Prolaps Organ Panggul Derajat I
Pelvic Organ Prolapse Grade I
1. Pengertian/Definisi
Bab ini merupakan bagian operasional dari Bab Prolaps Organ Panggul pada Buku Tematik B9 — Menopause, Uroginekologi Dasar, dan Prolaps Organ Panggul, disusun mengacu pada entri Tabel 7 Nomor 63 Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026.
Prolaps organ panggul (POP; pelvic organ prolapse) adalah turunnya satu atau lebih struktur pendukung dasar panggul — dinding vagina anterior, dinding vagina posterior, dan apeks (serviks-uterus atau puncak vagina pascahisterektomi) — ke dalam atau melalui introitus vagina, akibat kelemahan fasia endopelvik, ligamen penyangga, dan otot dasar panggul.
Prolaps organ panggul derajat I didefinisikan sebagai penurunan satu atau lebih kompartemen dasar panggul yang tetap berada di atas bidang introitus vagina; derajat ditetapkan mengikuti sistem stadium POP-Q (Pelvic Organ Prolapse Quantification), yaitu titik terdepan prolaps (Ba, C, atau Bp) berada lebih dari 1 cm di atas bidang himen (nilai POP-Q ≤ -1 cm). Kondisi ini tergolong prolaps ringan yang umumnya belum menimbulkan gangguan fungsional bermakna, namun tetap memerlukan identifikasi dini untuk mencegah progresi ke derajat yang lebih berat.
1.1 Epidemiologi
Data berskala populasi menunjukkan bahwa derajat prolaps tertentu dapat ditemukan pada hingga separuh wanita paritas yang pernah melahirkan pervaginam apabila diperiksa secara sistematis di klinik, meskipun sebagian besar tidak simtomatik. Praktik klinis di Amerika Serikat mencatat risiko seumur hidup menjalani pembedahan akibat prolaps organ panggul sebesar sekitar 13%, dengan puncak insidensi gejala pada kelompok usia 70–79 tahun, dan proyeksi peningkatan jumlah wanita dengan prolaps organ panggul sekitar 50% pada tahun 2050 seiring penuaan populasi.
Data epidemiologi tersebut berasal dari populasi Amerika Serikat dan Eropa; data prevalensi nasional Indonesia yang representatif untuk derajat I secara khusus belum tersedia secara terpusat, sehingga estimasi beban penyakit pada populasi Indonesia sebaiknya mengacu pada laporan registri resmi terbaru dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) atau Kementerian Kesehatan apabila telah dipublikasikan.
2. Anamnesis
2.1 Faktor Risiko
- Paritas dan riwayat persalinan pervaginam, terutama persalinan dengan bayi makrosomia atau persalinan operatif pervaginam (ekstraksi vakum/forsep).
- Usia lanjut dan status menopause (defisiensi estrogen memengaruhi kualitas jaringan penyangga).
- Indeks massa tubuh berlebih/obesitas.
- Riwayat batuk kronik dan konstipasi kronik (peningkatan tekanan intra-abdomen kronis).
- Pekerjaan atau aktivitas dengan beban angkat berat berulang.
- Riwayat operasi panggul sebelumnya, termasuk histerektomi.
- Riwayat keluarga dengan gangguan jaringan ikat atau prolaps organ panggul, yang mengarah pada kemungkinan predisposisi genetik terhadap kelemahan jaringan kolagen dasar panggul.
2.2 Keluhan Klinis
Sebagian besar kasus derajat I bersifat asimtomatik dan ditemukan pada pemeriksaan ginekologi rutin. Bila terdapat keluhan, umumnya ringan berupa rasa mengganjal atau berat di area vagina yang memberat pada sore hari atau setelah berdiri/beraktivitas lama, dan membaik dengan berbaring. Gejala berkemih (frequency, urgency) atau gejala anorektal jarang ditemukan pada derajat ini; bila ada, perlu ditelusuri kemungkinan penyebab lain yang menyertai.
Anamnesis uroginekologi terstruktur turut mencakup skrining gejala terkait — inkontinensia urin, disfungsi berkemih, dan disfungsi seksual — sesuai kompetensi anamnesis kasus uroginekologi pada Tabel 20 Kepkonsil, untuk memastikan tidak ada kondisi penyerta yang memerlukan tata laksana tersendiri. Penggunaan instrumen gejala yang tervalidasi, seperti Pelvic Organ Prolapse Symptom Score (POP-SS), dapat membantu mendokumentasikan derajat keluhan secara terstandardisasi dan memantau perubahan pada kunjungan berikutnya.
3. Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi genitalia eksterna dan vagina pada posisi litotomi, disertai manuver Valsava maksimal untuk menilai titik terendah prolaps.
- Pemeriksaan dengan spekulum Sims (separuh) per kompartemen — anterior, posterior, dan apeks — untuk mengidentifikasi kompartemen yang mengalami penurunan.
- Penilaian kuantitatif dengan sistem POP-Q: pengukuran sembilan titik acuan (Aa, Ba, C, D, Ap, Bp, gh, pb, tvl) terhadap bidang himen sebagai titik nol.
- Pemeriksaan neurologis dasar perineum (refleks bulbokavernosus, sensasi perineum) bila dicurigai komponen neurogenik.
- Pemeriksaan rektal untuk menilai integritas septum rektovaginal dan tonus sfingter ani bila terdapat keluhan anorektal penyerta.
Derajat I ditegakkan bila titik terdepan prolaps pada kompartemen yang terlibat (Ba, C, dan/atau Bp) bernilai ≤ -1 cm terhadap bidang himen pada pengukuran POP-Q.
4. Kriteria Diagnosis
Diagnosis prolaps organ panggul derajat I ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan sistem POP-Q, tanpa memerlukan pemeriksaan penunjang pencitraan secara rutin. Kriteria diagnosis: titik terdepan prolaps pada kompartemen anterior (Ba), apeks (C), dan/atau posterior (Bp) berada di atas bidang himen, dengan nilai ≤ -1 cm pada pengukuran POP-Q.
| Diagnosis | Kode ICD-10 | Kode ICD-11 |
|---|---|---|
| Prolaps organ panggul derajat I (Pelvic organ prolapse grade I) | N81.2 | GC40 |
Kode ICD-10 N81.2 (Incomplete uterovaginal prolapse) dan ICD-11 GC40 (Pelvic organ prolapse) tercantum sesuai Lampiran Tabel 7 Nomor 63 Kepkonsil. Untuk keperluan pengodean klinis yang lebih rinci per kompartemen dan stadium, tenaga kesehatan dapat menggunakan kode ekstensi ICD-11 turunan (misalnya kelompok GC40.3x untuk prolaps uterovaginal inkomplet stadium I) sesuai ketersediaan pada sistem informasi rumah sakit.
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja: Prolaps organ panggul derajat I, dengan penyebutan kompartemen yang terlibat (anterior/apeks/posterior) sesuai temuan POP-Q.
5.1 Diagnosis Banding
- Kista vagina (kista Gartner, kista duktus Skene).
- Polip serviks atau polip endometrium bertangkai yang menonjol ke introitus.
- Mioma uteri submukosa yang mengalami prolaps melalui kanalis servikalis.
- Inversio uteri.
- Elongasio serviks tanpa disertai prolaps dinding vagina sejati.
- Massa atau tumor vagina lain.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pada derajat I, pemeriksaan penunjang umumnya tidak diperlukan untuk menegakkan diagnosis karena POP-Q bersifat pemeriksaan klinis yang telah divalidasi. Pemeriksaan tambahan dipertimbangkan secara selektif sebagai berikut.
- Urinalisis dan pengukuran residu urin pasca-berkemih (post-void residual) bila terdapat gejala berkemih menyertai.
- Uroflowmetri bila dicurigai disfungsi berkemih obstruktif.
- Ultrasonografi transperineal/introitus dapat digunakan sebagai penunjang morfologi dasar panggul pada kasus kompleks atau evaluasi lanjutan, bukan sebagai alat diagnosis primer standar untuk derajat I.
7. Tata Laksana
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
- Edukasi modifikasi gaya hidup: penurunan berat badan pada pasien dengan obesitas, tata laksana konstipasi kronik dan batuk kronik, serta menghindari aktivitas mengangkat beban berat berulang.
- Latihan otot dasar panggul (pelvic floor muscle training/PFMT) terstruktur sebagai tata laksana lini pertama pada derajat I. Program individual yang disupervisi tenaga kesehatan terlatih selama sekitar 16 minggu, dengan sesi tatap muka yang makin jarang seiring pasien mampu berlatih mandiri di rumah, terbukti memperbaiki gejala dan derajat prolaps pada uji klinis multisenter berskala besar.
