di panggul, gejala penekanan kandung kemih atau rektum), endometriosis (nyeri siklik pada organ ekstragenital, diskezia, dispareunia dalam), maupun tanda bahaya keganasan endometrium seperti perdarahan pascamenopause, karena kondisi tersebut memerlukan jalur diagnosis dan tata laksana berbeda dan dapat memengaruhi urgensi rujukan (lihat bagian 7.4).
3. Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum: tanda vital, tanda anemia (pucat, takikardia) bila terdapat riwayat menoragia bermakna.
- Pemeriksaan abdomen: teraba uterus membesar secara difus pada kasus dengan volume uterus signifikan, umumnya simetris dengan kontur luar yang tetap teratur (berbeda dengan mioma yang cenderung ireguler/berbenjol).
- Pemeriksaan bimanual/ginekologi: uterus teraba membesar difus, konsistensi lunak hingga kenyal ("boggy"), nyeri tekan uterus (terutama saat periode perimenstrual). Estimasi ukuran uterus melalui pemeriksaan bimanual telah dilaporkan berkorelasi cukup baik dengan hasil pencitraan pada pasien yang menjalani histerektomi, tetapi pemeriksaan fisik saja tidak dapat menegakkan diagnosis adenomiosis secara akurat.
- Pemeriksaan spekulum untuk menyingkirkan sumber perdarahan dari serviks atau vagina.
- Pemeriksaan fisik dapat sepenuhnya normal pada adenomiosis derajat ringan atau fokal — sehingga hasil normal tidak menyingkirkan diagnosis dan tetap memerlukan konfirmasi pencitraan bila kecurigaan klinis tinggi.
4. Kriteria Diagnosis
| Sistem Klasifikasi | Kode | Keterangan |
|---|---|---|
| ICD-10 | N80.0 | Endometriosis uteri (adenomiosis) |
| ICD-11 | GA11 | Adenomyosis of uterus |
Diagnosis adenomiosis pada layanan spesialis ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala klinis khas (dismenore progresif dan/atau menoragia pada wanita usia reproduksi hingga perimenopause) dengan temuan pencitraan sugestif — ultrasonografi transvaginal (USG-TV) sebagai modalitas lini pertama, dengan MRI sebagai modalitas komplementer pada kasus meragukan, adanya mioma multipel yang mempersulit interpretasi USG, atau perencanaan bedah konservatif yang memerlukan pemetaan lesi lebih presisi. Diagnosis definitif secara historis ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi spesimen histerektomi, namun pada praktik klinis kontemporer diagnosis kerja ditegakkan secara non-invasif berdasarkan kriteria pencitraan terstandardisasi, sejalan dengan pergeseran paradigma tata laksana adenomiosis ke arah konservasi uterus.
Kriteria Pencitraan — Ultrasonografi Transvaginal
Fitur sonografi langsung yang mengarah pada adenomiosis meliputi kista miometrium, pulau hiperekoik (hyperechogenic islands), garis dan tunas subendometrium ekogenik (echogenic subendometrial lines and buds), serta vaskularisasi translesi pada Doppler warna/power — berbeda dari pola vaskularisasi sirkular yang khas pada mioma. Fitur tidak langsung meliputi pembesaran uterus asimetris/globular, penebalan atau ireguleritas zona junctional, dan bayangan akustik berbentuk kipas (fan-shaped shadowing) tanpa massa fokal yang jelas. Terminologi dan definisi operasional tiap fitur mengikuti konsensus internasional MUSA (rujuk bagian 12).
