Panduan Praktik Klinis (PPK)
Sindrom Ovarium Polikistik Sederhana
Simple Polycystic Ovary Syndrome
Turunan operasional dari Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar.
Divisi Pengampu: Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi.
1. Pengertian / Definisi
PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar, pada bab yang membahas Sindrom Ovarium Polikistik (Polycystic Ovary Syndrome, disingkat SOPK/PCOS).
Sindrom Ovarium Polikistik Sederhana (Simple Polycystic Ovary Syndrome) adalah gangguan endokrin reproduksi dengan oligo-ovulasi/anovulasi, hiperandrogenisme klinis/biokimia, dan/atau gambaran ovarium polikistik menurut kriteria Rotterdam, tanpa disertai komorbid kompleks. Istilah "sederhana" pada PPK ini menunjuk pada populasi dengan gejala ringan yang tata laksana awalnya berada dalam kewenangan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) umum, berbeda dengan SOPK kompleks yang disertai resistensi insulin berat, sindrom metabolik, infertilitas menetap, atau hiperandrogenisme berat sehingga memerlukan penanganan Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi.
Dasar Regulasi
Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 No. 58 (Sindrom ovarium polikistik sederhana / Simple polycystic ovary syndrome; ICD-10 E28.2; ICD-11 5A80.1; Keterangan/Populasi: PCOS dengan gejala ringan).
[1]
Secara patofisiologi, SOPK melibatkan interaksi antara peningkatan frekuensi dan amplitudo denyut gonadotropin-releasing hormone (GnRH) di hipotalamus, sekresi LH yang relatif berlebih dibandingkan FSH, hiperandrogenisme ovarium dan/atau adrenal, serta resistensi insulin dengan hiperinsulinemia kompensatorik yang memperberat produksi androgen ovarium. Kombinasi mekanisme ini menghasilkan gangguan pematangan folikel, anovulasi kronis, dan akumulasi folikel antral kecil yang tampak sebagai morfologi ovarium polikistik pada USG.
Diagnosis ditegakkan menggunakan kriteria Rotterdam (konsensus ESHRE/ASRM, 2003) [4], yaitu terpenuhinya minimal dua dari tiga kriteria: (1) oligo-ovulasi atau anovulasi, (2) tanda klinis dan/atau biokimia hiperandrogenisme, dan (3) morfologi ovarium polikistik pada pemeriksaan ultrasonografi, setelah menyingkirkan penyebab lain hiperandrogenisme dan gangguan ovulasi. Kombinasi kriteria yang terpenuhi menentukan fenotipe SOPK sebagaimana diringkas pada tabel berikut.
| Fenotipe | Oligo/Anovulasi | Hiperandrogenisme | Ovarium Polikistik (USG) | Karakteristik Umum |
| A (klasik lengkap) | Ada | Ada | Ada | Fenotipe paling berat; risiko metabolik tertinggi |
| B (klasik tanpa USG) | Ada | Ada | Tidak ada | Profil metabolik menyerupai fenotipe A |
| C (ovulatorik) | Tidak ada | Ada | Ada | Siklus haid relatif teratur; hiperandrogenisme menonjol |
| D (normoandrogenik) | Ada | Tidak ada | Ada | Profil metabolik umumnya paling ringan di antara keempat fenotipe |
PPK ini secara operasional ditujukan terutama pada fenotipe dengan gejala ringan dan tanpa komorbid kompleks (umumnya berkaitan dengan fenotipe C dan D), sedangkan fenotipe A dan B yang disertai gambaran metabolik berat dipertimbangkan sebagai kandidat rujukan sesuai kriteria pada bagian 7.4.
2. Anamnesis
Anamnesis terstruktur ditujukan untuk menggali tiga komponen kriteria Rotterdam sekaligus menyingkirkan diagnosis banding endokrin lain.
- Pola haid: usia menarke, siklus haid (oligomenore dengan interval lebih dari 35 hari, atau amenore sekunder), riwayat haid tidak teratur sejak remaja.
- Tanda hiperandrogenisme: jerawat (akne) menetap, pertumbuhan rambut berlebih dengan pola pria (hirsutisme) pada wajah, dada, atau punggung, serta kerontokan rambut pola androgenik (alopesia androgenik).
