Panduan Praktik Klinis (PPK) — Individu
PPK-054 — Endometriosis tanpa Infertilitas
Endometriosis without Infertility
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. | Perpustakaan Digital ABBA, Jl Kerinci Raya No 9, Malang 65138
- Kode ICD-10
- N80.9
- Kode ICD-11
- GA10
- Kategori
- PPK — unit analisis 1 pasien / 1 episode layanan
- Divisi Pengampu
- Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi
- Buku Tematik Induk
- B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar
1 Pengertian/Definisi
Tabel 7 Lampiran Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, entri No. 54: "Endometriosis tanpa infertilitas / Endometriosis without infertility" (ICD-10 N80.9; ICD-11 GA10; keterangan: Endometriosis tanpa masalah infertilitas). Definisi klinis penyakit turut mengacu pada entri terkait No. 11 pada tabel yang sama, yang menjelaskan endometriosis sebagai penyakit akibat jaringan mirip endometrium yang berimplantasi di luar uterus dengan manifestasi nyeri panggul kronik, dispareunia, diskezia, dismenore, massa, atau infertilitas.
Endometriosis (Endometriosis) adalah penyakit inflamasi kronik ginekologis yang ditandai oleh keberadaan jaringan mirip endometrium (kelenjar dan stroma) di luar kavum uteri, paling sering pada peritoneum pelvis, ovarium (endometrioma), septum rektovaginal, dan permukaan serosa organ pelvis lain. Sesuai entri No. 54 Tabel 7 Kepkonsil, Endometriosis tanpa infertilitas didefinisikan sebagai keberadaan jaringan endometrium ektopik di luar uterus yang menimbulkan nyeri/lesi tetapi tanpa isu infertilitas saat ini.
PPK ini merupakan turunan operasional dari bab Endometriosis dan Nyeri Panggul Kronik pada Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar, dan mengatur tata laksana klinis endometriosis pada pasien yang saat penilaian tidak sedang menjalani evaluasi atau tata laksana infertilitas (bukan berarti fertilitas pasien mustahil terganggu di masa depan — lihat Bagian 9 Prognosis dan kriteria rujukan pada Bagian 7.4).
Secara patofisiologi, tiga hipotesis utama yang paling banyak didukung bukti adalah menstruasi retrograde dengan implantasi sel endometrium di peritoneum (teori Sampson), metaplasia sel selom, dan penyebaran limfatik/vaskular jaringan endometrium ke lokasi ektopik; ketiganya kemungkinan bekerja bersama dan dimodulasi oleh faktor genetik, imunologis, dan hormonal (estrogen-dependen). Lesi endometriosis mempertahankan responsivitas terhadap estrogen sehingga tumbuh dan meradang secara siklik mengikuti pola hormonal menstruasi, yang menjelaskan mengapa sebagian besar gejala bersifat siklik pada tahap awal penyakit.
Beban penyakit ini bersifat substansial: menurut lembar fakta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dimutakhirkan Oktober 2025, endometriosis diperkirakan memengaruhi sekitar 10% perempuan dan remaja perempuan usia reproduksi di seluruh dunia, tanpa mengenal asal etnis atau status sosial, dan hingga kini belum ada terapi kuratif — tata laksana ditujukan untuk mengendalikan gejala dan membatasi dampak jangka panjang. Keterlambatan diagnosis juga menjadi tantangan global yang diakui secara luas; pedoman diagnostik terbaru mencatat interval waktu antara awitan gejala dan penegakan diagnosis dapat mencapai beberapa tahun, terutama akibat variabilitas gejala dan normalisasi nyeri haid baik oleh masyarakat maupun tenaga kesehatan.
2 Anamnesis
Anamnesis terarah bertujuan mengidentifikasi pola nyeri khas endometriosis dan menyingkirkan diagnosis banding nyeri panggul lain sebelum pemeriksaan penunjang dipertimbangkan. Anamnesis yang cermat menjadi kunci karena tidak tersedia satu pun pemeriksaan non-invasif yang bersifat diagnostik tunggal untuk endometriosis.
