1Pengertian/Definisi
PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Tumor Ovarium Jinak dan Komplikasi Adneksa Akut, Buku Tematik B7 — Tumor Jinak Ginekologi dan Kelainan Struktural Uterus.
Istilah "kista ovarium terpuntir" pada Tabel 7 Kepkonsil merujuk pada peristiwa klinis torsi adneksa (adnexal torsion) yang terjadi pada ovarium yang membesar akibat kista atau massa jinak. Secara anatomis, yang berputar bukan kistanya sendiri, melainkan ovarium beserta pedikel vaskularnya; istilah "terpuntir" dalam nomenklatur nasional dan "torsion" pada ICD-10/ICD-11 merujuk pada peristiwa yang sama sehingga kedua istilah digunakan bergantian pada dokumen ini.
Torsi adneksa adalah rotasi parsial atau komplit ovarium — dan pada sebagian kasus turut melibatkan tuba fallopi — pada aksis ligamentum penggantungnya (ligamentum infundibulopelvikum dan ligamentum ovarii proprium), yang mengakibatkan gangguan aliran darah pada pedikel vaskular adneksa. Oleh karena ovarium memperoleh perdarahan ganda (arteri ovarika dan cabang arteri uterina), obstruksi lebih dahulu terjadi pada aliran limfatik dan vena berdinding tipis, menimbulkan edema progresif ovarium; bila rotasi menetap, obstruksi arteri menyusul dan berisiko menimbulkan iskemia hingga nekrosis jaringan adneksa.
Torsi adneksa merupakan salah satu kegawatdaruratan ginekologi yang relatif sering dijumpai di layanan emergensi; literatur internasional menempatkannya sebagai kegawatdaruratan ginekologi bedah tersering kelima. Kondisi ini paling sering terjadi pada ovarium yang membesar akibat kista atau massa jinak berdiameter lebih dari 5 cm (misalnya kista fungsional, kistadenoma serosa/musinosa, atau teratoma matur/kista dermoid), yang menambah momentum putar ovarium sehingga predisposisi terhadap rotasi pada pedikelnya meningkat. Adneksa kanan secara anatomis lebih sering terlibat karena ligamentum utero-ovarium kanan relatif lebih panjang dan mobilitas kolon sigmoid di sisi kiri cenderung membatasi pergerakan ovarium kiri.
Faktor risiko tambahan meliputi kehamilan (akibat pembesaran korpus luteum atau ovarium pascastimulasi ovulasi/prosedur fertilitas), riwayat torsi pada sisi kontralateral, riwayat ligasi tuba, serta ligamentum ovarium yang berlebih panjang pada anak dan remaja — pada kelompok usia ini torsi dapat pula terjadi pada ovarium yang secara morfologi normal, tanpa kista/massa penyerta.
2Anamnesis
Anamnesis diarahkan untuk menegakkan kecurigaan klinis secara cepat mengingat sifat kasus sebagai kegawatdaruratan ginekologi. Presentasi klasik adalah nyeri perut bawah akut yang bersifat mendadak dan berat, meskipun pada sebagian kasus keluhan dapat lebih ringan atau hilang-timbul sehingga tetap perlu kewaspadaan tinggi. Temuan yang mengarahkan kecurigaan torsi adneksa meliputi:
- Nyeri perut bawah akut, umumnya unilateral (lebih sering di sisi kanan), dengan onset mendadak dan intensitas berat.
- Karakter nyeri dapat bersifat intermiten (waxing-waning) apabila terjadi detorsi spontan parsial yang berulang; pola ini tidak menyingkirkan diagnosis torsi.
- Mual dan muntah yang menyertai episode nyeri, umumnya timbul segera setelah onset nyeri.
- Riwayat kista atau massa ovarium yang telah diketahui sebelumnya, atau riwayat pemeriksaan USG ginekologi sebelumnya.
- Riwayat terapi induksi ovulasi/fertilisasi in vitro, kehamilan berjalan, atau riwayat torsi adneksa sebelumnya (termasuk pada sisi kontralateral).
- Faktor pencetus berupa perubahan posisi tubuh mendadak, aktivitas fisik, atau hubungan seksual sesaat sebelum onset nyeri, meskipun torsi juga dapat terjadi tanpa faktor pencetus yang jelas.
- Demam dapat timbul apabila telah terjadi nekrosis jaringan adneksa atau infeksi sekunder, namun ketiadaannya tidak menyingkirkan diagnosis.