- Riwayat berat badan: kenaikan berat badan progresif, kesulitan menurunkan berat badan, pola makan, dan aktivitas fisik.
- Riwayat reproduksi: status pernikahan, keinginan hamil saat ini, riwayat infertilitas, atau keguguran berulang.
- Riwayat keluarga: SOPK, diabetes melitus tipe 2, atau sindrom metabolik pada keluarga tingkat pertama.
- Gejala penyerta yang mengarah ke diagnosis banding: penggunaan obat pemicu hiperprolaktinemia, gejala hipotiroid/hipertiroid, gejala virilisasi berat (suara memberat, pembesaran klitoris) yang mengarah ke tumor penghasil androgen atau hiperplasia adrenal kongenital.
- Riwayat psikososial: gejala cemas atau depresi terkait citra tubuh, karena SOPK berkaitan dengan beban psikologis yang bermakna dan perlu ditapis secara rutin.
Pertimbangan khusus pada remaja: pada 3 tahun pertama pascamenarke, oligomenore fisiologis akibat imaturitas sumbu hipotalamus-hipofisis-ovarium sering menyerupai gambaran SOPK. Diagnosis definitif pada kelompok usia ini sebaiknya menunggu kestabilan siklus haid dan idealnya mensyaratkan seluruh tiga kriteria Rotterdam terpenuhi untuk menghindari overdiagnosis, sesuai penekanan pada pembaruan pedoman internasional terkini [5].
3. Pemeriksaan Fisik
- Antropometri: berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), dan lingkar pinggang untuk menilai obesitas sentral.
- Tekanan darah, sebagai bagian penapisan komponen sindrom metabolik.
- Penilaian hirsutisme dengan skor Ferriman-Gallwey termodifikasi (skor ≥8 dianggap bermakna pada populasi umum, dengan ambang yang dapat disesuaikan secara klinis pada populasi Asia yang cenderung memiliki densitas rambut tubuh lebih rendah).
- Inspeksi kulit: akne, alopesia androgenik, dan akantosis nigrikans (penebalan serta hiperpigmentasi kulit leher, aksila, atau lipat paha) sebagai penanda resistensi insulin.
- Pemeriksaan tanda virilisasi berat (klitoromegali, suara memberat, perubahan bentuk tubuh maskulin) — bila ditemukan, arahkan kecurigaan ke diagnosis banding tumor penghasil androgen atau hiperplasia adrenal kongenital, bukan SOPK sederhana.
- Pemeriksaan ginekologi dasar sesuai indikasi klinis.
4. Kriteria Diagnosis
Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) — Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) — kode ICD-10 E28.2 dan ICD-11 5A80.1, ditegakkan bila memenuhi minimal 2 dari 3 kriteria Rotterdam berikut [4], setelah menyingkirkan etiologi lain:
- Oligo-ovulasi atau anovulasi, secara klinis tampak sebagai oligomenore (siklus lebih dari 35 hari) atau amenore sekunder.
- Hiperandrogenisme klinis (hirsutisme, akne, alopesia androgenik) dan/atau biokimia (kadar testosteron total/bebas meningkat).
- Gambaran morfologi ovarium polikistik pada USG transvaginal: minimal 20 folikel berukuran 2–9 mm per ovarium dan/atau volume ovarium ≥10 mL, tanpa adanya kista dominan atau korpus luteum.
Klasifikasi "sederhana" pada PPK ini ditetapkan bila kriteria di atas terpenuhi dengan gejala ringan, tanpa disertai resistensi insulin berat/sindrom metabolik bermakna, tanpa infertilitas menetap yang memerlukan induksi ovulasi terstruktur, dan tanpa kecurigaan keganasan/hiperplasia endometrium — sesuai keterangan populasi Tabel 7 Kepkonsil No. 58 [1].
Catatan pengayaan diagnostik: pembaruan pedoman internasional 2023 menyebutkan kadar hormon anti-Müller (AMH) sebagai alternatif penilaian morfologi ovarium polikistik pada populasi dewasa apabila USG tidak tersedia atau tidak dapat dilakukan, dengan ambang laboratorium yang bergantung pada jenis uji (assay-specific) [5]. Penerapan AMH sebagai pengganti USG belum menjadi bagian kriteria diagnosis resmi pada Tabel 7 Kepkonsil, sehingga pada PPK ini USG tetap menjadi modalitas penunjang utama; AMH dapat dipertimbangkan sebagai pemeriksaan tambahan bila USG sulit diakses.
