PPK-058
Sindrom Ovarium Polikistik Sederhana
ICD-10 E28.2 · ICD-11 5A80.1
Dokumen 58 / 73 — PPK
Panduan Praktik Klinis (PPK)

Sindrom Ovarium Polikistik Sederhana

Simple Polycystic Ovary Syndrome

Turunan operasional dari Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar. Divisi Pengampu: Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi.

ICD-10
E28.2
ICD-11
5A80.1
Kode Unit
PPK-058
Urutan
58 dari 73

1. Pengertian / Definisi

PPK ini merupakan turunan operasional dari Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar, pada bab yang membahas Sindrom Ovarium Polikistik (Polycystic Ovary Syndrome, disingkat SOPK/PCOS).

Sindrom Ovarium Polikistik Sederhana (Simple Polycystic Ovary Syndrome) adalah gangguan endokrin reproduksi dengan oligo-ovulasi/anovulasi, hiperandrogenisme klinis/biokimia, dan/atau gambaran ovarium polikistik menurut kriteria Rotterdam, tanpa disertai komorbid kompleks. Istilah "sederhana" pada PPK ini menunjuk pada populasi dengan gejala ringan yang tata laksana awalnya berada dalam kewenangan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) umum, berbeda dengan SOPK kompleks yang disertai resistensi insulin berat, sindrom metabolik, infertilitas menetap, atau hiperandrogenisme berat sehingga memerlukan penanganan Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi.

Dasar Regulasi
Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 No. 58 (Sindrom ovarium polikistik sederhana / Simple polycystic ovary syndrome; ICD-10 E28.2; ICD-11 5A80.1; Keterangan/Populasi: PCOS dengan gejala ringan). [1]

Secara patofisiologi, SOPK melibatkan interaksi antara peningkatan frekuensi dan amplitudo denyut gonadotropin-releasing hormone (GnRH) di hipotalamus, sekresi LH yang relatif berlebih dibandingkan FSH, hiperandrogenisme ovarium dan/atau adrenal, serta resistensi insulin dengan hiperinsulinemia kompensatorik yang memperberat produksi androgen ovarium. Kombinasi mekanisme ini menghasilkan gangguan pematangan folikel, anovulasi kronis, dan akumulasi folikel antral kecil yang tampak sebagai morfologi ovarium polikistik pada USG.

Diagnosis ditegakkan menggunakan kriteria Rotterdam (konsensus ESHRE/ASRM, 2003) [4], yaitu terpenuhinya minimal dua dari tiga kriteria: (1) oligo-ovulasi atau anovulasi, (2) tanda klinis dan/atau biokimia hiperandrogenisme, dan (3) morfologi ovarium polikistik pada pemeriksaan ultrasonografi, setelah menyingkirkan penyebab lain hiperandrogenisme dan gangguan ovulasi. Kombinasi kriteria yang terpenuhi menentukan fenotipe SOPK sebagaimana diringkas pada tabel berikut.

FenotipeOligo/AnovulasiHiperandrogenismeOvarium Polikistik (USG)Karakteristik Umum
A (klasik lengkap)AdaAdaAdaFenotipe paling berat; risiko metabolik tertinggi
B (klasik tanpa USG)AdaAdaTidak adaProfil metabolik menyerupai fenotipe A
C (ovulatorik)Tidak adaAdaAdaSiklus haid relatif teratur; hiperandrogenisme menonjol
D (normoandrogenik)AdaTidak adaAdaProfil metabolik umumnya paling ringan di antara keempat fenotipe

PPK ini secara operasional ditujukan terutama pada fenotipe dengan gejala ringan dan tanpa komorbid kompleks (umumnya berkaitan dengan fenotipe C dan D), sedangkan fenotipe A dan B yang disertai gambaran metabolik berat dipertimbangkan sebagai kandidat rujukan sesuai kriteria pada bagian 7.4.

2. Anamnesis

Anamnesis terstruktur ditujukan untuk menggali tiga komponen kriteria Rotterdam sekaligus menyingkirkan diagnosis banding endokrin lain.

Pertimbangan khusus pada remaja: pada 3 tahun pertama pascamenarke, oligomenore fisiologis akibat imaturitas sumbu hipotalamus-hipofisis-ovarium sering menyerupai gambaran SOPK. Diagnosis definitif pada kelompok usia ini sebaiknya menunggu kestabilan siklus haid dan idealnya mensyaratkan seluruh tiga kriteria Rotterdam terpenuhi untuk menghindari overdiagnosis, sesuai penekanan pada pembaruan pedoman internasional terkini [5].

3. Pemeriksaan Fisik

4. Kriteria Diagnosis

Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) — Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) — kode ICD-10 E28.2 dan ICD-11 5A80.1, ditegakkan bila memenuhi minimal 2 dari 3 kriteria Rotterdam berikut [4], setelah menyingkirkan etiologi lain:

  1. Oligo-ovulasi atau anovulasi, secara klinis tampak sebagai oligomenore (siklus lebih dari 35 hari) atau amenore sekunder.
  2. Hiperandrogenisme klinis (hirsutisme, akne, alopesia androgenik) dan/atau biokimia (kadar testosteron total/bebas meningkat).
  3. Gambaran morfologi ovarium polikistik pada USG transvaginal: minimal 20 folikel berukuran 2–9 mm per ovarium dan/atau volume ovarium ≥10 mL, tanpa adanya kista dominan atau korpus luteum.