Gejala kardinal yang wajib digali:
- Dismenore progresif (nyeri haid yang memberat dari waktu ke waktu, sering dimulai 1-2 hari sebelum haid dan berlanjut selama haid), sering tidak responsif terhadap OAINS dosis standar.
- Dispareunia dalam (nyeri saat penetrasi dalam), terutama bila terdapat lesi di kavum Douglas atau ligamentum sakrouterina.
- Nyeri panggul kronik non-siklik (≥6 bulan, di luar periode haid).
- Gejala siklik terkait organ sekitar: disuria siklik atau hematuria siklik (kecurigaan endometriosis kandung kemih), diskezia atau perdarahan rektal siklik (kecurigaan endometriosis usus/rektovaginal).
- Kelelahan kronik dan gejala yang tumpang tindih dengan sindrom iritasi usus atau sindrom kandung kemih nyeri — perlu digali karena sering menyebabkan keterlambatan diagnosis.
Riwayat tambahan yang relevan:
- Usia menarke, siklus haid, dan riwayat keluarga endometriosis pada ibu/saudara kandung (faktor risiko familial).
- Riwayat operasi ginekologis sebelumnya termasuk temuan laparoskopi/laparotomi terdahulu.
- Dampak nyeri terhadap kualitas hidup, aktivitas harian, produktivitas kerja/sekolah, dan kesehatan mental (skrining gejala ansietas/depresi terkait nyeri kronik).
- Status dan rencana reproduksi saat ini — dikonfirmasi eksplisit bahwa pasien TIDAK sedang dalam evaluasi/tata laksana infertilitas aktif, sebagai syarat penetapan PPK ini (lihat Bagian 7.4 bila status berubah).
- Anamnesis tetap dilakukan dengan pendekatan yang sama cermatnya pada kelompok remaja, karena gejala sugestif endometriosis pada usia ini kerap diabaikan atau disalahartikan sebagai dismenore primer biasa, sehingga turut berkontribusi terhadap keterlambatan diagnosis.
3 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada dugaan endometriosis sering normal, terutama pada penyakit superfisial derajat ringan; temuan positif meningkatkan kecurigaan tetapi ketiadaan temuan tidak menyingkirkan diagnosis. Pemeriksaan idealnya dilakukan pada periode mendekati haid, saat sensitivitas temuan nodul dan nyeri tekan cenderung lebih tinggi.
Komponen pemeriksaan:
- Pemeriksaan abdomen: nyeri tekan suprapubik atau adneksa, teraba massa bila terdapat endometrioma besar.
- Pemeriksaan spekulum: inspeksi forniks posterior vagina untuk nodul biru-keunguan (jarang, khas pada endometriosis rektovaginal dalam).
- Pemeriksaan bimanual: nyeri tekan pada forniks posterior, nodul pada ligamentum sakrouterina atau kavum Douglas, uterus retrofleksi terfiksasi (adhesi), pembesaran/nyeri tekan adneksa (kecurigaan endometrioma), dan penilaian mobilitas uterus terhadap struktur sekitar.
- Pemeriksaan rektovaginal (bila tersedia kompetensi dan indikasi) untuk menilai infiltrasi septum rektovaginal pada kecurigaan endometriosis infiltratif dalam/susukan dalam (deep infiltrating endometriosis).
- Pada remaja atau pasien yang belum pernah berhubungan seksual, pemeriksaan bimanual/rektovaginal dilakukan hanya bila terdapat indikasi klinis kuat dan dengan persetujuan yang sesuai, mengingat keterbatasan penerimaan prosedur pada kelompok ini.
4 Kriteria Diagnosis
Kode diagnosis diverifikasi terhadap Tabel 7 Lampiran Kepkonsil entri No. 54: ICD-10 N80.9 (Endometriosis, unspecified); ICD-11 GA10 (Endometriosis).
