Premenstrual Syndrome, Nyeri Haid, dan Nyeri Sanggama
Premenstrual Syndrome, Menstrual Pain, and Dyspareunia
1. Pengertian/Definisi
Tabel 7 Nomor 72, Lampiran Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 — entri "Premenstrual syndrome, nyeri haid dan nyeri sanggama" (ICD-10 N94.0–N94.6; ICD-11 GA34.40). PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Gangguan Haid dan Nyeri Siklik Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar.
PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Gangguan Haid dan Nyeri Siklik pada Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar, sesuai entri Tabel 7 Nomor 72 Kepkonsil HK.01.02/KKI/1318/2026.
Entri Tabel 7 Nomor 72 menggabungkan tiga entitas klinis yang berkaitan dengan siklus menstruasi ke dalam satu capaian kompetensi: sindrom pramenstruasi (premenstrual syndrome/PMS), nyeri haid (dismenore), dan nyeri sanggama (dispareunia) yang bersifat siklik. Ketiganya dibahas bersama dalam PPK ini sesuai struktur Kepkonsil, namun kriteria diagnosis dan tata laksana tetap diuraikan terpisah per entitas karena mekanisme dan pendekatan kliniknya tidak identik.
Sindrom Pramenstruasi (PMS) adalah kumpulan gejala fisik, emosional, dan perilaku yang muncul secara siklik pada fase luteal siklus menstruasi dan mereda dalam beberapa hari setelah onset menstruasi. Bentuk yang lebih berat dengan gejala afektif dominan dan gangguan fungsional bermakna disebut Gangguan Disforik Pramenstruasi (Premenstrual Dysphoric Disorder/PMDD).
Nyeri Haid (Dismenore) adalah nyeri kram di perut bagian bawah yang berkaitan dengan menstruasi, diklasifikasikan sebagai dismenore primer (tanpa kelainan pelvis organik) atau dismenore sekunder (akibat patologi pelvis yang mendasari, misalnya endometriosis, adenomiosis, atau penyakit radang panggul).
Nyeri Sanggama (Dispareunia) adalah nyeri genital yang berulang atau menetap sebelum, selama, atau setelah hubungan seksual, dapat bersifat superfisial (introitus/vulva) atau dalam (pelvis), dan pada konteks PPK ini ditinjau khususnya pada pola yang berkaitan dengan siklus haid, tanpa mengesampingkan evaluasi penyebab dispareunia non-siklik bila ditemukan pada anamnesis.
Catatan disambiguasi: dismenore sebagai entitas tunggal tanpa komponen PMS maupun dispareunia telah diatur tersendiri pada Tabel 7 Nomor 55 (PPK-055). PPK ini digunakan bila gejala dismenore muncul bersama komponen PMS dan/atau nyeri sanggama sesuai pengelompokan Nomor 72, atau bila salah satu dari ketiga komponen menjadi keluhan utama dalam konteks siklus haid secara umum.
Epidemiologi
Data prevalensi nasional Indonesia untuk ketiga kondisi ini belum tersedia dalam registri resmi yang dapat diverifikasi [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI]. Sebagai konteks global, Green-top Guideline No. 48 RCOG (2017) melaporkan bahwa sekitar 40% perempuan usia reproduksi mengalami gejala PMS dengan berbagai derajat, dan 5–8% di antaranya mengalami PMS berat yang mengganggu fungsi harian. Angka ini bersifat kontekstual internasional dan tidak menggantikan kebutuhan data epidemiologi nasional yang tervalidasi.
Padanan Kode Antar-Sistem Klasifikasi (ICD-10 vs ICD-11)
Struktur ICD-10 dan ICD-11 untuk entitas ini tidak sepenuhnya paralel dan telah diverifikasi terpisah untuk masing-masing sistem. ICD-11 memisahkan sindrom pramenstruasi ringan-sedang (kode GA34.40, sesuai dengan yang tercantum pada Tabel 7 Kepkonsil) dari gangguan disforik pramenstruasi/PMDD (kode GA34.41) sebagai dua entitas berbeda — pemisahan yang tidak ada pada ICD-10 (keduanya masuk N94.3). Untuk dismenore, ICD-11 menggunakan satu kode umbrella GA34.3 tanpa pemisahan primer/sekunder sebagaimana ICD-10 (N94.4 vs N94.5); pembedaan primer/sekunder pada praktik yang menggunakan ICD-11 dilakukan melalui extension code, bukan kode inti terpisah. Dispareunia pada ICD-11 tercatat sebagai kategori tersendiri di luar blok GA34, yaitu GA12 (Female dyspareunia), berbeda dari ICD-10 yang menempatkannya sebagai sub-kode N94.1 dalam blok yang sama dengan dismenore dan PMS.
