PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK) — EKOSISTEM LITERATUR STANDAR SpOG

Premenstrual Syndrome, Nyeri Haid, dan Nyeri Sanggama

Premenstrual Syndrome, Menstrual Pain, and Dyspareunia

ICD-10
N94.0–N94.6
ICD-11
GA34.40
Tabel 7 Kepkonsil
No. 72
Divisi Pengampu
Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi
Rujukan Silang
B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar
Penulis
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

1. Pengertian/Definisi

Dasar Regulasi

Tabel 7 Nomor 72, Lampiran Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026 — entri "Premenstrual syndrome, nyeri haid dan nyeri sanggama" (ICD-10 N94.0–N94.6; ICD-11 GA34.40). PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Gangguan Haid dan Nyeri Siklik Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar.

PPK ini merupakan turunan operasional dari Bab Gangguan Haid dan Nyeri Siklik pada Buku Tematik B8 — Gangguan Haid, Endokrinologi Reproduksi Dasar, dan Infertilitas Dasar, sesuai entri Tabel 7 Nomor 72 Kepkonsil HK.01.02/KKI/1318/2026.

Entri Tabel 7 Nomor 72 menggabungkan tiga entitas klinis yang berkaitan dengan siklus menstruasi ke dalam satu capaian kompetensi: sindrom pramenstruasi (premenstrual syndrome/PMS), nyeri haid (dismenore), dan nyeri sanggama (dispareunia) yang bersifat siklik. Ketiganya dibahas bersama dalam PPK ini sesuai struktur Kepkonsil, namun kriteria diagnosis dan tata laksana tetap diuraikan terpisah per entitas karena mekanisme dan pendekatan kliniknya tidak identik.

Sindrom Pramenstruasi (PMS) adalah kumpulan gejala fisik, emosional, dan perilaku yang muncul secara siklik pada fase luteal siklus menstruasi dan mereda dalam beberapa hari setelah onset menstruasi. Bentuk yang lebih berat dengan gejala afektif dominan dan gangguan fungsional bermakna disebut Gangguan Disforik Pramenstruasi (Premenstrual Dysphoric Disorder/PMDD).

Nyeri Haid (Dismenore) adalah nyeri kram di perut bagian bawah yang berkaitan dengan menstruasi, diklasifikasikan sebagai dismenore primer (tanpa kelainan pelvis organik) atau dismenore sekunder (akibat patologi pelvis yang mendasari, misalnya endometriosis, adenomiosis, atau penyakit radang panggul).

Nyeri Sanggama (Dispareunia) adalah nyeri genital yang berulang atau menetap sebelum, selama, atau setelah hubungan seksual, dapat bersifat superfisial (introitus/vulva) atau dalam (pelvis), dan pada konteks PPK ini ditinjau khususnya pada pola yang berkaitan dengan siklus haid, tanpa mengesampingkan evaluasi penyebab dispareunia non-siklik bila ditemukan pada anamnesis.

Catatan disambiguasi: dismenore sebagai entitas tunggal tanpa komponen PMS maupun dispareunia telah diatur tersendiri pada Tabel 7 Nomor 55 (PPK-055). PPK ini digunakan bila gejala dismenore muncul bersama komponen PMS dan/atau nyeri sanggama sesuai pengelompokan Nomor 72, atau bila salah satu dari ketiga komponen menjadi keluhan utama dalam konteks siklus haid secara umum.

Epidemiologi

Data prevalensi nasional Indonesia untuk ketiga kondisi ini belum tersedia dalam registri resmi yang dapat diverifikasi [DATA: rujuk laporan/registri resmi terbaru — mis. Kemenkes, BKKBN, POGI]. Sebagai konteks global, Green-top Guideline No. 48 RCOG (2017) melaporkan bahwa sekitar 40% perempuan usia reproduksi mengalami gejala PMS dengan berbagai derajat, dan 5–8% di antaranya mengalami PMS berat yang mengganggu fungsi harian. Angka ini bersifat kontekstual internasional dan tidak menggantikan kebutuhan data epidemiologi nasional yang tervalidasi.

Padanan Kode Antar-Sistem Klasifikasi (ICD-10 vs ICD-11)

Struktur ICD-10 dan ICD-11 untuk entitas ini tidak sepenuhnya paralel dan telah diverifikasi terpisah untuk masing-masing sistem. ICD-11 memisahkan sindrom pramenstruasi ringan-sedang (kode GA34.40, sesuai dengan yang tercantum pada Tabel 7 Kepkonsil) dari gangguan disforik pramenstruasi/PMDD (kode GA34.41) sebagai dua entitas berbeda — pemisahan yang tidak ada pada ICD-10 (keduanya masuk N94.3). Untuk dismenore, ICD-11 menggunakan satu kode umbrella GA34.3 tanpa pemisahan primer/sekunder sebagaimana ICD-10 (N94.4 vs N94.5); pembedaan primer/sekunder pada praktik yang menggunakan ICD-11 dilakukan melalui extension code, bukan kode inti terpisah. Dispareunia pada ICD-11 tercatat sebagai kategori tersendiri di luar blok GA34, yaitu GA12 (Female dyspareunia), berbeda dari ICD-10 yang menempatkannya sebagai sub-kode N94.1 dalam blok yang sama dengan dismenore dan PMS.