Diagnosis kode ICD-10 N80.9 dan ICD-11 GA10 digunakan untuk endometriosis tanpa spesifikasi lokasi anatomis yang menjadi cakupan PPK ini (tanpa isu infertilitas aktif). Diagnosis klinis endometriosis ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala khas (Bagian 2), temuan pemeriksaan fisik (Bagian 3), dan pencitraan (Bagian 6); diagnosis definitif historis memerlukan konfirmasi histopatologis melalui pembedahan, namun pedoman diagnostik terbaru (ACOG Clinical Practice Guideline No. 11, 2026) menegaskan bahwa diagnosis presumtif dan tata laksana empiris dapat dimulai berdasarkan gejala klinis dan/atau temuan pencitraan tanpa menunggu konfirmasi bedah, terutama bila pembedahan diagnostik tidak segera diperlukan atau tidak diinginkan pasien. Pendekatan ini secara eksplisit ditujukan untuk memperpendek keterlambatan diagnosis yang selama ini menjadi masalah global pada endometriosis (lihat Bagian 1), dan berlaku baik untuk pasien dewasa maupun remaja.
Klasifikasi anatomis yang perlu dicantumkan dalam rekam medis bila teridentifikasi: endometriosis peritoneal superfisial, endometrioma ovarium, dan endometriosis infiltratif dalam/susukan dalam (deep infiltrating endometriosis/DIE) yang melibatkan ligamentum sakrouterina, septum rektovaginal, kandung kemih, atau usus. Stadium (mis. klasifikasi rASRM/revised American Society for Reproductive Medicine, I-IV) dicatat bila tersedia data intraoperatif, namun stadium tidak selalu berkorelasi dengan derajat nyeri yang dirasakan pasien.
5 Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja: Endometriosis tanpa infertilitas (N80.9 / GA10), ditegakkan berdasarkan gejala klinis khas didukung temuan pemeriksaan fisik dan/atau pencitraan sesuai Bagian 4 dan 6.
Diagnosis banding yang wajib disingkirkan:
- Adenomiosis — nyeri haid berat dengan uterus membesar difus/lunak, dibedakan terutama melalui gambaran ultrasonografi/MRI khas (lihat PPK terkait pada Buku Tematik B8/B6).
- Penyakit radang panggul (Pelvic Inflammatory Disease) — nyeri panggul dengan riwayat infeksi menular seksual, demam, sekret vagina abnormal, nyeri gerak serviks.
- Sindrom iritasi usus besar (Irritable Bowel Syndrome) dan sindrom kandung kemih nyeri interstisial — gejala tumpang tindih dengan endometriosis usus/kandung kemih, memerlukan pendekatan multidisiplin.
- Mioma uteri simtomatik — dibedakan melalui ultrasonografi (lihat PPK-047 Mioma Uteri Tanpa Penyulit).
- Kista ovarium fungsional atau neoplasma ovarium jinak/ganas — dibedakan melalui karakteristik sonografi massa adneksa dan penanda tumor bila indikasi.
- Nyeri muskuloskeletal dinding panggul/abdomen (mis. nyeri titik picu miofasial) — sering menyertai nyeri panggul kronik dan memerlukan penilaian terpisah.
6 Pemeriksaan Penunjang
Pencitraan lini pertama adalah ultrasonografi transvaginal (USG-TV), yang memiliki akurasi baik untuk mendeteksi endometrioma dan nodul infiltratif dalam bila dilakukan oleh operator terlatih, meskipun keterbatasannya pada deteksi lesi peritoneal superfisial harus dipahami klinisi — hasil USG-TV normal tidak menyingkirkan endometriosis superfisial.
Modalitas pemeriksaan penunjang:
- USG transvaginal (lini pertama): identifikasi endometrioma (gambaran kista dengan echo internal homogen tingkat rendah/'ground-glass'), tanda soft marker endometriosis infiltratif dalam (mobilitas ovarium terbatas, tanda sliding sign negatif pada kavum Douglas), dan penilaian nodul rektovaginal.
- MRI pelvis: dipertimbangkan bila USG-TV tidak konklusif, dicurigai endometriosis infiltratif dalam multifokal, atau untuk perencanaan bedah pra-operatif yang kompleks.
- CA-125 serum: dapat meningkat pada endometriosis namun tidak spesifik (juga meningkat pada kondisi ginekologis lain) dan tidak direkomendasikan sebagai alat skrining atau diagnostik tunggal; nilai normal tidak menyingkirkan endometriosis.