2. Anamnesis
Anamnesis terstruktur diarahkan untuk memetakan pola waktu gejala terhadap siklus menstruasi, karena pola siklik-luteal adalah kunci pembeda PMS/PMDD dari gangguan mood primer, dan pola nyeri saat/menjelang menstruasi adalah kunci pembeda dismenore dari nyeri pelvis kronik non-siklik.
Riwayat menstruasi
- Usia menarke, keteraturan siklus, lama siklus dan durasi perdarahan, volume perdarahan.
- Onset keluhan terhadap menarke (dismenore primer umumnya muncul 6–24 bulan pasca-menarke).
Karakteristik nyeri haid dan/atau nyeri sanggama
- Lokasi, penjalaran, skala nyeri (Numeric Rating Scale/NRS 0–10), durasi per episode, faktor pencetus dan pereda.
- Untuk nyeri sanggama: superfisial (introitus) atau dalam (panggul), primer (sejak awal aktivitas seksual) atau sekunder (muncul setelah periode bebas nyeri), kaitan dengan lubrikasi dan posisi.
- Hubungan waktu nyeri sanggama terhadap fase siklus haid (menetap sepanjang siklus vs memberat pada fase pramenstruasi/menstruasi).
Gejala pramenstruasi (afektif, fisik, perilaku)
- Gejala afektif: labilitas mood, iritabilitas, ansietas, mudah menangis, penurunan minat aktivitas.
- Gejala fisik: nyeri/bengkak payudara, kembung, sakit kepala, edema perifer, kelelahan, gangguan tidur, perubahan nafsu makan.
- Wajib ditanyakan pola waktu: apakah gejala terbatas pada fase luteal (sekitar 5–7 hari sebelum menstruasi) dan mereda dalam ±4 hari setelah onset menstruasi, dengan periode bebas gejala pada fase folikular.
Dampak fungsional dan riwayat penyerta
- Dampak pada pekerjaan/sekolah, hubungan interpersonal, dan aktivitas seksual.
- Riwayat kontrasepsi, riwayat obstetri, riwayat infeksi menular seksual, riwayat prosedur ginekologi atau trauma vulvovaginal sebelumnya.
- Riwayat psikiatri (gangguan depresi mayor, gangguan ansietas) sebagai diagnosis banding dan komorbiditas yang perlu dibedakan dari PMS/PMDD murni.
- Dianjurkan pencatatan gejala harian prospektif minimal 2 siklus menggunakan instrumen tervalidasi (misalnya Daily Record of Severity of Problems/DRSP) untuk menegakkan pola siklik secara objektif, bukan hanya berdasar recall retrospektif.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik bertujuan menyingkirkan patologi pelvis organik yang mendasari (mengarah ke dismenore sekunder atau dispareunia dalam) serta memetakan lokasi nyeri superfisial bila keluhan utama adalah nyeri sanggama.
Pemeriksaan umum dan abdomen
- Status generalis dan tanda vital.
- Palpasi abdomen bawah: nyeri tekan, teraba massa, tanda peritoneal.
Pemeriksaan ginekologi
- Inspeksi genitalia eksterna: tanda inflamasi, atrofi vulvovaginal, lesi, fisura pada area vestibulum.
- Uji swab kapas (cotton-swab test) pada vestibulum untuk memetakan area nyeri superfisial terlokalisasi bila dicurigai vestibulodinia.
- Pemeriksaan spekulum bila dapat ditoleransi pasien, menilai tanda infeksi/atrofi.
- Pemeriksaan bimanual: nyeri gerak serviks, ukuran dan mobilitas uterus, nyeri/massa adneksa, nodularitas ligamentum sakrouterina (kecurigaan endometriosis).
- Bila dicurigai komponen muskuloskeletal/vaginismus: nilai tonus dan respons involunter otot dasar panggul saat palpasi digital tunggal.
