Perpustakaan Digital ABBA — Ekosistem Literatur Standar SpOG Divisi Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi

Panduan Praktik Klinis (PPK) — Individu

PPK-054 — Endometriosis tanpa Infertilitas

Endometriosis without Infertility

ICD-10: N80.9 ICD-11: GA10

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.  |  Perpustakaan Digital ABBA, Jl Kerinci Raya No 9, Malang 65138

Panduan Praktik Klinis (Individu) — PNPK
Kode ICD-10
N80.9
Kode ICD-11
GA10
Kategori
PPK — unit analisis 1 pasien / 1 episode layanan
Divisi Pengampu
Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi
Buku Tematik Induk
B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar

1 Pengertian/Definisi

Dasar Regulasi

Tabel 7 Lampiran Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, entri No. 54: "Endometriosis tanpa infertilitas / Endometriosis without infertility" (ICD-10 N80.9; ICD-11 GA10; keterangan: Endometriosis tanpa masalah infertilitas). Definisi klinis penyakit turut mengacu pada entri terkait No. 11 pada tabel yang sama, yang menjelaskan endometriosis sebagai penyakit akibat jaringan mirip endometrium yang berimplantasi di luar uterus dengan manifestasi nyeri panggul kronik, dispareunia, diskezia, dismenore, massa, atau infertilitas.

Endometriosis (Endometriosis) adalah penyakit inflamasi kronik ginekologis yang ditandai oleh keberadaan jaringan mirip endometrium (kelenjar dan stroma) di luar kavum uteri, paling sering pada peritoneum pelvis, ovarium (endometrioma), septum rektovaginal, dan permukaan serosa organ pelvis lain. Sesuai entri No. 54 Tabel 7 Kepkonsil, Endometriosis tanpa infertilitas didefinisikan sebagai keberadaan jaringan endometrium ektopik di luar uterus yang menimbulkan nyeri/lesi tetapi tanpa isu infertilitas saat ini.

PPK ini merupakan turunan operasional dari bab Endometriosis dan Nyeri Panggul Kronik pada Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar, dan mengatur tata laksana klinis endometriosis pada pasien yang saat penilaian tidak sedang menjalani evaluasi atau tata laksana infertilitas (bukan berarti fertilitas pasien mustahil terganggu di masa depan — lihat Bagian 9 Prognosis dan kriteria rujukan pada Bagian 7.4).

Secara patofisiologi, tiga hipotesis utama yang paling banyak didukung bukti adalah menstruasi retrograde dengan implantasi sel endometrium di peritoneum (teori Sampson), metaplasia sel selom, dan penyebaran limfatik/vaskular jaringan endometrium ke lokasi ektopik; ketiganya kemungkinan bekerja bersama dan dimodulasi oleh faktor genetik, imunologis, dan hormonal (estrogen-dependen). Lesi endometriosis mempertahankan responsivitas terhadap estrogen sehingga tumbuh dan meradang secara siklik mengikuti pola hormonal menstruasi, yang menjelaskan mengapa sebagian besar gejala bersifat siklik pada tahap awal penyakit.

Beban penyakit ini bersifat substansial: menurut lembar fakta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dimutakhirkan Oktober 2025, endometriosis diperkirakan memengaruhi sekitar 10% perempuan dan remaja perempuan usia reproduksi di seluruh dunia, tanpa mengenal asal etnis atau status sosial, dan hingga kini belum ada terapi kuratif — tata laksana ditujukan untuk mengendalikan gejala dan membatasi dampak jangka panjang. Keterlambatan diagnosis juga menjadi tantangan global yang diakui secara luas; pedoman diagnostik terbaru mencatat interval waktu antara awitan gejala dan penegakan diagnosis dapat mencapai beberapa tahun, terutama akibat variabilitas gejala dan normalisasi nyeri haid baik oleh masyarakat maupun tenaga kesehatan.

