PPK-060 Menopause (Peri/Post) Sederhana
Divisi Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi — Departemen Obstetri dan Ginekologi
Panduan Praktik Klinis (PPK) · Dokumen 60 dari 73

Menopause (Peri/Post) Sederhana

Simple Menopause (Peri/Post)
ICD-10N95.1
ICD-11GA30.0
Populasi/KeteranganGejala menopause ringan
Divisi PengampuFertilitas dan Endokrinologi Reproduksi
Buku Tematik IndukB8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar
Dasar HukumKepkonsil Tabel 7 No. 60

1. Pengertian/Definisi

PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Menopause dan Transisi Perimenopause, Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar, disusun berdasarkan entri No. 60 Tabel 7 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026.

Menopause (peri/post) sederhana atau simple menopause (peri/post) adalah fase transisi hingga berhentinya menstruasi secara permanen akibat hilangnya aktivitas folikulogenesis ovarium, yang dikonfirmasi secara retrospektif setelah 12 bulan berturut-turut amenore tanpa penyebab patologis atau fisiologis lain (mis. kehamilan, laktasi). Istilah "sederhana" pada tata nama Tabel 7 Kepkonsil menunjukkan populasi sasaran dengan gejala menopause ringan hingga sedang, tanpa komorbiditas ginekologis kompleks, tanpa perdarahan uterus abnormal yang mencurigakan keganasan, dan tanpa indikasi kegagalan ovarium prematur (usia <40 tahun).

Secara patofisiologis, transisi menopause terjadi akibat penipisan progresif cadangan folikel ovarium seiring bertambahnya usia, yang menurunkan produksi estradiol dan inhibin B sehingga terjadi peningkatan kompensatorik hormon perangsang folikel (FSH) melalui mekanisme umpan balik negatif pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Ketidakstabilan pusat termoregulasi hipotalamus akibat penurunan estrogen mendasari timbulnya gejala vasomotor, sementara hipoestrogenisme pada jaringan target genitourinari mendasari sindrom genitourinari menopause (genitourinary syndrome of menopause/GSM).

Perimenopause (masa transisi menopause) mencakup periode sejak muncul variabilitas siklus haid akibat penurunan cadangan folikel ovarium hingga 12 bulan pertama pascamenopause, sedangkan pascamenopause (postmenopause) adalah periode setelah titik menopause tersebut terlampaui. Rerata usia menopause alami secara global berada pada rentang 45-55 tahun; menopause pada usia <40 tahun dikategorikan sebagai insufisiensi ovarium prematur dan bukan cakupan PPK ini (dirujuk ke subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi, lihat bagian 7.4). [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI — untuk rerata usia menopause spesifik populasi Indonesia].

Tahapan reproduksi wanita dari masa reproduktif hingga pascamenopause secara internasional diacu menggunakan sistem Stages of Reproductive Aging Workshop +10 (STRAW+10), yang membagi masa transisi menjadi stadium transisi awal (Stadium -2), transisi akhir (Stadium -1), dan pascamenopause dini (Stadium +1) hingga lanjut (Stadium +2), berdasarkan pola perubahan siklus haid dan penanda endokrin.

Stadium STRAW+10Penanda UtamaKarakteristik Klinis
Transisi awal (Stadium -2)Variabilitas siklus haidPerbedaan panjang siklus ≥7 hari dibandingkan siklus sebelumnya, berulang dalam rentang siklus berturut-turut
Transisi akhir (Stadium -1)Amenore memanjangInterval amenore ≥60 hari; gejala vasomotor umumnya paling menonjol pada stadium ini
Pascamenopause dini (Stadium +1)12 bulan pasca haid terakhir hingga sekitar 6-8 tahunGejala vasomotor dan genitourinari masih dapat menonjol; stabilisasi hormonal bertahap
Pascamenopause lanjut (Stadium +2)Tahun-tahun setelah Stadium +1Gejala vasomotor umumnya mereda; gejala genitourinari (GSM) cenderung menetap atau memburuk tanpa tata laksana
Dasar Regulasi

Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, Tabel 7 No. 60: Menopause (peri/post) sederhana / Simple menopause (peri/post) — ICD-10 N95.1, ICD-11 GA30.0, Keterangan/Populasi: gejala menopause ringan. PPK ini adalah pendalaman operasional Buku Tematik B8.