- Observasi berkala (watchful waiting) pada kasus asimtomatik, disertai edukasi mengenai tanda progresi yang memerlukan kontrol ulang.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
Tidak terdapat terapi farmakologis yang dapat memperbaiki derajat anatomis prolaps secara langsung. Estrogen vagina topikal dapat dipertimbangkan pada pasien pascamenopause dengan tanda atrofi vagina, untuk memperbaiki kualitas jaringan lokal dan mengurangi gejala iritatif, sebagai terapi ajuvan dan bukan tata laksana kuratif primer terhadap prolaps; pemilihan sediaan dan durasi terapi mengikuti pertimbangan individual serta kontraindikasi terapi hormonal pada masing-masing pasien.
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural
Tata laksana bedah umumnya TIDAK diindikasikan pada prolaps derajat I karena tergolong ringan dan sebagian besar asimtomatik; risiko intervensi bedah pada derajat ini melampaui manfaat yang diharapkan.
- Pesarium (ring atau donat) dapat dipertimbangkan sebagai alternatif non-bedah bila pasien simtomatik atau terdapat kekhawatiran progresi, disertai edukasi pemasangan/pelepasan mandiri atau jadwal kontrol berkala serta perawatan untuk mencegah erosi/infeksi.
- Tindakan bedah rekonstruktif dasar panggul hanya dipertimbangkan pada kasus derajat lanjut (derajat II ke atas) atau bila derajat I berkembang menjadi simtomatik berat setelah tata laksana konservatif optimal terbukti gagal — bukan merupakan tata laksana lini pertama untuk derajat I.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi
Prolaps organ panggul derajat I pada umumnya berada dalam kewenangan dokter spesialis obstetri dan ginekologi umum. Rujukan ke subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi diindikasikan bila memenuhi salah satu kriteria berikut.
- Terjadi progresi derajat prolaps pada pemantauan berkala.
- Terdapat gejala berkemih atau anorektal kompleks yang menyertai.
- Tata laksana konservatif optimal (latihan otot dasar panggul, modifikasi gaya hidup) telah dijalankan namun gejala menetap atau memberat.
- Kesulitan teknis pemasangan pesarium akibat anatomi introitus sempit atau riwayat operasi panggul multipel.
- Permintaan evaluasi lanjutan untuk kemungkinan tata laksana bedah di masa mendatang.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
- Menjelaskan bahwa derajat I merupakan temuan ringan yang umumnya tidak progresif dalam jangka pendek dan tidak selalu memerlukan tindakan bedah.
- Mengajarkan teknik latihan otot dasar panggul mandiri beserta target frekuensi dan durasi latihan yang konsisten, idealnya dengan penguatan berkala oleh tenaga kesehatan terlatih.
- Menjelaskan tanda progresi yang memerlukan kontrol ulang lebih awal: rasa mengganjal yang menetap atau memberat, kesulitan berkemih, atau timbulnya gejala anorektal baru.
- Membahas dampak potensial terhadap kualitas hidup dan fungsi seksual apabila gejala berkembang, agar pasien merasa nyaman menyampaikan keluhan tersebut pada kunjungan berikutnya.
- Melibatkan keluarga dalam mendukung modifikasi gaya hidup, termasuk kontrol berat badan dan pengaturan aktivitas fisik.
