PPK-050 Hiperplasia Endometrium tanpa Infertilitas
Divisi Ginekologi Umum dan Onkologi Ginekologi
Panduan Praktik Klinis — Ekosistem Literatur Standar SpOG

Hiperplasia Endometrium tanpa Infertilitas

Endometrial Hyperplasia without Infertility
ICD-10: N85.0 ICD-11: GA16.0 Dokumen 50 dari 73 — PPK Turunan Buku Tematik B7 Divisi Pengampu: Onkologi Ginekologi
Daftar Isi

1. Pengertian/Definisi

PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Kelainan Proliferasi dan Struktural Endometrium, Buku Tematik B7 — Tumor Jinak Ginekologi dan Kelainan Struktural Uterus, dan disusun sebagai pendalaman tata laksana tingkat individu pasien untuk entri diagnosis Tabel 7 No. 50 Kepkonsil.

Hiperplasia endometrium tanpa infertilitas (Endometrial hyperplasia without infertility) adalah penebalan endometrium akibat proliferasi kelenjar yang berlebihan, dengan atau tanpa atipia sitologik, tanpa disertai isu infertilitas yang sedang berlangsung pada pasien saat penilaian dilakukan.

Dasar Regulasi

Dasar Regulasi: Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 No. 50. Keterangan/Populasi resmi: "Hiperplasia tanpa infertilitas".

Secara patofisiologi, kondisi ini timbul akibat paparan estrogen yang tidak diimbangi (unopposed estrogen) oleh progesteron dalam jangka waktu tertentu, sehingga terjadi proliferasi kelenjar endometrium yang berlebihan relatif terhadap stroma. Skema klasifikasi histopatologik dua-tingkat yang pertama kali diperkenalkan WHO pada tahun 2014 — dan dipertahankan dengan penajaman kriteria esensial serta kriteria penunjang pada WHO Classification of Tumours edisi ke-5 (2020) — membagi hiperplasia endometrium menjadi dua kelompok besar berdasarkan ada tidaknya atipia sitologik nukleus: hiperplasia tanpa atipia (non-atypical hyperplasia) dan hiperplasia atipik/neoplasia intraepitel endometrium (atypical hyperplasia/endometrial intraepithelial neoplasia, disingkat EIN atau AEH), karena kedua kelompok ini memiliki risiko progresivitas ke keganasan dan pendekatan tata laksana yang berbeda secara bermakna.

Ruang lingkup PPK ini adalah pasien dengan hiperplasia endometrium tanpa disertai masalah infertilitas aktif, dengan penekanan utama pada kelompok tanpa atipia yang menjadi kewenangan lini pertama spesialis Obstetri dan Ginekologi. Pasien dengan hiperplasia endometrium atipik yang tercantum sebagai entri kompetensi tersendiri (Tabel Kompetensi Onkologi Ginekologi No. 21, ICD-10 N85.1) memerlukan intensitas tata laksana dan kewenangan rujukan yang lebih tinggi sebagaimana diuraikan pada bagian 7.4, mengingat risiko keganasan tersamar (occult carcinoma) yang jauh lebih tinggi pada kelompok atipia dibanding kelompok tanpa atipia.

2. Anamnesis

Keluhan utama yang paling sering membawa pasien datang berobat adalah perdarahan uterus abnormal dalam berbagai bentuk: perdarahan menstruasi berlebihan (heavy menstrual bleeding), perdarahan intermenstrual, perdarahan tidak teratur, perdarahan tanpa jadwal pada pengguna terapi hormon pengganti (HRT), maupun perdarahan pascamenopause. Perdarahan pascamenopause harus selalu dianggap sebagai tanda bahaya (red flag) hingga terbukti sebaliknya.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada hiperplasia endometrium umumnya tidak spesifik; tujuan utamanya adalah menyingkirkan diagnosis banding struktural (mioma, polip besar, massa adneksa) dan mengidentifikasi faktor risiko metabolik yang memerlukan tata laksana bersamaan.

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis definitif hiperplasia endometrium tanpa infertilitas ditegakkan berdasarkan konfirmasi histopatologik jaringan endometrium yang diperoleh melalui biopsi endometrium atau kuretase, menunjukkan proliferasi kelenjar berlebihan relatif terhadap stroma, disertai penilaian eksplisit ada/tidaknya atipia sitologik nukleus sesuai skema klasifikasi WHO Classification of Tumours edisi ke-5 (2020).

Dasar Regulasi

Kode diagnosis (hasil verifikasi ulang terhadap Tabel 7 Kepkonsil No. 50): ICD-10 N85.0 — Endometrial hyperplasia without infertility; ICD-11 GA16.0.