- Pembedahan diagnostik (laparoskopi): bukan lagi disyaratkan sebagai lini pertama untuk memulai tata laksana empiris (lihat Bagian 4); dipertimbangkan bila diagnosis tetap tidak jelas setelah pencitraan dan tata laksana medis awal gagal, atau bila terdapat indikasi bedah definitif (lihat Bagian 7.3). Bila dilakukan, konfirmasi histopatologis lesi tetap menjadi baku emas diagnostik.
- [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI, WHO] untuk data prevalensi endometriosis spesifik populasi Indonesia dan rerata interval waktu hingga diagnosis di layanan rujukan nasional.
7 Tata Laksana
Tata laksana endometriosis tanpa infertilitas berfokus pada pengendalian nyeri dan perbaikan kualitas hidup, mengikuti pendekatan bertahap (stepped-care) mulai dari terapi non-farmakologis dan farmakologis lini pertama, hingga intervensi bedah pada kasus refrakter atau terdapat indikasi spesifik. Pemilihan terapi mempertimbangkan preferensi pasien, keparahan gejala, komorbiditas, dan rencana reproduksi jangka panjang melalui pengambilan keputusan bersama (shared decision-making).
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
- Edukasi tentang sifat kronik penyakit dan penetapan ekspektasi realistis terhadap tata laksana jangka panjang.
- Modifikasi gaya hidup: olahraga teratur, manajemen stres, dan perbaikan pola tidur sebagai bagian pendekatan multimodal nyeri kronik.
- Fisioterapi dasar panggul untuk komponen nyeri muskuloskeletal/miofasial yang menyertai, bila tersedia.
- Dukungan psikologis atau rujukan ke layanan kesehatan jiwa pada pasien dengan dampak nyeri kronik terhadap fungsi psikososial yang signifikan.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
Terapi farmakologis lini pertama diberikan secara empiris pada pasien dengan gejala klinis khas, tanpa perlu menunggu konfirmasi bedah, sesuai prinsip tata laksana berbasis gejala. Perlu disampaikan secara transparan kepada pasien bahwa mutu bukti untuk sebagian pilihan lini pertama tergolong terbatas (lihat Bagian 10), meskipun tetap menjadi pilihan standar karena profil keamanan yang baik, biaya terjangkau, dan pengalaman klinis luas.
Lini pertama:
- OAINS (obat antiinflamasi nonsteroid) sebagai analgesik simtomatik untuk dismenore, digunakan bijak mempertimbangkan efek samping gastrointestinal pada penggunaan jangka panjang; bukti uji klinis untuk efektivitas spesifiknya pada nyeri endometriosis masih terbatas, namun tetap direkomendasikan sebagai lini awal karena ketersediaan luas dan profil risiko yang dapat diterima.
- Kontrasepsi hormonal kombinasi (pil kombinasi, patch, atau cincin vagina) secara siklik atau kontinu untuk supresi menstruasi dan pengurangan nyeri.
- Progestin (oral, injeksi depot, atau sistem intrauterin pelepas levonorgestrel/LNG-IUS) sebagai alternatif lini pertama, termasuk pada pasien dengan kontraindikasi estrogen.
Lini kedua (bila lini pertama tidak efektif atau tidak dapat ditoleransi):
- Agonis GnRH (gonadotropin-releasing hormone) dengan terapi tambahan (add-back therapy) estrogen-progestin dosis rendah untuk mengurangi efek hipoestrogenik jangka panjang (penurunan densitas tulang, gejala vasomotor); merupakan pilihan lini kedua dengan dasar bukti paling kuat di antara opsi farmakologis (lihat Bagian 10).
- Antagonis GnRH oral, bila tersedia dan sesuai indikasi, sebagai alternatif dengan onset kerja lebih cepat dan profil add-back yang berbeda.
- Danazol dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu dengan pemantauan ketat efek androgenik (jerawat, hirsutisme, perubahan suara), mengingat profil efek samping yang membatasi penggunaannya sebagai pilihan jangka panjang di banyak fasilitas layanan.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)
Indikasi pembedahan:
- Nyeri refrakter terhadap tata laksana farmakologis adekuat (kegagalan minimal satu lini pertama dan satu lini kedua, kecuali kontraindikasi).