2 Anamnesis

Anamnesis terarah bertujuan mengidentifikasi pola nyeri khas endometriosis dan menyingkirkan diagnosis banding nyeri panggul lain sebelum pemeriksaan penunjang dipertimbangkan. Anamnesis yang cermat menjadi kunci karena tidak tersedia satu pun pemeriksaan non-invasif yang bersifat diagnostik tunggal untuk endometriosis.

Gejala kardinal yang wajib digali:

Riwayat tambahan yang relevan:

3 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada dugaan endometriosis sering normal, terutama pada penyakit superfisial derajat ringan; temuan positif meningkatkan kecurigaan tetapi ketiadaan temuan tidak menyingkirkan diagnosis. Pemeriksaan idealnya dilakukan pada periode mendekati haid, saat sensitivitas temuan nodul dan nyeri tekan cenderung lebih tinggi.

Komponen pemeriksaan:

4 Kriteria Diagnosis

Dasar Regulasi

Kode diagnosis diverifikasi terhadap Tabel 7 Lampiran Kepkonsil entri No. 54: ICD-10 N80.9 (Endometriosis, unspecified); ICD-11 GA10 (Endometriosis).

Diagnosis kode ICD-10 N80.9 dan ICD-11 GA10 digunakan untuk endometriosis tanpa spesifikasi lokasi anatomis yang menjadi cakupan PPK ini (tanpa isu infertilitas aktif). Diagnosis klinis endometriosis ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala khas (Bagian 2), temuan pemeriksaan fisik (Bagian 3), dan pencitraan (Bagian 6); diagnosis definitif historis memerlukan konfirmasi histopatologis melalui pembedahan, namun pedoman diagnostik terbaru (ACOG Clinical Practice Guideline No. 11, 2026) menegaskan bahwa diagnosis presumtif dan tata laksana empiris dapat dimulai berdasarkan gejala klinis dan/atau temuan pencitraan tanpa menunggu konfirmasi bedah, terutama bila pembedahan diagnostik tidak segera diperlukan atau tidak diinginkan pasien. Pendekatan ini secara eksplisit ditujukan untuk memperpendek keterlambatan diagnosis yang selama ini menjadi masalah global pada endometriosis (lihat Bagian 1), dan berlaku baik untuk pasien dewasa maupun remaja.

Klasifikasi anatomis yang perlu dicantumkan dalam rekam medis bila teridentifikasi: endometriosis peritoneal superfisial, endometrioma ovarium, dan endometriosis infiltratif dalam/susukan dalam (deep infiltrating endometriosis/DIE) yang melibatkan ligamentum sakrouterina, septum rektovaginal, kandung kemih, atau usus. Stadium (mis. klasifikasi rASRM/revised American Society for Reproductive Medicine, I-IV) dicatat bila tersedia data intraoperatif, namun stadium tidak selalu berkorelasi dengan derajat nyeri yang dirasakan pasien.

5 Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Endometriosis tanpa infertilitas (N80.9 / GA10), ditegakkan berdasarkan gejala klinis khas didukung temuan pemeriksaan fisik dan/atau pencitraan sesuai Bagian 4 dan 6.

Diagnosis banding yang wajib disingkirkan:

6 Pemeriksaan Penunjang

Pencitraan lini pertama adalah ultrasonografi transvaginal (USG-TV), yang memiliki akurasi baik untuk mendeteksi endometrioma dan nodul infiltratif dalam bila dilakukan oleh operator terlatih, meskipun keterbatasannya pada deteksi lesi peritoneal superfisial harus dipahami klinisi — hasil USG-TV normal tidak menyingkirkan endometriosis superfisial.

