Panduan Praktik Klinis (PPK)

Tumor Jinak Ovarium tanpa Infertilitas

Benign Ovarian Tumor without Infertility
ICD-10: D27  |  ICD-11: 2F32  |  Divisi Pengampu: Onkologi Ginekologi
Rujukan Buku Tematik Induk: B7 — Tumor Jinak Ginekologi dan Kelainan Struktural Uterus
Penulis: Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. Penerbit: Perpustakaan Digital ABBA Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138 Terbit: Agustus 2026
PPK No. 52 dari 73 — Kategori PPK
Tumor Jinak Ovarium tanpa Infertilitas (Benign Ovarian Tumor without Infertility)
ICD-10: D27ICD-11: 2F32Divisi Pengampu: Onkologi GinekologiBuku Tematik Induk: B7

1Pengertian dan Definisi

PPK ini merupakan turunan operasional dari bab yang relevan mengenai tumor ovarium jinak pada Buku Tematik B7 — Tumor Jinak Ginekologi dan Kelainan Struktural Uterus, dan disusun berdasarkan entri Tabel 7 No. 52 Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi (“Kepkonsil”).

Tumor jinak ovarium tanpa infertilitas (benign ovarian tumor without infertility) adalah neoplasma jinak ovarium yang ditemukan pada pasien tanpa disertai keluhan atau diagnosis infertilitas yang sedang berlangsung pada saat penilaian klinis. Secara histopatologis, kelompok ini mencakup tiga kategori besar sesuai WHO Classification of Tumours — Female Genital Tumours edisi ke-5: tumor epitelial jinak (kistadenoma serosa, kistadenoma musinosum, tumor Brenner jinak), tumor sel germinal jinak (teratoma matur atau kista dermoid), dan tumor sex cord-stromal jinak (fibroma, tekoma, fibrotekoma).

Istilah ini dibedakan dari kista fungsional ovarium (kista folikel atau korpus luteum), yang bersifat fisiologis, terbentuk akibat proses ovulasi normal, dan umumnya mengalami resolusi spontan dalam dua hingga tiga siklus menstruasi tanpa memerlukan intervensi. Meskipun demikian, kedua kelompok ini dapat tumpang tindih secara morfologis pada evaluasi ultrasonografi awal sehingga memerlukan alur stratifikasi risiko yang sama sebelum keputusan tata laksana diambil.

Massa adneksa atau ovarium merupakan temuan yang sering dijumpai dalam praktik ginekologi sehari-hari, baik simtomatik maupun ditemukan secara insidental pada pemeriksaan pencitraan panggul untuk indikasi lain. Data epidemiologi nasional yang spesifik untuk insidensi dan prevalensi tumor jinak ovarium pada populasi Indonesia belum tersedia dalam registri resmi yang dipublikasikan secara berkala; angka acuan sebaiknya dirujuk pada publikasi terbaru Kementerian Kesehatan Republik Indonesia atau Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) apabila telah tersedia.

Dasar Regulasi

Entri ini bersumber dari Tabel 7 No. 52 Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi (“Kepkonsil”), dengan judul resmi “Tumor Jinak Ovarium tanpa Infertilitas / Benign Ovarian Tumor without Infertility”, kode ICD-10 D27, kode ICD-11 2F32, dan keterangan populasi resmi: “Tumor ovarium jinak, tidak terkait infertilitas.” Seluruh kode dan istilah pada bagian ini telah diverifikasi ulang terhadap baris No. 52 Tabel 7.

2Anamnesis

Sebagian besar tumor jinak ovarium bersifat asimtomatik dan ditemukan secara insidental saat pemeriksaan ginekologi rutin atau pencitraan panggul untuk indikasi lain. Anamnesis terarah mencakup hal-hal berikut.

