PPK-055 Perpustakaan Digital ABBA
Dismenore (Primer/Sekunder) tanpa Infertilitas
Perpustakaan Digital ABBA
Ekosistem Literatur Standar Sp.OG — Panduan Praktik Klinis (PPK)
PPK No. 55

Dismenore (Primer/Sekunder) tanpa Infertilitas

Dysmenorrhea (Primary/Secondary) without Infertility
ICD-10: N94.4 (dismenore primer); N94.5 (dismenore sekunder)  |  ICD-11: GA34.3
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Perpustakaan Digital ABBA
Jl Kerinci Raya No 9 Malang 65138

Ringkasan Dokumen

Kode UnitPPK-055 (Dokumen 55 dari 73 PPK)
JudulDismenore (Primer/Sekunder) tanpa Infertilitas / Dysmenorrhea (Primary/Secondary) without Infertility
ICD-10N94.4 (dismenore primer); N94.5 (dismenore sekunder)
ICD-11GA34.3
Populasi SasaranNyeri haid primer/sekunder, tanpa infertilitas (Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, entri No. 55)
Buku Tematik IndukBuku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar
Divisi PengampuFertilitas dan Endokrinologi Reproduksi
Dasar Regulasi

Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 entri No. 55

1. Pengertian/Definisi

PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab yang membahas gangguan haid disertai nyeri pada Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar.

Dismenore adalah nyeri haid yang berulang secara siklik, timbul sebelum dan/atau selama menstruasi, dan cukup mengganggu aktivitas harian. Berdasarkan Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026 entri No. 55, dismenore tanpa infertilitas didefinisikan sebagai nyeri haid (primer atau sekunder) yang mengganggu aktivitas tetapi tidak disertai isu infertilitas saat ini.

Dismenore primer adalah nyeri haid tanpa kelainan patologi panggul yang mendasari. Secara patofisiologis, pelepasan prostaglandin F2α dan prostaglandin E2 dari endometrium sekretorik pada akhir fase luteal memicu kontraksi miometrium yang berlebihan, vasokonstriksi arteri spiralis, dan iskemia uterus relatif yang menimbulkan nyeri kram; kadar vasopresin dan leukotrien yang meningkat turut berkontribusi pada sebagian kasus.

Dismenore sekunder adalah nyeri haid yang disebabkan oleh kelainan struktural atau patologi panggul yang mendasari — tersering endometriosis dan adenomiosis, diikuti mioma uteri, penyakit radang panggul, dan pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) tertentu.

Dismenore merupakan keluhan ginekologis yang sangat sering dijumpai pada perempuan usia reproduksi dan menjadi salah satu penyebab utama ketidakhadiran sekolah/kerja berulang jangka pendek. Angka prevalensi spesifik pada populasi Indonesia belum tercantum eksplisit dalam Kepkonsil [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI].

2. Anamnesis

Anamnesis diarahkan untuk mengkarakterisasi pola nyeri, mengukur beratnya keluhan secara objektif, serta menyaring kemungkinan penyebab sekunder yang memerlukan penelusuran lebih lanjut.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik umum dan abdomen dilakukan pada seluruh pasien. Pemeriksaan panggul (inspekulo dan bimanual) ditujukan untuk mencari tanda patologi panggul yang mendasari dismenore sekunder.

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis dismenore bersifat klinis, ditegakkan dari pola nyeri haid siklik yang khas pada anamnesis, didukung pemeriksaan fisik dan penunjang untuk membedakan primer dari sekunder.

Kode diagnosis (hasil verifikasi terhadap Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026 entri No. 55): ICD-10 N94.4 (dismenore primer) dan N94.5 (dismenore sekunder); ICD-11 GA34.3 (dysmenorrhoea).

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja ditetapkan sebagai dismenore primer atau dismenore sekunder berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Diagnosis banding berikut dipertimbangkan beserta ciri pembeda utamanya.

6. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang diarahkan untuk menyingkirkan patologi panggul pada kecurigaan dismenore sekunder atau nyeri yang tidak responsif terhadap terapi lini pertama.

7. Tata Laksana

Tata laksana dismenore bersifat bertahap (stepwise), dimulai dari pendekatan non-farmakologis dan farmakologis lini pertama, dengan eskalasi ke tata laksana bedah/prosedural atau rujukan subspesialis bila penyebab sekunder teridentifikasi atau respons terapi tidak adekuat.

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi (bila kondisi di luar kewenangan spesialis umum)

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

Pasien dan keluarga diberikan edukasi mengenai sifat dismenore primer yang jinak dan umumnya membaik seiring bertambahnya usia atau setelah persalinan pervaginam, pentingnya penggunaan OAINS secara terjadwal (bukan hanya saat nyeri berat) untuk efektivitas optimal, serta tanda yang memerlukan evaluasi ulang — nyeri yang memberat progresif, tidak responsif terhadap terapi standar, atau muncul di luar periode haid.

Pasien diberi pemahaman bahwa dismenore primer tidak berkaitan dengan gangguan kesuburan, sementara pada dismenore sekunder, penjelasan disesuaikan dengan patologi yang mendasari dan implikasinya terhadap fertilitas bila relevan.

9. Prognosis

Dismenore primer memiliki prognosis baik; gejala cenderung membaik dengan bertambahnya usia dan setelah persalinan pervaginam, serta responsif terhadap tata laksana lini pertama pada mayoritas kasus.