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja: Sindrom Ovarium Polikistik Sederhana (E28.2 / 5A80.1).
Diagnosis banding yang wajib disingkirkan sebelum diagnosis SOPK ditegakkan:
- Hiperplasia adrenal kongenital non-klasik (onset lambat) — ditandai kadar 17-hidroksiprogesteron (17-OHP) yang meningkat.
- Hiperprolaktinemia — kadar prolaktin meningkat, dapat menyebabkan oligomenore/amenore disertai galaktorea.
- Disfungsi tiroid (hipotiroid maupun hipertiroid) — ditandai kadar TSH yang abnormal.
- Sindrom Cushing — dipertimbangkan pada kecurigaan klinis tertentu (striae keunguan yang lebar, moon face, buffalo hump).
- Tumor penghasil androgen di ovarium atau adrenal — dicurigai pada onset hiperandrogenisme yang cepat dan berat (virilisasi).
- Amenore hipotalamus fungsional atau kegagalan ovarium prematur — dibedakan melalui profil gonadotropin yang tidak sesuai dengan gambaran SOPK.
6. Pemeriksaan Penunjang
- Ultrasonografi (USG) transvaginal (atau transabdominal pada pasien yang belum menikah atau bila USG transvaginal tidak dapat dilakukan) untuk menilai morfologi ovarium polikistik.
- Profil hormon reproduksi: LH, FSH, rasio LH/FSH, serta testosteron total dan/atau bebas dan SHBG (sex hormone-binding globulin).
- 17-hidroksiprogesteron (17-OHP) untuk menyingkirkan hiperplasia adrenal kongenital non-klasik.
- Prolaktin serum dan TSH untuk menyingkirkan hiperprolaktinemia dan disfungsi tiroid.
- Profil metabolik: glukosa darah puasa, HbA1c, dan/atau tes toleransi glukosa oral (OGTT) 75 gram pada pasien dengan faktor risiko resistensi insulin (obesitas, riwayat keluarga diabetes melitus tipe 2).
- Profil lipid puasa, mengingat peningkatan risiko dislipidemia pada SOPK.
- AMH serum sebagai pemeriksaan tambahan opsional bila USG sulit diakses, dengan interpretasi mengikuti ambang spesifik metode pemeriksaan yang digunakan laboratorium [5].
- Pemeriksaan tambahan sesuai kecurigaan diagnosis banding (misalnya uji supresi deksametason bila dicurigai Sindrom Cushing).
7. Tata Laksana
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
Modifikasi gaya hidup merupakan lini pertama tata laksana SOPK sederhana, terutama pada pasien dengan kelebihan berat badan atau obesitas [2].
- Target penurunan berat badan 5–10% dari berat badan awal pada pasien dengan IMT berlebih/obesitas, terbukti memperbaiki regularitas siklus haid dan profil metabolik.
- Aktivitas fisik terstruktur minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang.
- Edukasi pola makan seimbang, idealnya dengan pendekatan multidisiplin bersama gizi klinik bila tersedia.
- Dukungan psikologis, mengingat asosiasi SOPK dengan gangguan citra tubuh, kecemasan, dan gejala depresif.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
- Kontrasepsi hormonal kombinasi (pil kombinasi estrogen-progestin) sebagai lini pertama untuk regularisasi siklus haid dan perbaikan hiperandrogenisme klinis pada pasien yang tidak merencanakan kehamilan segera dan tanpa kontraindikasi estrogen [2]. Pemilihan jenis progestin mempertimbangkan profil androgenisitas: progestin dengan efek antiandrogenik atau netral (mis. drospirenon, siproteron asetat, desogestrel) lebih disukai dibandingkan progestin dengan efek androgenik.
- Progestin siklik (misalnya medroksiprogesteron asetat) sebagai alternatif pada pasien dengan kontraindikasi estrogen, untuk proteksi endometrium dan regularisasi peluruhan haid.
- Metformin dipertimbangkan pada pasien dengan resistensi insulin/gangguan toleransi glukosa, IMT berlebih, atau sebagai adjuvan induksi ovulasi pada rencana kehamilan; diberikan bersama modifikasi gaya hidup. Tinjauan sistematis Cochrane melaporkan perbaikan luaran ovulasi dan kehamilan klinis dengan metformin, baik sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan klomifen sitrat [3].