Klasifikasi "sederhana" pada PPK ini ditetapkan bila kriteria di atas terpenuhi dengan gejala ringan, tanpa disertai resistensi insulin berat/sindrom metabolik bermakna, tanpa infertilitas menetap yang memerlukan induksi ovulasi terstruktur, dan tanpa kecurigaan keganasan/hiperplasia endometrium — sesuai keterangan populasi Tabel 7 Kepkonsil No. 58 [1].

Catatan pengayaan diagnostik: pembaruan pedoman internasional 2023 menyebutkan kadar hormon anti-Müller (AMH) sebagai alternatif penilaian morfologi ovarium polikistik pada populasi dewasa apabila USG tidak tersedia atau tidak dapat dilakukan, dengan ambang laboratorium yang bergantung pada jenis uji (assay-specific) [5]. Penerapan AMH sebagai pengganti USG belum menjadi bagian kriteria diagnosis resmi pada Tabel 7 Kepkonsil, sehingga pada PPK ini USG tetap menjadi modalitas penunjang utama; AMH dapat dipertimbangkan sebagai pemeriksaan tambahan bila USG sulit diakses.

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Sindrom Ovarium Polikistik Sederhana (E28.2 / 5A80.1).

Diagnosis banding yang wajib disingkirkan sebelum diagnosis SOPK ditegakkan:

6. Pemeriksaan Penunjang

7. Tata Laksana

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

Modifikasi gaya hidup merupakan lini pertama tata laksana SOPK sederhana, terutama pada pasien dengan kelebihan berat badan atau obesitas [2].

7.2 Tata Laksana Farmakologis

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)

Pada SOPK sederhana, tata laksana bedah/prosedural umumnya tidak diperlukan. Prosedur seperti ovarian drilling laparoskopik dipertimbangkan hanya pada kasus infertilitas dengan resistensi terhadap induksi ovulasi lini pertama, dan dilaksanakan di tingkat rujukan Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi, bukan pada lingkup PPK ini.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Aspek Tata LaksanaTingkat EvidensKekuatan RekomendasiSumber
Modifikasi gaya hidup (penurunan BB 5–10%) sebagai lini pertamaEvidens level IIRekomendasi AACOG Practice Bulletin No. 194 [2]
Kontrasepsi hormonal kombinasi untuk regularisasi haid & hiperandrogenismeEvidens level IRekomendasi AACOG Practice Bulletin No. 194 [2]
Metformin sebagai adjuvan pada resistensi insulin/induksi ovulasiEvidens level IRekomendasi BCochrane Database Syst Rev, CD003053 [3]
Letrozol sebagai lini pertama induksi ovulasi pada SOPK dengan infertilitas anovulatorikEvidens level IRekomendasi ALegro dkk., N Engl J Med 2014 (PPCOS II) [6]

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan SOPK sederhana (Tabel 7 No. 58) sebagai kewenangan SpOG umum dengan tata laksana berbasis modifikasi gaya hidup dan farmakoterapi lini pertama, merujuk kasus kompleks ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi [1].

ACOG Practice Bulletin No. 194 merekomendasikan diagnosis berbasis kriteria Rotterdam setelah menyingkirkan etiologi lain, dengan modifikasi gaya hidup sebagai lini pertama dan kontrasepsi hormonal kombinasi sebagai terapi utama untuk regularisasi haid dan hiperandrogenisme — sejalan dengan standar nasional pada PPK ini [2].

Tinjauan sistematis Cochrane mengenai obat penyensitif insulin (metformin) pada SOPK melaporkan perbaikan luaran ovulasi dan kehamilan klinis dengan metformin, baik sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan klomifen sitrat, mendukung posisi metformin sebagai adjuvan — bukan lini pertama tunggal — pada tata laksana nasional [3].

Perbedaan penekanan: standar internasional secara eksplisit merekomendasikan letrozol sebagai agen induksi ovulasi lini pertama dibandingkan klomifen sitrat pada SOPK dengan infertilitas anovulatorik, berdasarkan bukti uji klinis acak berskala besar [6]. Standar nasional pada PPK ini mengikuti rekomendasi tersebut, dengan catatan ketersediaan letrozol di fasilitas layanan primer/sekunder di Indonesia perlu dipertimbangkan; bila tidak tersedia, klomifen sitrat tetap menjadi alternatif yang sahih sebelum rujukan ke subspesialis.

Sebagai pengayaan tambahan di luar dua sumber wajib di atas, pembaruan pedoman berbasis bukti internasional 2023 (International PCOS Network) memperkenalkan penyederhanaan algoritma diagnosis, opsi AMH sebagai alternatif USG pada dewasa, serta kehati-hatian ekstra dalam menegakkan diagnosis pada remaja untuk mencegah overdiagnosis [5]. Elemen ini belum menjadi bagian resmi Tabel 7 Kepkonsil sehingga dicantumkan sebagai wawasan pembanding, bukan sebagai dasar tata laksana wajib pada PPK ini.

