PPK-064 Himen Imperforata
Uroginekologi Rekonstruksi
Panduan Praktik Klinis · PPK No. 64 dari 73

Himen Imperforata

Imperforate Hymen

ICD-10
Q52.3
ICD-11
LB42.4
Nomenklatur
Himen imperforata (Imperforate hymen)
Divisi Pengampu
Uroginekologi Rekonstruksi
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Perpustakaan Digital ABBA · Jl. Kerinci Raya No. 9, Malang 65138
Edisi 1, Agustus 2026

Kartu Ringkasan

Himen Imperforata (Imperforate Hymen) — ICD-10 Q52.3 / ICD-11 LB42.4. Populasi sasaran: kelainan kongenital himen, umumnya terdeteksi pada anak/remaja putri pascamenarke. Unit analisis: 1 pasien, 1 episode layanan (anak/remaja putri dengan himen imperforata). Rujukan induk: Buku Tematik B9 — Menopause, Uroginekologi Dasar, dan Prolaps Organ Panggul.

Dasar Hukum
Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi, Tabel 7, entri No. 64.
1. Pengertian / Definisi2. Anamnesis3. Pemeriksaan Fisik4. Kriteria Diagnosis5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding6. Pemeriksaan Penunjang7. Tata Laksana8. Edukasi Pasien dan Keluarga9. Prognosis10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi11. Indikator Medis12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional13. Kepustakaan14. Glosarium

1. Pengertian / Definisi

Dasar Regulasi
Kepkonsil Tabel 7 No. 64 (nomenklatur, kode ICD-10/ICD-11, populasi sasaran); Kepkonsil Daftar Istilah — entri “Himen imperforata”.

PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab “Kelainan Kongenital dan Obstruksi Traktus Genitalia Bawah”, Buku Tematik B9 — Menopause, Uroginekologi Dasar, dan Prolaps Organ Panggul.

Himen imperforata (imperforate hymen) adalah kelainan kongenital pada himen berupa membran yang tidak mengalami perforasi sehingga menutup total introitus vagina. Secara embriologis, kondisi ini timbul akibat kegagalan kanalisasi lempeng vagina pada pertemuan sinus urogenital dengan kanalis uterovaginalis, disertai kegagalan degenerasi sel epitel himen pada masa perkembangan janin. Himen imperforata merupakan bentuk obstruksi vagina kongenital yang paling sering dijumpai.

Kondisi ini paling sering terdeteksi saat menarke, ketika darah haid tidak dapat mengalir keluar dan terkumpul di dalam vagina (hematokolpos); bila berlanjut tanpa tata laksana, akumulasi dapat meluas menjadi hematometra dan hematosalpinks. Pada sebagian kecil kasus, himen imperforata juga dapat dikenali lebih awal, yaitu pada masa neonatal (akibat mukokolpos akibat stimulasi estrogen maternal) atau secara insidental pada masa prapubertas sebelum ada akumulasi cairan.

Kepustakaan internasional memperkirakan angka kejadian berkisar 1 dari 1.000 hingga 1 dari 2.000 kelahiran perempuan, dengan variasi antarstudi karena keterbatasan data populasi berbasis registri; angka ini berasal dari tinjauan sistematis dan laporan seri kasus internasional, bukan dari registri nasional Indonesia (lihat Bagian 12).

Kepkonsil membedakan dua bentuk kompetensi terkait diagnosis ini: (1) himen imperforata sebagai entri diagnosis tunggal pada Tabel 7 No. 64 dengan populasi sasaran “kelainan kongenital himen”, dan (2) pada daftar keterampilan prosedural, tindakan pembedahan himen dicantumkan sebagai kompetensi wajib bagi peserta didik dengan variasi tingkat kompleksitas — mulai dari kasus sederhana hingga “himen imperforata dengan gangguan berkemih/berulang” pada populasi anak/remaja putri, yang menuntut penguasaan teknik pembedahan serta penanganan komplikasi pascatindakan secara lebih mendalam.

Himen imperforata perlu dibedakan dari varian himen lain yang secara anatomis berbeda meski sama-sama tergolong kelainan kongenital himen, yaitu himen mikroperforata (lubang sangat kecil), himen septata (terdapat septum membagi orifisium), dan himen kribriformis (banyak lubang kecil menyerupai saringan) — ketiganya masih memungkinkan aliran darah haid meski tidak lancar, sehingga presentasi klinisnya berbeda dari obstruksi total pada himen imperforata (lihat Bagian 5).