Prognosis dismenore sekunder bergantung pada patologi yang mendasarinya — endometriosis dan adenomiosis bersifat kronik dan memerlukan tata laksana jangka panjang dengan potensi kekambuhan gejala, sedangkan dismenore sekunder terkait AKDR umumnya membaik setelah pelepasan alat tersebut.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Rekomendasi disusun mengikuti skala evidens standar (Level I–III, Rekomendasi A–C) sebagaimana lazim digunakan pada Panduan Praktik Klinis berbasis PNPK.

11. Indikator Medis

Indikator keberhasilan tata laksana yang terukur meliputi:

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan dismenore (primer/sekunder) tanpa infertilitas sebagai satu entri kompetensi tersendiri (Tabel 7 No. 55) dengan tata laksana yang menjadi kewenangan spesialis Obstetri dan Ginekologi.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG Committee Opinion No. 760, Kepustakaan No. 2) merekomendasikan tata laksana empiris pada dugaan dismenore primer klasik, dengan evaluasi penyebab sekunder — termasuk endometriosis sebagai penyebab tersering pada remaja — apabila tidak ada perbaikan klinis dalam 3–6 bulan terapi.

Tinjauan sistematis Cochrane (Kepustakaan No. 3 dan No. 4) mengonfirmasi efektivitas OAINS dan kontrasepsi hormonal kombinasi sebagai tata laksana lini pertama dismenore primer, sejalan dengan tata laksana pada bagian 7.2 PPK ini; tinjauan Cochrane mengenai suplemen diet (Kepustakaan No. 5) menyimpulkan belum tersedia bukti mutu tinggi yang mendukung efektivitasnya, sehingga PPK ini menempatkannya sebagai pilihan tambahan, bukan lini pertama.

Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG Green-top Guideline No. 41, Kepustakaan No. 6) menekankan bahwa nyeri yang meluas melampaui periode haid (menjadi nyeri panggul kronik) memerlukan pendekatan multidisiplin yang lebih luas dibandingkan tata laksana dismenore siklik murni; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional dengan tetap merujuk pada prinsip evaluasi multidisiplin tersebut bila nyeri berkembang menjadi kronik menetap.

Tidak terdapat perbedaan prinsip tata laksana lini pertama antara standar nasional dan standar internasional di atas untuk dismenore primer; standar internasional memperkaya terutama pada aspek ambang waktu evaluasi ulang, kriteria eskalasi ke penelusuran patologi sekunder, dan penempatan suplemen diet sebagai terapi tambahan berbukti rendah.

13. Kepustakaan

  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Tabel 7, entri No. 55.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists. ACOG Committee Opinion No. 760: Dysmenorrhea and Endometriosis in the Adolescent. Obstetrics & Gynecology. 2018;132(6):e249–e258. DOI: 10.1097/AOG.0000000000002978. PMID: 30461694. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30461694/
  3. Marjoribanks J, Ayeleke RO, Farquhar C, Proctor M. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs for dysmenorrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2015;2015(7):CD001751. DOI: 10.1002/14651858.CD001751.pub3. PMID: 26224322. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26224322/
  4. Schroll JB, Black AY, Farquhar C, Chen I. Combined oral contraceptive pill for primary dysmenorrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2023;7(7):CD002120. DOI: 10.1002/14651858.CD002120.pub4. PMID: 37523477. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37523477/
  5. Pattanittum P, Kunyanone N, Brown J, Sangkomkamhang US, Barnes J, Seyfoddin V, Marjoribanks J. Dietary supplements for dysmenorrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2016;3(3):CD002124. DOI: 10.1002/14651858.CD002124.pub2. PMID: 27000311. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27000311/
  6. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. The Initial Management of Chronic Pelvic Pain. Green-top Guideline No. 41, edisi ke-2. London: RCOG; 2012 (ditinjau terakhir Mei 2012; edisi ke-3 dalam penyusunan). https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/the-initial-management-of-chronic-pelvic-pain-green-top-guideline-no-41/

Glosarium

Dismenore (Dysmenorrhea)
Nyeri haid siklik yang timbul sebelum dan/atau selama menstruasi.
Dismenore Primer
Nyeri haid tanpa kelainan patologi panggul yang mendasari, disebabkan oleh peningkatan prostaglandin endometrium.
Dismenore Sekunder
Nyeri haid yang disebabkan oleh patologi panggul yang mendasari, seperti endometriosis atau adenomiosis.
Prostaglandin F2α dan E2
Mediator lipid yang dilepaskan endometrium sekretorik, memicu kontraksi miometrium dan vasokonstriksi penyebab nyeri haid.
Endometriosis
Keberadaan jaringan menyerupai endometrium di luar kavum uteri yang dapat menimbulkan nyeri panggul siklik maupun nonsiklik.
Adenomiosis
Keberadaan jaringan endometrium di dalam miometrium yang menimbulkan pembesaran uterus difus, nyeri, dan/atau perdarahan haid banyak.
LNG-IUS
Sistem intrauterin pelepas levonorgestrel, salah satu pilihan progestin kerja lama untuk tata laksana dismenore sekunder.
NRS/VAS
Numeric Rating Scale/Visual Analogue Scale, instrumen penilaian derajat nyeri secara numerik atau visual.
OAINS (NSAID)
Obat antiinflamasi nonsteroid; bekerja menghambat sintesis prostaglandin melalui inhibisi enzim siklooksigenase (COX).
TENS
Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation, stimulasi saraf listrik transkutan sebagai modalitas non-farmakologis pereda nyeri.
Nyeri Panggul Kronik
Nyeri panggul menetap sekurang-kurangnya 6 bulan, tidak terbatas pada periode haid atau hubungan seksual.