PPK-063 · Panduan Praktik Klinis (Individu) Divisi Uroginekologi Rekonstruksi — Departemen Obstetri dan Ginekologi
Dokumen 63 dari 73 — Kategori PPK

Prolaps Organ Panggul Derajat I

Pelvic Organ Prolapse Grade I

ICD-10N81.2
ICD-11GC40
Divisi PengampuUroginekologi Rekonstruksi
Turunan Operasional DariBuku Tematik B9 — Menopause, Uroginekologi Dasar, dan Prolaps Organ Panggul

1. Pengertian/Definisi

Bab ini merupakan bagian operasional dari Bab Prolaps Organ Panggul pada Buku Tematik B9 — Menopause, Uroginekologi Dasar, dan Prolaps Organ Panggul, disusun mengacu pada entri Tabel 7 Nomor 63 Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026.

Prolaps organ panggul (POP; pelvic organ prolapse) adalah turunnya satu atau lebih struktur pendukung dasar panggul — dinding vagina anterior, dinding vagina posterior, dan apeks (serviks-uterus atau puncak vagina pascahisterektomi) — ke dalam atau melalui introitus vagina, akibat kelemahan fasia endopelvik, ligamen penyangga, dan otot dasar panggul.

Prolaps organ panggul derajat I didefinisikan sebagai penurunan satu atau lebih kompartemen dasar panggul yang tetap berada di atas bidang introitus vagina; derajat ditetapkan mengikuti sistem stadium POP-Q (Pelvic Organ Prolapse Quantification), yaitu titik terdepan prolaps (Ba, C, atau Bp) berada lebih dari 1 cm di atas bidang himen (nilai POP-Q ≤ -1 cm). Kondisi ini tergolong prolaps ringan yang umumnya belum menimbulkan gangguan fungsional bermakna, namun tetap memerlukan identifikasi dini untuk mencegah progresi ke derajat yang lebih berat.

1.1 Epidemiologi

Data berskala populasi menunjukkan bahwa derajat prolaps tertentu dapat ditemukan pada hingga separuh wanita paritas yang pernah melahirkan pervaginam apabila diperiksa secara sistematis di klinik, meskipun sebagian besar tidak simtomatik. Praktik klinis di Amerika Serikat mencatat risiko seumur hidup menjalani pembedahan akibat prolaps organ panggul sebesar sekitar 13%, dengan puncak insidensi gejala pada kelompok usia 70–79 tahun, dan proyeksi peningkatan jumlah wanita dengan prolaps organ panggul sekitar 50% pada tahun 2050 seiring penuaan populasi.

Data epidemiologi tersebut berasal dari populasi Amerika Serikat dan Eropa; data prevalensi nasional Indonesia yang representatif untuk derajat I secara khusus belum tersedia secara terpusat, sehingga estimasi beban penyakit pada populasi Indonesia sebaiknya mengacu pada laporan registri resmi terbaru dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) atau Kementerian Kesehatan apabila telah dipublikasikan.

2. Anamnesis

2.1 Faktor Risiko

2.2 Keluhan Klinis

Sebagian besar kasus derajat I bersifat asimtomatik dan ditemukan pada pemeriksaan ginekologi rutin. Bila terdapat keluhan, umumnya ringan berupa rasa mengganjal atau berat di area vagina yang memberat pada sore hari atau setelah berdiri/beraktivitas lama, dan membaik dengan berbaring. Gejala berkemih (frequency, urgency) atau gejala anorektal jarang ditemukan pada derajat ini; bila ada, perlu ditelusuri kemungkinan penyebab lain yang menyertai.

Anamnesis uroginekologi terstruktur turut mencakup skrining gejala terkait — inkontinensia urin, disfungsi berkemih, dan disfungsi seksual — sesuai kompetensi anamnesis kasus uroginekologi pada Tabel 20 Kepkonsil, untuk memastikan tidak ada kondisi penyerta yang memerlukan tata laksana tersendiri. Penggunaan instrumen gejala yang tervalidasi, seperti Pelvic Organ Prolapse Symptom Score (POP-SS), dapat membantu mendokumentasikan derajat keluhan secara terstandardisasi dan memantau perubahan pada kunjungan berikutnya.

3. Pemeriksaan Fisik

Derajat I ditegakkan bila titik terdepan prolaps pada kompartemen yang terlibat (Ba, C, dan/atau Bp) bernilai ≤ -1 cm terhadap bidang himen pada pengukuran POP-Q.

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis prolaps organ panggul derajat I ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan sistem POP-Q, tanpa memerlukan pemeriksaan penunjang pencitraan secara rutin. Kriteria diagnosis: titik terdepan prolaps pada kompartemen anterior (Ba), apeks (C), dan/atau posterior (Bp) berada di atas bidang himen, dengan nilai ≤ -1 cm pada pengukuran POP-Q.