- Anti-androgen (misalnya spironolakton) dapat ditambahkan untuk hirsutisme yang tidak berespons adekuat terhadap kontrasepsi hormonal setelah minimal 6 bulan, dan wajib disertai kontrasepsi adekuat karena risiko teratogenik.
- Induksi ovulasi lini pertama diberikan hanya pada pasien dengan rencana kehamilan aktif. Letrozol direkomendasikan sebagai agen lini pertama berdasarkan uji klinis acak multisenter berskala besar (Pregnancy in Polycystic Ovary Syndrome II) yang menunjukkan angka kelahiran hidup dan ovulasi lebih tinggi dibandingkan klomifen sitrat pada perempuan dengan SOPK dan infertilitas anovulatorik [6]. Klomifen sitrat tetap menjadi alternatif yang sahih apabila letrozol tidak tersedia. Bila diperlukan protokol induksi ovulasi terstruktur, pasien dirujuk sesuai butir 7.4.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)
Pada SOPK sederhana, tata laksana bedah/prosedural umumnya tidak diperlukan. Prosedur seperti ovarian drilling laparoskopik dipertimbangkan hanya pada kasus infertilitas dengan resistensi terhadap induksi ovulasi lini pertama, dan dilaksanakan di tingkat rujukan Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi, bukan pada lingkup PPK ini.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi
- Infertilitas menetap meski telah dilakukan modifikasi gaya hidup dan/atau induksi ovulasi lini pertama.
- Resistensi insulin berat atau sindrom metabolik bermakna yang memerlukan tata laksana terintegrasi.
- Hiperandrogenisme berat atau onset cepat yang mengarah pada kecurigaan tumor penghasil androgen (dirujuk juga ke onkologi/endokrinologi sesuai temuan, di luar kewenangan tata laksana PPK ini).
- Kegagalan respons terhadap induksi ovulasi lini pertama (letrozol/klomifen sitrat) yang memerlukan protokol gonadotropin terstruktur atau teknologi reproduksi berbantu.
- Kecurigaan hiperplasia endometrium akibat anovulasi kronis yang memerlukan evaluasi dan tata laksana lebih lanjut.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
- SOPK adalah kondisi kronis yang memerlukan pemantauan jangka panjang, bukan kondisi yang "disembuhkan" dalam satu episode terapi.
- Modifikasi gaya hidup adalah dasar tata laksana dan memberi manfaat pada regularitas haid, profil metabolik, serta kesuburan.
- Pentingnya kontrasepsi bagi pasien yang tidak merencanakan kehamilan, sekaligus proteksi endometrium dari efek anovulasi kronis.
- Risiko jangka panjang bila tidak terpantau: diabetes melitus tipe 2, sindrom metabolik, penyakit kardiovaskular, dan hiperplasia endometrium akibat paparan estrogen tanpa lawan progesteron yang berkepanjangan.
- Rencana kehamilan sebaiknya didiskusikan lebih awal agar tata laksana dapat disesuaikan (penghentian kontrasepsi hormonal, persiapan induksi ovulasi bila diperlukan).
- Pentingnya kontrol berkala untuk evaluasi respons terapi dan skrining metabolik berkala.
9. Prognosis
- Quo ad vitam: bonam — SOPK sederhana tidak mengancam nyawa.
- Quo ad functionam: bonam dengan tata laksana dan pemantauan adekuat; fungsi reproduksi umumnya dapat diperbaiki dengan modifikasi gaya hidup dan/atau induksi ovulasi.
- Quo ad sanationam: dubia — SOPK bersifat kronis, sehingga fokus tata laksana adalah pengendalian gejala dan pencegahan komplikasi jangka panjang, bukan penyembuhan total.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
| Aspek Tata Laksana | Tingkat Evidens | Kekuatan Rekomendasi | Sumber |
| Modifikasi gaya hidup (penurunan BB 5–10%) sebagai lini pertama | Evidens level II | Rekomendasi A | ACOG Practice Bulletin No. 194 [2] |
| Kontrasepsi hormonal kombinasi untuk regularisasi haid & hiperandrogenisme | Evidens level I | Rekomendasi A | ACOG Practice Bulletin No. 194 [2] |
| Metformin sebagai adjuvan pada resistensi insulin/induksi ovulasi | Evidens level I | Rekomendasi B | Cochrane Database Syst Rev, CD003053 [3] |
| Letrozol sebagai lini pertama induksi ovulasi pada SOPK dengan infertilitas anovulatorik | Evidens level I | Rekomendasi A | Legro dkk., N Engl J Med 2014 (PPCOS II) [6] |
11. Indikator Medis
- Regularitas siklus haid tercapai (interval 21–35 hari) dalam 3–6 bulan tata laksana.