2. Anamnesis

Anamnesis terarah bertujuan menegakkan diagnosis klinis transisi menopause/pascamenopause, menyingkirkan diagnosis banding, dan menilai berat-ringan gejala serta faktor risiko jangka panjang (kardiovaskular dan tulang) sebagai dasar perencanaan tata laksana.

2.1 Keluhan Utama dan Riwayat Haid

2.2 Riwayat Penyakit dan Faktor Risiko

Tanda bahaya (red flags) yang mengarah ke luar cakupan "menopause sederhana" dan memerlukan evaluasi lanjut: perdarahan pascamenopause (perdarahan setelah 12 bulan amenore), perdarahan uterus abnormal yang berat/ireguler pada masa perimenopause, gejala menopause berat yang refrakter terhadap tata laksana lini pertama, atau onset gejala pada usia <40 tahun.

3. Pemeriksaan Fisik

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis menopause (peri/post) sederhana bersifat klinis, ditegakkan berdasarkan usia (umumnya ≥40 tahun), pola perubahan siklus haid, dan gejala khas (vasomotor, genitourinari, psikologis) sesuai kerangka stadium reproduksi STRAW+10 (Stages of Reproductive Aging Workshop), tanpa memerlukan pemeriksaan hormonal rutin pada kasus tipikal.

KodeSistem KlasifikasiIstilah/Keterangan
N95.1ICD-10Menopausal and female climacteric states (kondisi menopause dan klimakterium wanita)
GA30.0ICD-11Symptomatic menopause (menopause simtomatik / gejala menopause ringan)
Dasar Regulasi

Kode ICD-10 N95.1 dan ICD-11 GA30.0 mengikuti verifikasi langsung terhadap Tabel 7 No. 60 Kepkonsil No. HK.01.02/KKI/1318/2026, kolom Keterangan/Populasi: gejala menopause ringan.

4.1 Kriteria Klinis

  1. Perimenopause (transisi menopause): perbedaan panjang siklus haid ≥7 hari dibandingkan siklus sebelumnya secara berulang (STRAW+10 stadium transisi awal/-2), atau amenore ≥60 hari (stadium transisi akhir/-1), disertai gejala vasomotor/psikologis, pada wanita usia umumnya ≥40 tahun.
  2. Menopause: amenore spontan berlangsung 12 bulan berturut-turut tanpa penyebab patologis atau fisiologis lain.
  3. Pascamenopause dini (STRAW+10 stadium +1): 12 bulan hingga sekitar 6-8 tahun setelah titik menopause; gejala vasomotor dan genitourinari masih dapat menonjol.
  4. Tidak terdapat perdarahan uterus abnormal berat, tidak terdapat kecurigaan keganasan ginekologi, dan tidak terdapat kegagalan ovarium pada usia <40 tahun.

Pemeriksaan kadar FSH tidak direkomendasikan sebagai alat diagnosis menopause pada wanita usia di atas 45 tahun dengan gejala tipikal, karena kadar FSH dapat berfluktuasi luas selama masa transisi. Pemeriksaan FSH dapat dipertimbangkan secara selektif pada usia 40-45 tahun disertai gejala dan perubahan siklus haid, dan pada usia <40 tahun dengan kecurigaan insufisiensi ovarium prematur. Anti-Mullerian hormone (AMH), inhibin A/B, dan estradiol tunggal tidak direkomendasikan sebagai alat diagnosis menopause pada wanita usia di atas 45 tahun karena nilai prediktifnya rendah pada rentang usia tersebut.

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Menopause (peri/post) sederhana (ICD-10 N95.1; ICD-11 GA30.0).

5.1 Diagnosis Banding

6. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dipilih berbasis indikasi klinis, bukan sebagai panel rutin wajib pada seluruh kasus.

6.1 Evaluasi Perdarahan Pascamenopause

Perdarahan pascamenopause selalu memerlukan evaluasi endometrium karena sebagian besar kasus kanker endometrium bermanifestasi sebagai perdarahan pascamenopause. Pendekatan terkini merekomendasikan kombinasi ultrasonografi transvaginal (USG-TV) dan pengambilan sampel jaringan endometrium (biopsi endometrium) pada evaluasi awal sebagian besar pasien, karena ketebalan endometrium pada USG saja memiliki sensitivitas yang tidak selalu memadai untuk menyingkirkan keganasan/prakeganasan endometrium.