  • Keluhan lokal: rasa penuh atau tidak nyaman di perut bawah, distensi abdomen, rasa cepat kenyang, nyeri panggul kronik ringan hingga sedang, dispareunia.
  • Gejala tekanan pada organ sekitar: gangguan berkemih (frekuensi, urgensi) atau perubahan pola defekasi akibat efek desak ruang massa.
  • Riwayat menstruasi: usia menarke, keteraturan siklus, dan status menopause — memengaruhi interpretasi stratifikasi risiko keganasan serta pemilihan alat skoring yang sesuai.
  • Riwayat keluarga: kanker ovarium, payudara, atau kolorektal pada kerabat derajat pertama, sebagai skrining awal kecurigaan sindrom herediter (misalnya mutasi BRCA1/2 atau sindrom Lynch).
  • Riwayat ginekologi dan bedah sebelumnya: operasi ovarium/adneksa, riwayat endometriosis, riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal, serta riwayat obstetrik (paritas).
  • Konfirmasi status fertilitas saat ini: tidak terdapat keluhan atau penegakan diagnosis infertilitas yang sedang berjalan; bila ditemukan, kasus diarahkan ke jalur PPK infertilitas yang sesuai, bukan PPK ini.
  • Tanda kewaspadaan nyeri akut: onset mendadak, intensitas berat, disertai mual/muntah — mengarah pada kemungkinan komplikasi akut (torsi adneksa atau ruptur kista) yang memerlukan penilaian kegawatdaruratan terpisah (lihat PPK No. 53 — Kista Ovarium Terpuntir).

3Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik ditujukan untuk mengonfirmasi keberadaan massa, menilai karakteristik awal, dan menyingkirkan tanda kegawatan.

  • Pemeriksaan abdomen: inspeksi distensi, palpasi untuk mendeteksi massa (ukuran, konsistensi, mobilitas, nyeri tekan), perkusi untuk menilai kemungkinan asites (shifting dullness).
  • Pemeriksaan ginekologi bimanual: penilaian ukuran, konsistensi (kistik, padat, atau campuran), mobilitas, nyeri, serta sifat unilateral/bilateral massa adneksa; penilaian uterus dan forniks untuk menyingkirkan diagnosis banding uterus (misalnya mioma bertangkai).
  • Pemeriksaan rektovaginal dipertimbangkan pada kasus tertentu untuk menilai perluasan massa ke kavum Douglas atau ligamentum uterosakral, terutama bila dicurigai keterlibatan endometriosis dalam.
  • Sensitivitas pemeriksaan bimanual menurun pada pasien dengan indeks massa tubuh tinggi atau uterus retrofleksi, sehingga konfirmasi ultrasonografi tetap diperlukan meskipun pemeriksaan fisik tidak jelas.
  • Tanda vital dan tanda kegawatan: takikardia, demam, nyeri tekan lepas, atau defans muskular mengarah pada komplikasi akut (torsi, ruptur dengan perdarahan intraperitoneal, atau infeksi) dan memerlukan tata laksana kedaruratan segera, di luar alur non-akut PPK ini.

4Kriteria Diagnosis

Diagnosis tumor jinak ovarium tanpa infertilitas ditegakkan berdasarkan kombinasi anamnesis, temuan pemeriksaan fisik, dan konfirmasi pencitraan ultrasonografi transvaginal (dilengkapi transabdominal bila diperlukan) yang menunjukkan morfologi konsisten jinak menurut kaidah International Ovarian Tumor Analysis (IOTA) Simple Rules, tanpa fitur kecurigaan keganasan (M-rules). Konfirmasi histopatologis pascabedah, mengacu pada WHO Classification of Tumours — Female Genital Tumours edisi ke-5, menjadi baku emas apabila dilakukan tindakan operatif.

Kode Diagnosis Terverifikasi (Tabel 7 No. 52 Kepkonsil)
KodeNilaiKeterangan
ICD-10D27Neoplasma jinak ovarium (benign neoplasm of ovary)
ICD-112F32Benign neoplasm of ovary
Keterangan/PopulasiTumor ovarium jinak, tidak terkait infertilitas

5Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja mencakup subtipe histologis tumor jinak ovarium yang tersering: kistadenoma serosa, kistadenoma musinosum, teratoma matur (kista dermoid), fibroma/fibrotekoma, dan kista fungsional persisten (folikel atau korpus luteum) yang menetap lebih dari tiga siklus menstruasi.

Diagnosis banding yang wajib disingkirkan secara sistematis, baik ginekologis maupun non-ginekologis:

  • Kista ovarium terpuntir (torsi adneksa) — PPK No. 53.
  • Endometrioma ovarium (kista coklat) pada konteks endometriosis.
  • Kehamilan ektopik pada wanita usia reproduksi dengan massa adneksa dan keterlambatan haid.
  • Mioma uteri subserosa bertangkai yang menyerupai massa adneksa.
  • Hidrosalping atau abses tubo-ovarium pada konteks infeksi panggul.
  • Diagnosis banding non-ginekologis: massa apendikular/abses periapendikular, massa divertikular, atau ginjal pelvis ektopik yang secara pencitraan dapat menyerupai massa adneksa.
  • Tumor ovarium borderline dan keganasan ovarium primer atau sekunder (metastasis), sebagai diagnosis banding utama yang disingkirkan melalui stratifikasi risiko sistematis.