Klasifikasi WHO Classification of Tumours edisi ke-5 (2020) yang berlaku saat ini membagi temuan histopatologik menjadi dua kategori: (1) hiperplasia endometrium tanpa atipia, dan (2) hiperplasia endometrium atipik/neoplasia intraepitel endometrium (atypical hyperplasia/EIN), dengan kriteria esensial berupa kepadatan arsitektur kelenjar disertai perubahan sitologi epitel yang berbeda dari endometrium sekitarnya. PPK ini mencakup kategori pertama sebagai fokus utama tata laksana primer; temuan atipia mengarahkan pasien pada jalur rujukan subspesialis sebagaimana diuraikan pada bagian 7.4.

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Hiperplasia endometrium tanpa infertilitas (ICD-10 N85.0; ICD-11 GA16.0).

Diagnosis banding pada pasien dengan perdarahan uterus abnormal dan/atau penebalan endometrium meliputi:

6. Pemeriksaan Penunjang

7. Tata Laksana

Prinsip umum tata laksana hiperplasia endometrium tanpa infertilitas adalah koreksi ketidakseimbangan hormonal penyebab (unopposed estrogen), induksi regresi histopatologik melalui terapi progestogen, dan pemantauan berkala hingga terbukti regresi lengkap.

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Terapi progestogen merupakan lini pertama pada hiperplasia endometrium tanpa atipia. Pilihan meliputi:

Pemantauan respons terapi dilakukan melalui biopsi endometrium ulang, minimal setiap 6 bulan; regresi dinyatakan tercapai bila diperoleh minimal dua hasil biopsi negatif berturut-turut sebelum terapi dihentikan dan pasien dipulangkan dari pemantauan aktif. Apabila tidak dijumpai respons setelah 6 bulan pertama, pertimbangkan perpanjangan terapi 6 bulan berikutnya sebelum mengevaluasi ulang pilihan tata laksana, termasuk opsi bedah.

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

Histerektomi bukan merupakan pilihan lini pertama pada hiperplasia tanpa atipia, karena terapi progestogen mampu menginduksi remisi histologik dan simtomatik pada mayoritas pasien serta menghindarkan morbiditas tindakan bedah mayor.

Histerektomi dipertimbangkan pada pasien yang tidak berencana mempertahankan fungsi reproduksi apabila dijumpai salah satu keadaan berikut:

Ablasi endometrium (termal maupun elektrokauter) tidak direkomendasikan sebagai tata laksana hiperplasia endometrium, khususnya pada hiperplasia atipik, karena angka persistensi dan rekurensi yang tinggi serta kesulitan mengevaluasi episode perdarahan berikutnya akibat jaringan parut intrakavum; badan otoritas alat kesehatan di beberapa negara turut mencantumkan kecurigaan keganasan atau perubahan pramaligna endometrium sebagai kontraindikasi tindakan ablasi termal.

Pada pasien yang direncanakan histerektomi, tindakan histerektomi supraservikal (subtotal) tidak dianjurkan karena tidak menyertakan seluruh endometrium kanal serviks bagian atas yang berpotensi masih mengandung lesi, sehingga histerektomi total tetap menjadi pilihan baku.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Onkologi Ginekologi

Rujukan ke subspesialis Onkologi Ginekologi diindikasikan pada:

Dasar Regulasi

Kontribusi Divisi Pengampu — Onkologi Ginekologi. A. Deskripsi: perspektif onkologi ginekologi relevan karena batas histopatologik antara hiperplasia tanpa atipia dan hiperplasia atipik menentukan jalur tata laksana serta besarnya risiko keganasan tersamar. B. Substansi: penilaian atipia sitologik memiliki variabilitas antar-pengamat yang bermakna, sehingga telaah ulang sediaan oleh patologi anatomi yang berpengalaman dan ambang rujukan yang rendah pada kasus meragukan menjadi prinsip kehati-hatian utama. Konsensus klinis ACOG (2023) melaporkan bahwa proporsi karsinoma endometrium konkomiten yang baru diketahui setelah histerektomi pada pasien dengan diagnosis pra-bedah hiperplasia atipik/EIN berkisar antara sekitar 30% hingga hampir 50%, sejalan dengan meta-analisis Doherty dkk. (PLOS One, 2020) yang melaporkan prevalensi gabungan sebesar 32,6% (interval kepercayaan 95%: 24,1–42,4%); temuan ini menjadi dasar mengapa biopsi/kuretase saja tidak cukup untuk menyingkirkan keganasan pada kecurigaan atipia dan mengapa histeroskopi dengan biopsi terarah direkomendasikan sebagai metode deteksi konkordansi keganasan yang lebih akurat. C. Ilustrasi Kasus Lapangan: pasien pascamenopause dengan hasil biopsi awal hiperplasia tanpa atipia namun ketebalan endometrium pada USG transvaginal tidak sebanding dengan gambaran histopatologik; atas rekomendasi divisi Onkologi Ginekologi dilakukan histeroskopi dengan biopsi terarah ulang, yang kemudian mengonfirmasi area fokal atipia yang terlewat pada biopsi aspirasi awal, sehingga tata laksana dialihkan ke jalur rujukan subspesialistik.