2. Anamnesis

Anamnesis terstruktur diarahkan untuk memetakan pola waktu gejala terhadap siklus menstruasi, karena pola siklik-luteal adalah kunci pembeda PMS/PMDD dari gangguan mood primer, dan pola nyeri saat/menjelang menstruasi adalah kunci pembeda dismenore dari nyeri pelvis kronik non-siklik.

Riwayat menstruasi

Karakteristik nyeri haid dan/atau nyeri sanggama

Gejala pramenstruasi (afektif, fisik, perilaku)

Dampak fungsional dan riwayat penyerta

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik bertujuan menyingkirkan patologi pelvis organik yang mendasari (mengarah ke dismenore sekunder atau dispareunia dalam) serta memetakan lokasi nyeri superfisial bila keluhan utama adalah nyeri sanggama.

Pemeriksaan umum dan abdomen

Pemeriksaan ginekologi

Interpretasi awal

4. Kriteria Diagnosis

Kode ICD-10 N94.0–N94.6 dan ICD-11 GA34.40 pada entri ini telah diverifikasi ulang terhadap Tabel 7 Nomor 72 Kepkonsil HK.01.02/KKI/1318/2026. Rentang ICD-10 mencakup beberapa sub-kategori nyeri genital-siklus haid; penentuan sub-kode spesifik per diagnosis akhir mengikuti tabel di bawah dan tetap memerlukan verifikasi klinis pada rekam medis, bukan disalin otomatis dari rentang umum.

Padanan kode ICD-10 dan ICD-11 untuk setiap diagnosis dalam cakupan entri ini (terverifikasi terpisah per sistem klasifikasi)

DiagnosisKode ICD-10Kode ICD-11
DispareuniaN94.1GA12
Vaginismus (diagnosis banding)N94.2
Sindrom pramenstruasi (PMS)N94.3GA34.40
Gangguan disforik pramenstruasi (PMDD)N94.3 (tidak dipisah)GA34.41
Dismenore primerN94.4GA34.3 (dengan extension code)
Dismenore sekunderN94.5GA34.3 (dengan extension code)
Dismenore, tidak dijelaskanN94.6GA34.3

Kriteria diagnosis PMS

Kriteria diagnosis PMDD (bentuk lebih berat)

Kriteria diagnosis dismenore

Kriteria diagnosis dispareunia

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Diagnosis kerja ditentukan berdasarkan gejala dominan yang memenuhi kriteria pada Bagian 4 — PMS/PMDD, dismenore primer/sekunder, dan/atau dispareunia siklik — dan ketiganya dapat muncul bersamaan pada satu pasien sesuai pengelompokan Tabel 7 Nomor 72.

Diagnosis banding yang wajib disingkirkan

6. Pemeriksaan Penunjang

Pencitraan dan laboratorium

Instrumen diagnostik khusus

7. Tata Laksana

7.1 Tata Laksana Non-Farmakologis

7.2 Tata Laksana Farmakologis

Contoh regimen dosis lini pertama-kedua (dosis dewasa acuan umum; sesuaikan dengan kondisi klinis, komorbiditas, dan interaksi obat pasien)

TerapiDosis AcuanWaktu/FrekuensiIndikasi Utama
Asam mefenamat500 mg3x/hari, mulai saat onset nyeri haidDismenore
Ibuprofen400 mg3–4x/hari, mulai 1–2 hari sebelum menstruasiDismenore
Natrium diklofenak50 mg2–3x/hari selama menstruasiDismenore
Fluoksetin20 mg/hariKontinu harian atau hanya fase lutealPMS/PMDD
Sertralin50–100 mg/hariKontinu harian atau hanya fase lutealPMS/PMDD
Kontrasepsi kombinasi drospirenon/EE1 tablet/hariSiklik 24/4 atau kontinuPMS/Dismenore
Estrogen vagina dosis rendah10 mcg/tablet intravaginal2x/minggu setelah fase loading awalDispareunia atrofik
Kalsium karbonat (adjuvan)1000–1200 mg/hariKontinuPMS (adjuvan)

7.3 Tata Laksana Bedah/Prosedural (bila relevan)

7.4 Kriteria Rujukan ke Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi

Kontribusi Divisi Pengampu — Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi

A. Deskripsi

Ketiga entitas dalam PPK ini — sindrom pramenstruasi, dismenore, dan dispareunia siklik — berakar pada aksis hormonal ovarium-endometrium yang sama, sehingga penilaian dan tata laksananya berada dalam lingkup keahlian Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi, khususnya bila diperlukan modulasi hormonal (kontrasepsi kombinasi, progestin) atau bila gejala menetap membutuhkan penelusuran endokrin lebih lanjut.