Sebagian besar kasus bersifat terisolasi (nonsindromik); pada sebagian kecil kasus, himen imperforata dapat menyertai anomali duktus Müller lain, sehingga kewaspadaan terhadap anomali penyerta perlu dipertahankan sepanjang alur diagnosis.

2. Anamnesis

Dasar Regulasi
Kepkonsil Tabel 7 No. 64 (Keterangan/Populasi: “kelainan kongenital himen”) dan Tabel Kompetensi Prosedural No. 34 (populasi: “anak/remaja putri dengan himen imperforata”).

Presentasi klinis berbeda menurut usia saat terdeteksi.

Tinjauan sistematis atas 253 kasus terpublikasi oleh Lee dkk. (2019) mendapati distribusi keluhan saat presentasi sebagai berikut: nyeri perut (54,2%), retensio urin (20,3%), gangguan pola haid (14,0%), disuria (9,7%), peningkatan frekuensi berkemih (5,1%), serta presentasi berat berupa gagal ginjal akut akibat obstruksi (2,1%) dan infeksi saluran kemih (0,4%). Proporsi ini berasal dari kumpulan laporan kasus internasional dan bukan angka epidemiologi populasi umum, namun bermanfaat sebagai peta kewaspadaan klinis.

Keluhan retensio urin berat, nyeri pinggang disertai penurunan produksi urin, atau tanda gagal ginjal akut merupakan tanda bahaya (red flag) yang menuntut evaluasi dan tata laksana segera, mengingat obstruksi berkepanjangan dapat menekan ureter distal melalui efek desak ruang hematokolpos masif.

3. Pemeriksaan Fisik

Dasar Regulasi
Kepkonsil Area Kompetensi Klinis — keterampilan pemeriksaan genitalia anak dan remaja; ACOG Committee Opinion No. 780 (lihat Bagian 12).

Pemeriksaan status generalis meliputi penilaian tahap kematangan seksual (Tanner staging) payudara dan rambut pubis — pada umumnya normal sesuai usia, menegaskan bahwa estrogenisasi pubertas telah terjadi meski menstruasi tidak tampak keluar.

Bila pemeriksaan abdomen dan perineum sudah menunjukkan gambaran khas (bulging hymen kebiruan) dan dikonfirmasi hematokolpos pada ultrasonografi, pencitraan tambahan umumnya tidak diperlukan lagi untuk menegakkan diagnosis.

4. Kriteria Diagnosis

Dasar Regulasi
Kepkonsil Tabel 7 No. 64 — kode ICD-10: Q52.3; kode ICD-11: LB42.4 (hasil verifikasi ulang terhadap dokumen sumber asli).
Kode Diagnosis (terverifikasi)
ICD-10 Q52.3 — Himen imperforata (Imperforate hymen) · ICD-11 LB42.4 — Himen imperforata (Imperforate hymen). Kedua sistem klasifikasi memberi nomenklatur identik untuk entitas diagnosis ini.

Diagnosis himen imperforata ditegakkan berdasarkan kombinasi tiga elemen berikut:

  1. Klinis — gambaran khas membran himen yang menonjol, tegang, dan berwarna kebiruan/gelap pada inspeksi genitalia eksterna, tanpa orifisium vagina yang tampak.
  2. Kontekstual — amenore primer siklik pada remaja pascamenarke dengan tahap perkembangan pubertas (Tanner) yang normal, disertai nyeri panggul berulang setiap bulan.
  3. Radiologis (konfirmasi) — ultrasonografi menunjukkan distensi vagina (dan uterus bila sudah meluas) oleh cairan heterogen/berdensitas darah (hematokolpos ± hematometra ± hematosalpinks); lihat Bagian 6.

Bila gambaran klinis sudah khas dan USG mengonfirmasi hematokolpos tanpa kecurigaan anomali kompleks lain, pencitraan lanjutan umumnya tidak diperlukan lagi untuk menegakkan diagnosis.

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Dasar Regulasi
Kepkonsil Tabel 7 No. 64; pengayaan alur banding mengacu ACOG Committee Opinion No. 779 (lihat Bagian 12).

Diagnosis kerja: Himen imperforata (Q52.3 / LB42.4).