- Perlu ditanyakan riwayat haid terakhir dan kemungkinan kehamilan untuk menyingkirkan diagnosis banding kegawatdaruratan obstetri seperti kehamilan ektopik terganggu.
3Pemeriksaan Fisik
Tidak ada satu pun temuan pemeriksaan fisik yang bersifat patognomonik untuk torsi adneksa, sehingga kecurigaan klinis yang tinggi tetap menjadi dasar utama keputusan rujukan untuk evaluasi lanjut, meskipun hasil pemeriksaan tampak minimal.
- Tanda vital: dapat ditemukan takikardia sebagai respons nyeri; demam mengarah pada kecurigaan nekrosis adneksa atau infeksi sekunder.
- Palpasi abdomen: nyeri tekan pada kuadran bawah, umumnya unilateral, sesuai sisi adneksa yang terlibat; dapat disertai tanda iritasi peritoneum ringan.
- Pemeriksaan bimanual/ginekologis: teraba massa adneksa yang nyeri tekan pada sisi yang terlibat pada sebagian kasus; ukuran dan konsistensi massa bervariasi sesuai jenis kista/tumor penyebab, dan pada torsi tanpa massa penyerta (terutama pada anak/remaja) pemeriksaan dapat tidak menunjukkan massa yang jelas teraba.
- Tanda rangsang peritoneum (nyeri lepas/rebound tenderness, defans muskular) dapat dijumpai bila proses telah berlanjut ke nekrosis atau peritonitis lokal.
- Pemeriksaan inspekulo dilakukan untuk menyingkirkan sumber perdarahan atau kelainan serviks/vagina sebagai penyebab nyeri alternatif.
4Kriteria Diagnosis
Diagnosis torsi adneksa bersifat primer klinis, ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala nyeri akut unilateral, temuan massa adneksa nyeri tekan, dan pencitraan Doppler yang mendukung, dengan konfirmasi definitif melalui visualisasi intraoperatif (laparoskopi/laparotomi eksplorasi). Tidak terdapat kriteria klinis maupun pencitraan tunggal yang cukup untuk memastikan atau menyingkirkan diagnosis torsi secara praoperatif; ketiadaan kelainan aliran darah pada USG Doppler TIDAK menyingkirkan diagnosis torsi, karena aliran arteri dapat tetap terdeteksi pada torsi parsial atau intermiten akibat suplai darah ganda ovarium. Prinsip ini konsisten dengan penekanan literatur internasional bahwa keputusan operatif tidak boleh semata-mata bergantung pada hasil Doppler.
| Sistem Klasifikasi | Kode | Deskripsi |
|---|---|---|
| ICD-10 | N83.5 | Torsion of ovary, ovarian pedicle, fallopian tube or broad ligament |
| ICD-11 | GA18.5 | Torsion of ovary, ovarian pedicle or fallopian tube |
5Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja: Kista ovarium terpuntir/torsi adneksa (N83.5/GA18.5). Diagnosis banding perlu disingkirkan secara sistematis mengingat tumpang tindih gejala dengan kegawatdaruratan abdomen dan pelvis lain:
| Diagnosis Banding | Pembeda Kunci |
|---|---|
| Kehamilan ektopik terganggu | Beta-hCG positif; tanda hemoperitoneum; riwayat terlambat haid |
| Apendisitis akut | Nyeri bermula periumbilikal berpindah ke titik McBurney; tanda Rovsing/psoas; leukositosis dominan neutrofil |
| Kista ovarium ruptur/hemoragik | Nyeri onset mendadak saat aktivitas/koitus; USG menunjukkan cairan bebas tanpa gambaran whirlpool sign |
| Penyakit radang panggul/abses tubo-ovarium | Nyeri bilateral, demam, discharge vagina purulen, nyeri goyang serviks |
| Degenerasi mioma uteri bertangkai | Massa bertangkai dari uterus, bukan dari ovarium, pada USG |
| Kolik ureter/nefrolitiasis | Nyeri kolik menjalar ke pinggang-selangkangan; hematuria mikroskopik |
| Torsi tuba fallopi terisolasi | Massa/nyeri lebih ke arah lateral uterus tanpa keterlibatan ovarium; jarang, lebih sering pada kista paratubal |
6Pemeriksaan Penunjang
- USG transvaginal dan/atau transabdominal dengan Doppler warna sebagai modalitas pencitraan lini pertama: dapat menunjukkan ovarium membesar dan edematosa, folikel perifer tersusun seperti untaian mutiara (string of pearls sign), massa/kista penyebab, gambaran whirlpool sign pada pedikel vaskular, serta penilaian aliran darah arteri dan vena. Akurasi pemeriksaan sangat bergantung pada pengalaman operator.