Interpretasi awal
- Pemeriksaan dalam yang ditoleransi tanpa temuan abnormal, disertai anamnesis pola siklik luteal yang khas, mendukung diagnosis dismenore primer dan/atau PMS tanpa perlu penelusuran patologi struktural lebih lanjut pada tahap awal.
4. Kriteria Diagnosis
Kode ICD-10 N94.0–N94.6 dan ICD-11 GA34.40 pada entri ini telah diverifikasi ulang terhadap Tabel 7 Nomor 72 Kepkonsil HK.01.02/KKI/1318/2026. Rentang ICD-10 mencakup beberapa sub-kategori nyeri genital-siklus haid; penentuan sub-kode spesifik per diagnosis akhir mengikuti tabel di bawah dan tetap memerlukan verifikasi klinis pada rekam medis, bukan disalin otomatis dari rentang umum.
Padanan kode ICD-10 dan ICD-11 untuk setiap diagnosis dalam cakupan entri ini (terverifikasi terpisah per sistem klasifikasi)
| Diagnosis | Kode ICD-10 | Kode ICD-11 |
|---|---|---|
| Dispareunia | N94.1 | GA12 |
| Vaginismus (diagnosis banding) | N94.2 | — |
| Sindrom pramenstruasi (PMS) | N94.3 | GA34.40 |
| Gangguan disforik pramenstruasi (PMDD) | N94.3 (tidak dipisah) | GA34.41 |
| Dismenore primer | N94.4 | GA34.3 (dengan extension code) |
| Dismenore sekunder | N94.5 | GA34.3 (dengan extension code) |
| Dismenore, tidak dijelaskan | N94.6 | GA34.3 |
Kriteria diagnosis PMS
- Minimal satu gejala afektif dan satu gejala somatik pada 5 hari sebelum menstruasi, terjadi berulang pada minimal 3 siklus berturutan, mereda dalam 4 hari setelah onset menstruasi, dan tidak muncul pada fase folikular.
- Ditegakkan secara prospektif menggunakan catatan harian gejala tervalidasi (DRSP atau setara) selama minimal 2 siklus — bukan berdasarkan recall retrospektif semata.
Kriteria diagnosis PMDD (bentuk lebih berat)
- Minimal 5 gejala pada minggu terakhir fase luteal, termasuk minimal 1 gejala afektif inti (labilitas mood, iritabilitas/kemarahan, mood depresif, atau ansietas nyata), disertai gangguan fungsional bermakna.
- Penegakan diagnosis psikiatri definitif (PMDD sesuai kriteria DSM-5) tetap merupakan kewenangan sejawat psikiatri bila diperlukan konfirmasi lebih lanjut.
Kriteria diagnosis dismenore
- Dismenore primer: nyeri kram siklik berulang tanpa kelainan pelvis organik pada pemeriksaan fisik dan/atau penunjang.
- Dismenore sekunder: nyeri haid disertai temuan patologi pelvis yang mendasari pada pemeriksaan penunjang.
Kriteria diagnosis dispareunia
- Nyeri genital berulang atau menetap yang berkaitan dengan hubungan seksual, diklasifikasikan superfisial vs dalam serta primer vs sekunder, tanpa penyebab lain yang lebih sesuai (misalnya vaginismus murni tanpa nyeri organik, atau atrofi vulvovaginal non-siklik).
5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja ditentukan berdasarkan gejala dominan yang memenuhi kriteria pada Bagian 4 — PMS/PMDD, dismenore primer/sekunder, dan/atau dispareunia siklik — dan ketiganya dapat muncul bersamaan pada satu pasien sesuai pengelompokan Tabel 7 Nomor 72.
Diagnosis banding yang wajib disingkirkan
- Endometriosis dan adenomiosis (dismenore sekunder, dispareunia dalam).
- Penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease) dan sekuelenya.
- Mioma uteri simtomatik, kista ovarium (termasuk kista terpuntir pada nyeri akut).
- Gangguan mood primer (depresi mayor, gangguan ansietas) tanpa pola siklik luteal yang khas — dibedakan dari PMS/PMDD melalui catatan harian gejala prospektif.
- Vaginismus dan vulvodinia/vestibulodinia terlokalisasi sebagai penyebab dispareunia superfisial yang tidak selalu siklik.