6Pemeriksaan Penunjang

  • Ultrasonografi transvaginal (dilengkapi transabdominal pada massa besar) sebagai modalitas pencitraan lini pertama, dengan pelaporan morfologi terstruktur mengikuti kaidah IOTA Simple Rules (B-features vs M-features) untuk stratifikasi awal risiko jinak/ganas.
  • Model ADNEX (Assessment of Different NEoplasias in the adneXa) dari kelompok IOTA dapat digunakan sebagai pelengkap Simple Rules pada kasus dengan hasil inkonklusif, karena menggabungkan sembilan prediktor klinis dan ultrasonografi (usia, kadar CA-125, jenis pusat layanan, diameter maksimal lesi, proporsi jaringan padat, jumlah lokulus kistik, jumlah proyeksi papiler, bayangan akustik, dan asites) untuk memperkirakan risiko keganasan secara lebih terperinci.
  • Petanda tumor serum: CA-125, terutama pada wanita perimenopause/postmenopause atau bila morfologi USG meragukan; HE4 dan indeks ROMA (Risk of Ovarian Malignancy Algorithm) sebagai pelengkap bila tersedia; AFP, β-hCG, dan LDH dipertimbangkan pada wanita muda dengan kecurigaan tumor sel germinal (misalnya teratoma imatur).
  • Risk of Malignancy Index (RMI) — menggabungkan status menopause, skor morfologi USG, dan kadar CA-125 — tetap menjadi salah satu alat stratifikasi risiko yang paling luas digunakan untuk menentukan jalur rujukan, meskipun performa diagnostiknya secara umum berada di bawah IOTA Simple Rules maupun ADNEX pada studi validasi.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) pelvis sebagai modalitas lini kedua pada kasus dengan hasil USG inkonklusif, khususnya untuk mengevaluasi kandungan lemak (mengarah pada teratoma) atau komponen padat yang meragukan.
  • Pemeriksaan laboratorium dasar (darah perifer lengkap, fungsi hati dan ginjal) serta tes kehamilan pada wanita usia reproduksi untuk menyingkirkan kehamilan ektopik.

7Tata Laksana

7.1Tata Laksana Non-Farmakologis

Observasi berkala dengan USG ulang merupakan pendekatan utama untuk kista sederhana (simple cyst) berukuran kecil hingga sedang (umumnya <5–10 cm menurut morfologi) tanpa fitur kecurigaan pada wanita usia reproduksi, mengingat sebagian besar bersifat fungsional dan mengalami resolusi spontan dalam beberapa siklus menstruasi. Interval evaluasi ulang lazimnya 8–12 minggu, disertai edukasi tanda kewaspadaan (nyeri akut) selama masa observasi. Aspirasi jarum atau parasentesis kista secara membabi buta tidak direkomendasikan sebagai modalitas diagnostik maupun terapeutik pada massa kistik ovarium karena berisiko menyebabkan ruptur kista, peritonitis kimiawi, penyebaran sel tumor, serta menunda diagnosis definitif.

7.2Tata Laksana Farmakologis

Tidak terdapat terapi farmakologis yang terbukti dapat menghilangkan tumor jinak ovarium struktural yang telah terbentuk. Analgesia diberikan sesuai kebutuhan untuk nyeri ringan-sedang. Kontrasepsi hormonal kombinasi tidak direkomendasikan sebagai terapi untuk mempercepat resolusi kista yang sudah ada, namun bermanfaat mencegah pembentukan kista fungsional baru pada pasien dengan riwayat rekuren.

7.3Tata Laksana Bedah/Prosedural

Indikasi tindakan bedah meliputi: massa persisten berukuran besar atau bertambah pada pemantauan, morfologi kompleks atau meragukan pada USG ulang, gejala simtomatik bermakna, dan seluruh massa adneksa persisten pada wanita postmenopause. Pendekatan laparoskopi merupakan standar baku untuk massa dengan morfologi jinak pada evaluasi praoperatif. Tinjauan sistematis Cochrane atas uji klinis acak yang membandingkan laparoskopi dengan laparotomi pada tumor ovarium jinak melaporkan bahwa laparoskopi berkaitan dengan penurunan demam pascaoperasi, infeksi saluran kemih, komplikasi pascaoperasi secara umum, nyeri pascaoperasi, lama rawat inap, dan biaya perawatan, tanpa perbedaan bermakna pada angka kekambuhan tumor.