Kriteria Pencitraan — Magnetic Resonance Imaging
MRI berperan sebagai modalitas lini kedua dengan akurasi diagnostik tinggi. Kriteria objektif yang lazim digunakan pada sekuens T2-weighted meliputi: penebalan zona junctional maksimal ≥8-12 mm, rasio ketebalan zona junctional maksimal terhadap total ketebalan miometrium >40%, dan selisih ketebalan zona junctional maksimal-minimal (JZmax−JZmin) >5 mm. Penebalan zona junctional >12 mm sangat prediktif untuk adenomiosis, sedangkan ketebalan <8 mm umumnya menyingkirkan diagnosis. Tanda tambahan berupa fokus intensitas tinggi pada sekuens T1-weighted (mengindikasikan area perdarahan) memiliki nilai prediksi positif tinggi meski sensitivitasnya terbatas. Perlu diwaspadai kontraksi uterus transien yang dapat menyerupai penebalan fokal zona junctional secara sementara; pengulangan akuisisi citra setelah beberapa menit dapat membantu membedakan kondisi fisiologis tersebut dari adenomiosis sesungguhnya.
Adenomiosis dapat bersifat difus, fokal (adenomioma), atau campuran keduanya. Pada pencitraan MRI, klasifikasi Kishi (subtipe I-IV berdasarkan lokasi anatomis lesi) dapat digunakan untuk memandu strategi bedah konservatif. Klasifikasi morfologi ini memengaruhi pilihan tata laksana dan harus dicatat secara eksplisit pada laporan pencitraan.
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis Kerja: Adenomiosis tanpa penyulit infertilitas (ICD-10 N80.0 / ICD-11 GA11), ditegakkan berdasarkan gejala klinis khas dan temuan pencitraan sugestif sebagaimana diuraikan pada bagian 4.
Diagnosis Banding
- Mioma uteri (leiomioma) — massa uterus umumnya berbatas tegas dan diskret dengan pola vaskularisasi sirkular pada pencitraan, berbeda dari pola difus dan vaskularisasi translesi pada adenomiosis. Kedua kondisi dapat berkoeksistensi pada uterus yang sama.
- Endometriosis eksternal — dapat ditemukan bersamaan; ditandai lesi di luar uterus (ovarium, peritoneum, kavum Douglas). Komorbiditas adenomiosis-endometriosis dilaporkan cukup tinggi pada seri kasus bedah, sehingga pencitraan menyeluruh terhadap kompartemen pelvis tetap dianjurkan.
- Hiperplasia endometrium — memerlukan evaluasi ketebalan dan sampling endometrium, terutama pada perdarahan uterus abnormal yang tidak khas.
- Perdarahan uterus abnormal akibat penyebab lain dalam sistem klasifikasi PALM-COEIN (polip, koagulopati, disfungsi ovulasi, penyebab endometrium, iatrogenik, belum terklasifikasi) — lihat bagian 12 untuk rujukan kerangka klasifikasi internasional.
- Keganasan endometrium atau sarkoma uterus — harus disingkirkan terutama pada perdarahan pascamenopause, pertumbuhan massa uterus yang cepat, atau faktor risiko keganasan; menjadi dasar kriteria rujukan pada bagian 7.4.
6. Pemeriksaan Penunjang
- Ultrasonografi transvaginal (USG-TV) — modalitas lini pertama untuk menilai morfologi miometrium menggunakan kriteria terstandardisasi (lihat bagian 4 dan 12). Penambahan Doppler warna/power meningkatkan akurasi diagnostik keseluruhan dibandingkan USG skala abu-abu saja.
- Magnetic Resonance Imaging (MRI) pelvis — dipertimbangkan bila hasil USG-TV meragukan, terdapat kecurigaan koeksistensi dengan mioma multipel yang mempersulit interpretasi USG, uterus berukuran sangat besar, atau bila direncanakan tata laksana bedah konservatif yang memerlukan pemetaan lesi lebih presisi.
- Pemeriksaan darah perifer lengkap — untuk menilai derajat anemia pada pasien dengan menoragia bermakna.
- Sampling endometrium (biopsi endometrium) — dipertimbangkan pada pasien dengan faktor risiko keganasan endometrium atau pola perdarahan uterus abnormal yang tidak khas untuk adenomiosis semata, sesuai indikasi klinis dan bukan sebagai pemeriksaan rutin bagi seluruh pasien.