- Atrofi vulvovaginal/genitourinary syndrome of menopause dan infeksi vulvovaginal (kandidiasis, vaginosis bakterial) sebagai penyebab dispareunia non-siklik.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pencitraan dan laboratorium
- Ultrasonografi transvaginal (atau transabdominal bila belum aktif secara seksual) untuk menyingkirkan patologi struktural: kista ovarium, mioma, adenomiosis, endometrioma.
- Pemeriksaan mikroskopis sekret vagina dan/atau kultur bila dicurigai infeksi vulvovaginal.
- Skrining infeksi menular seksual sesuai indikasi klinis.
- Pemeriksaan darah rutin dan fungsi tiroid (TSH) untuk menyingkirkan diagnosis banding kelelahan/gangguan mood yang menyerupai PMS.
Instrumen diagnostik khusus
- Catatan harian gejala prospektif (DRSP/Calendar of Premenstrual Experiences) selama minimal 2 siklus merupakan alat diagnostik utama untuk PMS/PMDD, bukan pencitraan.
- Laparoskopi diagnostik dipertimbangkan bila dicurigai endometriosis dan tata laksana empiris awal gagal — dilakukan pada tingkat rujukan subspesialis.
7. Tata Laksana
7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis
- Edukasi pola siklus menstruasi dan hubungan gejala dengan fase luteal, agar pasien memahami dasar fisiologis keluhannya.
- Modifikasi gaya hidup: olahraga aerobik teratur, tidur cukup, pengurangan konsumsi kafein/alkohol/garam berlebih, manajemen stres.
- Terapi panas lokal (kompres/bantal panas suprapubik) sebagai lini pertama non-farmakologis untuk dismenore.
- Terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) untuk PMS/PMDD dan untuk komponen psikoseksual pada dispareunia.
- Fisioterapi dasar panggul untuk dispareunia yang berkaitan dengan disfungsi/hipertonus otot dasar panggul.
- Konseling pasangan atau konseling seksual bila dispareunia berdampak signifikan pada relasi dan fungsi seksual.
7.2 Tata Laksana Farmakologis
- Dismenore — lini pertama: NSAID (asam mefenamat, ibuprofen, atau natrium diklofenak) dimulai 1–2 hari sebelum atau saat onset menstruasi, diberikan terjadwal (bukan hanya saat nyeri sudah berat) untuk efektivitas optimal.
- Dismenore/PMS — lini kedua: kontrasepsi hormonal kombinasi atau progestin, terutama bila pasien juga membutuhkan kontrasepsi atau NSAID tidak memberikan perbaikan adekuat.
- PMS/PMDD — lini pertama untuk gejala afektif dominan: Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI, misalnya fluoksetin atau sertralin), dapat diberikan kontinu harian atau hanya pada fase luteal.
- PMS/PMDD — alternatif: kontrasepsi hormonal kombinasi, terutama formulasi yang mengandung drospirenon; suplementasi kalsium sebagai adjuvan dengan bukti pendukung sedang, vitamin B6 dosis rendah dapat dipertimbangkan dengan bukti terbatas namun tidak melebihi ambang batas aman harian mengingat risiko neuropati perifer pada penggunaan jangka panjang dosis tinggi.
- Dispareunia: pelumas atau moisturizer vagina untuk keluhan terkait kekeringan; estrogen vagina dosis rendah bila terdapat tanda atrofi genitourinari; analgesik topikal untuk vestibulodinia terlokalisasi.
Contoh regimen dosis lini pertama-kedua (dosis dewasa acuan umum; sesuaikan dengan kondisi klinis, komorbiditas, dan interaksi obat pasien)
| Terapi | Dosis Acuan | Waktu/Frekuensi | Indikasi Utama |
|---|---|---|---|
| Asam mefenamat | 500 mg | 3x/hari, mulai saat onset nyeri haid | Dismenore |
| Ibuprofen | 400 mg | 3–4x/hari, mulai 1–2 hari sebelum menstruasi | Dismenore |
| Natrium diklofenak | 50 mg | 2–3x/hari selama menstruasi | Dismenore |
| Fluoksetin | 20 mg/hari | Kontinu harian atau hanya fase luteal | PMS/PMDD |
| Sertralin | 50–100 mg/hari | Kontinu harian atau hanya fase luteal | PMS/PMDD |
| Kontrasepsi kombinasi drospirenon/EE | 1 tablet/hari | Siklik 24/4 atau kontinu | PMS/Dismenore |
| Estrogen vagina dosis rendah | 10 mcg/tablet intravaginal | 2x/minggu setelah fase loading awal | Dispareunia atrofik |
| Kalsium karbonat (adjuvan) | 1000–1200 mg/hari | Kontinu | PMS (adjuvan) |
7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)
- Dismenore sekunder akibat endometriosis yang tidak responsif terhadap tata laksana empiris: laparoskopi operatif eksisi/ablasi fokus endometriosis, dilakukan pada tingkat subspesialis.