- Endometrioma ovarium simtomatik atau berukuran besar (umumnya >3-4 cm) yang memerlukan konfirmasi histopatologis atau menimbulkan kekhawatiran keganasan.
- Kecurigaan endometriosis infiltratif dalam dengan gejala obstruktif/organ target (usus, kandung kemih, ureter) yang mengganggu fungsi organ.
- Pasien yang secara eksplisit memilih diagnosis dan tata laksana definitif melalui pembedahan.
Prinsip teknik bedah:
- Laparoskopi merupakan pendekatan bedah pilihan (dibandingkan laparotomi) untuk eksisi atau ablasi lesi endometriosis, dengan morbiditas perioperatif lebih rendah dan pemulihan lebih cepat.
- Eksisi lesi (bukan hanya ablasi permukaan) dipertimbangkan pada endometriosis infiltratif dalam untuk mengurangi risiko rekurensi, dilakukan oleh operator dengan kompetensi memadai atau melalui rujukan ke pusat rujukan endometriosis kompleks.
- Kistektomi (eksisi kapsul kista secara utuh) menjadi teknik pilihan pada endometrioma dibandingkan drainase/koagulasi permukaan semata, karena secara konsisten menunjukkan risiko rekurensi nyeri dan kista yang lebih rendah; tetap mempertimbangkan potensi dampak terhadap cadangan ovarium sehingga konseling pra-bedah wajib diberikan.
- Terapi medis pasca-bedah (mis. kontrasepsi hormonal kontinu) dipertimbangkan untuk menekan rekurensi nyeri jangka panjang pada pasien tanpa rencana kehamilan segera.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi (bila kondisi di luar kewenangan spesialis umum)
- Perubahan status reproduksi pasien selama pemantauan (pasien mulai merencanakan kehamilan atau mengalami kesulitan konsepsi) — kasus dialihkan keluar cakupan PPK ini menuju jalur PPK Infertilitas terkait endometriosis.
- Kecurigaan atau konfirmasi endometriosis infiltratif dalam yang memerlukan bedah reseksi kompleks multi-organ (melibatkan usus, ureter, atau kandung kemih) — dirujuk untuk penanganan tim multidisiplin di pusat rujukan tersier.
- Endometrioma bilateral besar atau riwayat bedah ovarium berulang, dengan kekhawatiran terhadap cadangan ovarium jangka panjang.
- Nyeri panggul kronik yang tidak membaik meskipun telah menjalani tata laksana lini pertama dan kedua adekuat (nyeri refrakter kompleks), memerlukan evaluasi subspesialistik terintegrasi.
- Kecurigaan keganasan terkait endometrioma (fitur sonografi atipikal, peningkatan CA-125 signifikan, pertumbuhan cepat) — dirujuk segera ke Divisi Onkologi Ginekologi sesuai jalur rujukan lintas divisi.
8 Edukasi Pasien dan Keluarga
- Menjelaskan bahwa endometriosis adalah kondisi kronik yang dapat dikendalikan namun belum memiliki terapi kuratif tunggal; tujuan tata laksana adalah pengendalian gejala dan perbaikan kualitas hidup jangka panjang, bukan penyembuhan permanen dengan satu kali intervensi.
- Menjelaskan pilihan tata laksana bertahap beserta manfaat, risiko, dan efek samping masing-masing pilihan (termasuk implikasi hormonal jangka panjang dan mutu bukti yang bervariasi antarpilihan) agar pasien dapat mengambil keputusan bersama secara benar-benar diinformasikan.
- Mengedukasi tanda potensi keterkaitan dengan fertilitas di masa depan, dan pentingnya melapor segera bila pasien mulai merencanakan kehamilan agar jalur rujukan Bagian 7.4 dapat diaktifkan tepat waktu.
- Melibatkan keluarga/pasangan dalam edukasi mengenai dampak nyeri kronik dan dispareunia terhadap kualitas hidup dan relasi, dengan pendekatan yang suportif dan tidak menghakimi.