- Pemeriksaan kadar CA-125 tidak direkomendasikan secara rutin sebagai alat diagnostik utama karena sensitivitas dan spesifisitas yang terbatas untuk membedakan adenomiosis dari kondisi ginekologis jinak lain.
7. Tata Laksana
Prinsip tata laksana adenomiosis tanpa penyulit infertilitas bersifat individual, mempertimbangkan derajat keparahan gejala, usia, keinginan mempertahankan fertilitas di masa depan, komorbiditas, serta preferensi pasien. Pendekatan bertahap dimulai dari modalitas non-invasif sebelum mempertimbangkan tindakan bedah, sejalan dengan prinsip yang dianut pedoman klinis internasional kontemporer (lihat bagian 12).
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
- Edukasi mengenai sifat jinak kondisi dan perjalanan alamiah penyakit, termasuk kecenderungan perbaikan gejala memasuki masa perimenopause dan pascamenopause.
- Modifikasi gaya hidup dan manajemen nyeri suportif (kompres hangat, aktivitas fisik teratur) sebagai terapi ajuvan.
- Pemantauan berkala pada kasus gejala ringan yang masih dapat ditoleransi pasien tanpa terapi farmakologis.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
- Lini pertama — analgesik antiinflamasi nonsteroid (AINS) untuk dismenore ringan hingga sedang.
- Sistem intrauterin pelepas levonorgestrel (LNG-IUS) — salah satu pilihan lini pertama untuk pasien tanpa keinginan hamil segera, dengan bukti perbaikan bermakna pada skor nyeri, volume perdarahan menstruasi, dan volume uterus pada berbagai tinjauan sistematik dan meta-analisis kontemporer.
- Dienogest oral — progestin selektif reseptor progesteron yang terbukti pada uji klinis acak tersamar ganda terkontrol plasebo menurunkan skor nyeri secara bermakna pada pasien adenomiosis simtomatik, dengan data keamanan jangka panjang yang mendukung penggunaan berkelanjutan; merupakan alternatif farmakologis lini pertama/kedua yang setara efektivitasnya dengan LNG-IUS untuk pengendalian nyeri pada beberapa uji banding.
- Kontrasepsi hormonal kombinasi atau progestin kontinu lain — alternatif bila LNG-IUS atau dienogest tidak dapat diterima atau tidak sesuai untuk pasien.
- Agonis GnRH — dipertimbangkan pada gejala berat atau sebagai terapi pra-bedah untuk mengecilkan volume uterus dan menipiskan zona junctional, dengan memperhatikan efek samping hipoestrogenik dan keterbatasan durasi penggunaan (terapi tambahan/add-back therapy dipertimbangkan bila durasi terapi diperpanjang).
- Asam traneksamat — dipertimbangkan sebagai terapi tambahan nonhormonal untuk menoragia pada siklus menstruasi bila terapi hormonal dikontraindikasikan atau tidak dikehendaki pasien.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)
- Ablasi/reseksi endometrium — dipertimbangkan pada adenomiosis superfisial dengan menoragia refrakter terhadap terapi medikamentosa pada pasien tanpa keinginan mempertahankan fertilitas.
- Adenomiomektomi (eksisi bedah konservatif fokus adenomiosis/adenomioma) — dipertimbangkan pada adenomiosis fokal dengan gejala berat yang refrakter terhadap terapi medikamentosa, khususnya bila fertilitas di masa depan menjadi pertimbangan; klasifikasi lokasi lesi (lihat bagian 1 dan 4) membantu perencanaan pendekatan bedah.
- Embolisasi arteri uterina atau ablasi termal berpandu pencitraan (mis. high-intensity focused ultrasound) — pilihan konservasi uterus pada pusat layanan dengan fasilitas dan kompetensi yang memadai, umumnya untuk pasien yang tidak lagi merencanakan kehamilan dalam waktu dekat.