- Mioma uteri atau adenomiosis simtomatik: tata laksana mengikuti PPK terkait yang relevan.
- Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) berisi levonorgestrel dapat dipertimbangkan sebagai opsi semi-prosedural untuk dismenore dan PMS terkait volume/pola haid.
- Vestibulodinia refrakter terhadap tata laksana konservatif: pertimbangan vestibulektomi sebagai pilihan akhir, merupakan kewenangan subspesialis.
7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi
- Gejala PMS/PMDD berat yang tetap mengganggu fungsi meski telah diberikan tata laksana lini pertama adekuat selama 2–3 siklus.
- Dismenore sekunder dengan kecurigaan endometriosis/adenomiosis yang tidak responsif terhadap tata laksana empiris.
- Dispareunia persisten tanpa penyebab jelas, atau yang memerlukan tata laksana multidisiplin (fisioterapi dasar panggul, psikoseksual, nyeri kronik).
- Kegagalan tata laksana lini pertama dan kedua, atau kebutuhan evaluasi laparoskopik lanjutan.
Kontribusi Divisi Pengampu — Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi
A. Deskripsi
Ketiga entitas dalam PPK ini — sindrom pramenstruasi, dismenore, dan dispareunia siklik — berakar pada aksis hormonal ovarium-endometrium yang sama, sehingga penilaian dan tata laksananya berada dalam lingkup keahlian Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi, khususnya bila diperlukan modulasi hormonal (kontrasepsi kombinasi, progestin) atau bila gejala menetap membutuhkan penelusuran endokrin lebih lanjut.
B. Mekanisme Hormonal Fase Luteal sebagai Simpul Klinis Bersama
Fluktuasi progesteron dan metabolit neuroaktifnya (alopregnanolon) pada fase luteal memengaruhi reseptor GABA-A susunan saraf pusat, mendasari gejala afektif PMS/PMDD; pada saat bersamaan, peningkatan produksi prostaglandin F2-alfa endometrium menjelang menstruasi mendasari kontraksi miometrium berlebih pada dismenore. Bila nyeri haid berat kronis menimbulkan sensitisasi nyeri sentral, ambang nyeri pada penetrasi vagina turut menurun sehingga dispareunia dapat menyertai — menjelaskan mengapa Kepkonsil mengelompokkan ketiganya dalam satu entri kompetensi meski algoritma tata laksananya tetap dibedakan per gejala dominan.
C. Ilustrasi Kasus Lapangan
Perempuan, 27 tahun, datang dengan keluhan nyeri haid berat sejak 3 tahun terakhir disertai iritabilitas dan nyeri payudara pada 5-7 hari sebelum menstruasi, serta nyeri saat sanggama yang muncul terutama pada minggu sebelum haid. Catatan harian gejala prospektif 2 siklus menunjukkan pola gejala afektif dan somatik yang jelas terbatas pada fase luteal dan mereda total pasca-onset menstruasi, sesuai kriteria PMS. USG transvaginal tidak menunjukkan kelainan struktural. Pasien diberikan NSAID periode perimenstrual untuk komponen dismenore serta kontrasepsi hormonal kombinasi mengandung drospirenon untuk komponen PMS dan dispareunia siklik terkait nyeri panggul berulang; pada evaluasi siklus ketiga, skor nyeri (NRS) turun dari 8 menjadi 3 dan gejala afektif mereda signifikan pada catatan DRSP.
8. Edukasi Pasien dan Keluarga
Poin edukasi
- PMS, dismenore, dan dispareunia adalah kondisi umum yang dapat dikelola secara efektif, bukan keluhan yang harus ditahan tanpa penanganan.