13. Kepustakaan

  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7 No. 58.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists' Committee on Practice Bulletins—Gynecology. ACOG Practice Bulletin No. 194: Polycystic Ovary Syndrome. Obstet Gynecol. 2018;131(6):e157–e171 (dikonfirmasi ulang/reaffirmed 2022). https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29794677/
  3. Morley LC, Tang T, Yasmin E, Norman RJ, Balen AH. Insulin-sensitising drugs (metformin, rosiglitazone, pioglitazone, D-chiro-inositol) for women with polycystic ovary syndrome, oligo amenorrhoea and subfertility. Cochrane Database Syst Rev. 2017;11:CD003053. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29183107/
  4. Rotterdam ESHRE/ASRM-Sponsored PCOS Consensus Workshop Group. Revised 2003 consensus on diagnostic criteria and long-term health risks related to polycystic ovary syndrome. Fertil Steril. 2004;81(1):19–25. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14711538/
  5. Teede HJ, Tay CT, Laven JJE, dkk., atas nama International PCOS Network. Recommendations From the 2023 International Evidence-based Guideline for the Assessment and Management of Polycystic Ovary Syndrome. J Clin Endocrinol Metab. 2023;108(10):2447–2469. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37580861/
  6. Legro RS, Brzyski RG, Diamond MP, dkk.; NICHD Reproductive Medicine Network. Letrozole versus clomiphene for infertility in the polycystic ovary syndrome. N Engl J Med. 2014;371(2):119–129. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25006718/

14. Glosarium

Akantosis nigrikans
Penebalan dan hiperpigmentasi kulit, khas pada leher, aksila, dan lipat paha, yang menjadi penanda klinis resistensi insulin.
AMH (Anti-Müllerian Hormone)
Hormon yang diproduksi folikel ovarium kecil; kadarnya dapat digunakan sebagai penanda cadangan ovarium dan, pada pembaruan pedoman terkini, sebagai alternatif penilaian morfologi ovarium polikistik pada populasi dewasa.
Anovulasi
Kondisi tidak terjadinya pelepasan sel telur (ovulasi) pada satu siklus haid.
Fenotipe SOPK
Empat kombinasi klinis SOPK (A–D) berdasarkan ada/tidaknya tiap komponen kriteria Rotterdam, dengan implikasi risiko metabolik yang berbeda.
Hiperandrogenisme
Kelebihan hormon androgen yang bermanifestasi klinis (hirsutisme, akne, alopesia androgenik) dan/atau biokimia (peningkatan kadar testosteron).
Hirsutisme
Pertumbuhan rambut terminal berlebih dengan pola menyerupai pria pada perempuan, dinilai antara lain dengan skor Ferriman-Gallwey.
Kriteria Rotterdam
Kriteria diagnosis SOPK hasil konsensus ESHRE/ASRM tahun 2003 yang mensyaratkan minimal 2 dari 3 komponen: oligo/anovulasi, hiperandrogenisme, dan morfologi ovarium polikistik.
Letrozol
Obat golongan inhibitor aromatase yang digunakan sebagai agen induksi ovulasi lini pertama pada SOPK dengan infertilitas anovulatorik.
Metformin
Obat penyensitif insulin (insulin sensitiser) yang digunakan sebagai adjuvan tata laksana SOPK, terutama pada resistensi insulin.
Oligomenore
Siklus haid dengan interval lebih panjang dari normal, umumnya didefinisikan lebih dari 35 hari.
Ovarian drilling
Prosedur laparoskopik yang membuat lubang kecil pada permukaan ovarium untuk menurunkan produksi androgen lokal, dipertimbangkan pada infertilitas SOPK yang resisten terhadap induksi ovulasi obat.
Resistensi insulin
Berkurangnya sensitivitas jaringan tubuh terhadap kerja insulin, menyebabkan hiperinsulinemia kompensatorik yang berkontribusi pada hiperandrogenisme ovarium.
SHBG (Sex Hormone-Binding Globulin)
Protein pengikat hormon seks dalam darah; kadarnya sering menurun pada SOPK sehingga meningkatkan fraksi testosteron bebas yang aktif secara biologis.
Skor Ferriman-Gallwey
Sistem penilaian visual semikuantitatif terhadap distribusi dan kepadatan rambut tubuh untuk menilai derajat hirsutisme.
SOPK (Sindrom Ovarium Polikistik)
Istilah Indonesia untuk Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), gangguan endokrin reproduksi yang ditandai oligo/anovulasi, hiperandrogenisme, dan/atau morfologi ovarium polikistik.
17-hidroksiprogesteron (17-OHP)
Metabolit steroid yang diperiksa untuk menyingkirkan hiperplasia adrenal kongenital non-klasik sebagai diagnosis banding SOPK.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Perpustakaan Digital ABBA — Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138
2026