- Beta-hCG serum/urin pada seluruh wanita usia reproduksi untuk menyingkirkan kehamilan dan kehamilan ektopik.
- Darah perifer lengkap: leukositosis dapat menyertai proses inflamasi/nekrosis, meskipun nilai normal tidak menyingkirkan torsi.
- C-reactive protein (CRP) sebagai penanda inflamasi tambahan bila tersedia.
- Fungsi ginjal dan elektrolit sebagai persiapan tindakan bedah dan anestesi.
- CA-125 tidak digunakan untuk diagnosis akut torsi, namun dapat dipertimbangkan sebagai bagian evaluasi risiko keganasan bila morfologi USG mencurigakan, khususnya pada wanita perimenopause/pascamenopause; interpretasinya harus mempertimbangkan bahwa peradangan/torsi itu sendiri dapat turut meningkatkan kadar CA-125.
- MRI pelvis dapat dipertimbangkan pada kasus dengan gambaran USG inkonklusif dan kondisi pasien stabil secara hemodinamik (termasuk pada kehamilan), tanpa menunda tindakan bedah bila kecurigaan klinis tinggi.
7Tata Laksana
Torsi adneksa merupakan kegawatdaruratan ginekologi yang memerlukan evaluasi dan tindakan bedah segera untuk menyelamatkan fungsi ovarium. Prinsip utama tata laksana adalah deteksi cepat, stabilisasi, dan tindakan operatif tanpa penundaan yang tidak perlu — termasuk tidak menunggu hasil pencitraan tambahan atau diskusi multidisiplin bila kecurigaan klinis sudah tinggi.
7.1Tata Laksana Non-Farmakologis
- Puasa (nil per oral) sebagai persiapan tindakan bedah emergensi.
- Pemasangan akses intravena dan resusitasi cairan sesuai kebutuhan klinis.
- Pemantauan tanda vital secara berkala hingga tindakan operatif dilaksanakan.
- Konsultasi anestesi untuk persiapan tindakan bedah emergensi.
- Informed consent tindakan bedah dijelaskan secara menyeluruh kepada pasien/keluarga, termasuk kemungkinan konservasi maupun pengangkatan adneksa bergantung pada temuan intraoperatif.
7.2Tata Laksana Farmakologis
- Analgesik disesuaikan dengan skala nyeri: antiinflamasi nonsteroid (NSAID) untuk nyeri ringan-sedang; opioid parenteral untuk nyeri berat, dengan pemantauan efek samping.
- Antiemetik untuk mengatasi mual/muntah yang menyertai.
- Antibiotik profilaksis praoperasi diberikan sesuai protokol bedah ginekologi institusi.
- Antibiotik terapeutik spektrum luas dipertimbangkan bila dijumpai tanda infeksi sekunder atau nekrosis jaringan yang telah berlangsung lama.
7.3Tata Laksana Bedah/Prosedural
Laparoskopi eksplorasi emergensi merupakan modalitas baku (gold standard) pada pasien yang stabil secara hemodinamik. Prinsip konservasi organ (deteksi dan detorsi) diutamakan pada perempuan usia reproduksi dan anak/remaja yang masih menginginkan fungsi ovarium, mengingat penampakan ovarium yang tampak gelap, kebiruan, atau kehitaman saat operasi tidak selalu mencerminkan nekrosis ireversibel — kekhawatiran teoretis terhadap risiko tromboemboli akibat detorsi ovarium yang tampak nekrotik tidak didukung bukti yang memadai untuk menjadi alasan ooforektomi rutin.
- Detorsi ovarium (dan tuba bila terlibat) dilakukan segera setelah identifikasi, diikuti observasi perfusi ulang selama tindakan.
- Kistektomi ovarium dapat dilakukan bersamaan atau ditunda pada sesi elektif berikutnya apabila kista jelas bersifat jinak secara morfologi dan kondisi ovarium pascadetorsi memungkinkan.