Modalitas pemeriksaan penunjang:

7 Tata Laksana

Tata laksana endometriosis tanpa infertilitas berfokus pada pengendalian nyeri dan perbaikan kualitas hidup, mengikuti pendekatan bertahap (stepped-care) mulai dari terapi non-farmakologis dan farmakologis lini pertama, hingga intervensi bedah pada kasus refrakter atau terdapat indikasi spesifik. Pemilihan terapi mempertimbangkan preferensi pasien, keparahan gejala, komorbiditas, dan rencana reproduksi jangka panjang melalui pengambilan keputusan bersama (shared decision-making).

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

  • Edukasi tentang sifat kronik penyakit dan penetapan ekspektasi realistis terhadap tata laksana jangka panjang.
  • Modifikasi gaya hidup: olahraga teratur, manajemen stres, dan perbaikan pola tidur sebagai bagian pendekatan multimodal nyeri kronik.
  • Fisioterapi dasar panggul untuk komponen nyeri muskuloskeletal/miofasial yang menyertai, bila tersedia.
  • Dukungan psikologis atau rujukan ke layanan kesehatan jiwa pada pasien dengan dampak nyeri kronik terhadap fungsi psikososial yang signifikan.

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Terapi farmakologis lini pertama diberikan secara empiris pada pasien dengan gejala klinis khas, tanpa perlu menunggu konfirmasi bedah, sesuai prinsip tata laksana berbasis gejala. Perlu disampaikan secara transparan kepada pasien bahwa mutu bukti untuk sebagian pilihan lini pertama tergolong terbatas (lihat Bagian 10), meskipun tetap menjadi pilihan standar karena profil keamanan yang baik, biaya terjangkau, dan pengalaman klinis luas.

Lini pertama:

  • OAINS (obat antiinflamasi nonsteroid) sebagai analgesik simtomatik untuk dismenore, digunakan bijak mempertimbangkan efek samping gastrointestinal pada penggunaan jangka panjang; bukti uji klinis untuk efektivitas spesifiknya pada nyeri endometriosis masih terbatas, namun tetap direkomendasikan sebagai lini awal karena ketersediaan luas dan profil risiko yang dapat diterima.
  • Kontrasepsi hormonal kombinasi (pil kombinasi, patch, atau cincin vagina) secara siklik atau kontinu untuk supresi menstruasi dan pengurangan nyeri.
  • Progestin (oral, injeksi depot, atau sistem intrauterin pelepas levonorgestrel/LNG-IUS) sebagai alternatif lini pertama, termasuk pada pasien dengan kontraindikasi estrogen.

Lini kedua (bila lini pertama tidak efektif atau tidak dapat ditoleransi):

  • Agonis GnRH (gonadotropin-releasing hormone) dengan terapi tambahan (add-back therapy) estrogen-progestin dosis rendah untuk mengurangi efek hipoestrogenik jangka panjang (penurunan densitas tulang, gejala vasomotor); merupakan pilihan lini kedua dengan dasar bukti paling kuat di antara opsi farmakologis (lihat Bagian 10).
  • Antagonis GnRH oral, bila tersedia dan sesuai indikasi, sebagai alternatif dengan onset kerja lebih cepat dan profil add-back yang berbeda.
  • Danazol dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu dengan pemantauan ketat efek androgenik (jerawat, hirsutisme, perubahan suara), mengingat profil efek samping yang membatasi penggunaannya sebagai pilihan jangka panjang di banyak fasilitas layanan.

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)

Indikasi pembedahan:

  • Nyeri refrakter terhadap tata laksana farmakologis adekuat (kegagalan minimal satu lini pertama dan satu lini kedua, kecuali kontraindikasi).
  • Endometrioma ovarium simtomatik atau berukuran besar (umumnya >3-4 cm) yang memerlukan konfirmasi histopatologis atau menimbulkan kekhawatiran keganasan.
  • Kecurigaan endometriosis infiltratif dalam dengan gejala obstruktif/organ target (usus, kandung kemih, ureter) yang mengganggu fungsi organ.
  • Pasien yang secara eksplisit memilih diagnosis dan tata laksana definitif melalui pembedahan.