DiagnosisKode ICD-10Kode ICD-11
Prolaps organ panggul derajat I (Pelvic organ prolapse grade I)N81.2GC40

Kode ICD-10 N81.2 (Incomplete uterovaginal prolapse) dan ICD-11 GC40 (Pelvic organ prolapse) tercantum sesuai Lampiran Tabel 7 Nomor 63 Kepkonsil. Untuk keperluan pengodean klinis yang lebih rinci per kompartemen dan stadium, tenaga kesehatan dapat menggunakan kode ekstensi ICD-11 turunan (misalnya kelompok GC40.3x untuk prolaps uterovaginal inkomplet stadium I) sesuai ketersediaan pada sistem informasi rumah sakit.

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja: Prolaps organ panggul derajat I, dengan penyebutan kompartemen yang terlibat (anterior/apeks/posterior) sesuai temuan POP-Q.

5.1 Diagnosis Banding

6. Pemeriksaan Penunjang

Pada derajat I, pemeriksaan penunjang umumnya tidak diperlukan untuk menegakkan diagnosis karena POP-Q bersifat pemeriksaan klinis yang telah divalidasi. Pemeriksaan tambahan dipertimbangkan secara selektif sebagai berikut.

7. Tata Laksana

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Tidak terdapat terapi farmakologis yang dapat memperbaiki derajat anatomis prolaps secara langsung. Estrogen vagina topikal dapat dipertimbangkan pada pasien pascamenopause dengan tanda atrofi vagina, untuk memperbaiki kualitas jaringan lokal dan mengurangi gejala iritatif, sebagai terapi ajuvan dan bukan tata laksana kuratif primer terhadap prolaps; pemilihan sediaan dan durasi terapi mengikuti pertimbangan individual serta kontraindikasi terapi hormonal pada masing-masing pasien.

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

Tata laksana bedah umumnya TIDAK diindikasikan pada prolaps derajat I karena tergolong ringan dan sebagian besar asimtomatik; risiko intervensi bedah pada derajat ini melampaui manfaat yang diharapkan.

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi

Prolaps organ panggul derajat I pada umumnya berada dalam kewenangan dokter spesialis obstetri dan ginekologi umum. Rujukan ke subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi diindikasikan bila memenuhi salah satu kriteria berikut.

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

9. Prognosis

Prognosis prolaps organ panggul derajat I pada umumnya baik. Sebagian kasus bersifat stabil atau bahkan membaik dengan latihan otot dasar panggul yang dijalankan secara konsisten, terutama pada wanita usia reproduksi/premenopause. Progresi ke derajat yang lebih berat dapat terjadi seiring waktu, terutama pada pasien dengan faktor risiko yang menetap seperti obesitas, konstipasi kronik, atau menopause tanpa terapi topikal pada kasus atrofi. Angka laju progresi yang spesifik untuk populasi Indonesia belum tersedia secara nasional; estimasi laju progresi dan perbaikan sebaiknya merujuk pada laporan registri POGI atau Kementerian Kesehatan terbaru bila telah dipublikasikan.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Aspek Tata LaksanaTingkat EvidensRekomendasiSumber
Latihan otot dasar panggul sebagai lini pertama derajat I/ringanI (uji klinis multisenter teracak, tinjauan sistematik)ACochrane CD003882.pub4; Hagen dkk. (POPPY), Lancet 2014; ACOG PB214
Observasi/watchful waiting pada kasus asimtomatikIII (konsensus ahli, praktik klinis terstandar)BACOG PB214 (2019, reaffirmed 2024)
Pesarium sebagai alternatif non-bedahI-II (uji klinis teracak, kualitas bukti rendah-sedang)BCochrane CD004010.pub4 (Bugge dkk., 2020)
Estrogen vagina topikal ajuvan pada atrofi pascamenopauseII (uji klinis teracak, bukti terbatas)BCochrane CD014592.pub2 (Taithongchai dkk., 2023)
Tata laksana bedah tidak diindikasikan pada derajat IIII (konsensus ahli, praktik klinis)CKepkonsil Tabel 7 No. 63; ACOG PB214

11. Indikator Medis

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan derajat I sebagai prolaps ringan yang dikelola pada tingkat kompetensi spesialis umum dengan tata laksana konservatif sebagai lini pertama, tanpa indikasi bedah rutin.

Standar internasional pada umumnya sejalan dengan standar nasional untuk derajat I, yaitu tata laksana konservatif sebagai lini pertama; perbedaan yang ditemukan bersifat pada penekanan protokol supervisi latihan otot dasar panggul yang lebih terstruktur (mis. program individual 16 minggu dengan tenaga kesehatan terlatih) dan penggunaan instrumen gejala tervalidasi (POP-SS, Pelvic Floor Impact Questionnaire) yang lebih rutin digunakan pada praktik di beberapa pedoman internasional dibandingkan praktik umum di Indonesia saat ini; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional sebagaimana Kepkonsil Tabel 7 No. 63, dengan pengayaan protokol supervisi latihan sebagaimana diuraikan pada Bab 7.1 dapat menjadi pertimbangan pengembangan layanan ke depan.