- Ooforopeksi (fiksasi ovarium) dapat dipertimbangkan secara selektif pada kasus torsi berulang atau faktor risiko anatomis predisposisi (mis. ligamentum ovarium yang berlebih panjang); perannya untuk mencegah rekurensi belum didukung bukti yang kuat sehingga tidak dianjurkan sebagai tindakan rutin, dan keputusan dibuat berdasarkan pertimbangan kasus per kasus.
- Salpingo-ooforektomi dilakukan hanya bila ovarium telah mengalami nekrosis ireversibel yang jelas (mis. jaringan rapuh yang tidak dapat dipertahankan), atau bila temuan intraoperatif/pencitraan mencurigakan keganasan; pada wanita pascamenopause, ambang untuk ooforektomi lebih rendah mengingat risiko keganasan yang lebih tinggi pada kelompok usia ini.
- Konversi ke laparotomi dipertimbangkan pada kondisi hemodinamik tidak stabil, kesulitan teknis laparoskopik, atau kecurigaan keganasan yang memerlukan eksplorasi luas.
- Pada kehamilan, tindakan detorsi laparoskopik tetap menjadi pilihan pada pasien stabil, dengan prinsip penanganan bedah yang serupa dan tanpa menunda operasi karena kehamilan itu sendiri.
7.4Kriteria Rujukan ke Subspesialis Onkologi Ginekologi
Rujukan ke subspesialis Onkologi Ginekologi dipertimbangkan bila kondisi berada di luar kewenangan spesialis umum, dengan kriteria sebagai berikut:
- Gambaran morfologi USG yang mencurigakan keganasan (komponen solid, septa tebal, vaskularisasi sentral, asites).
- Peningkatan CA-125 bermakna pada wanita perimenopause/pascamenopause dengan massa adneksa kompleks.
- Massa adneksa berukuran besar (>10 cm) dengan karakteristik kompleks.
- Temuan intraoperatif yang mencurigakan keganasan sehingga memerlukan staging bedah.
- Torsi berulang dengan massa ovarium kompleks yang memerlukan tata laksana komprehensif lintas subspesialis.
8Edukasi Pasien dan Keluarga
- Menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan bedah segera untuk menyelamatkan fungsi ovarium.
- Menjelaskan pilihan tindakan (detorsi dengan konservasi ovarium versus pengangkatan adneksa) beserta indikasi dan konsekuensinya terhadap fungsi reproduksi, termasuk bahwa keputusan akhir sering baru dapat diambil saat operasi berlangsung.
- Edukasi tanda bahaya pascaoperasi yang memerlukan evaluasi segera: demam, nyeri hebat, perdarahan, atau tanda infeksi luka operasi.
- Anjuran kontrol rutin pascaoperasi untuk evaluasi USG ulang bila ovarium dipertahankan, guna menilai pemulihan folikel dan perfusi ovarium.
- Diskusi perencanaan keluarga (family planning) dan potensi dampak terhadap fertilitas, khususnya bila dilakukan ooforektomi/salpingo-ooforektomi unilateral.
- Edukasi mengenali gejala berulang agar pasien segera mencari pertolongan medis bila timbul nyeri serupa di kemudian hari, mengingat adanya risiko torsi pada sisi kontralateral maupun rekurensi pada sisi yang sama.
9Prognosis
Prognosis torsi adneksa sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan tindakan bedah. Deteksi dini serta detorsi segera memberikan peluang konservasi fungsi ovarium yang tinggi, bahkan pada ovarium yang tampak nekrotik secara visual saat laparoskopi, karena penampakan intraoperatif tidak selalu berkorelasi dengan viabilitas jaringan jangka panjang — prinsip inilah yang mendasari pergeseran praktik internasional dari ooforektomi rutin menuju konservasi ovarium sebagai pendekatan standar. Penundaan tindakan meningkatkan risiko nekrosis ireversibel, kehilangan fungsi ovarium pada sisi yang terlibat, dan pada kasus lanjut dapat menimbulkan komplikasi infeksi/peritonitis. Insidensi keganasan pada kasus torsi adneksa secara umum rendah, namun tetap perlu diwaspadai terutama pada wanita pascamenopause atau bila ditemukan gambaran massa yang kompleks. Tanpa evaluasi dan tata laksana definitif terhadap kista/massa predisposisi, terdapat risiko torsi berulang pada ovarium yang sama maupun kontralateral, sehingga tindak lanjut jangka panjang tetap diperlukan.