9. Prognosis
Prognosis prolaps organ panggul derajat I pada umumnya baik. Sebagian kasus bersifat stabil atau bahkan membaik dengan latihan otot dasar panggul yang dijalankan secara konsisten, terutama pada wanita usia reproduksi/premenopause. Progresi ke derajat yang lebih berat dapat terjadi seiring waktu, terutama pada pasien dengan faktor risiko yang menetap seperti obesitas, konstipasi kronik, atau menopause tanpa terapi topikal pada kasus atrofi. Angka laju progresi yang spesifik untuk populasi Indonesia belum tersedia secara nasional; estimasi laju progresi dan perbaikan sebaiknya merujuk pada laporan registri POGI atau Kementerian Kesehatan terbaru bila telah dipublikasikan.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
| Aspek Tata Laksana | Tingkat Evidens | Rekomendasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| Latihan otot dasar panggul sebagai lini pertama derajat I/ringan | I (uji klinis multisenter teracak, tinjauan sistematik) | A | Cochrane CD003882.pub4; Hagen dkk. (POPPY), Lancet 2014; ACOG PB214 |
| Observasi/watchful waiting pada kasus asimtomatik | III (konsensus ahli, praktik klinis terstandar) | B | ACOG PB214 (2019, reaffirmed 2024) |
| Pesarium sebagai alternatif non-bedah | I-II (uji klinis teracak, kualitas bukti rendah-sedang) | B | Cochrane CD004010.pub4 (Bugge dkk., 2020) |
| Estrogen vagina topikal ajuvan pada atrofi pascamenopause | II (uji klinis teracak, bukti terbatas) | B | Cochrane CD014592.pub2 (Taithongchai dkk., 2023) |
| Tata laksana bedah tidak diindikasikan pada derajat I | III (konsensus ahli, praktik klinis) | C | Kepkonsil Tabel 7 No. 63; ACOG PB214 |
11. Indikator Medis
- Proporsi pasien terdiagnosis dengan dokumentasi pengukuran POP-Q lengkap (target ≥ 90%).
- Proporsi pasien simtomatik atau berisiko progresi yang menerima edukasi dan instruksi latihan otot dasar panggul terstruktur (target ≥ 90%).
- Proporsi pasien dengan jadwal kontrol ulang terdokumentasi dalam 6–12 bulan untuk evaluasi progresi (target ≥ 80%).
- Proporsi pasien yang dirujuk ke subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi sesuai kriteria rujukan yang terdokumentasi (target 100% dari kasus yang memenuhi kriteria).
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan derajat I sebagai prolaps ringan yang dikelola pada tingkat kompetensi spesialis umum dengan tata laksana konservatif sebagai lini pertama, tanpa indikasi bedah rutin.
- ACOG (American College of Obstetricians and Gynecologists) Practice Bulletin Nomor 214 tentang Pelvic Organ Prolapse (2019, ditegaskan kembali/reaffirmed 2024) merekomendasikan penggunaan sistem POP-Q sebagai standar pengukuran objektif, serta menempatkan latihan otot dasar panggul dan pesarium sebagai tata laksana lini pertama pada prolapse ringan hingga sedang sebelum mempertimbangkan pembedahan.
- FIGO (International Federation of Gynecology and Obstetrics) melalui pembaruan Laporan Kelompok Kerja mengenai Tata Laksana Prolaps Kompartemen Posterior menegaskan pentingnya pendekatan konservatif bertahap dan evaluasi kompartemen spesifik sebelum menentukan tata laksana lanjutan; rekomendasi ini secara khusus relevan untuk kasus dengan keterlibatan kompartemen posterior.
- Cochrane Database of Systematic Reviews memuat tiga tinjauan sistematik yang relevan: latihan otot dasar panggul untuk pencegahan dan tata laksana konservatif prolaps organ panggul menunjukkan manfaat pada gejala dan derajat prolaps ringan; pesarium sebagai tata laksana mekanis menunjukkan bukti kualitas rendah hingga sedang namun tetap menjadi pilihan lini pertama yang banyak digunakan secara klinis; dan terapi estrogen vagina pada wanita pascamenopause menunjukkan manfaat terbatas namun konsisten sebagai terapi ajuvan.
Standar internasional pada umumnya sejalan dengan standar nasional untuk derajat I, yaitu tata laksana konservatif sebagai lini pertama; perbedaan yang ditemukan bersifat pada penekanan protokol supervisi latihan otot dasar panggul yang lebih terstruktur (mis. program individual 16 minggu dengan tenaga kesehatan terlatih) dan penggunaan instrumen gejala tervalidasi (POP-SS, Pelvic Floor Impact Questionnaire) yang lebih rutin digunakan pada praktik di beberapa pedoman internasional dibandingkan praktik umum di Indonesia saat ini; praktik di Indonesia mengikuti standar nasional sebagaimana Kepkonsil Tabel 7 No. 63, dengan pengayaan protokol supervisi latihan sebagaimana diuraikan pada Bab 7.1 dapat menjadi pertimbangan pengembangan layanan ke depan.
13. Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta, 7 Mei 2026.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Pelvic Organ Prolapse. ACOG Practice Bulletin No. 214. Obstetrics & Gynecology. 2019;134(5):e126–e142 (reaffirmed 2024). doi:10.1097/AOG.0000000000003519.
- Doumouchtsis SK, Raheem AA, Milhem Haddad J, Betschart C, Contreras Ortiz O, Nygaard CC, Medina CA, La Torre F, Iancu G, Cervigni M, Zanni G, untuk FIGO Working Group. An update of a former FIGO Working Group Report on Management of Posterior Compartment Prolapse. International Journal of Gynecology & Obstetrics. 2020;148(2):135–144. doi:10.1002/ijgo.13006.
- Hagen S, Stark D. Conservative prevention and management of pelvic organ prolapse in women. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2011;(12):CD003882. doi:10.1002/14651858.CD003882.pub4.
- Hagen S, Stark D, Glazener C, Dickson S, Barry S, Elders A, Frawley H, Galea MP, Logan J, McDonald A, McPherson G, Moore KH, Norrie J, Walker A, Wilson D, untuk POPPY Trial Collaborators. Individualised pelvic floor muscle training in women with pelvic organ prolapse (POPPY): a multicentre randomised controlled trial. The Lancet. 2014;383(9919):796–806. doi:10.1016/S0140-6736(13)61977-7.
- Bugge C, Adams EJ, Gopinath D, Stewart F, Dembinsky M, Sobiesuo P, Kearney R. Pessaries (mechanical devices) for managing pelvic organ prolapse in women. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2020;11:CD004010. doi:10.1002/14651858.CD004010.pub4.
- Taithongchai A, Johnson EE, Ismail SI, Barron-Millar E, Kernohan A, Thakar R. Oestrogen therapy for treating pelvic organ prolapse in postmenopausal women. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2023;7:CD014592. doi:10.1002/14651858.CD014592.pub2.
Glosarium
- Prolaps Organ Panggul (POP)
- Turunnya satu atau lebih organ panggul (uterus, dinding vagina anterior/posterior, atau puncak vagina) ke dalam atau melalui introitus vagina akibat kelemahan struktur penyangga dasar panggul.
- POP-Q (Pelvic Organ Prolapse Quantification)
- Sistem pengukuran kuantitatif baku internasional untuk menilai derajat prolaps organ panggul berdasarkan sembilan titik acuan anatomis terhadap bidang himen.
- Bidang Himen
- Titik nol acuan pada sistem POP-Q; posisi struktur prolaps diukur sebagai jarak dalam sentimeter di atas (nilai negatif) atau di bawah (nilai positif) bidang ini.
- Kompartemen Anterior
- Area dinding vagina bagian depan yang berbatasan dengan kandung kemih; prolaps pada area ini disebut juga sistokel.
- Kompartemen Posterior
- Area dinding vagina bagian belakang yang berbatasan dengan rektum; prolaps pada area ini disebut juga rektokel.
- Apeks/Puncak Vagina
- Bagian teratas vagina yang menopang serviks-uterus atau, pada wanita pascahisterektomi, puncak vagina (vaginal vault).
- Latihan Otot Dasar Panggul (Pelvic Floor Muscle Training/PFMT)
- Program latihan kontraksi otot dasar panggul yang terstruktur untuk memperkuat penyangga organ panggul, digunakan sebagai tata laksana konservatif lini pertama pada prolaps ringan.
- Pesarium
- Alat penyangga mekanis yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menopang organ panggul yang mengalami prolaps, sebagai alternatif non-bedah.
- Watchful Waiting
- Strategi observasi berkala tanpa intervensi aktif pada kondisi asimtomatik atau ringan, disertai edukasi tanda yang memerlukan evaluasi ulang.
- Residu Urin Pasca-Berkemih (Post-Void Residual)
- Volume urin yang tersisa di kandung kemih segera setelah berkemih, digunakan untuk menilai fungsi pengosongan kandung kemih.
- Refleks Bulbokavernosus
- Pemeriksaan neurologis dasar panggul yang menilai kontraksi otot perineum sebagai respons terhadap rangsangan pada klitoris, untuk menilai integritas jaras saraf sakral.
- Pelvic Organ Prolapse Symptom Score (POP-SS)
- Kuesioner tervalidasi untuk mengukur derajat keparahan gejala prolaps organ panggul yang dilaporkan pasien secara terstandardisasi.