- Perbaikan skor hiperandrogenisme klinis (skor Ferriman-Gallwey, derajat akne) pada evaluasi 6 bulan.
- Penurunan IMT dan/atau lingkar pinggang pada pasien dengan target penurunan berat badan.
- Kepatuhan terhadap modifikasi gaya hidup dan/atau terapi farmakologis yang terdokumentasi pada setiap kunjungan kontrol.
- Skrining glukosa berkala (glukosa puasa/HbA1c/OGTT) terlaksana sesuai interval yang ditetapkan fasilitas, terutama pada pasien obesitas atau dengan riwayat keluarga diabetes melitus tipe 2.
- Tercapainya kehamilan pada pasien dengan rencana kehamilan yang menjalani induksi ovulasi lini pertama, atau rujukan tepat waktu bila terapi gagal.
- Tidak ditemukan komplikasi metabolik baru (diabetes melitus tipe 2, dislipidemia) pada skrining berkala.
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan SOPK sederhana (Tabel 7 No. 58) sebagai kewenangan SpOG umum dengan tata laksana berbasis modifikasi gaya hidup dan farmakoterapi lini pertama, merujuk kasus kompleks ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi [1].
ACOG Practice Bulletin No. 194 merekomendasikan diagnosis berbasis kriteria Rotterdam setelah menyingkirkan etiologi lain, dengan modifikasi gaya hidup sebagai lini pertama dan kontrasepsi hormonal kombinasi sebagai terapi utama untuk regularisasi haid dan hiperandrogenisme — sejalan dengan standar nasional pada PPK ini [2].
Tinjauan sistematis Cochrane mengenai obat penyensitif insulin (metformin) pada SOPK melaporkan perbaikan luaran ovulasi dan kehamilan klinis dengan metformin, baik sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan klomifen sitrat, mendukung posisi metformin sebagai adjuvan — bukan lini pertama tunggal — pada tata laksana nasional [3].
Perbedaan penekanan: standar internasional secara eksplisit merekomendasikan letrozol sebagai agen induksi ovulasi lini pertama dibandingkan klomifen sitrat pada SOPK dengan infertilitas anovulatorik, berdasarkan bukti uji klinis acak berskala besar [6]. Standar nasional pada PPK ini mengikuti rekomendasi tersebut, dengan catatan ketersediaan letrozol di fasilitas layanan primer/sekunder di Indonesia perlu dipertimbangkan; bila tidak tersedia, klomifen sitrat tetap menjadi alternatif yang sahih sebelum rujukan ke subspesialis.
Sebagai pengayaan tambahan di luar dua sumber wajib di atas, pembaruan pedoman berbasis bukti internasional 2023 (International PCOS Network) memperkenalkan penyederhanaan algoritma diagnosis, opsi AMH sebagai alternatif USG pada dewasa, serta kehati-hatian ekstra dalam menegakkan diagnosis pada remaja untuk mencegah overdiagnosis [5]. Elemen ini belum menjadi bagian resmi Tabel 7 Kepkonsil sehingga dicantumkan sebagai wawasan pembanding, bukan sebagai dasar tata laksana wajib pada PPK ini.
13. Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 No. 58.