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Prognosis hiperplasia endometrium tanpa atipia umumnya baik. Sebuah telaah sistematis dan meta-analisis (Doherty dkk., PLOS One, 2020) melaporkan estimasi laju progresivitas tahunan menjadi keganasan sebesar sekitar 2,6% per tahun pada hiperplasia tanpa atipia, jauh lebih rendah dibanding sekitar 8,2% per tahun pada hiperplasia atipik. Terapi progestogen memberikan angka regresi histologik yang tinggi pada mayoritas pasien, dengan mayoritas keberhasilan tercapai dalam 6–12 bulan pertama terapi.

Faktor yang memperberat prognosis meliputi obesitas menetap, ketidakpatuhan terhadap terapi dan pemantauan, serta keterlambatan deteksi progresi menjadi atipia. Kepustakaan internasional turut melaporkan bahwa relaps tetap dapat terjadi pascaregresi awal, sehingga pemantauan jangka menengah tetap dianjurkan terutama pada pasien dengan faktor risiko yang menetap (mis. obesitas, resistensi insulin). Data insidensi dan pola rekurensi hiperplasia endometrium yang bersifat spesifik populasi Indonesia belum tersedia secara terstandar [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, POGI] dan perlu dipantau melalui pencatatan kasus terstruktur di fasilitas pelayanan.

Quo ad vitam: bonam. Quo ad functionam: bonam (bergantung pilihan mempertahankan fungsi reproduksi). Quo ad sanationam: dubia ad bonam, bergantung kepatuhan terapi dan pemantauan berkala.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Pernyataan Tata LaksanaTingkat EvidensDerajat Rekomendasi
LNG-IUS sebagai terapi progestogen lini pertama pada hiperplasia tanpa atipiaI / II (uji acak dan meta-analisis)A
Progestogen oral kontinu sebagai alternatif bila LNG-IUS tidak dapat digunakanIIB
Histerektomi bukan lini pertama pada hiperplasia tanpa atipiaIIB
Histerektomi diindikasikan pada kegagalan regresi 12 bulan/relaps/progresi atipiaIIIB
Pemantauan biopsi endometrium 6 bulanan hingga dua hasil negatif berturut-turutIIIB
Ablasi endometrium tidak direkomendasikan pada hiperplasia endometriumIIIC

Skala evidens dan derajat rekomendasi mengacu pada sistem gradasi yang lazim dipakai pada pedoman praktik klinis obstetri-ginekologi nasional dan internasional (evidens I: uji klinis acak terkendali/meta-analisis; II: uji tanpa randomisasi/kohort; III: pendapat ahli dan seri kasus).

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan hiperplasia endometrium tanpa infertilitas sebagai entri kompetensi dengan kode ICD-10 N85.0/ICD-11 GA16.0 di bawah kewenangan spesialis Obstetri dan Ginekologi, dengan jalur rujukan ke subspesialis Onkologi Ginekologi pada temuan atipia atau kegagalan terapi.

Pedoman Royal College of Obstetricians and Gynaecologists bersama British Society for Gynaecological Endoscopy (RCOG/BSGE Green-top Guideline No. 67, diterbitkan Februari 2016 dan masih berlaku sebagai edisi aktif) merekomendasikan penggunaan sistem intrauterin pelepas levonorgestrel sebagai terapi progestogen lini pertama untuk hiperplasia tanpa atipia, dengan alasan angka regresi yang lebih tinggi dan profil perdarahan yang lebih baik dibanding progestogen oral, serta menetapkan bahwa histerektomi hanya diindikasikan pada kegagalan atau relaps terapi, bukan sebagai lini pertama. Pedoman ini juga menetapkan minimal dua hasil biopsi negatif berturut-turut sebelum pasien dinyatakan selesai dari pemantauan.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), melalui Clinical Consensus No. 5 (September 2023) mengenai neoplasia intraepitel endometrium/hiperplasia atipik, menekankan bahwa data dukungan terapi progestogen banyak berasal dari studi pada hiperplasia tanpa atipia, menegaskan pentingnya konfirmasi histopatologik yang akurat sebelum menentukan jalur tata laksana konservatif versus bedah, serta secara eksplisit menyatakan histerektomi supraservikal dan ablasi endometrium tidak boleh dilakukan untuk tata laksana hiperplasia atipik/EIN.