B. Mekanisme Hormonal Fase Luteal sebagai Simpul Klinis Bersama

Fluktuasi progesteron dan metabolit neuroaktifnya (alopregnanolon) pada fase luteal memengaruhi reseptor GABA-A susunan saraf pusat, mendasari gejala afektif PMS/PMDD; pada saat bersamaan, peningkatan produksi prostaglandin F2-alfa endometrium menjelang menstruasi mendasari kontraksi miometrium berlebih pada dismenore. Bila nyeri haid berat kronis menimbulkan sensitisasi nyeri sentral, ambang nyeri pada penetrasi vagina turut menurun sehingga dispareunia dapat menyertai — menjelaskan mengapa Kepkonsil mengelompokkan ketiganya dalam satu entri kompetensi meski algoritma tata laksananya tetap dibedakan per gejala dominan.

C. Ilustrasi Kasus Lapangan

Perempuan, 27 tahun, datang dengan keluhan nyeri haid berat sejak 3 tahun terakhir disertai iritabilitas dan nyeri payudara pada 5-7 hari sebelum menstruasi, serta nyeri saat sanggama yang muncul terutama pada minggu sebelum haid. Catatan harian gejala prospektif 2 siklus menunjukkan pola gejala afektif dan somatik yang jelas terbatas pada fase luteal dan mereda total pasca-onset menstruasi, sesuai kriteria PMS. USG transvaginal tidak menunjukkan kelainan struktural. Pasien diberikan NSAID periode perimenstrual untuk komponen dismenore serta kontrasepsi hormonal kombinasi mengandung drospirenon untuk komponen PMS dan dispareunia siklik terkait nyeri panggul berulang; pada evaluasi siklus ketiga, skor nyeri (NRS) turun dari 8 menjadi 3 dan gejala afektif mereda signifikan pada catatan DRSP.

8. Edukasi Pasien dan Keluarga

Poin edukasi

9. Prognosis

Prognosis umumnya baik dengan tata laksana yang adekuat dan konsisten. Dismenore primer cenderung membaik seiring bertambahnya usia dan sering membaik pasca-persalinan. PMS/PMDD dapat bersifat kambuhan dan memerlukan tata laksana jangka panjang atau berulang, khususnya menjelang masa perimenopause ketika fluktuasi hormonal menonjol. Dispareunia yang didominasi faktor psikoseksual atau muskuloskeletal umumnya memiliki prognosis baik dengan pendekatan multidisiplin, sedangkan dispareunia sekunder akibat endometriosis bergantung pada keberhasilan tata laksana penyakit dasarnya.

10. Tingkat Evidens dan Rekomendasi

Ringkasan evidens dan rekomendasi tata laksana

IntervensiTingkat EvidensRekomendasiSumber
NSAID untuk dismenoreIACochrane, Marjoribanks et al. 2015 (CD001751)
SSRI untuk PMS/PMDDIAACOG Clinical Practice Guideline No. 7 (2023)
Kontrasepsi hormonal kombinasi untuk dismenore/PMSIIBACOG CPG No. 7 (2023); RCOG GTG No. 48 (2017)
Terapi kognitif perilaku (CBT) untuk PMS/PMDDIIBACOG CPG No. 7 (2023)
Fisioterapi dasar panggul untuk dispareuniaIIBACOG Practice Bulletin No. 213 (2019)
Estrogen vagina dosis rendah untuk dispareunia atrofikIAACOG Practice Bulletin No. 213 (2019)

11. Indikator Medis

Indikator keberhasilan tata laksana

12. Perbandingan dan Pengayaan Standar Internasional

Standar nasional (Kepkonsil Tabel 7 No. 72) menetapkan PMS, dismenore, dan dispareunia siklik sebagai satu entri kompetensi tunggal dengan pendekatan diagnostik-terapeutik terpadu untuk kewenangan spesialis umum dan subspesialis; standar internasional ACOG dan RCOG menerbitkan pedoman terpisah untuk PMS/PMDD dan menempatkan dismenore serta dispareunia dalam dokumen klinis tersendiri dengan algoritma bertahap yang lebih granular. Praktik di Indonesia mengikuti standar nasional untuk pemetaan kompetensi, dengan pengayaan konten klinis dari sumber internasional berikut.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) Clinical Practice Guideline No. 7 (2023) tentang Management of Premenstrual Disorders merekomendasikan SSRI (kontinu atau fase luteal) sebagai lini pertama untuk PMS/PMDD dengan gejala afektif dominan, serta kontrasepsi hormonal kombinasi sebagai alternatif berbasis bukti, sejalan dengan tata laksana pada Bagian 7.2 PPK ini.

Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) Green-top Guideline No. 48 (2017) tentang Management of Premenstrual Syndrome menekankan penegakan diagnosis prospektif menggunakan catatan harian gejala minimal 2 siklus sebelum memulai tata laksana definitif — prinsip yang diadopsi pada Bagian 4 dan Bagian 6 PPK ini sebagai standar diagnostik PMS/PMDD.

Tinjauan sistematis Cochrane oleh Marjoribanks et al. (2015, CD001751) mengonfirmasi efektivitas NSAID dibandingkan plasebo untuk dismenore primer dengan tingkat evidens tinggi, mendasari rekomendasi lini pertama pada Bagian 7.2 dan Bagian 10 PPK ini.

13. Kepustakaan

  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Konsil Kesehatan Indonesia; 2026.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists. Management of Premenstrual Disorders: ACOG Clinical Practice Guideline No. 7. Obstetrics & Gynecology. 2023;142(6):1516–1533. doi:10.1097/AOG.0000000000005426. Tersedia pada: https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000005426
  3. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Management of Premenstrual Syndrome. Green-top Guideline No. 48. BJOG. 2017;124(3):e73–e105. Tersedia pada: https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/premenstrual-syndrome-management-green-top-guideline-no-48/
  4. Marjoribanks J, Ayeleke RO, Farquhar C, Proctor M. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs for dysmenorrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2015;(7):CD001751. doi:10.1002/14651858.CD001751.pub3. Tersedia pada: https://doi.org/10.1002/14651858.CD001751.pub3
  5. American College of Obstetricians and Gynecologists. Female Sexual Dysfunction: ACOG Practice Bulletin No. 213 (Reaffirmed 2022). Obstetrics & Gynecology. 2019;134(1):e1–e18. doi:10.1097/AOG.0000000000003324. Tersedia pada: https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000003324
  6. O'Brien PMS, Bäckström T, Brown C, Dennerstein L, Endicott J, Epperson CN, et al. Towards a consensus on diagnostic criteria, measurement and trial design of the premenstrual disorders: the ISPMD Montreal consensus. Archives of Women's Mental Health. 2011;14(1):13–21. doi:10.1007/s00737-010-0201-3. Tersedia pada: https://doi.org/10.1007/s00737-010-0201-3
  7. World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics: GA34 Female genital pain and bleeding associated with sexual cycle. Geneva: WHO; 2026. Tersedia pada: https://icd.who.int/browse11

Glosarium

Istilah kunci yang digunakan dalam PPK ini

IstilahDefinisi
DismenoreNyeri kram di perut bagian bawah yang berkaitan dengan menstruasi; primer bila tanpa kelainan pelvis organik, sekunder bila disertai patologi pelvis yang mendasari.
DispareuniaNyeri genital yang berulang atau menetap sebelum, selama, atau setelah hubungan seksual; dapat superfisial (introitus) atau dalam (pelvis).
DRSP (Daily Record of Severity of Problems)Instrumen pencatatan gejala harian tervalidasi yang digunakan untuk menegakkan pola siklik gejala pramenstruasi secara prospektif.
Fase lutealFase siklus menstruasi setelah ovulasi hingga menstruasi berikutnya, ditandai oleh dominasi progesteron; menjadi periode utama munculnya gejala PMS/PMDD.
GRADEGrading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation — kerangka kerja penilaian mutu bukti dan kekuatan rekomendasi klinis yang digunakan berbagai pedoman internasional.
ISPMDInternational Society for Premenstrual Disorders — organisasi internasional yang menyusun konsensus definisi dan kriteria diagnostik gangguan pramenstruasi.
PMDD (Premenstrual Dysphoric Disorder)Gangguan disforik pramenstruasi; bentuk PMS yang lebih berat dengan gejala afektif dominan dan gangguan fungsional bermakna.
PMS (Premenstrual Syndrome)Sindrom pramenstruasi; kumpulan gejala fisik, emosional, dan perilaku siklik pada fase luteal yang mereda setelah onset menstruasi.
Sensitisasi nyeri sentralPerubahan pemrosesan nyeri pada susunan saraf pusat akibat paparan nyeri kronik berulang, dapat menurunkan ambang nyeri pada area tubuh lain termasuk saat penetrasi vagina.
VestibulodiniaNyeri terlokalisasi pada vestibulum vagina, salah satu penyebab dispareunia superfisial yang dapat dinilai dengan uji swab kapas.
VaginismusSpasme involunter otot dasar panggul/vagina yang menyebabkan atau memperberat nyeri saat penetrasi; merupakan diagnosis banding dispareunia, bukan sinonimnya.