- Menginformasikan kelompok dukungan sebaya dan sumber edukasi yang tervalidasi bila tersedia di fasilitas layanan, serta mendorong pasien untuk tidak menunda konsultasi ulang bila gejala menetap meski telah dinilai normal oleh lingkungan sekitarnya — mengingat normalisasi nyeri haid merupakan salah satu penyebab keterlambatan diagnosis yang diakui secara internasional.
9 Prognosis
Prognosis nyeri umumnya baik dengan tata laksana bertahap yang konsisten — mayoritas pasien mengalami perbaikan gejala bermakna dengan terapi hormonal lini pertama/kedua atau pembedahan pada kasus terindikasi. Namun endometriosis bersifat kronik dan rekurensi gejala setelah penghentian terapi medis, maupun rekurensi lesi setelah pembedahan, umum terjadi — sehingga tata laksana jangka panjang (bukan episode tunggal) menjadi prinsip utama, dengan evaluasi berkala untuk menyesuaikan strategi terapi sesuai respons dan preferensi pasien yang berkembang seiring waktu.
Dari perspektif fertilitas jangka panjang, meskipun pasien pada PPK ini saat ini tidak memiliki masalah infertilitas aktif, endometriosis merupakan faktor risiko subfertilitas di masa depan pada sebagian pasien — sehingga pemantauan berkala dan komunikasi terbuka mengenai rencana reproduksi tetap diperlukan sebagai bagian pemantauan jangka panjang.
10 Tingkat Evidens dan Rekomendasi
Skala tingkat evidens dan kekuatan rekomendasi pada PPK ini mengikuti skema standar yang lazim digunakan pada Panduan Praktik Klinis Kementerian Kesehatan (skala evidens I-IV, dengan Grade Rekomendasi A-C), disandingkan dengan sumber pendukung. Sejalan dengan prinsip praktik berbasis bukti, tabel berikut secara transparan mencantumkan intervensi yang mutu buktinya masih terbatas atau tidak konklusif menurut tinjauan sistematis Cochrane terkini, agar klinisi dan pasien memahami dasar rekomendasi secara jujur.
| Aspek Tata Laksana | Tingkat Evidens | Grade Rekomendasi | Sumber Pendukung Utama |
|---|---|---|---|
| Diagnosis presumtif berbasis gejala klinis dan pencitraan tanpa menunggu konfirmasi bedah | II | B | ACOG CPG No. 11 (2026) |
| OAINS sebagai analgesik simtomatik lini pertama (bukti uji klinis belum konklusif) | II | C | Cochrane Brown et al. 2017 (CD004753.pub4); ACOG PB No. 114 (2010, reafirmasi 2022) |
| Kontrasepsi hormonal kombinasi/progestin sebagai lini pertama (bukti terbatas, praktik luas) | II | B | Cochrane Brown et al. 2018 (CD001019.pub3); ACOG PB No. 114 |
| Agonis GnRH dengan add-back therapy sebagai lini kedua | I | B | Cochrane Veth et al. 2023 (CD014788.pub2) |
| Laparoskopi eksisi/ablasi pada indikasi bedah | I-II | B | Cochrane Bafort et al. 2020 (CD011031.pub3) |
| Kistektomi (eksisi) dibanding drainase/ablasi pada endometrioma | I | B | Cochrane Kalra et al. 2024 (CD004992.pub4) |
| USG transvaginal sebagai pencitraan lini pertama | II | B | RCOG Green-top No. 41 (2012); ACOG CPG No. 11 |
11 Indikator Medis
Indikator keberhasilan tata laksana yang terukur:
- Penurunan skor nyeri (mis. skala analog visual/VAS) sebesar ≥50% dalam 3 bulan sejak inisiasi tata laksana lini pertama.
- Proporsi pasien yang mencapai kontrol nyeri adekuat tanpa memerlukan eskalasi ke lini kedua dalam 6 bulan.
- Proporsi pasien yang menjalani pembedahan dengan indikasi terdokumentasi sesuai kriteria Bagian 7.3 (audit kesesuaian indikasi bedah).
- Waktu rata-rata dari kunjungan pertama dengan gejala sugestif hingga penegakan diagnosis dan inisiasi tata laksana (indikator keterlambatan diagnosis).