- Histerektomi — merupakan terapi definitif pada pasien dengan gejala berat refrakter terhadap seluruh modalitas di atas dan tidak lagi menginginkan fertilitas; keputusan didasarkan pada diskusi pengambilan keputusan bersama (shared decision-making) yang mempertimbangkan preferensi dan kualitas hidup pasien.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Onkologi Ginekologi
Kontribusi perspektif Divisi Onkologi Ginekologi pada PPK ini relevan karena diagnosis banding utama adenomiosis pada perdarahan uterus abnormal mencakup keganasan endometrium dan sarkoma uterus, yang memerlukan kewaspadaan dan jalur rujukan yang jelas.
- Perdarahan uterus abnormal disertai faktor risiko keganasan endometrium (usia >45 tahun, obesitas, riwayat paparan estrogen tanpa perlawanan, riwayat keluarga kanker endometrium/kolorektal herediter).
- Perdarahan pascamenopause yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh temuan adenomiosis semata.
- Temuan pencitraan yang meragukan antara adenomiosis dan proses keganasan miometrium (mis. kecurigaan sarkoma uterus), atau pertumbuhan massa uterus yang cepat.
- Hasil sampling endometrium dengan atipia atau temuan patologis lain di luar cakupan kewenangan tata laksana PPK ini.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
- Menjelaskan bahwa adenomiosis adalah kondisi jinak yang umum dijumpai dan tidak berhubungan langsung dengan risiko keganasan.
- Menjelaskan pilihan tata laksana bertahap beserta manfaat, risiko, dan efek samping masing-masing modalitas, termasuk implikasinya terhadap rencana fertilitas di masa depan.
- Menekankan pentingnya kontrol berkala untuk memantau respons terapi dan kemungkinan penyesuaian rencana tata laksana.
- Mengedukasi tanda bahaya yang memerlukan evaluasi segera: perdarahan sangat banyak, nyeri hebat yang tidak tertahankan, atau tanda anemia berat.
- Melibatkan pasangan/keluarga dalam diskusi bila terkait pertimbangan fertilitas di masa mendatang.
9. Prognosis
Prognosis adenomiosis tanpa penyulit infertilitas umumnya baik dari segi kualitas hidup dengan tata laksana yang tepat sasaran; sebagian besar pasien mengalami perbaikan gejala nyeri dan perdarahan dengan terapi medikamentosa lini pertama, khususnya LNG-IUS maupun dienogest. Kondisi ini bersifat jinak dan tidak mengancam nyawa. Gejala umumnya membaik memasuki masa perimenopause dan pascamenopause seiring penurunan kadar estrogen, karena ketebalan zona junctional dan aktivitas lesi adenomiosis bersifat responsif terhadap status hormonal. Pada kasus dengan gejala berat refrakter, tata laksana bedah konservatif atau definitif memberikan perbaikan gejala bermakna pada mayoritas pasien.