7. Tata Laksana

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Terapi hormon menopause (menopausal hormone therapy/MHT) merupakan terapi lini pertama yang paling efektif untuk gejala vasomotor sedang-berat pada wanita tanpa kontraindikasi, idealnya dimulai pada usia <60 tahun atau dalam 10 tahun sejak onset menopause ("jendela peluang").

Pada pasien dengan kontraindikasi MHT atau yang memilih tanpa terapi hormon, pilihan non-hormonal untuk gejala vasomotor dengan bukti ilmiah terkuat (Level I) meliputi terapi kognitif-perilaku, hipnosis klinis, SSRI/SNRI dosis rendah, dan gabapentin. Fezolinetant, suatu antagonis reseptor neurokinin-3 (NK3) non-hormonal, juga tergolong bukti Level I untuk gejala vasomotor berdasarkan literatur internasional terkini; ketersediaan dan status registrasinya di Indonesia perlu diverifikasi melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum diresepkan. Oxybutynin memiliki bukti Level I-II. Klonidin memiliki bukti terbatas dan bukan pilihan lini pertama.

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

Tidak terdapat indikasi tata laksana bedah/prosedural pada menopause (peri/post) sederhana tanpa komorbiditas. Tindakan bedah (mis. histerektomi, ablasi endometrium) hanya diindikasikan bila terdapat kondisi ginekologi penyerta yang menjadi diagnosis tersendiri di luar cakupan PPK ini, dan dikelola melalui PPK terkait.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Prognosis menopause (peri/post) sederhana secara umum baik. Gejala vasomotor cenderung membaik secara alami dalam beberapa tahun meski dapat bertahan lebih lama pada sebagian wanita. Dengan tata laksana yang tepat, kualitas hidup dapat dipertahankan dan risiko jangka panjang (osteoporosis, penyakit kardiovaskular) dapat dimitigasi melalui pemantauan dan intervensi gaya hidup/farmakologis berkelanjutan.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Aspek Tata LaksanaTingkat EvidensKekuatan RekomendasiSumber
MHT sebagai lini pertama gejala vasomotor sedang-beratIAKepkonsil Tabel 7; ACOG PB No. 141; The Menopause Society 2022
Estrogen vagina dosis rendah untuk GSM tanpa progestogen tambahanIAACOG PB No. 141; The Menopause Society 2022
CBT, hipnosis klinis, SSRI/SNRI, gabapentin bila kontraindikasi MHTIAThe Menopause Society 2023 (Nonhormone)
Fezolinetant (antagonis reseptor NK3) untuk gejala vasomotorIAThe Menopause Society 2023 (Nonhormone) — verifikasi status registrasi BPOM
Fitoestrogen/isoflavon untuk gejala vasomotorTidak cukup bukti mendukung efikasi konsistenCochrane (Lethaby et al. 2013)
Kombinasi USG-TV dan biopsi endometrium pada perdarahan pascamenopauseIIBACOG Clinical Practice Update 2026; ISUOG Consensus 2026
Skrining densitas tulang berbasis faktor risiko/usiaIIBKepkonsil

[DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI] untuk data epidemiologi rerata usia menopause dan prevalensi gejala vasomotor spesifik populasi Indonesia; data global rerata usia 45-55 tahun mengacu pada WHO Fact Sheet: Menopause (lihat Kepustakaan).

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan diagnosis menopause (peri/post) sederhana secara klinis berbasis pola haid dan gejala pada populasi gejala ringan, dengan tata laksana lini pertama non-farmakologis dan farmakologis (MHT) sesuai indikasi. Perbandingan berikut mengacu pada sumber internasional yang telah diverifikasi ketersediaan dan kemutakhirannya.