- Pentingnya mengisi catatan gejala harian secara konsisten untuk membantu penegakan diagnosis dan menilai respons terapi secara objektif.
- Edukasi kepada pasangan/keluarga untuk mendukung pasien, khususnya pada dispareunia yang berdampak pada relasi dan kesehatan mental pasien.
- Tanda yang memerlukan kontrol segera atau pertolongan darurat: nyeri mendadak yang sangat berat, demam, atau perdarahan abnormal yang tidak sesuai pola biasa.
9. Prognosis
Prognosis umumnya baik dengan tata laksana yang adekuat dan konsisten. Dismenore primer cenderung membaik seiring bertambahnya usia dan sering membaik pasca-persalinan. PMS/PMDD dapat bersifat kambuhan dan memerlukan tata laksana jangka panjang atau berulang, khususnya menjelang masa perimenopause ketika fluktuasi hormonal menonjol. Dispareunia yang didominasi faktor psikoseksual atau muskuloskeletal umumnya memiliki prognosis baik dengan pendekatan multidisiplin, sedangkan dispareunia sekunder akibat endometriosis bergantung pada keberhasilan tata laksana penyakit dasarnya.
10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi
Ringkasan evidens dan rekomendasi tata laksana
| Intervensi | Tingkat Evidens | Rekomendasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| NSAID untuk dismenore | I | A | Cochrane, Marjoribanks et al. 2015 (CD001751) |
| SSRI untuk PMS/PMDD | I | A | ACOG Clinical Practice Guideline No. 7 (2023) |
| Kontrasepsi hormonal kombinasi untuk dismenore/PMS | II | B | ACOG CPG No. 7 (2023); RCOG GTG No. 48 (2017) |
| Terapi kognitif perilaku (CBT) untuk PMS/PMDD | II | B | ACOG CPG No. 7 (2023) |
| Fisioterapi dasar panggul untuk dispareunia | II | B | ACOG Practice Bulletin No. 213 (2019) |
| Estrogen vagina dosis rendah untuk dispareunia atrofik | I | A | ACOG Practice Bulletin No. 213 (2019) |
11. Indikator Medis
Indikator keberhasilan tata laksana
- Penurunan skor nyeri (NRS) sekurang-kurangnya 50% dalam evaluasi 3 siklus tata laksana.
- Perbaikan skor pada instrumen gejala pramenstruasi tervalidasi (DRSP atau setara) pada pasien dengan PMS/PMDD.
- Penurunan frekuensi dan tingkat keparahan dispareunia yang dilaporkan pasien pada kontrol ulang.
- Kepatuhan pasien terhadap pencatatan gejala harian sebagai alat pemantauan.
- Tidak terjadi perburukan gejala atau komplikasi yang memerlukan rujukan darurat selama periode tata laksana.
12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional
Standar nasional (Kepkonsil Tabel 7 No. 72) menetapkan PMS, dismenore, dan dispareunia siklik sebagai satu entri kompetensi tunggal dengan pendekatan diagnostik-terapeutik terpadu untuk kewenangan spesialis umum dan subspesialis; standar internasional ACOG dan RCOG menerbitkan pedoman terpisah untuk PMS/PMDD dan menempatkan dismenore serta dispareunia dalam dokumen klinis tersendiri dengan algoritma bertahap yang lebih granular. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional untuk pemetaan kompetensi, dengan pengayaan konten klinis dari sumber internasional berikut.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) Clinical Practice Guideline No. 7 (2023) tentang Management of Premenstrual Disorders merekomendasikan SSRI (kontinu atau fase luteal) sebagai lini pertama untuk PMS/PMDD dengan gejala afektif dominan, serta kontrasepsi hormonal kombinasi sebagai alternatif berbasis bukti, sejalan dengan tata laksana pada Bagian 7.2 PPK ini.
Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) Green-top Guideline No. 48 (2017) tentang Management of Premenstrual Syndrome menekankan penegakan diagnosis prospektif menggunakan catatan harian gejala minimal 2 siklus sebelum memulai tata laksana definitif — prinsip yang diadopsi pada Bagian 4 dan Bagian 6 PPK ini sebagai standar diagnostik PMS/PMDD.