- Proporsi pasien yang dirujuk tepat waktu ke Divisi Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi setelah perubahan status rencana reproduksi (Bagian 7.4).
12 Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Kepkonsil menetapkan kerangka kompetensi dan klasifikasi diagnosis (Tabel 7) tanpa merinci algoritma tata laksana teknis; bagian ini mengayakan PPK dengan rujukan internasional non-superior sesuai Aturan Umum No. 2, menggunakan sumber dari daftar resmi WHO/FIGO/ACOG/RCOG/ISUOG/ICM/Cochrane.
Sumber pembanding internasional:
- ACOG Clinical Practice Guideline No. 11 "Diagnosis of Endometriosis" (2026) merekomendasikan evaluasi dan diagnosis presumtif berbasis gejala klinis dan pencitraan pada remaja maupun dewasa tanpa mensyaratkan konfirmasi laparoskopi terlebih dahulu — standar nasional (Kepkonsil) tidak menetapkan alur diagnosis teknis spesifik, sehingga PPK ini mengikuti pendekatan berbasis gejala tersebut sebagai pengayaan praktik untuk mempercepat diagnosis.
- ACOG Practice Bulletin No. 114 "Management of Endometriosis" (2010, direafirmasi 2022) menjadi rujukan utama untuk algoritma tata laksana bertahap (OAINS, kontrasepsi hormonal, progestin, agonis GnRH, hingga pembedahan) yang diadaptasi pada Bagian 7 PPK ini; standar nasional (Kepkonsil) tidak merinci algoritma farmakologis spesifik, sehingga praktik di Indonesia pada PPK ini mengikuti kerangka bertahap tersebut sebagai pengayaan.
- Lembar fakta WHO tentang Endometriosis (dimutakhirkan 15 Oktober 2025) menegaskan estimasi 10% perempuan usia reproduksi di dunia mengalami endometriosis dan menekankan bahwa hingga saat ini belum tersedia terapi kuratif serta pentingnya deteksi dini dan akses layanan yang setara; data prevalensi spesifik Indonesia belum tersedia dalam Kepkonsil dan ditandai sesuai Aturan Anti-Karangan Data pada Bagian 6.
- RCOG Green-top Guideline No. 41 "The Initial Management of Chronic Pelvic Pain" (edisi ke-2, 2012) merekomendasikan USG transvaginal sebagai modalitas pencitraan lini pertama dan menekankan bahwa laparoskopi diagnostik lebih tepat diposisikan sebagai investigasi lanjutan bila intervensi awal gagal — konsisten dengan pendekatan pencitraan pada Bagian 6 PPK ini; standar internasional Inggris menempatkan laparoskopi sebagai alat lanjutan, bukan wajib pertama, sejalan dengan praktik yang diadopsi di Indonesia pada PPK ini.
- Cochrane Review (Veth et al. 2023, CD014788.pub2) menyimpulkan agonis GnRH lebih efektif menurunkan nyeri terkait endometriosis dibandingkan plasebo/tanpa terapi dengan mutu bukti moderat, mendukung posisinya sebagai lini kedua pada Bagian 7.2. Sebaliknya, Cochrane Review untuk OAINS (Brown et al. 2017, CD004753.pub4) dan untuk kontrasepsi hormonal kombinasi (Brown et al. 2018, CD001019.pub3) sama-sama menyimpulkan bukti uji klinis acak yang tersedia masih terbatas/tidak konklusif — standar nasional pada PPK ini tetap menempatkan keduanya sebagai lini pertama mengikuti konsensus praktik ACOG PB No. 114 karena profil keamanan yang baik dan pengalaman klinis luas, dengan pernyataan eksplisit kepada pasien bahwa mutu buktinya terbatas (lihat Bagian 10).
- Cochrane Review (Kalra et al. 2024, CD004992.pub4) mendukung kistektomi (eksisi) dibandingkan drainase/ablasi sebagai teknik pilihan pada endometrioma untuk menurunkan risiko rekurensi, mendasari kriteria teknik bedah pada Bagian 7.3; Cochrane Review (Bafort et al. 2020, CD011031.pub3) mendukung peran laparoskopi eksisi/ablasi secara umum dalam tata laksana endometriosis.