Diagnosis banding utama yang wajib disingkirkan melalui pemeriksaan fisik dan pencitraan:

Diagnosis BandingPembeda Kunci
Varian himen lain (mikroperforata, septata, kribriformis)Masih terdapat celah/lubang meski sempit sehingga darah haid tetap dapat mengalir sebagian; amenore total dan hematokolpos masif jarang terjadi dibanding himen imperforata sejati.
Adhesi labia (labial adhesion)Garis fusi labia minora di garis tengah tanpa massa/bulging kebiruan; umumnya pada anak prapubertas, bukan pascamenarke.
Septum vagina transversalTidak selalu tampak bulging kebiruan pada introitus; letak obstruksi dapat lebih proksimal; memerlukan MRI untuk memastikan lokasi dan ketebalan septum.
Atresia vagina distalSegmen vagina distal tidak terbentuk (bukan sekadar membran tertutup); pada masa prapubertas sulit dibedakan dari himen imperforata tanpa hematokolpos — tata laksana bedah karenanya ditunda sampai pubertas bila belum simtomatik.
Anomali sinus urogenitalMuara uretra dan vagina menyatu pada satu kanal; sering disertai kelainan genitalia eksterna ambigu — memerlukan evaluasi endokrin/genetik tambahan.
Sindrom OHVIRA (uterus didelfis dengan hemivagina terobstruksi)Ditemukan dua serviks/uterus didelfis pada USG, hemivagina yang paten tetap dapat mengalirkan haid sehingga siklus menstruasi biasanya tetap muncul (tidak amenore total); sering disertai anomali renal ipsilateral — wajib USG ginjal.
Agenesis Müller / Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-HauserTidak ada bulging himen; USG/MRI menunjukkan uterus rudimenter atau tidak terbentuk, bukan sekadar obstruksi outflow.

6. Pemeriksaan Penunjang

Dasar Regulasi
Pengayaan berbasis ACOG Committee Opinion No. 779 (lihat Bagian 12); tidak terdapat rincian modalitas pencitraan pada Kepkonsil Tabel 7, sehingga bagian ini disusun mengikuti standar internasional yang diadopsi sebagai praktik nasional.

7. Tata Laksana

Dasar Regulasi
Kepkonsil Area Kompetensi Prosedural No. 47 (“tindakan pembedahan himen”) dan entri Kompetensi Klinis terkait “tindakan pembedahan himen imperforata dengan gangguan berkemih”/“himen imperforata (kompleks)”; pengayaan alur waktu tindakan mengacu ACOG Committee Opinion No. 780.

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

Dasar Regulasi
Kepkonsil Area Kompetensi Interpersonal dan Komunikasi.

9. Prognosis

Dasar Regulasi
Pengayaan berbasis ACOG Committee Opinion No. 779/No. 780 dan tinjauan sistematis Lee dkk. (2019) (lihat Bagian 12).

Prognosis umumnya baik bila diagnosis ditegakkan dan tata laksana bedah dilakukan tepat waktu; fungsi menstruasi dan potensi kesuburan pada umumnya kembali normal pascatindakan. Tinjauan sistematis Lee dkk. (2019) atas 253 kasus terpublikasi melaporkan perbaikan klinis pada 59,7% pasien pascatindakan, dengan komplikasi berupa adhesi vagina hanya pada 6,6% kasus.

Keterlambatan diagnosis atau tata laksana dapat meningkatkan risiko komplikasi: endometriosis akibat menstruasi retrograde berkepanjangan, infeksi asendens (piokolpos/piometra), serta kerusakan tuba akibat hematosalpinks kronik yang berpotensi menurunkan fertilitas di kemudian hari. Pada kasus yang sangat terlambat terdiagnosis, hematokolpos masif dapat menekan traktus urinarius hingga menimbulkan hidronefrosis dan gagal ginjal akut obstruktif, sebagaimana dilaporkan pada sejumlah kasus di literatur. Teknik bedah yang tidak adekuat (himenotomi tanpa eksisi marginal pada jaringan berisiko tinggi) meningkatkan risiko reformasi/stenosis himen yang memerlukan tindakan ulang.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Dasar Regulasi
Skala evidens dan rekomendasi mengikuti format standar PNPK (adaptasi skala U.S. Preventive Services Task Force: Level I/II-1/II-2/II-3/III; Grade A–C), dipadankan dengan sumber yang dikutip pada Bagian 12.
Aspek Tata LaksanaTingkat EvidensGrade RekomendasiSumber
USG panggul sebagai pencitraan lini pertama untuk kecurigaan hematokolposIIICACOG Committee Opinion No. 779 (2019)
MRI panggul bila diagnosis meragukan/kecurigaan anomali kompleksIIICACOG Committee Opinion No. 779 (2019)
Tindakan pembedahan himen (himenotomi/himenektomi) sebagai tata laksana definitifIIICACOG Committee Opinion No. 780 (2019); Lee dkk., J Clin Med 2019; Kepkonsil Tabel Kompetensi Prosedural No. 47
Penundaan tindakan bedah pada kasus asimtomatik prapubertas hingga estrogenisasi pubertasIIICACOG Committee Opinion No. 780 (2019)