Kistektomi ovarium (pengangkatan kista dengan mempertahankan jaringan ovarium sehat) menjadi prosedur pilihan pada wanita usia reproduksi untuk mempertahankan cadangan ovarium, sedangkan ooforektomi dipertimbangkan pada wanita perimenopause/postmenopause, massa bilateral, atau kasus rekuren multipel. Prinsip bedah wajib mencegah tumpahan isi kista ke rongga peritoneum (spillage) melalui penggunaan kantong endoskopik (endobag) saat ekstraksi, mengingat penilaian praoperatif tidak dapat sepenuhnya menyingkirkan keganasan. Pemeriksaan potong beku (frozen section) intraoperatif dipertimbangkan pada kasus dengan kecurigaan sedang untuk memandu luasnya tindakan dalam satu sesi operasi, dengan hasil akhir tetap mengacu pada pemeriksaan histopatologi definitif pascaoperasi.

7.4Kriteria Rujukan ke Subspesialis Onkologi Ginekologi

Rujukan ke subspesialis Onkologi Ginekologi dilakukan apabila dijumpai salah satu dari: fitur M-rules IOTA pada USG (massa padat ireguler, asites, ≥4 struktur papiler, massa multilokular padat ireguler berdiameter ≥100 mm, aliran darah sangat kuat pada Doppler); skor RMI atau risiko ADNEX yang tinggi; kadar CA-125 sangat tinggi di luar konteks fisiologis; adanya asites atau tanda metastasis abdominal/jauh; serta riwayat keluarga kuat kanker ovarium atau payudara herediter derajat pertama. Kasus dengan kriteria di atas tidak dikelola dalam alur PPK ini dan wajib dialihkan ke jalur tata laksana keganasan ovarium yang sesuai, idealnya melalui diskusi tim multidisiplin (tumor board) bila tersedia di fasilitas layanan.

Kontribusi Divisi Pengampu — Onkologi Ginekologi

A. Deskripsi: Perspektif Onkologi Ginekologi relevan pada PPK ini karena keputusan operasional terpenting — observasi versus rujukan segera — bertumpu pada akurasi stratifikasi risiko keganasan praoperatif.

B. Penerapan Stratifikasi Risiko Terstandar: Divisi Onkologi Ginekologi menekankan penerapan konsisten alat stratifikasi terstandar (IOTA Simple Rules, model ADNEX, dan/atau RMI) di seluruh fasilitas layanan, disertai jalur rujukan yang jelas dan cepat bila skor menunjukkan risiko tinggi, untuk menghindari keterlambatan penanganan keganasan yang tersamar sebagai tumor jinak.

C. Ilustrasi Kasus Lapangan: Seorang wanita usia 52 tahun dengan massa ovarium unilokular 4 cm tanpa komponen padat pada USG awal dikelola secara observasi; pada kontrol 12 minggu ditemukan pertumbuhan disertai komponen papiler, sehingga skor RMI dihitung ulang dan pasien dirujuk ke Onkologi Ginekologi sebelum tindakan definitif, sesuai kriteria rujukan pada bagian 7.4.

8Edukasi Pasien dan Keluarga

Edukasi mencakup penjelasan sifat jinak dari temuan saat ini, rasional pilihan tata laksana (observasi terjadwal atau tindakan bedah), pentingnya kepatuhan terhadap jadwal kontrol USG, serta tanda kewaspadaan yang memerlukan kunjungan segera ke fasilitas gawat darurat (nyeri perut mendadak dan hebat, demam, atau tanda syok). Pasien dan keluarga juga diberikan informasi mengenai dampak potensial tindakan bedah terhadap cadangan ovarium dan fertilitas di masa depan, termasuk keunggulan pendekatan yang mempertahankan jaringan ovarium sehat bila memungkinkan secara klinis. Proses pengambilan keputusan bersama (shared decision making) dianjurkan, termasuk persetujuan tindakan yang secara eksplisit mencakup kemungkinan perluasan tindakan menjadi ooforektomi apabila ditemukan gambaran mencurigakan saat operasi berlangsung.