Perlu dicatat bahwa apabila di kemudian hari pasien merencanakan kehamilan, adenomiosis derajat difus telah dilaporkan berhubungan dengan luaran reproduksi yang kurang optimal pada beberapa studi kohort dan meta-analisis (termasuk risiko keguguran, persalinan prematur, dan gangguan pertumbuhan janin), sehingga edukasi mengenai pemantauan antenatal yang lebih ketat perlu diberikan apabila status fertilitas pasien berubah di kemudian hari. Pemantauan tersebut berada di luar cakupan PPK ini dan mengikuti alur PPK obstetri yang relevan.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
| Rekomendasi | Tingkat Evidens | Sumber |
|---|---|---|
| USG-TV sebagai modalitas pencitraan lini pertama untuk diagnosis adenomiosis | Evidens tingkat II-2, Rekomendasi B | Konsensus MUSA (Harmsen dkk., 2022); Pedoman SOGC No. 437 (2023) |
| MRI sebagai modalitas komplementer pada kasus meragukan atau perencanaan bedah konservatif | Evidens tingkat II-2, Rekomendasi B | Chapron dkk., Hum Reprod Update 2020 |
| LNG-IUS dan dienogest sebagai terapi farmakologis lini pertama pada adenomiosis simtomatik tanpa keinginan hamil | Evidens tingkat I-II, Rekomendasi A/B | Osuga dkk., J Obstet Gynaecol Res 2017; tinjauan sistematik dan meta-analisis kontemporer (lihat Kepustakaan) |
| Adenomiomektomi sebagai pilihan konservasi uterus pada adenomiosis fokal simtomatik | Evidens tingkat II-3, Rekomendasi B | Pedoman SOGC No. 437 (2023); tinjauan sistematik seri kasus bedah konservatif |
| Klasifikasi PALM-COEIN (FIGO) untuk pendekatan diagnosis banding perdarahan uterus abnormal | Konsensus ahli, Rekomendasi A | ACOG Practice Bulletin No. 128 (2012, reaffirmed 2024), mengadopsi sistem FIGO |
Skala tingkat evidens mengikuti sistem gradasi standar yang lazim digunakan pada Panduan Praktik Klinis Kementerian Kesehatan (skala I hingga III dengan subklasifikasi, dan rekomendasi gradasi A-C).
11. Indikator Medis
- Penurunan skor nyeri haid (skala nyeri numerik/VAS) sebesar minimal 50% dalam 3-6 bulan sejak inisiasi terapi lini pertama, sebagai ambang keberhasilan yang lazim digunakan pada evaluasi terapi nyeri ginekologis.
- Perbaikan pola perdarahan menstruasi terukur (mis. penurunan skor Pictorial Blood Assessment Chart/PBAC) pada kontrol 3-6 bulan.
- Kadar hemoglobin kembali ke rentang normal pada pasien yang sebelumnya anemia akibat menoragia.
- Tidak terjadi kejadian tidak diinginkan bermakna terkait modalitas terapi yang dipilih (mis. ekspulsi LNG-IUS, komplikasi pascabedah).
- Kepatuhan pasien terhadap jadwal kontrol berkala yang ditetapkan.
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan adenomiosis tanpa penyulit infertilitas sebagai kompetensi spesialis Obstetri dan Ginekologi dengan diagnosis dan tata laksana lini awal di tingkat layanan spesialis umum. Berikut pembandingan dan pengayaan dari standar internasional yang relevan.
Pedoman Klinis SOGC No. 437 — Diagnosis and Management of Adenomyosis (2023)
The Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada (SOGC) menerbitkan pedoman klinis khusus adenomiosis yang menekankan pendekatan diagnosis non-invasif berbasis USG-TV dan MRI, serta algoritme tata laksana bertahap mulai dari AINS, LNG-IUS, dienogest, kontrasepsi hormonal kombinasi, agonis GnRH, hingga pilihan bedah konservasi uterus (adenomiomektomi, embolisasi arteri uterina, ablasi termal) dan histerektomi sebagai pilihan terakhir. Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan cakupan kompetensi serupa pada tingkat spesialis umum; standar internasional SOGC memberikan pengayaan berupa algoritme tata laksana bertahap yang eksplisit dan penekanan pada konservasi uterus bagi pasien yang mempertahankan keinginan fertilitas di masa depan; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional dengan mengadopsi prinsip pendekatan bertahap tersebut sebagaimana tercermin pada bagian 7.
Konsensus MUSA (Ultrasound in Obstetrics & Gynecology, 2022)
Kelompok kerja internasional Morphological Uterus Sonographic Assessment (MUSA), yang publikasi revisinya dimuat pada jurnal resmi International Society of Ultrasound in Obstetrics and Gynecology (ISUOG), menetapkan terminologi dan kriteria terstandardisasi untuk fitur sonografi adenomiosis melalui prosedur Delphi termodifikasi pada 2022. Fitur dibagi menjadi fitur langsung (kista miometrium, pulau hiperekoik, garis/tunas subendometrium ekogenik, vaskularisasi translesi) dan fitur tidak langsung (pembesaran uterus asimetris/globular, ireguleritas zona junctional, bayangan berbentuk kipas). Standar internasional ini merekomendasikan penggunaan terminologi terstandardisasi tersebut secara konsisten pada pelaporan USG-TV untuk mendukung reproduktifitas antarpemeriksa; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional namun disarankan mengadopsi terminologi MUSA sebagai kerangka pelaporan sonografi untuk keseragaman dokumentasi lintas fasilitas layanan.