Seluruh rekomendasi di atas bersumber dari pendapat komite ahli (committee opinion) serta kumpulan laporan/seri kasus observasional, bukan uji klinis acak terkontrol berskala besar. Kelangkaan kondisi ini secara inheren membatasi ketersediaan bukti beringkat tinggi (Level I/II), sehingga tingkat evidens III dengan grade rekomendasi C — konsisten dengan praktik kedokteran berbasis bukti internasional untuk kondisi kongenital langka — mencerminkan kekuatan bukti yang tersedia saat ini secara jujur, bukan kelemahan penyusunan PPK ini.

11. Indikator Medis

Dasar Regulasi
Kepkonsil Tabel Kompetensi Prosedural No. 47 (kriteria capaian: “tindakan sesuai standar; komplikasi minimal”).

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Dasar Regulasi
Aturan Umum No. 2 — wajib memuat minimal 2 sumber internasional non-superior.

Kepkonsil Tabel 7 No. 64 menetapkan nomenklatur diagnosis, kode ICD-10/ICD-11, dan populasi sasaran (“kelainan kongenital himen”) sebagai kompetensi wajib spesialis; namun tidak merinci algoritma diagnostik maupun waktu optimal tindakan bedah. Untuk kedua aspek tersebut, PPK ini mengadopsi standar internasional berikut sebagai pengayaan yang selaras, bukan bertentangan, dengan Kepkonsil.

Sebagai pelengkap non-wajib, tinjauan sistematis multinasional oleh Lee dkk. (J Clin Med, 2019) atas 253 kasus terpublikasi memberikan gambaran epidemiologi dan luaran klinis yang lebih terperinci sebagaimana dikutip pada Bagian 2, 9, dan 11, meski bersumber dari kumpulan laporan kasus dan bukan registri populasi.

Standar nasional (Kepkonsil) menetapkan tindakan pembedahan himen sebagai kompetensi prosedural wajib tanpa merinci alur waktu tindakan; standar internasional (ACOG No. 780) merekomendasikan penundaan tindakan bedah pada kasus prapubertas asimtomatik hingga pubertas tercapai, dengan pengecualian pada kasus simtomatik yang memerlukan tindakan segera. Praktik di Indonesia pada PPK ini mengikuti pendekatan waktu tindakan tersebut sebagai pengayaan yang konsisten dengan prinsip kehati-hatian dan tidak bertentangan dengan ketentuan Kepkonsil.

13. Kepustakaan

  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Tabel 7 No. 64; Tabel Kompetensi Prosedural No. 34, No. 47; Daftar Istilah entri “Himen imperforata”.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists' Committee on Adolescent Health Care. Diagnosis and Management of Hymenal Variants. ACOG Committee Opinion No. 780. Obstet Gynecol. 2019;133(6):e372–e376. doi: 10.1097/AOG.0000000000003283. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2019/06/diagnosis-and-management-of-hymenal-variants
  3. American College of Obstetricians and Gynecologists' Committee on Adolescent Health Care. Management of Acute Obstructive Uterovaginal Anomalies. ACOG Committee Opinion No. 779. Obstet Gynecol. 2019;133(6):e363–e371. doi: 10.1097/AOG.0000000000003281. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2019/06/management-of-acute-obstructive-uterovaginal-anomalies
  4. Lee KH, Hong JS, Jung HJ, Jeong HK, Moon SJ, Park WH, Jeong YM, Song SW, Suk Y, Son MJ, Lim JJ, Shin JI. Imperforate Hymen: A Comprehensive Systematic Review. J Clin Med. 2019;8(1):56. doi: 10.3390/jcm8010056. https://doi.org/10.3390/jcm8010056
  5. Gueye M, Seck SM, Ndiaye-Guèye MD, Thiam O, Gueye L, Diouf M. Imperforate hymen complicated by obstructive acute renal failure. Niger J Paediatr. 2024;40(1):79–81. https://doaj.org/article/0e3de02f04a24d95b96c71833e5dc08e
  6. Buku Tematik B9 — Menopause, Uroginekologi Dasar, dan Prolaps Organ Panggul (rujukan induk PPK ini).