9Prognosis

Prognosis tumor jinak ovarium tanpa infertilitas secara umum baik dengan tata laksana yang sesuai, baik melalui observasi maupun tindakan bedah konservatif. Risiko rekurensi kista bervariasi menurut jenis histologis dan luas reseksi; teratoma matur, misalnya, memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk timbul kembali pada ovarium kontralateral dibandingkan kistadenoma sederhana. Risiko transformasi maligna pada tumor yang telah dikonfirmasi jinak secara histopatologis tergolong rendah. Pemantauan pascatindakan tetap dianjurkan, khususnya pada pasien dengan riwayat multipel atau bilateral, untuk mendeteksi dini kekambuhan atau temuan baru.

10Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Tingkat evidens mengikuti skala baku U.S. Preventive Services Task Force (I, II-1, II-2, II-3, III) yang lazim digunakan pada Practice Bulletin/Green-top Guideline yang dikutip.

Ringkasan Tingkat Evidens dan Rekomendasi
Aspek Tata LaksanaTingkat EvidensRekomendasiSumber
USG transvaginal sebagai modalitas diagnostik lini pertamaII-2Kuat (A)ACOG PB No. 174; RCOG GTG No. 62
Penggunaan IOTA Simple Rules/ADNEX untuk stratifikasi risikoI–IIKuat (A)ESGO/ISUOG/IOTA/ESGE Consensus 2021
RMI sebagai alat triase kombinasi USG–menopause–CA-125II-2Sedang (B)RCOG GTG No. 62; Jacobs dkk. 1990
Pendekatan laparoskopi pada massa bermorfologi jinakIKuat (A)Cochrane — Medeiros dkk. 2009
Observasi kista sederhana tanpa fitur kecurigaan pada usia reproduksiII-3Sedang (B)ACOG PB No. 174; SOGC No. 404
Aspirasi/parasentesis kista tidak dianjurkan sebagai tata laksana rutinIIIKuat melawan (D)ACOG PB No. 174

11Indikator Medis

  • Proporsi pasien dengan hasil histopatologi pascabedah yang sesuai dengan diagnosis praoperatif (target ≥90% sebagai acuan mutu internal, mengingat belum tersedia ambang nasional yang dipublikasikan resmi).
  • Proporsi kasus dengan kriteria M-rules IOTA/RMI/ADNEX berisiko tinggi yang dirujuk ke Onkologi Ginekologi sebelum tindakan definitif (target 100%).
  • Angka komplikasi bedah terkait tumpahan isi kista (spillage) intraoperatif.
  • Angka kekambuhan kista/tumor pada evaluasi ulang 12 bulan pascatindakan konservatif.
  • Kepatuhan dokumentasi stratifikasi risiko (IOTA/RMI/ADNEX) pada rekam medis sebelum keputusan tata laksana.

12Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan tumor jinak ovarium tanpa infertilitas sebagai kompetensi inti spesialis Obstetri dan Ginekologi (ICD-10 D27; ICD-11 2F32), tanpa merinci algoritma diagnostik-terapeutik pada tingkat tabel kompetensi. Untuk pengayaan algoritma klinis, PPK ini merujuk standar internasional berikut.

  • American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), Practice Bulletin No. 174 (2016): menegaskan bahwa tujuan utama evaluasi massa adneksa adalah menyingkirkan kemungkinan keganasan, dengan keputusan tata laksana yang banyak dipengaruhi usia serta riwayat keluarga pasien, dan secara eksplisit menyatakan aspirasi/parasentesis kista bukan tata laksana yang dianjurkan — sejalan dengan pendekatan stratifikasi risiko dan larangan aspirasi rutin pada PPK ini.
  • Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG)/British Society for Gynaecological Endoscopy, Green-top Guideline No. 62 (2011): merekomendasikan Risk of Malignancy Index sebagai model stratifikasi yang luas digunakan, dengan aturan ultrasonografi IOTA menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi pada studi-studi lanjutan — PPK ini mengadopsi kombinasi RMI dan IOTA Simple Rules sebagai alat stratifikasi standar pada bagian Pemeriksaan Penunjang dan Kriteria Rujukan.
  • ESGO/ISUOG/IOTA/ESGE Consensus Statement (2021), yang disusun bersama International Society of Ultrasound in Obstetrics and Gynecology (ISUOG): menekankan pentingnya karakterisasi akurat lesi adneksa baru untuk menentukan jalur tata laksana yang tepat, dengan pasien bermassa curiga ganas dirujuk ke pusat onkologi ginekologi — konsisten dengan kriteria rujukan pada bagian 7.4 PPK ini.
  • Cochrane Database of Systematic Reviews — Medeiros dkk. (2009), tinjauan sistematis uji klinis acak laparoskopi versus laparotomi untuk tumor ovarium jinak: mendukung laparoskopi sebagai pendekatan bedah dengan morbiditas pascaoperasi lebih rendah tanpa peningkatan risiko kekambuhan — menjadi dasar evidens Kelas I pada bagian Tata Laksana Bedah/Prosedural PPK ini.