- American College of Obstetricians and Gynecologists' Committee on Practice Bulletins—Gynecology. ACOG Practice Bulletin No. 194: Polycystic Ovary Syndrome. Obstet Gynecol. 2018;131(6):e157–e171 (dikonfirmasi ulang/reaffirmed 2022). https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29794677/
- Morley LC, Tang T, Yasmin E, Norman RJ, Balen AH. Insulin-sensitising drugs (metformin, rosiglitazone, pioglitazone, D-chiro-inositol) for women with polycystic ovary syndrome, oligo amenorrhoea and subfertility. Cochrane Database Syst Rev. 2017;11:CD003053. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29183107/
- Rotterdam ESHRE/ASRM-Sponsored PCOS Consensus Workshop Group. Revised 2003 consensus on diagnostic criteria and long-term health risks related to polycystic ovary syndrome. Fertil Steril. 2004;81(1):19–25. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14711538/
- Teede HJ, Tay CT, Laven JJE, dkk., atas nama International PCOS Network. Recommendations From the 2023 International Evidence-based Guideline for the Assessment and Management of Polycystic Ovary Syndrome. J Clin Endocrinol Metab. 2023;108(10):2447–2469. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37580861/
- Legro RS, Brzyski RG, Diamond MP, dkk.; NICHD Reproductive Medicine Network. Letrozole versus clomiphene for infertility in the polycystic ovary syndrome. N Engl J Med. 2014;371(2):119–129. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25006718/
14. Glosarium
- Akantosis nigrikans
- Penebalan dan hiperpigmentasi kulit, khas pada leher, aksila, dan lipat paha, yang menjadi penanda klinis resistensi insulin.
- AMH (Anti-Müllerian Hormone)
- Hormon yang diproduksi folikel ovarium kecil; kadarnya dapat digunakan sebagai penanda cadangan ovarium dan, pada pembaruan pedoman terkini, sebagai alternatif penilaian morfologi ovarium polikistik pada populasi dewasa.
- Anovulasi
- Kondisi tidak terjadinya pelepasan sel telur (ovulasi) pada satu siklus haid.
- Fenotipe SOPK
- Empat kombinasi klinis SOPK (A–D) berdasarkan ada/tidaknya tiap komponen kriteria Rotterdam, dengan implikasi risiko metabolik yang berbeda.
- Hiperandrogenisme
- Kelebihan hormon androgen yang bermanifestasi klinis (hirsutisme, akne, alopesia androgenik) dan/atau biokimia (peningkatan kadar testosteron).
- Hirsutisme
- Pertumbuhan rambut terminal berlebih dengan pola menyerupai pria pada perempuan, dinilai antara lain dengan skor Ferriman-Gallwey.
- Kriteria Rotterdam
- Kriteria diagnosis SOPK hasil konsensus ESHRE/ASRM tahun 2003 yang mensyaratkan minimal 2 dari 3 komponen: oligo/anovulasi, hiperandrogenisme, dan morfologi ovarium polikistik.
- Letrozol
- Obat golongan inhibitor aromatase yang digunakan sebagai agen induksi ovulasi lini pertama pada SOPK dengan infertilitas anovulatorik.
- Metformin
- Obat penyensitif insulin (insulin sensitiser) yang digunakan sebagai adjuvan tata laksana SOPK, terutama pada resistensi insulin.
- Oligomenore
- Siklus haid dengan interval lebih panjang dari normal, umumnya didefinisikan lebih dari 35 hari.
- Ovarian drilling
- Prosedur laparoskopik yang membuat lubang kecil pada permukaan ovarium untuk menurunkan produksi androgen lokal, dipertimbangkan pada infertilitas SOPK yang resisten terhadap induksi ovulasi obat.
- Resistensi insulin
- Berkurangnya sensitivitas jaringan tubuh terhadap kerja insulin, menyebabkan hiperinsulinemia kompensatorik yang berkontribusi pada hiperandrogenisme ovarium.
- SHBG (Sex Hormone-Binding Globulin)
- Protein pengikat hormon seks dalam darah; kadarnya sering menurun pada SOPK sehingga meningkatkan fraksi testosteron bebas yang aktif secara biologis.
- Skor Ferriman-Gallwey
- Sistem penilaian visual semikuantitatif terhadap distribusi dan kepadatan rambut tubuh untuk menilai derajat hirsutisme.
- SOPK (Sindrom Ovarium Polikistik)
- Istilah Indonesia untuk Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), gangguan endokrin reproduksi yang ditandai oligo/anovulasi, hiperandrogenisme, dan/atau morfologi ovarium polikistik.
- 17-hidroksiprogesteron (17-OHP)
- Metabolit steroid yang diperiksa untuk menyingkirkan hiperplasia adrenal kongenital non-klasik sebagai diagnosis banding SOPK.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Perpustakaan Digital ABBA — Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138
2026