14. Glosarium

IstilahPenjelasan
Himen (hymen)Lipatan membran mukosa tipis yang mengelilingi atau menutup sebagian muara vagina (introitus).
Himen imperforata (imperforate hymen)Himen yang tidak berlubang sama sekali sehingga menutup total introitus vagina; ICD-10 Q52.3, ICD-11 LB42.4.
Introitus vaginaMuara luar saluran vagina.
HematokolposPenumpukan darah haid di dalam rongga vagina akibat saluran keluar yang tersumbat.
HematometraPenumpukan darah haid di dalam rongga rahim, umumnya lanjutan dari hematokolpos yang tidak tertangani.
HematosalpinksPenumpukan darah di dalam tuba falopi, dapat terjadi akibat aliran haid retrograde pada obstruksi berkepanjangan.
MenarkePeriode menstruasi pertama pada seorang perempuan.
Amenore primerBelum pernah terjadi menstruasi hingga usia 15 tahun meski tanda pubertas lain sudah muncul, atau hingga 3 tahun setelah telarke.
Estrogenisasi pubertasPerubahan jaringan genitalia (termasuk penebalan dan pelunakan himen) akibat paparan hormon estrogen endogen saat pubertas.
HimenotomiTindakan insisi (biasanya berbentuk silang/krusiatum) pada membran himen untuk membuka saluran keluar tanpa mengangkat jaringan.
HimenektomiTindakan eksisi sebagian jaringan tepi himen secara sirkumferensial (marginal), umumnya disertai penjahitan tepi mukosa (marsupialisasi).
MarsupialisasiTeknik menjahit tepi luka insisi/eksisi pada mukosa di sekitarnya agar tepi luka tetap terbuka dan tidak menutup kembali saat penyembuhan.
Anomali duktus MüllerKelainan perkembangan struktur yang berasal dari duktus paramesonefros (Müller), meliputi uterus, tuba falopi, serviks, dan dua pertiga atas vagina.
Sindrom OHVIRAObstructed Hemivagina and Ipsilateral Renal Anomaly — kombinasi uterus didelfis, hemivagina yang terobstruksi pada satu sisi, dan tidak terbentuknya ginjal pada sisi yang sama.
PiokolposPenumpukan nanah di dalam rongga vagina akibat infeksi sekunder pada cairan yang tertahan.
DyscheziaNyeri atau kesulitan saat buang air besar.
Tanner stagingSistem penilaian tahap kematangan seksual (payudara dan rambut pubis) yang lazim dipakai dalam evaluasi pubertas.

Kontribusi Divisi Pengampu

Divisi: Uroginekologi Rekonstruksi

A. Deskripsi

Perspektif Uroginekologi Rekonstruksi relevan pada topik ini karena hematokolpos akibat himen imperforata sering bermanifestasi sebagai gejala traktus urinarius bawah (retensio urin, gangguan berkemih) akibat efek desak ruang, dan karena tindakan pembedahan himen yang tidak adekuat dapat meninggalkan sekuele struktural (stenosis, reformasi) yang memerlukan rekonstruksi lanjutan.

B. Prinsip Bedah Rekonstruktif pada Tindakan Himen Kompleks

Pada kasus dengan gangguan berkemih berulang atau riwayat tindakan sebelumnya yang gagal, pendekatan uroginekologi rekonstruktif menekankan tiga prinsip: (1) pemetaan anatomi praoperatif yang akurat melalui pencitraan untuk menyingkirkan anomali Müller kompleks penyerta yang dapat meniru gambaran himen imperforata sederhana; (2) himenektomi dengan eksisi marginal sirkumferensial dan marsupialisasi tepi mukosa — bukan sekadar himenotomi berupa insisi silang — untuk meminimalkan risiko reformasi jaringan parut yang menyempitkan kembali introitus, terutama pada jaringan himen yang tebal; dan (3) evaluasi fungsi berkemih pascatindakan, mengingat distensi kronik kandung kemih akibat hematokolpos masif dapat meninggalkan disfungsi berkemih sementara yang memerlukan pemantauan pascabedah tersendiri di luar penyembuhan luka operasi itu sendiri.

C. Ilustrasi Kasus Lapangan

Seorang remaja putri 14 tahun dirujuk dengan keluhan nyeri panggul siklik berulang selama 4 bulan disertai keluhan pancaran urin melemah dan rasa tidak tuntas berkemih. Pemeriksaan genitalia eksterna menunjukkan membran himen menonjol kebiruan; USG transabdominal menunjukkan hematokolpos dengan volume besar hingga menekan dasar kandung kemih. Setelah evakuasi bertahap secara hati-hati melalui himenektomi dengan eksisi marginal (untuk menghindari dekompresi mendadak) dan kateterisasi sementara pascatindakan, fungsi berkemih pulih sepenuhnya dalam 1 minggu dan siklus haid menjadi teratur pada bulan ketiga pascatindakan.