Prinsip teknik bedah:

  • Laparoskopi merupakan pendekatan bedah pilihan (dibandingkan laparotomi) untuk eksisi atau ablasi lesi endometriosis, dengan morbiditas perioperatif lebih rendah dan pemulihan lebih cepat.
  • Eksisi lesi (bukan hanya ablasi permukaan) dipertimbangkan pada endometriosis infiltratif dalam untuk mengurangi risiko rekurensi, dilakukan oleh operator dengan kompetensi memadai atau melalui rujukan ke pusat rujukan endometriosis kompleks.
  • Kistektomi (eksisi kapsul kista secara utuh) menjadi teknik pilihan pada endometrioma dibandingkan drainase/koagulasi permukaan semata, karena secara konsisten menunjukkan risiko rekurensi nyeri dan kista yang lebih rendah; tetap mempertimbangkan potensi dampak terhadap cadangan ovarium sehingga konseling pra-bedah wajib diberikan.
  • Terapi medis pasca-bedah (mis. kontrasepsi hormonal kontinu) dipertimbangkan untuk menekan rekurensi nyeri jangka panjang pada pasien tanpa rencana kehamilan segera.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi (bila kondisi di luar kewenangan spesialis umum)

  • Perubahan status reproduksi pasien selama pemantauan (pasien mulai merencanakan kehamilan atau mengalami kesulitan konsepsi) — kasus dialihkan keluar cakupan PPK ini menuju jalur PPK Infertilitas terkait endometriosis.
  • Kecurigaan atau konfirmasi endometriosis infiltratif dalam yang memerlukan bedah reseksi kompleks multi-organ (melibatkan usus, ureter, atau kandung kemih) — dirujuk untuk penanganan tim multidisiplin di pusat rujukan tersier.
  • Endometrioma bilateral besar atau riwayat bedah ovarium berulang, dengan kekhawatiran terhadap cadangan ovarium jangka panjang.
  • Nyeri panggul kronik yang tidak membaik meskipun telah menjalani tata laksana lini pertama dan kedua adekuat (nyeri refrakter kompleks), memerlukan evaluasi subspesialistik terintegrasi.
  • Kecurigaan keganasan terkait endometrioma (fitur sonografi atipikal, peningkatan CA-125 signifikan, pertumbuhan cepat) — dirujuk segera ke Divisi Onkologi Ginekologi sesuai jalur rujukan lintas divisi.

8 Edukasi Pasien dan Keluarga

9 Prognosis

Prognosis nyeri umumnya baik dengan tata laksana bertahap yang konsisten — mayoritas pasien mengalami perbaikan gejala bermakna dengan terapi hormonal lini pertama/kedua atau pembedahan pada kasus terindikasi. Namun endometriosis bersifat kronik dan rekurensi gejala setelah penghentian terapi medis, maupun rekurensi lesi setelah pembedahan, umum terjadi — sehingga tata laksana jangka panjang (bukan episode tunggal) menjadi prinsip utama, dengan evaluasi berkala untuk menyesuaikan strategi terapi sesuai respons dan preferensi pasien yang berkembang seiring waktu.

Dari perspektif fertilitas jangka panjang, meskipun pasien pada PPK ini saat ini tidak memiliki masalah infertilitas aktif, endometriosis merupakan faktor risiko subfertilitas di masa depan pada sebagian pasien — sehingga pemantauan berkala dan komunikasi terbuka mengenai rencana reproduksi tetap diperlukan sebagai bagian pemantauan jangka panjang.

10 Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Skala tingkat evidens dan kekuatan rekomendasi pada PPK ini mengikuti skema standar yang lazim digunakan pada Panduan Praktik Klinis Kementerian Kesehatan (skala evidens I-IV, dengan Grade Rekomendasi A-C), disandingkan dengan sumber pendukung. Sejalan dengan prinsip praktik berbasis bukti, tabel berikut secara transparan mencantumkan intervensi yang mutu buktinya masih terbatas atau tidak konklusif menurut tinjauan sistematis Cochrane terkini, agar klinisi dan pasien memahami dasar rekomendasi secara jujur.