13 Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Lampiran Tabel 7, entri No. 54 dan No. 11.
- Committee on Clinical Practice Guidelines–Gynecology. Diagnosis of endometriosis: ACOG clinical practice guideline no. 11. Obstetrics & Gynecology. 2026;147(3):432-448. DOI: 10.1097/AOG.0000000000006181.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 114: Management of Endometriosis. Obstetrics & Gynecology. 2010;116(1):223-236 (direafirmasi 2022). DOI: 10.1097/AOG.0b013e3181e8b073.
- World Health Organization. Endometriosis (Fact Sheet, dimutakhirkan 15 Oktober 2025). Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/endometriosis
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). The Initial Management of Chronic Pelvic Pain. Green-top Guideline No. 41, edisi ke-2. Mei 2012. Tersedia pada: https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/the-initial-management-of-chronic-pelvic-pain-green-top-guideline-no-41/
- Veth VB, van de Kar MM, Duffy JMN, van Wely M, Mijatovic V, Maas JWM. Gonadotropin-releasing hormone analogues for endometriosis. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2023;6(6):CD014788. DOI: 10.1002/14651858.CD014788.pub2.
- Bafort C, Beebeejaun Y, Tomassetti C, Bosteels J, Duffy JMN. Laparoscopic surgery for endometriosis. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2020;10(10):CD011031. DOI: 10.1002/14651858.CD011031.pub3.
- Kalra R, McDonnell R, Stewart F, Hart RJ, Hickey M, Farquhar C. Excisional surgery versus ablative surgery for ovarian endometrioma. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2024;11(11):CD004992. DOI: 10.1002/14651858.CD004992.pub4.
- Brown J, Crawford TJ, Allen C, Hopewell S, Prentice A. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs for pain in women with endometriosis. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017;1(1):CD004753. DOI: 10.1002/14651858.CD004753.pub4.
- Brown J, Crawford TJ, Datta S, Prentice A. Oral contraceptives for pain associated with endometriosis. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2018;5(5):CD001019. DOI: 10.1002/14651858.CD001019.pub3.
G Glosarium
| Istilah | Deskripsi |
|---|---|
| Endometriosis | Keberadaan jaringan mirip endometrium (kelenjar dan stroma) di luar kavum uteri, menimbulkan reaksi inflamasi kronik. |
| Endometrioma | Kista ovarium berisi jaringan endometriosis, sering disebut 'kista cokelat' karena isi darah lama berwarna gelap. |
| Endometriosis infiltratif dalam/susukan dalam (DIE) | Endometriosis yang menembus lebih dari 5 mm di bawah permukaan peritoneum, sering melibatkan ligamentum sakrouterina, septum rektovaginal, kandung kemih, atau usus. |
| Dismenore | Nyeri haid, dapat bersifat primer (tanpa kelainan struktural) atau sekunder (akibat kondisi patologis seperti endometriosis). |
| Dispareunia | Nyeri saat atau setelah hubungan seksual. |
| Diskezia | Nyeri atau kesulitan saat buang air besar, salah satu gejala yang mengarah pada keterlibatan endometriosis di dinding usus/rektovaginal. |
| Diagnosis presumtif | Diagnosis klinis yang ditegakkan berdasarkan gejala dan/atau pencitraan tanpa menunggu konfirmasi histopatologis melalui pembedahan. |
| Add-back therapy | Pemberian estrogen-progestin dosis rendah bersamaan dengan agonis GnRH untuk mengurangi efek samping hipoestrogenik jangka panjang. |
| Kistektomi | Prosedur bedah pengangkatan kapsul kista secara utuh, dibedakan dari drainase atau koagulasi permukaan kista semata. |
| rASRM (revised American Society for Reproductive Medicine) | Sistem klasifikasi stadium endometriosis (I-IV) berdasarkan temuan intraoperatif. |
| CA-125 | Penanda tumor serum yang dapat meningkat pada endometriosis maupun kondisi ginekologis lain; tidak spesifik dan tidak digunakan sebagai alat skrining tunggal. |