10Tingkat Evidens dan Rekomendasi
| Rekomendasi | Level Evidens | Grade Rekomendasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| Laparoskopi eksplorasi emergensi sebagai modalitas tata laksana lini pertama pada pasien stabil | II-2 | B | ACOG Practice Bulletin No. 174 (2016); SOGC Guideline No. 341 (2017) |
| Detorsi dengan konservasi ovarium diutamakan tanpa memandang penampakan visual intraoperatif; oophorectomy dicadangkan untuk nekrosis ireversibel yang jelas | II-2 | B | ACOG Practice Bulletin No. 174 (2016); ACOG Committee Opinion No. 783 (2019) |
| Keputusan operatif tidak boleh semata bergantung pada temuan Doppler; ketiadaan kelainan aliran tidak menyingkirkan torsi | II-2 | B | ACOG Committee Opinion No. 783 (2019); SOGC Guideline No. 341 (2017) |
| USG transvaginal sebagai modalitas pencitraan lini pertama untuk evaluasi massa adneksa, dengan akurasi bergantung pada keahlian operator | II-3 | B | ESGO/ISUOG/IOTA/ESGE Consensus Statement (2021) |
| Ooforopeksi tidak dianjurkan secara rutin untuk mencegah rekurensi karena bukti pendukung masih terbatas; dipertimbangkan selektif pada kasus berisiko tinggi | III | C | ACOG Committee Opinion No. 783 (2019) |
11Indikator Medis
- Waktu dari kecurigaan/diagnosis klinis hingga tindakan operatif (target dilaksanakan sesegera mungkin dalam kerangka waktu emergensi institusi).
- Proporsi kasus dengan konservasi ovarium (detorsi tanpa ooforektomi) dibandingkan kasus dengan ooforektomi/salpingo-ooforektomi.
- Angka komplikasi pascaoperasi (infeksi luka operasi, perdarahan, reintervensi).
- Angka kejadian torsi berulang pada ovarium yang sama maupun kontralateral pascatata laksana.
- Kepatuhan pendokumentasian informed consent dan temuan intraoperatif secara lengkap.
12Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan torsi adneksa/kista ovarium terpuntir sebagai kompetensi yang harus dikuasai dokter spesialis obstetri dan ginekologi dengan tata laksana bedah emergensi sebagai prinsip utama, tanpa merinci teknik operatif secara preskriptif dalam tabel kompetensi.
- ACOG (American College of Obstetricians and Gynecologists), melalui Practice Bulletin No. 174 (2016) tentang evaluasi dan tata laksana massa adneksa, merekomendasikan bahwa torsi adneksa pada perempuan yang ingin mempertahankan fertilitas ditangani dengan reduksi torsi (detorsi) disertai kistektomi ovarium bila ditemukan patologi ovarium, bukan ooforektomi rutin.
- ACOG Committee Opinion No. 783 (2019, ditinjau ulang 2021) tentang torsi adneksa pada remaja menegaskan bahwa tidak terdapat kriteria klinis maupun pencitraan yang cukup untuk memastikan diagnosis torsi secara praoperatif, bahwa aliran Doppler semata tidak boleh menjadi dasar keputusan klinis, dan bahwa ooforektomi sebaiknya dihindari kecuali ovarium benar-benar nekrotik dan rapuh; opini ini juga mencatat bahwa data pendukung ooforopeksi rutin untuk mencegah rekurensi masih terbatas.
- RCOG/BSGE (Royal College of Obstetricians and Gynaecologists bersama British Society for Gynaecological Endoscopy), melalui Green-top Guideline No. 62 (2011) tentang massa ovarium tersangka pada perempuan premenopause, menekankan bahwa torsi ovarium harus ditata laksana sebagai kegawatdaruratan dan tindakan bedah tidak boleh ditunda untuk menunggu diskusi tim multidisiplin onkologi ginekologi.
- ESGO/ISUOG/IOTA/ESGE Consensus Statement (Timmerman dkk., 2021) menegaskan peran USG transvaginal sebagai modalitas pencitraan lini pertama pada evaluasi massa adneksa, dengan akurasi diagnostik yang secara konsisten berkorelasi dengan tingkat keahlian operator pemeriksa.