13. Kepustakaan

  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Tabel 7 No. 60.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 141: Management of Menopausal Symptoms. Obstet Gynecol. 2014;123:202-216.
  3. American College of Obstetricians and Gynecologists. Updated Guidance Regarding the Role of Transvaginal Ultrasonography in Evaluating the Endometrium of Individuals With Postmenopausal Bleeding. Obstet Gynecol. 2026.
  4. Genazzani AR, et al. Counseling in menopausal women: how to address the benefits and risks of menopause hormone therapy. A FIGO position paper. Int J Gynecol Obstet. 2024;164:516-530.
  5. World Health Organization. Fact Sheet: Menopause. Diperbarui 16 Oktober 2024.
  6. Lethaby A, Marjoribanks J, Kronenberg F, Roberts H, Eden J, Brown J. Phytoestrogens for menopausal vasomotor symptoms. Cochrane Database Syst Rev. 2013;(12):CD001395.
  7. Van den Bosch T, et al. ISUOG Consensus Statement on sonographic assessment of the endometrium: how to perform a gynecological ultrasound scan and report the findings. Ultrasound Obstet Gynecol. 2026.
  8. Harlow SD, Gass M, Hall JE, et al.; STRAW+10 Collaborative Group. Executive summary of the Stages of Reproductive Aging Workshop +10. Climacteric. 2012;15(2):105-114.
  9. The 2022 Hormone Therapy Position Statement of The North American Menopause Society (kini The Menopause Society). Menopause. 2022;29(7):767-794.
  10. The 2023 Nonhormone Therapy Position Statement of The North American Menopause Society (kini The Menopause Society). Menopause. 2023;30(6):573-590.

Glosarium

Daftar istilah berikut disusun untuk memudahkan pemahaman istilah klinis yang digunakan pada dokumen ini.

Amenore
Tidak terjadinya menstruasi; pada konteks menopause merujuk pada berhentinya haid selama 12 bulan berturut-turut sebagai penanda diagnosis.
Atrofi Vulvovaginal
Penipisan dan berkurangnya elastisitas jaringan vulva dan vagina akibat penurunan kadar estrogen, bagian dari sindrom genitourinari menopause.
Dispareunia
Nyeri yang timbul saat atau setelah hubungan seksual, sering terkait kekeringan dan atrofi vagina pascamenopause.
Estrogen
Hormon steroid utama yang diproduksi ovarium; penurunannya mendasari sebagian besar gejala dan perubahan fisiologis pada masa transisi menopause.
FSH (Follicle-Stimulating Hormone)
Hormon perangsang folikel yang kadarnya meningkat seiring menurunnya cadangan folikel ovarium; dapat membantu konfirmasi diagnosis pada kondisi tertentu.
Gejala Vasomotor
Sensasi panas mendadak (hot flashes) dan berkeringat malam (night sweats) akibat ketidakstabilan pusat termoregulasi hipotalamus terkait penurunan estrogen.
GSM (Genitourinary Syndrome of Menopause)
Sindrom genitourinari menopause; kumpulan gejala akibat hipoestrogenisme pada saluran genital dan kemih bawah, meliputi kekeringan vagina, dispareunia, dan gejala berkemih.
Insufisiensi Ovarium Prematur
Kegagalan fungsi ovarium yang terjadi sebelum usia 40 tahun; memerlukan pendekatan diagnostik dan tata laksana berbeda dari menopause sederhana.
MHT (Menopausal Hormone Therapy)
Terapi hormon menopause; pemberian estrogen (dengan atau tanpa progestogen) untuk mengatasi gejala menopause sedang-berat.
Osteoporosis
Penurunan densitas dan kekuatan tulang yang meningkatkan risiko fraktur; salah satu konsekuensi jangka panjang defisiensi estrogen pascamenopause.
Pascamenopause (Postmenopause)
Periode setelah titik menopause (12 bulan amenore) terlampaui.
Perdarahan Pascamenopause
Perdarahan dari uterus yang timbul setelah 12 bulan amenore pascamenopause; selalu memerlukan evaluasi untuk menyingkirkan keganasan endometrium.
Perimenopause
Masa transisi menopause; periode sejak muncul variabilitas siklus haid akibat penurunan cadangan folikel ovarium hingga satu tahun pertama pascamenopause.
STRAW+10
Stages of Reproductive Aging Workshop +10; sistem stadium baku internasional untuk menggambarkan tahapan penuaan reproduksi wanita dari masa reproduktif hingga pascamenopause.
TSH (Thyroid-Stimulating Hormone)
Hormon perangsang tiroid; diperiksa untuk menyingkirkan disfungsi tiroid sebagai diagnosis banding gejala menopause.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138
Edisi Agustus 2026