ACOG Practice Bulletin No. 128 (2012, reaffirmed 2024)
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menempatkan adenomiosis sebagai komponen "A" dalam sistem klasifikasi PALM-COEIN — kerangka klasifikasi penyebab perdarahan uterus abnormal yang dikembangkan oleh Komite Gangguan Menstruasi Federasi Internasional Ginekologi dan Obstetri (FIGO) dan diadopsi ACOG — serta merekomendasikan USG-TV sebagai modalitas pencitraan awal dengan sonohisterografi atau histeroskopi sebagai pelengkap bila dicurigai kelainan intrakavum yang menyertai. Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan alur diagnosis serupa berbasis USG-TV lini pertama; standar internasional ACOG/FIGO menambahkan penekanan eksplisit pada kerangka klasifikasi PALM-COEIN sebagai bahasa terpadu lintas penyebab perdarahan uterus abnormal untuk konteks dokumentasi dan penelitian; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional dengan pengayaan kerangka klasifikasi tersebut sebagai alat bantu diagnosis banding (lihat bagian 5).
Pedoman ESHRE Endometriosis 2022 secara eksplisit menyatakan bahwa adenomiosis tidak dipandang sebagai bentuk atau subtipe endometriosis, dan bahwa rekomendasi tata laksana khusus adenomiosis akan disusun terpisah dari pedoman endometriosis. Hal ini menegaskan bahwa adenomiosis dan endometriosis eksternal — meski sering berkoeksistensi secara klinis — merupakan dua entitas nosologis yang memerlukan kerangka evidens dan tata laksana tersendiri, sejalan dengan pendekatan PPK ini.
13. Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Tabel 7, entri No. 48.
- Dason ES, Maxim M, Sanders A, Papillon-Smith J, Ng D, Chan C, Sobel M. Guideline No. 437: Diagnosis and Management of Adenomyosis. J Obstet Gynaecol Can. 2023;45(6):417-429.e1. DOI: 10.1016/j.jogc.2023.04.008.
- Harmsen MJ, Van den Bosch T, de Leeuw RA, dkk. Consensus on revised definitions of Morphological Uterus Sonographic Assessment (MUSA) features of adenomyosis: results of modified Delphi procedure. Ultrasound Obstet Gynecol. 2022;60(1):118-131. DOI: 10.1002/uog.24786.
- Chapron C, Vannuccini S, Santulli P, Abrão MS, Carmona F, Fraser IS, Gordts S, Guo SW, Just PA, Noël JC, Pistofidis G, Van den Bosch T, Petraglia F. Diagnosing adenomyosis: an integrated clinical and imaging approach. Hum Reprod Update. 2020;26(3):392-411. DOI: 10.1093/humupd/dmz049.
- Committee on Practice Bulletins—Gynecology, American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 128: Diagnosis of Abnormal Uterine Bleeding in Reproductive-Aged Women. Obstet Gynecol. 2012;120(1):197-206 (reaffirmed 2024).
- Kishi Y, Suginami H, Kuramori R, Yabuta M, Suginami R, Taniguchi F. Four subtypes of adenomyosis assessed by magnetic resonance imaging and their specification. Am J Obstet Gynecol. 2012;207(2):114.e1-7. DOI: 10.1016/j.ajog.2012.06.027.
- Osuga Y, Watanabe M, Hagino A. Long-term use of dienogest in the treatment of painful symptoms in adenomyosis. J Obstet Gynaecol Res. 2017;43(9):1441-1448.