Tinjauan sistematis Cochrane oleh Marjoribanks et al. (2015, CD001751) mengonfirmasi efektivitas NSAID dibandingkan plasebo untuk dismenore primer dengan tingkat evidens tinggi, mendasari rekomendasi lini pertama pada Bagian 7.2 dan Bagian 10 PPK ini.
13. Kepustakaan
- Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Konsil Kesehatan Indonesia; 2026.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Management of Premenstrual Disorders: ACOG Clinical Practice Guideline No. 7. Obstetrics & Gynecology. 2023;142(6):1516–1533. doi:10.1097/AOG.0000000000005426. Tersedia pada: https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000005426
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Management of Premenstrual Syndrome. Green-top Guideline No. 48. BJOG. 2017;124(3):e73–e105. Tersedia pada: https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/premenstrual-syndrome-management-green-top-guideline-no-48/
- Marjoribanks J, Ayeleke RO, Farquhar C, Proctor M. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs for dysmenorrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2015;(7):CD001751. doi:10.1002/14651858.CD001751.pub3. Tersedia pada: https://doi.org/10.1002/14651858.CD001751.pub3
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Female Sexual Dysfunction: ACOG Practice Bulletin No. 213 (Reaffirmed 2022). Obstetrics & Gynecology. 2019;134(1):e1–e18. doi:10.1097/AOG.0000000000003324. Tersedia pada: https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000003324
- O'Brien PMS, Bäckström T, Brown C, Dennerstein L, Endicott J, Epperson CN, et al. Towards a consensus on diagnostic criteria, measurement and trial design of the premenstrual disorders: the ISPMD Montreal consensus. Archives of Women's Mental Health. 2011;14(1):13–21. doi:10.1007/s00737-010-0201-3. Tersedia pada: https://doi.org/10.1007/s00737-010-0201-3
- World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics: GA34 Female genital pain and bleeding associated with sexual cycle. Geneva: WHO; 2026. Tersedia pada: https://icd.who.int/browse11
Glosarium
Istilah kunci yang digunakan dalam PPK ini
| Istilah | Definisi |
|---|---|
| Dismenore | Nyeri kram di perut bagian bawah yang berkaitan dengan menstruasi; primer bila tanpa kelainan pelvis organik, sekunder bila disertai patologi pelvis yang mendasari. |
| Dispareunia | Nyeri genital yang berulang atau menetap sebelum, selama, atau setelah hubungan seksual; dapat superfisial (introitus) atau dalam (pelvis). |
| DRSP (Daily Record of Severity of Problems) | Instrumen pencatatan gejala harian tervalidasi yang digunakan untuk menegakkan pola siklik gejala pramenstruasi secara prospektif. |
| Fase luteal | Fase siklus menstruasi setelah ovulasi hingga menstruasi berikutnya, ditandai oleh dominasi progesteron; menjadi periode utama munculnya gejala PMS/PMDD. |
| GRADE | Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation — kerangka kerja penilaian mutu bukti dan kekuatan rekomendasi klinis yang digunakan berbagai pedoman internasional. |
| ISPMD | International Society for Premenstrual Disorders — organisasi internasional yang menyusun konsensus definisi dan kriteria diagnostik gangguan pramenstruasi. |
| PMDD (Premenstrual Dysphoric Disorder) | Gangguan disforik pramenstruasi; bentuk PMS yang lebih berat dengan gejala afektif dominan dan gangguan fungsional bermakna. |
| PMS (Premenstrual Syndrome) | Sindrom pramenstruasi; kumpulan gejala fisik, emosional, dan perilaku siklik pada fase luteal yang mereda setelah onset menstruasi. |
| Sensitisasi nyeri sentral | Perubahan pemrosesan nyeri pada susunan saraf pusat akibat paparan nyeri kronik berulang, dapat menurunkan ambang nyeri pada area tubuh lain termasuk saat penetrasi vagina. |
| Vestibulodinia | Nyeri terlokalisasi pada vestibulum vagina, salah satu penyebab dispareunia superfisial yang dapat dinilai dengan uji swab kapas. |
| Vaginismus | Spasme involunter otot dasar panggul/vagina yang menyebabkan atau memperberat nyeri saat penetrasi; merupakan diagnosis banding dispareunia, bukan sinonimnya. |