Aspek Tata LaksanaTingkat EvidensGrade RekomendasiSumber Pendukung Utama
Diagnosis presumtif berbasis gejala klinis dan pencitraan tanpa menunggu konfirmasi bedahIIBACOG CPG No. 11 (2026)
OAINS sebagai analgesik simtomatik lini pertama (bukti uji klinis belum konklusif)IICCochrane Brown et al. 2017 (CD004753.pub4); ACOG PB No. 114 (2010, reafirmasi 2022)
Kontrasepsi hormonal kombinasi/progestin sebagai lini pertama (bukti terbatas, praktik luas)IIBCochrane Brown et al. 2018 (CD001019.pub3); ACOG PB No. 114
Agonis GnRH dengan add-back therapy sebagai lini keduaIBCochrane Veth et al. 2023 (CD014788.pub2)
Laparoskopi eksisi/ablasi pada indikasi bedahI-IIBCochrane Bafort et al. 2020 (CD011031.pub3)
Kistektomi (eksisi) dibanding drainase/ablasi pada endometriomaIBCochrane Kalra et al. 2024 (CD004992.pub4)
USG transvaginal sebagai pencitraan lini pertamaIIBRCOG Green-top No. 41 (2012); ACOG CPG No. 11

11 Indikator Medis

Indikator keberhasilan tata laksana yang terukur:

12 Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Kepkonsil menetapkan kerangka kompetensi dan klasifikasi diagnosis (Tabel 7) tanpa merinci algoritma tata laksana teknis; bagian ini mengayakan PPK dengan rujukan internasional non-superior sesuai Aturan Umum No. 2, menggunakan sumber dari daftar resmi WHO/FIGO/ACOG/RCOG/ISUOG/ICM/Cochrane.

Sumber pembanding internasional:

13 Kepustakaan

G Glosarium

IstilahDeskripsi
EndometriosisKeberadaan jaringan mirip endometrium (kelenjar dan stroma) di luar kavum uteri, menimbulkan reaksi inflamasi kronik.
EndometriomaKista ovarium berisi jaringan endometriosis, sering disebut 'kista cokelat' karena isi darah lama berwarna gelap.
Endometriosis infiltratif dalam/susukan dalam (DIE)Endometriosis yang menembus lebih dari 5 mm di bawah permukaan peritoneum, sering melibatkan ligamentum sakrouterina, septum rektovaginal, kandung kemih, atau usus.
DismenoreNyeri haid, dapat bersifat primer (tanpa kelainan struktural) atau sekunder (akibat kondisi patologis seperti endometriosis).
DispareuniaNyeri saat atau setelah hubungan seksual.
DiskeziaNyeri atau kesulitan saat buang air besar, salah satu gejala yang mengarah pada keterlibatan endometriosis di dinding usus/rektovaginal.
Diagnosis presumtifDiagnosis klinis yang ditegakkan berdasarkan gejala dan/atau pencitraan tanpa menunggu konfirmasi histopatologis melalui pembedahan.
Add-back therapyPemberian estrogen-progestin dosis rendah bersamaan dengan agonis GnRH untuk mengurangi efek samping hipoestrogenik jangka panjang.
KistektomiProsedur bedah pengangkatan kapsul kista secara utuh, dibedakan dari drainase atau koagulasi permukaan kista semata.
rASRM (revised American Society for Reproductive Medicine)Sistem klasifikasi stadium endometriosis (I-IV) berdasarkan temuan intraoperatif.
CA-125Penanda tumor serum yang dapat meningkat pada endometriosis maupun kondisi ginekologis lain; tidak spesifik dan tidak digunakan sebagai alat skrining tunggal.

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

Perpustakaan Digital ABBA — Jl Kerinci Raya No 9, Malang 65138