Sebagai pelengkap non-mandatori di luar daftar rujukan pendamping baku, Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada (SOGC) melalui Guideline No. 341 (Kives dkk., 2017) turut menegaskan bahwa laparoskopi merupakan pendekatan bedah pilihan untuk torsi adneksa, bahwa fungsi ovarium pascadetorsi telah didokumentasikan pulih secara konsisten melalui pemantauan Doppler warna bahkan pada kasus ovarium yang tampak biru-kehitaman saat operasi, dan bahwa risiko keganasan pada saat kejadian torsi — baik pada populasi anak/remaja maupun dewasa — tergolong rendah.
Perbedaan pendekatan yang perlu diperhatikan: sebagian praktik di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sarana laparoskopi emergensi masih memilih ooforektomi bila ovarium tampak nekrotik berat, sedangkan standar internasional (ACOG/RCOG) secara eksplisit mendorong upaya detorsi dan konservasi terlebih dahulu; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional dengan tetap mengadopsi prinsip konservasi organ tersebut sejauh sarana dan kondisi klinis memungkinkan, sebagaimana tercermin dalam bagian Tata Laksana Bedah pada PPK ini.
13Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Tabel 7 No. 53.
- American College of Obstetricians and Gynecologists' Committee on Practice Bulletins—Gynecology. Practice Bulletin No. 174: Evaluation and Management of Adnexal Masses. Obstetrics & Gynecology. 2016;128(5):e210–e226.
- American College of Obstetricians and Gynecologists' Committee on Adolescent Health Care. Adnexal Torsion in Adolescents: ACOG Committee Opinion No. 783. Obstetrics & Gynecology. 2019;134(2):e56–e63 (ditinjau ulang 2021).
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG)/British Society for Gynaecological Endoscopy (BSGE). Management of Suspected Ovarian Masses in Premenopausal Women. Green-top Guideline No. 62. London: RCOG; 2011.
- Timmerman D, Planchamp F, Bourne T, Landolfo C, du Bois A, Chiva L, dkk. ESGO/ISUOG/IOTA/ESGE Consensus Statement on Preoperative Diagnosis of Ovarian Tumors. Ultrasound in Obstetrics & Gynecology. 2021;58(1):148–168.
- Kives S, Gascon S, Dubuc É, Van Eyk N. No. 341—Diagnosis and Management of Adnexal Torsion in Children, Adolescents, and Adults. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada. 2017;39(2):82–90.
14Glosarium
Daftar istilah berikut disusun untuk memudahkan pembaca memahami terminologi klinis yang digunakan dalam PPK ini.
| Istilah | Penjelasan |
|---|---|
| Adneksa | Struktur di sekitar uterus yang terdiri atas ovarium, tuba fallopi, dan jaringan penyangganya (ligamentum). |
| Torsi adneksa | Rotasi ovarium dan/atau tuba fallopi pada aksis pedikel vaskularnya sehingga mengganggu aliran darah; istilah medis untuk kondisi yang pada Tabel 7 Kepkonsil disebut "kista ovarium terpuntir". |
| Detorsi | Tindakan bedah untuk memutar kembali (mengembalikan) ovarium dan/atau tuba yang mengalami torsi ke posisi anatomis semula guna memulihkan aliran darah. |
| Kistektomi ovarium | Pengangkatan kista dengan mempertahankan jaringan ovarium yang sehat di sekitarnya. |
| Ooforektomi | Pengangkatan seluruh ovarium. |
| Salpingo-ooforektomi | Pengangkatan ovarium beserta tuba fallopi pada sisi yang sama. |
| Ooforopeksi | Tindakan fiksasi ovarium ke struktur panggul di sekitarnya untuk mengurangi mobilitas dan risiko torsi berulang. |
| Whirlpool sign | Gambaran pusaran pada USG Doppler yang menunjukkan pedikel vaskular adneksa yang berputar; salah satu tanda sonografi yang mendukung kecurigaan torsi. |
| String of pearls sign | Gambaran folikel-folikel kecil yang tersusun di tepi ovarium yang membesar dan edematosa pada USG, menyerupai untaian mutiara. |
| Risk of Malignancy Index (RMI) | Sistem skor yang menggabungkan status menopause, gambaran USG, dan kadar CA-125 untuk memperkirakan risiko keganasan suatu massa ovarium. |
| Laparoskopi eksplorasi | Tindakan bedah minimal invasif menggunakan kamera dan instrumen melalui sayatan kecil untuk mendiagnosis sekaligus menata laksana kelainan intra-abdomen/pelvis. |