Tidak dijumpai perbedaan bermakna antara standar nasional dan standar internasional dalam prinsip stratifikasi risiko dan indikasi rujukan. Standar internasional memberikan pengayaan algoritma teknis (skor IOTA, model ADNEX, ambang RMI, evidens bedah minimal invasif) yang diadopsi sebagai bagian pemeriksaan penunjang, tata laksana bedah, dan kriteria rujukan pada PPK ini; standar nasional (Kepkonsil) tetap menjadi acuan utama kerangka kompetensi dan kewenangan praktik di Indonesia.

13Kepustakaan

Glosarium

Daftar istilah teknis yang digunakan dalam PPK ini, disusun berdasarkan urutan abjad untuk memudahkan rujukan cepat.

Adneksa (adnexa)
Struktur di sekitar uterus yang meliputi ovarium, tuba fallopi, dan jaringan penyangganya.
ADNEX model
Model prediksi risiko dari kelompok IOTA yang menggabungkan sembilan prediktor klinis dan ultrasonografi untuk memperkirakan kemungkinan suatu massa adneksa bersifat jinak, borderline, atau ganas (Van Calster dkk., 2014).
CA-125
Petanda tumor serum (cancer antigen 125) yang kadarnya dapat meningkat pada keganasan ovarium epitelial, namun juga pada berbagai kondisi jinak seperti endometriosis, mioma, dan kehamilan.
Endobag
Kantong khusus berbahan tidak tembus cairan yang digunakan dalam prosedur laparoskopi untuk mengeluarkan spesimen massa ovarium tanpa kontak langsung dengan rongga peritoneum, guna mencegah tumpahan isi kista.
Fibroma ovarium
Tumor jinak ovarium yang berasal dari sel stroma gonad (sex cord-stromal), umumnya bersifat padat dan asimtomatik.
Frozen section (potong beku)
Pemeriksaan histopatologi cepat intraoperatif untuk memandu keputusan luasnya tindakan bedah, dengan hasil akhir tetap mengacu pada pemeriksaan histopatologi definitif.
HE4 dan ROMA
HE4 (Human Epididymis Protein 4) adalah petanda tumor pelengkap CA-125; ROMA (Risk of Ovarian Malignancy Algorithm) adalah indeks yang menggabungkan HE4, CA-125, dan status menopause untuk memperkirakan risiko keganasan ovarium.
IOTA Simple Rules
Sepuluh kaidah ultrasonografi (lima B-features menunjukkan jinak, lima M-features menunjukkan curiga ganas) yang dikembangkan kelompok International Ovarian Tumour Analysis untuk menstratifikasi risiko massa adneksa.
Kistadenoma musinosum
Tumor epitelial jinak ovarium yang berisi cairan musinosum (kental), umumnya berukuran besar dan multilokular.
Kistadenoma serosa
Tumor epitelial jinak ovarium yang paling sering dijumpai, berisi cairan serosa (encer, jernih).
Kistektomi ovarium
Tindakan bedah pengangkatan kista atau tumor ovarium dengan mempertahankan jaringan ovarium sehat di sekitarnya.
Ooforektomi
Tindakan bedah pengangkatan seluruh ovarium.
RMI (Risk of Malignancy Index)
Indeks stratifikasi risiko keganasan ovarium yang menggabungkan status menopause, skor morfologi ultrasonografi, dan kadar CA-125 (Jacobs dkk., 1990).
Spillage
Tumpahnya isi kista ke rongga peritoneum selama tindakan bedah, yang berpotensi menyebarkan sel tumor bila massa ternyata bersifat ganas.
Teratoma matur (kista dermoid)
Tumor sel germinal jinak ovarium yang mengandung jaringan matang dari ketiga lapisan germinal (mis. rambut, gigi, jaringan lemak).
Tumor borderline ovarium
Kelompok tumor ovarium epitelial dengan potensi keganasan rendah, secara histologis berada di antara tumor jinak dan karsinoma invasif.