Klasifikasi histopatologik WHO Classification of Tumours edisi ke-5 (2020) menjadi rujukan bersama, baik standar nasional maupun internasional, dalam membedakan hiperplasia tanpa atipia dan hiperplasia atipik sebagai dasar penentuan intensitas tata laksana.

Perbedaan penekanan: standar nasional (Kepkonsil) menempatkan penentuan kewenangan rujukan pada level kompetensi spesialis vs. subspesialis sebagai unit analisis utama; standar internasional (RCOG/BSGE, ACOG) lebih menekankan algoritme klinis berbasis derajat evidens uji klinis dan besaran risiko numerik. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional (Kepkonsil) sebagai kerangka kewenangan, dengan standar internasional digunakan sebagai pengayaan teknis tata laksana yang tidak bertentangan dengan kerangka tersebut.

13. Kepustakaan

Glosarium

Daftar istilah berikut disusun untuk membantu pembaca memahami terminologi klinis dan teknis yang digunakan dalam dokumen ini.

Atipia sitologik
Perubahan bentuk dan susunan inti sel (nukleus) yang menyimpang dari sel normal; pada endometrium, keberadaan atipia menandakan risiko keganasan yang lebih tinggi.
Ablasi endometrium
Tindakan menghancurkan atau mengangkat lapisan endometrium menggunakan energi panas atau listrik, umumnya untuk tata laksana perdarahan haid berat; tidak dianjurkan pada hiperplasia endometrium.
Biopsi endometrium (aspirasi/pipelle)
Prosedur rawat jalan pengambilan sedikit jaringan endometrium menggunakan kanula plastik tipis untuk pemeriksaan histopatologik.
Dilatasi dan kuretase (D&C)
Prosedur pelebaran kanal serviks diikuti pengerokan lapisan endometrium untuk memperoleh jaringan guna pemeriksaan histopatologik.
Endometrium
Lapisan dalam rongga rahim (uterus) yang mengalami perubahan siklik akibat pengaruh hormon reproduksi.
Hiperplasia endometrium
Penebalan endometrium akibat proliferasi kelenjar yang berlebihan relatif terhadap stroma, umumnya dipicu paparan estrogen yang tidak diimbangi progesteron.
Histeroskopi
Prosedur pemeriksaan rongga rahim menggunakan kamera optik kecil (histeroskop) yang dimasukkan melalui kanal serviks, dapat disertai biopsi terarah.
Histerektomi
Tindakan bedah pengangkatan rahim, dapat bersifat total (menyertakan serviks) atau supraservikal/subtotal (tidak menyertakan serviks).
Karsinoma endometrium
Keganasan (kanker) yang berasal dari sel-sel lapisan endometrium.
LNG-IUS (sistem intrauterin pelepas levonorgestrel)
Alat kontrasepsi dalam rahim yang secara bertahap melepaskan hormon progestogen levonorgestrel langsung ke rongga rahim; digunakan sebagai terapi hiperplasia endometrium selain fungsi kontrasepsi.
Neoplasia intraepitel endometrium (EIN)
Istilah lain untuk hiperplasia endometrium atipik; lesi prakanker yang berisiko tinggi berkembang atau sudah disertai kanker endometrium tersamar.
Perdarahan uterus abnormal (PUA)
Perdarahan dari rahim di luar pola menstruasi normal, mencakup perdarahan berlebihan, tidak teratur, di antara siklus haid, atau pascamenopause.
Progestogen
Golongan hormon (alami maupun sintetis) yang bekerja menyerupai progesteron, digunakan untuk melawan efek proliferatif estrogen pada endometrium.
Regresi histopatologik
Kembalinya gambaran jaringan endometrium ke pola normal (non-hiperplastik) setelah terapi, dibuktikan melalui biopsi ulang.
Sindrom Lynch
Kondisi genetik herediter yang meningkatkan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker kolorektal dan kanker endometrium.
Sindrom ovarium polikistik (SOPK)
Gangguan hormonal yang ditandai gangguan ovulasi, kadar androgen tinggi, dan/atau gambaran polikistik ovarium pada USG; merupakan faktor risiko unopposed estrogen.
Terapi hormon pengganti (HRT)
Pemberian hormon estrogen dengan atau tanpa progestogen untuk mengatasi gejala menopause.
Unopposed estrogen
Kondisi paparan estrogen pada endometrium tanpa disertai efek pelawan dari progesteron/progestogen dalam jumlah dan durasi yang memadai.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Perpustakaan Digital ABBA — Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138 — 2026