- Becker CM, Bokor A, Heikinheimo O, dkk. ESHRE guideline: endometriosis. Hum Reprod Open. 2022;2022(2):hoac009. DOI: 10.1093/hropen/hoac009.
- Struble J, Reid S, Bedaiwy MA. Adenomyosis: a clinical review of a challenging gynecologic condition. J Minim Invasive Gynecol. 2016;23(2):164-185.
Seluruh rujukan internasional pada daftar ini telah ditelusuri dan diverifikasi validitasnya pada basis data jurnal resmi (Oxford Academic/Human Reproduction Update dan Open, Ultrasound in Obstetrics & Gynecology, American Journal of Obstetrics and Gynecology, Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada) per Agustus 2026. Pembaca yang memerlukan akses teks lengkap dapat menelusuri artikel melalui judul dan DOI yang tercantum pada mesin pencari basis data jurnal (mis. PubMed, Crossref) karena tautan langsung penerbit dapat berubah sewaktu-waktu.
Glosarium
Daftar istilah berikut disusun untuk membantu pembaca memahami terminologi teknis yang digunakan dalam panduan ini.
| Istilah | Penjelasan |
|---|---|
| Adenomioma | Bentuk fokal adenomiosis berupa lesi terbatas yang dikelilingi miometrium hipertrofik, menyerupai massa. |
| Adenomiomektomi | Prosedur bedah konservatif untuk mengeksisi fokus adenomiosis/adenomioma dengan tetap mempertahankan uterus. |
| Dismenore | Nyeri haid; dapat bersifat primer (tanpa kelainan organik) atau sekunder (akibat kelainan organik seperti adenomiosis). |
| Dispareunia | Nyeri yang dirasakan saat atau setelah hubungan seksual. |
| Endometriosis | Keberadaan jaringan menyerupai endometrium di luar uterus (ovarium, peritoneum, organ pelvis lain). |
| Junctional zone (zona junctional) | Lapisan miometrium bagian dalam yang berbatasan langsung dengan endometrium; penebalan atau ireguleritasnya menjadi penanda penting adenomiosis pada pencitraan. |
| LNG-IUS | Levonorgestrel-releasing Intrauterine System; alat kontrasepsi dalam rahim yang melepaskan hormon levonorgestrel dan digunakan sebagai terapi lini pertama adenomiosis simtomatik. |
| Menoragia | Perdarahan haid dengan volume berlebihan dan/atau durasi memanjang. |
| MUSA (Morphological Uterus Sonographic Assessment) | Konsensus internasional yang menetapkan terminologi dan kriteria standar untuk penilaian sonografi miometrium. |
| PALM-COEIN | Sistem klasifikasi penyebab perdarahan uterus abnormal yang dikembangkan oleh FIGO: Polip, Adenomiosis, Leiomioma, Malignansi/hiperplasia, Koagulopati, disfungsi Ovulasi, penyebab Endometrium, Iatrogenik, dan belum terklasifikasi (Not otherwise classified). |
| PBAC (Pictorial Blood Assessment Chart) | Instrumen semikuantitatif untuk menilai volume perdarahan menstruasi berdasarkan pola penggunaan pembalut/tampon. |
| Sonohisterografi | Pemeriksaan USG dengan instilasi cairan salin ke kavum uteri untuk menilai kelainan intrakavum. |
| Uterus-sparing (konservasi uterus) | Pendekatan tata laksana yang bertujuan mempertahankan uterus, umumnya relevan bagi pasien yang masih merencanakan kehamilan. |
| VAS (Visual Analogue Scale) | Skala penilaian nyeri berupa garis lurus yang merepresentasikan intensitas nyeri dari tanpa nyeri hingga nyeri terberat. |
| Zona junctional (JZmax/JZmin) | Nilai ketebalan maksimal/minimal zona junctional yang diukur pada MRI untuk mendukung diagnosis adenomiosis. |