13. Kepustakaan

  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta, 7 Mei 2026.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists. Pelvic Organ Prolapse. ACOG Practice Bulletin No. 214. Obstetrics & Gynecology. 2019;134(5):e126–e142 (reaffirmed 2024). doi:10.1097/AOG.0000000000003519.
  3. Doumouchtsis SK, Raheem AA, Milhem Haddad J, Betschart C, Contreras Ortiz O, Nygaard CC, Medina CA, La Torre F, Iancu G, Cervigni M, Zanni G, untuk FIGO Working Group. An update of a former FIGO Working Group Report on Management of Posterior Compartment Prolapse. International Journal of Gynecology & Obstetrics. 2020;148(2):135–144. doi:10.1002/ijgo.13006.
  4. Hagen S, Stark D. Conservative prevention and management of pelvic organ prolapse in women. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2011;(12):CD003882. doi:10.1002/14651858.CD003882.pub4.
  5. Hagen S, Stark D, Glazener C, Dickson S, Barry S, Elders A, Frawley H, Galea MP, Logan J, McDonald A, McPherson G, Moore KH, Norrie J, Walker A, Wilson D, untuk POPPY Trial Collaborators. Individualised pelvic floor muscle training in women with pelvic organ prolapse (POPPY): a multicentre randomised controlled trial. The Lancet. 2014;383(9919):796–806. doi:10.1016/S0140-6736(13)61977-7.
  6. Bugge C, Adams EJ, Gopinath D, Stewart F, Dembinsky M, Sobiesuo P, Kearney R. Pessaries (mechanical devices) for managing pelvic organ prolapse in women. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2020;11:CD004010. doi:10.1002/14651858.CD004010.pub4.
  7. Taithongchai A, Johnson EE, Ismail SI, Barron-Millar E, Kernohan A, Thakar R. Oestrogen therapy for treating pelvic organ prolapse in postmenopausal women. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2023;7:CD014592. doi:10.1002/14651858.CD014592.pub2.

Glosarium

Prolaps Organ Panggul (POP)
Turunnya satu atau lebih organ panggul (uterus, dinding vagina anterior/posterior, atau puncak vagina) ke dalam atau melalui introitus vagina akibat kelemahan struktur penyangga dasar panggul.
POP-Q (Pelvic Organ Prolapse Quantification)
Sistem pengukuran kuantitatif baku internasional untuk menilai derajat prolaps organ panggul berdasarkan sembilan titik acuan anatomis terhadap bidang himen.
Bidang Himen
Titik nol acuan pada sistem POP-Q; posisi struktur prolaps diukur sebagai jarak dalam sentimeter di atas (nilai negatif) atau di bawah (nilai positif) bidang ini.
Kompartemen Anterior
Area dinding vagina bagian depan yang berbatasan dengan kandung kemih; prolaps pada area ini disebut juga sistokel.
Kompartemen Posterior
Area dinding vagina bagian belakang yang berbatasan dengan rektum; prolaps pada area ini disebut juga rektokel.
Apeks/Puncak Vagina
Bagian teratas vagina yang menopang serviks-uterus atau, pada wanita pascahisterektomi, puncak vagina (vaginal vault).
Latihan Otot Dasar Panggul (Pelvic Floor Muscle Training/PFMT)
Program latihan kontraksi otot dasar panggul yang terstruktur untuk memperkuat penyangga organ panggul, digunakan sebagai tata laksana konservatif lini pertama pada prolaps ringan.
Pesarium
Alat penyangga mekanis yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menopang organ panggul yang mengalami prolaps, sebagai alternatif non-bedah.
Watchful Waiting
Strategi observasi berkala tanpa intervensi aktif pada kondisi asimtomatik atau ringan, disertai edukasi tanda yang memerlukan evaluasi ulang.
Residu Urin Pasca-Berkemih (Post-Void Residual)
Volume urin yang tersisa di kandung kemih segera setelah berkemih, digunakan untuk menilai fungsi pengosongan kandung kemih.
Refleks Bulbokavernosus
Pemeriksaan neurologis dasar panggul yang menilai kontraksi otot perineum sebagai respons terhadap rangsangan pada klitoris, untuk menilai integritas jaras saraf sakral.
Pelvic Organ Prolapse Symptom Score (POP-SS)
Kuesioner tervalidasi untuk mengukur derajat keparahan gejala prolaps organ panggul yang dilaporkan pasien secara terstandardisasi.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Edisi 1, Agustus 2026
Diterbitkan oleh Perpustakaan Digital ABBA — Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138